Jumat, 5 Juni 2026
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)

Kifayatul Atqiya’: Menjinakkan Hawa Nafsu di Era Digital

Oleh Anis Maftuhin
5 Juni 2026
di Kolom
A A
kifayatul atqiya

Kifayatul Atqiya Edisi Terjemahan Terbaru dari Penerbit Turos Pustaka

Kifayatul Atqiya’: Menjinakkan Hawa Nafsu di Era Digital 

Setiap Jumat pagi, saya selalu dipaksa oleh sebuah kebiasaan: menyiapkan materi khutbah. Bukan karena kekurangan bahan, melainkan agar tidak terjebak dalam pengulangan tema yang itu-itu saja, yang pada akhirnya membuat jamaah lebih sibuk menahan kantuk daripada menyimak isi khutbah.

Entah mengapa, pagi ini tangan saya seperti digerakkan untuk mengambil sebuah kitab yang sudah lama terdiam di rak buku. Selama ini saya hanya memandangnya sesekali. Namun pagi itu, saya mulai membuka lembar demi lembar halamannya, tentu saja dimulai dari mukadimah dan daftar isi, sebagaimana kebiasaan lama yang sulit ditinggalkan.

Singkat cerita, saya justru larut. Dari sekadar membuka, saya berubah menjadi pembaca yang tergesa-gesa, menelusuri halaman demi halaman dengan rasa ingin tahu yang terus tumbuh.

Kitab itu bernama Kifāyat al-Atqiyā’ wa Minhāj al-Ashfiyā’.

BACA JUGA:

Kala Mesin AI Menjawab, Manusia (Harus) Bertanya

Jejak Fatwa Haram Kopi dan Manuskrip Yang Raib

Lampu Petunjuk

Membijakkan Sabar dan Ikhlas di Kota Suci

Memang, kitab ini bukan satu-satunya kitab tasawuf yang diajarkan di pesantren. Ia juga tidak sepopuler Ihya’ ‘Ulum al-Din karya Imam al-Ghazali atau seindah aforisme dalam Al-Hikam karya Ibnu Athaillah. Namun, kitab yang ditulis oleh Sayyid Abu Bakar Muhammad Syatha al-Dimyathi (w. 1310 H/1892 M), ulama besar Makkah yang masyhur di kalangan pesantren sebagai penyusun I‘anah al-Thalibin, jelas tidak bisa dipandang sebelah mata.

Saya cukup lama mengutak-atik makna judul kitab ini. Bagi saya, rangkaian katanya memancarkan keindahan yang puitis sekaligus mencerminkan isi kitabnya yang berbicara tentang tasawuf dan penyucian jiwa.

Kifāyah berarti bekal yang mencukupi. Al-Atqiyā’ berarti orang-orang yang bertakwa. Minhāj bermakna jalan yang terang dan jelas. Sementara Al-Ashfiyā’ merujuk pada jiwa-jiwa pilihan yang telah bersih dari keruhnya hawa nafsu duniawi.

Jika diterjemahkan secara bebas, judul itu kira-kira berbunyi: “Bekal yang Mencukupi bagi Orang-Orang Bertakwa dan Jalan Terang bagi Jiwa-Jiwa yang Suci.”

Dari judulnya saja, seolah Sayyid Abu Bakar Syatha sedang menjawab kegelisahan manusia. Ia menawarkan seperangkat bekal spiritual sekaligus peta perjalanan batin bagi mereka yang lelah menghadapi tipu daya dunia. Kitab ini seperti disusun bagi siapa saja yang ingin menempuh jalan ketakwaan dan membersihkan dirinya agar dapat kembali pulang kepada Tuhan dengan hati yang lebih jernih.

Karena itu saya tidak berani menyebut Kifāyat al-Atqiyā’ sekadar karya monumental. Bagi saya, ia layak disebut magnum opus dalam bidang pembinaan akhlak dan spiritualitas. Sebuah karya yang terasa semakin relevan ketika manusia modern terjebak dalam hedonisme, budaya flexing, dan perlombaan mencari validasi sosial demi menenangkan hati yang sebenarnya tetap kerontang.

Secara keilmuan, Kifāyat al-Atqiyā’ merupakan syarah atas nazam Hidāyat al-Adzkiyā’ ilā Tharīq al-Auliyā’ karya Imam Zainuddin al-Malibari, ulama India Selatan yang juga menulis Fath al-Mu‘in. Menariknya, Sayyid Bakri Syatha tidak terjebak pada bahasa mistis yang melangit dan sulit dijangkau.

Ia memadukan ketelitian linguistik dengan kedalaman pembinaan moral. Dari penjelasan kosakata dan i‘rab, ia bergerak menuju makna, lalu menurunkannya menjadi nilai akhlak dan praktik tazkiyatun nafs dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam sejarah pemikiran Islam, kita mengenal masa ketika fikih dan tasawuf sering dipertentangkan. Seolah keduanya berdiri di dua kutub yang berbeda. Namun Sayyid Bakri Syatha mempertemukan keduanya dalam satu tarikan napas.

Ia seakan mengamini nasihat Imam Malik yang terkenal: “Barang siapa berfikih tanpa bertasawuf, ia berpotensi menjadi fasik. Dan barang siapa bertasawuf tanpa berfikih, ia berpotensi menjadi zindik.”

Semangat integratif inilah yang menjadi kekuatan kitab ini.

Kifāyat al-Atqiyā’ merepresentasikan tasawuf Sunni yang berorientasi pada pembinaan akhlak. Ia tidak membawa pembacanya masuk ke dalam perdebatan metafisis yang rumit sebagaimana tasawuf falsafi ala Ibn ‘Arabi atau Suhrawardi. Sebaliknya, ia menekankan mujahadah, muraqabah, ikhlas, tawakal, dan zuhud.

