Sabtu, 17 Januari 2026
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)

Menafsir Ulang Pandangan Ekologis Agama-agama (Tanggapan untuk Nasaruddin Umar)

Oleh Budhy Munawar Rachman
7 Agustus 2024
di Kolom
A A
Sumber: Koran Tempo

Artikel yang ditulis oleh Nasaruddin Umar yang membahas hubungan antara agama-agama Abrahamik (Yahudi, Kristen, dan Islam) dengan kerusakan lingkungan alam (Kompas, 4/8/2024), menarik untuk direspons secara positif. Dalam artikel ini, Nasaruddin Umar merujuk pada pandangan Karen Armstrong dalam bukunya Sacred Nature, Restoring our Ancient Bond with The Natural World yang mengkritik paham monoteisme yang dikembangkan oleh agama-agama Abrahamik, yang diduga berkontribusi pada percepatan kerusakan lingkungan.

Nasaruddin Umar mengemukakan bahwa pandangan monoteistik yang dipahami oleh agama-agama Abrahamik telah memisahkan Tuhan, manusia, dan alam, yang kemudian menghasilkan eksploitasi alam tanpa batas. Pemisahan ini dianggap berbeda dengan pandangan tradisional, atau agama-agama asli, yang melihat alam sebagai entitas yang sakral dan memiliki hubungan yang erat dengan manusia dan spiritualitas. Pemikiran seperti ini dinilai telah menyebabkan pergeseran nilai di mana manusia merasa memiliki kuasa atas alam dan berhak mengeksploitasinya. Ada beberapa poin kritis Nasaruddin Umar yang mau saya tanggapi:

Penggambaran Monoteisme sebagai Penyebab Kerusakan Alam

Nasaruddin Umar mengasumsikan bahwa agama-agama Abrahamik, karena pandangan monoteistiknya, cenderung mengesampingkan nilai-nilai lingkungan yang menjaga keseimbangan alam. Ini pandangan yang bisa diperdebatkan karena, meski benar bahwa dalam sejarah modern ada eksploitasi alam yang signifikan di dunia Barat yang mayoritas Kristen, mengaitkan hal ini langsung dengan teologi agama-agama tersebut bisa saja terlalu menyederhanakan masalah. Ada banyak faktor sosial, ekonomi, dan politik yang berperan dalam kerusakan lingkungan.

Sebagai contoh, Islam memiliki konsep “khalifah” (khalifah Allah di bumi) yang mengajarkan tanggung jawab manusia untuk menjaga dan memelihara bumi. Dalam Kristen, ada ajaran tentang tanggung jawab atas penciptaan Tuhan. Dalam Yahudi, konsep “Tikkun Olam” menekankan perbaikan dunia. Karenanya, meski mungkin ada interpretasi yang salah atau sempit dari ajaran-ajaran ini, menyalahkan teologi agama-agama tersebut sebagai penyebab utama kerusakan lingkungan adalah klaim yang perlu diperiksa lebih dalam.

BACA JUGA:

Lampu Petunjuk

Membijakkan Sabar dan Ikhlas di Kota Suci

1 Muharram: Momen Kebangkitan Spiritual Kita

Ugly, Bad and Okay Mining: Pertambangan Indonesia di Persimpangan Jalan

Kritik terhadap Antroposentrisme

Nasaruddin Umar juga mengkritik pandangan antroposentrisme yang menempatkan manusia sebagai pusat dari segala sesuatu dan alam hanya sebagai objek untuk dimanfaatkan. Kritik ini relevan mengingat banyak kerusakan lingkungan memang disebabkan oleh pandangan yang menempatkan manusia di atas alam, mengabaikan kebutuhan dan hak-hak makhluk lain.

Namun, perlu dipahami, bahwa tidak semua interpretasi agama-agama Abrahamik menganut pandangan antroposentrisme yang ekstrem seperti itu. Ada interpretasi lain yang melihat manusia sebagai bagian dari alam yang harus hidup selaras dengan lingkungan. Kritik terhadap antroposentrisme ini bisa menjadi titik awal untuk mengevaluasi kembali bagaimana agama-agama ini dipraktikkan dan diajarkan, agar lebih memperhatikan nilai-nilai keberlanjutan dan ekologi. 

Pendekatan Hermeneutik dan Penafsiran Teks Suci

Nasaruddin Umar juga menyinggung pentingnya hermeneutika atau pendekatan interpretatif terhadap teks-teks suci, karena banyak ajaran dalam agama-agama Abrahamik yang sebenarnya mendukung konservasi lingkungan, tetapi sering kali terabaikan atau kurang ditekankan dalam praktik keagamaan sehari-hari. Misalnya, ayat-ayat dalam Al-Quran yang mengajarkan keseimbangan dan larangan terhadap kerusakan bumi sering kali tidak dipahami secara kontekstual dalam kaitannya dengan masalah lingkungan kontemporer.

Saya setuju meningkatkan kesadaran akan pentingnya interpretasi yang mendalam dan kontekstual dapat membantu memperkuat pesan-pesan agama tentang perlindungan alam. Ini juga bisa menjadi jalan keluar dari pandangan-pandangan teologis yang selama ini mungkin disalahpahami atau disalahgunakan untuk membenarkan eksploitasi alam.

Relevansi Kritik terhadap Ilmu Pengetahuan Modern

Nasaruddin Umar juga merujuk pada kritik terhadap ilmu pengetahuan modern yang berkembang pesat setelah Renaisans dan berkontribusi pada eksploitasi alam. Kritik ini cukup relevan, mengingat bahwa ilmu pengetahuan modern sering kali beroperasi dengan paradigma yang sangat mekanistik dan reduksionistik, yang cenderung mengabaikan nilai-nilai spiritual dan etis dalam hubungan manusia dengan alam. Namun, kita harus memahami bahwa ilmu pengetahuan modern juga memiliki potensi besar untuk membantu menyelesaikan krisis lingkungan. Teknologi hijau, energi terbarukan, dan berbagai inovasi ilmiah lainnya dapat berperan besar dalam memulihkan lingkungan, asalkan dipandu oleh nilai-nilai etis dan keberlanjutan.

