Senin, 22 Juni 2026
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)

Ancaman Nyata di Balik Fiksi: Saat AI dan Kiamat Ekologi Menjadi Karib

Oleh Anis Maftukhin
3 Juni 2026
di Berita, Berita Buku
A A
ancaman-nyata

Ancaman Nyata di Balik Fiksi: Saat AI dan Kiamat Ekologi Menjadi Karib

JBR – Ketakutan terbesar manusia tak lagi berwujud invasi alien atau monster raksasa. Dalam tren sastra dunia saat ini, kengerian itu justru mewujud dalam bentuk layar gawai, kecerdasan buatan (AI), dan alam yang tak lagi gratis.

Pergeseran ini tergambar kuat dalam novel Hum karya Helen Phillips, yang baru saja didapuk sebagai pemenang penghargaan internasional Climate Fiction Prize 2026 di London. Keberhasilan karya ini menandai pergeseran minat pembaca dari fiksi ilmiah bertema luar angkasa ke isu yang jauh lebih membumi dan personal.

Novel ini menyoroti kehidupan May, seorang perempuan yang kehilangan pekerjaannya lantaran digantikan oleh “hum”, sebuah robot humanoid cerdas. Terhimpit krisis ekonomi, May nekat mengikuti eksperimen bedah wajah agar tak lagi terlacak oleh sistem pengawasan digital yang merangsek ke hampir seluruh sudut kehidupan masyarakat.

Uang hasil eksperimen tragis itu ia gunakan untuk mengajak keluarganya berlibur ke Botanical Garden, salah satu ruang hijau terakhir yang tersisa di kotanya. Melalui latar ini, para juri menilai Phillips berhasil melontarkan kritik tajam tentang fenomena “Disneyfikasi alam”—sebuah kondisi di mana udara bersih dan pepohonan tak lagi menjadi ruang hidup komunal, melainkan barang mewah eksklusif yang hanya bisa dinikmati lewat tiket masuk berbiaya mahal.

BACA JUGA:

Belum Sebulan Terbit, “Toko Manisan Ajaib Amberglow” Rayakan Cetak Ulang Lewat Bedah Buku di Bukupreneur Bogor

Tren “Text Hip” Dongkrak Literasi di Korea Selatan

Survei Creative Australia: 14,4 Juta Warga Setia Membaca, Buku Cetak Belum Tergantikan

Fiksi Ilmiah Bangkit Lagi: Penghargaan “Future History” Musim Kedua Tawarkan Hadiah Lebih Besar dan Kategori Skenario

Lebih dari itu, keluarga May digambarkan hidup di bawah satu atap namun saling berjarak, diasingkan oleh ketergantungan akut pada perangkat digital dan sistem iklan yang mampu membaca keinginan mereka sebelum disadari.

Di berbagai forum pembaca internasional, banyak yang mengaku merasa tidak nyaman membaca Hum. Dunia distopia yang dibangun Phillips dinilai terlalu dekat dengan realitas hari ini.
Pertanyaan tentang apa yang tersisa ketika alam menjadi kemewahan, serta bagaimana manusia bertahan saat pekerjaannya direbut AI, kini mendominasi percakapan. Pada akhirnya, Hum bukan sekadar fiksi tentang masa depan. Ia adalah cermin jernih yang memantulkan kecemasan paling sunyi dari masyarakat modern—tentang nasib keluarga, teknologi, dan kemanusiaan itu sendiri.

SendShareTweetShare
Sebelumnya

Jejak Fatwa Haram Kopi dan Manuskrip Yang Raib

Selanjutnya

Kala Mesin AI Menjawab, Manusia (Harus) Bertanya

Anis Maftukhin

Anis Maftukhin

Pengasuh Ponpes Wali, jurnalis, penceramah, motivator, penerjemah, dan praktisi komunikasi politik. Telah menerjemahkan dan mengedit 160+ buku. Tokoh Inspiratif Jateng 2023 dan ASEAN Award 2024.

TULISAN TERKAIT

Belum Sebulan Terbit, “Toko Manisan Ajaib Amberglow” Rayakan Cetak Ulang Lewat Bedah Buku di Bukupreneur Bogor

Belum Sebulan Terbit, “Toko Manisan Ajaib Amberglow” Rayakan Cetak Ulang Lewat Bedah Buku di Bukupreneur Bogor

22 Juni 2026
text hip

Tren “Text Hip” Dongkrak Literasi di Korea Selatan

11 Juni 2026
buku cetak australia

Survei Creative Australia: 14,4 Juta Warga Setia Membaca, Buku Cetak Belum Tergantikan

8 Juni 2026
future history

Fiksi Ilmiah Bangkit Lagi: Penghargaan “Future History” Musim Kedua Tawarkan Hadiah Lebih Besar dan Kategori Skenario

5 Juni 2026
Selanjutnya
Selanjutnya
kala mesin ai menjawab

Kala Mesin AI Menjawab, Manusia (Harus) Bertanya

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Belum Sebulan Terbit, “Toko Manisan Ajaib Amberglow” Rayakan Cetak Ulang Lewat Bedah Buku di Bukupreneur Bogor

Belum Sebulan Terbit, “Toko Manisan Ajaib Amberglow” Rayakan Cetak Ulang Lewat Bedah Buku di Bukupreneur Bogor

22 Juni 2026
menikah

Menikah Bukan Cuma Soal ‘I Do’: Nasihat dan Pandangan Realistis dari Imam al-Ghazali

13 Juni 2026
text hip

Tren “Text Hip” Dongkrak Literasi di Korea Selatan

11 Juni 2026
buku cetak australia

Survei Creative Australia: 14,4 Juta Warga Setia Membaca, Buku Cetak Belum Tergantikan

8 Juni 2026
future history

Fiksi Ilmiah Bangkit Lagi: Penghargaan “Future History” Musim Kedua Tawarkan Hadiah Lebih Besar dan Kategori Skenario

5 Juni 2026
sayyidat al-qamar

Sayyidat al-Qamar: Novel Fenomenal dari Padang Pasir

4 Juni 2026

© 2026 Jakarta Book Review (JBR) | Kurator Buku Bermutu

  • Tentang
  • Redaksi
  • Iklan
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Masuk
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In