Di sini, kesalehan bukanlah ledakan pengalaman spiritual yang spektakuler. Ia tumbuh dari kedisiplinan menata diri yang dilakukan secara terus-menerus.

Lalu, apa relevansi kitab ini di zaman yang serba instan?

Di banyak pesantren, kitab ini diajarkan berdampingan dengan Ta‘lim al-Muta‘allim dan Bidayat al-Hidayah sebagai fondasi pembentukan adab. Pesantren memahami bahwa kecerdasan intelektual tidak akan banyak berarti tanpa kebersihan hati.

Namun relevansi kitab ini tidak berhenti di lingkungan pesantren.

Justru ketika kita membawanya ke tengah realitas abad ke-21, pesannya terasa semakin tajam.

Di tengah kepungan kecerdasan buatan (AI), media sosial, dan algoritma digital, manusia modern menghadapi sebuah paradoks yang aneh: informasi tersedia tanpa batas, tetapi kemampuan mengendalikan diri semakin rapuh.

Media sosial dan budaya konsumtif menciptakan distraksi yang tidak pernah dibayangkan generasi sebelumnya. Jika dahulu hawa nafsu datang dalam bentuk kenikmatan fisik yang kasat mata, hari ini ia menyelinap melalui notifikasi smart phone, angka follower, jumlah tanda suka, dan ilusi popularitas yang terus menuntut untuk dipuaskan.

Dalam situasi seperti itulah Kifāyat al-Atqiyā’ hadir bukan sebagai kitab kuno yang berdebu, melainkan sebagai penawar bagi krisis eksistensial manusia modern.

Konsep muraqabah yang diajarkannya dapat dibaca ulang sebagai kesadaran untuk tetap hadir dan waspada di tengah hiruk-pikuk dunia digital. Ajakan hidup sederhana yang terkandung di dalamnya dapat menjadi kritik terhadap budaya pamer yang semakin menguasai ruang publik.

Kitab ini mengingatkan kita pada satu hal sederhana tetapi mendasar: setinggi apa pun lompatan teknologi, manusia akan tetap tersesat jika gagal mengelola hawa nafsunya sendiri.

Maka pagi itu, tanpa saya duga, tema khutbah Jumat pun akhirnya menemukan jalannya. Judulnya: “Tantangan Hawa Nafsu di Era Digital dan Cara Menjinakkannya.”

Beberapa kutipan dari Kifāyat al-Atqiyā’ saya sertakan sebagai penegas bahwa dunia akan terus berubah dengan kecepatannya sendiri. Namun manusia tetap diberi akal untuk membaca perubahan itu dengan jernih, serta diberi hati untuk memastikan bahwa langkahnya tidak kehilangan arah.

Kabar baiknya, bagi mereka yang tidak terbiasa membaca kitab berbahasa Arab tanpa harakat, gagasan besar dalam kitab ini kini jauh lebih mudah diakses. Pada 2024, Penerbit Turos Pustaka menerbitkan terjemahan bahasa Indonesianya.

Sebuah ikhtiar literasi yang patut diapresiasi. Sebab kearifan klasik semacam ini tidak seharusnya hanya berdiam di rak-rak perpustakaan atau lemari pesantren. Ia perlu hadir di tengah kehidupan kita sebagai jangkar kewarasan—terutama di zaman yang semakin bising, semakin cepat, dan semakin sering membuat manusia lupa pulang kepada dirinya sendiri.

Oleh : Anis Maftukhin, Pengasuh Pondok Pesantren WALI, Tuntang Kab Semarang

Topik: kifayatul atqiyaturos pustaka
SendShareTweetShare
Sebelumnya

Fiksi Ilmiah Bangkit Lagi: Penghargaan “Future History” Musim Kedua Tawarkan Hadiah Lebih Besar dan Kategori Skenario

Anis Maftuhin

Anis Maftuhin

TULISAN TERKAIT

kala mesin ai menjawab

Kala Mesin AI Menjawab, Manusia (Harus) Bertanya

3 Juni 2026
Jejak Fatwa Haram Kopi dan Manuskrip Yang Raib

Jejak Fatwa Haram Kopi dan Manuskrip Yang Raib

30 Mei 2026
Lampu Petunjuk

Lampu Petunjuk

11 Juli 2025
Membijakkan Sabar dan Ikhlas di Kota Suci

Membijakkan Sabar dan Ikhlas di Kota Suci

10 Juli 2025
Selanjutnya

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

future history

Fiksi Ilmiah Bangkit Lagi: Penghargaan “Future History” Musim Kedua Tawarkan Hadiah Lebih Besar dan Kategori Skenario

5 Juni 2026
sayyidat al-qamar

Sayyidat al-Qamar: Novel Fenomenal dari Padang Pasir

4 Juni 2026
ancaman-nyata

Ancaman Nyata di Balik Fiksi: Saat AI dan Kiamat Ekologi Menjadi Karib

3 Juni 2026
kenal lebih dekat

Kenali Lebih Dekat untuk Menjauhi Prasangka

26 Januari 2026
Kisah dari Negeri Para Insinyur

Kisah dari Negeri Para Insinyur

21 November 2025

Di Persimpangan Jalan: Minyak, Memori, dan Misi Mustahil Indonesia

17 November 2025

© 2026 Jakarta Book Review (JBR) | Kurator Buku Bermutu

  • Tentang
  • Redaksi
  • Iklan
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Masuk
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In