Menggali Potensi Agama sebagai Kekuatan Positif

Sebagai pemuka agama, Nasaruddin Umar memiliki posisi yang strategis untuk menggalang kekuatan positif dari agama dalam upaya pelestarian lingkungan. Daripada hanya mengkritik, akan lebih konstruktif jika Nasaruddin Umar sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal, yang sekarang diklaim sebagai model masjid “Green Islam”, juga menyarankan langkah-langkah konkret yang bisa diambil oleh komunitas agama untuk memperbaiki hubungan manusia dengan alam. Misalnya, pendidikan agama yang menekankan pentingnya menjaga lingkungan, kampanye hijau yang dipimpin oleh tokoh-tokoh agama, atau kerja sama lintas agama untuk konservasi alam bisa menjadi inisiatif yang positif dan berdampak nyata.

Kesimpulan

Artikel Nasaruddin Umar memberikan refleksi yang menarik dan penting tentang hubungan antara agama-agama Abrahamik dan kerusakan lingkungan. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan lebih lanjut, seperti menyederhanakan hubungan antara teologi agama dan kerusakan lingkungan, serta potensi agama-agama ini untuk berperan sebagai kekuatan positif dalam upaya konservasi.

Kritik terhadap antroposentrisme dan dorongan untuk interpretasi teks suci yang lebih mendalam dan kontekstual merupakan langkah yang baik. Namun, yang lebih mendesak adalah bagaimana komunitas agama bisa menerjemahkannya ke dalam aksi nyata yang berkontribusi pada pemeliharaan dan pelestarian lingkungan hidup. Dengan demikian, agama-agama Abrahamik tidak hanya dilihat sebagai penyebab masalah, tetapi juga sebagai bagian dari solusi yang dibutuhkan dunia saat ini.

Terima kasih Pak Nasar untuk artikelnya yang mencerahkan.

Bacaan terkait

Fikih Ekologi Ulil dan Deep Ecology

Apakah Fikih (Tambang) Memadai?

Modernisme, Kurban, dan Kesalehan Ekologis

Setelah Heboh Ulil, Bahlil, dan Tahlil: Mungkinkah Pertambangan Hijau?

Mengurangi Beban Hidup dengan Menjaga Bumi

Topik: agama dan lingkungankrisis iklimNasaruddin Umar
SendShareTweetShare
Sebelumnya

Kritik Hujjatul Islam terhadap Filsafat dalam “Maqashid al-Falasifah”

Selanjutnya

Teroris-teroris Belia

Budhy Munawar Rachman

Budhy Munawar Rachman

Pengajar di STF Driyarkara, Wakil Ketua Yayasan Paramadina, dan pendiri Nurcholish Madjid Society.

TULISAN TERKAIT

Lampu Petunjuk

Lampu Petunjuk

11 Juli 2025
Membijakkan Sabar dan Ikhlas di Kota Suci

Membijakkan Sabar dan Ikhlas di Kota Suci

10 Juli 2025
1 Muharram: Momen Kebangkitan Spiritual Kita

1 Muharram: Momen Kebangkitan Spiritual Kita

27 Juni 2025
Ugly, Bad and Okay Mining: Pertambangan Indonesia di Persimpangan Jalan

Ugly, Bad and Okay Mining: Pertambangan Indonesia di Persimpangan Jalan

27 Juni 2025
Selanjutnya
Selanjutnya
Teroris-teroris Belia

Teroris-teroris Belia

Ulasan Pembaca 3

  1. Ping-balik: Relasi Kristen-Islam: Masa Lalu, Sekarang, dan Harapan untuk Masa Depan - Jakarta Book Review (JBR)
  2. Ping-balik: Solidaritas Iklim dan Perjuangan Palestina – Ruang Dialog
  3. Ping-balik: Perginya Pengusung Agama yang Ekologis Penuh Kasih [Obituari Paus Fransiskus] - Jakarta Book Review (JBR)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Kisah dari Negeri Para Insinyur

Kisah dari Negeri Para Insinyur

21 November 2025

Di Persimpangan Jalan: Minyak, Memori, dan Misi Mustahil Indonesia

17 November 2025
Try Sutrisno

Peluncuran Buku “Filosofi Parenting Try Sutrisno” Sajikan Formula Pola Asuh Keluarga Indonesia

15 November 2025
Tahap Akhir “AYO BACA!” Institut Prancis Indonesia: Soroti Dunia Literasi dan Sastra Kontemporer

Tahap Akhir “AYO BACA!” Institut Prancis Indonesia: Soroti Dunia Literasi dan Sastra Kontemporer

14 November 2025
Buku “The Girl with the Dragon Tattoo” Jadi Best Crime & Mystery versi Goodreads

Buku “The Girl with the Dragon Tattoo” Jadi Best Crime & Mystery versi Goodreads

29 Oktober 2025
Mitos, Mitigasi, dan Krisis Iklim: Membaca Narasi Putri Karang Melenu dan Naga Sungai Mahakam

Mitos, Mitigasi, dan Krisis Iklim: Membaca Narasi Putri Karang Melenu dan Naga Sungai Mahakam

20 Oktober 2025

© 2025 Jakarta Book Review (JBR) | Kurator Buku Bermutu

  • Tentang
  • Redaksi
  • Iklan
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Masuk
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In