Senin, 22 Juni 2026
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)

Sayyidat al-Qamar: Novel Fenomenal dari Padang Pasir

Oleh Anis Maftukhin
4 Juni 2026
di Berita, Berita Buku
A A
sayyidat al-qamar

Sayyidat al-Qamar: Novel Fenomenal dari Padang Pasir

JBR – Lupakan sejenak stereotip sastra Timur Tengah yang melulu soal debu, tenda Badui, dan romansa padang pasir. Dari Jazirah Arab, tepatnya Oman, lahir sebuah mahakarya yang sukses memutar kemudi narasi secara revolusioner.

Novel berjudul Sayyidat al-Qamar (Tuan Putri Bulan) karya novelis Oman, Jokha Alharthi, berhasil mendobrak kemapanan sastra di kawasan tersebut. Tak main-main, karya ini berani menelanjangi titik kelam yang selama ini ditutup rapat di negara-negara Teluk, yakni praktik perbudakan sebagai komoditas ekonomi.

Keberanian Alharthi pun terbayar lunas. Pada Mei 2019, buku yang rilis perdana di Beirut pada 2010 itu mencetak sejarah besar. Sayyidat al-Qamar dinobatkan sebagai novel berbahasa Arab pertama—sekaligus karya penulis perempuan Teluk Persia pertama—yang sukses menyabet penghargaan sastra paling bergengsi sejagat, Man Booker International Prize. Kemenangan ini sontak menarik sastra Oman keluar dari “persembunyian” menuju terang benderangnya panggung internasional.

Warna Baru yang Bikin Dunia Melirik

Novel ini memang menawarkan vibes yang segar sekaligus ngena. Mengambil latar di Desa al-Awafi, kisahnya berpusat pada dinamika tiga bersaudari; Mayya, Asma, dan Khawla, plus satu tokoh pria bernama Abdallah. Mereka punya cara masing-masing yang saling bertolak belakang dalam menghadapi kungkungan patriarki dan perubahan zaman.

BACA JUGA:

Belum Sebulan Terbit, “Toko Manisan Ajaib Amberglow” Rayakan Cetak Ulang Lewat Bedah Buku di Bukupreneur Bogor

Tren “Text Hip” Dongkrak Literasi di Korea Selatan

Survei Creative Australia: 14,4 Juta Warga Setia Membaca, Buku Cetak Belum Tergantikan

Fiksi Ilmiah Bangkit Lagi: Penghargaan “Future History” Musim Kedua Tawarkan Hadiah Lebih Besar dan Kategori Skenario

Membaca novel ini, kita bakal diajak menyaksikan transisi sunyi yang berdarah. Yakni, pergeseran dari masyarakat pasca-perbudakan agraris menuju arus modernisasi kilat di era 70-an. Saat itu, Sultan Qaboos menghapus perbudakan dan Oman mendadak tajir melintir berkat kucuran petrodolar. Alharthi memotret dengan tajam bagaimana trauma masa lalu itu—yang diwakili tokoh budak bernama Zarifa—tetap membayangi masyarakat di tengah gemerlap kemewahan instan.

Saking kerennya, Ketua Juri Man Booker 2019 Bettany Hughes menyebut buku ini punya poetical cunning alias kecerdikan puitis. “Ia tidak menceramahi pembaca tentang penindasan, tetapi menunjukkannya lewat relasi-relasi kecil di ruang makan dan kamar tidur,” pujinya.

Tak ayal, novel ini memicu diskursus global. Pada awal 2020, Northwestern University di Qatar bahkan menjadikannya bacaan wajib untuk program One Book. Sayyidat al-Qamar tak lagi sekadar dilihat sebagai fiksi keluarga, tapi sudah naik kelas jadi dokumen sosiologis yang akurat tentang pergeseran struktur masyarakat Teluk. Di berbagai kampus dunia, karya ini juga ramai dibedah untuk membongkar kritik tajam Alharthi terhadap patriarki masa lalu.

Penerjemah Jadi Jembatan Krusial

Namun, ledakan global Sayyidat al-Qamar juga membawa satu pesan penting bagi dunia literasi: sehebat apa pun sebuah buku, ia butuh penerjemah tangguh untuk bisa menaklukkan dunia.

Di sinilah peran akademisi Marilyn Booth bersinar. Lewat terjemahan bahasa Inggrisnya yang berjudul Celestial Bodies, Booth sukses mentransfer nuansa budaya Oman yang sangat high-context jadi bacaan yang memikat.

Memang, sempat ada perdebatan menggelitik di kalangan akademisi Arab. Perubahan judul dari Sayyidat al-Qamar (Nyonya-Nyonya Bulan) menjadi Celestial Bodies (Benda-Benda Langit) dinilai sedikit memudarkan identitas gendernya. Toh, hal itu tak mengurangi keagungan karya tersebut. Kolaborasi Alharthi dan Booth tetap diakui sebagai salah satu pencapaian sastra terjemahan terbaik dekade ini. Pentingnya peran sang penerjemah ini dibuktikan dengan hadiah uang Man Booker yang dibagi rata untuk keduanya.

Sapa Pembaca Tiongkok Tanpa Perantara

Usai diterjemahkan ke bahasa Inggris dan berbagai bahasa lain, karya monumental ini makin mengepakkan sayap. Kabar terbarunya, Sayyidat al-Qamar resmi diterjemahkan ke dalam bahasa Mandarin dan diterbitkan oleh Peking University Press.

Hebatnya lagi, proses alih bahasa ini tidak menggunakan bahasa Inggris sebagai perantara. Terjemahan Mandarin digarap langsung dari teks asli bahasa Arab oleh Dr. Yu Mai, Profesor di Fakultas Studi Bahasa Arab, Beijing Foreign Studies University. Langkah jitu ini sengaja diambil biar kekhasan linguistik, emosi, dan konteks budaya Oman tetap terjaga murni saat dibaca oleh masyarakat Tiongkok.

Lewat Sayyidat al-Qamar, sastra membuktikan diri sebagai medium paling jujur untuk merekam sejarah. Dan berkat kekuatan terjemahan yang apik, kejujuran itu kini bisa dirayakan oleh warga dunia, dari London hingga Beijing.

Topik: berita bukuJokha AlharthiNovelSayyidat al-Qamar
SendShareTweetShare
Sebelumnya

Kala Mesin AI Menjawab, Manusia (Harus) Bertanya

Selanjutnya

Fiksi Ilmiah Bangkit Lagi: Penghargaan “Future History” Musim Kedua Tawarkan Hadiah Lebih Besar dan Kategori Skenario

Anis Maftukhin

Anis Maftukhin

Pengasuh Ponpes Wali, jurnalis, penceramah, motivator, penerjemah, dan praktisi komunikasi politik. Telah menerjemahkan dan mengedit 160+ buku. Tokoh Inspiratif Jateng 2023 dan ASEAN Award 2024.

TULISAN TERKAIT

Belum Sebulan Terbit, “Toko Manisan Ajaib Amberglow” Rayakan Cetak Ulang Lewat Bedah Buku di Bukupreneur Bogor

Belum Sebulan Terbit, “Toko Manisan Ajaib Amberglow” Rayakan Cetak Ulang Lewat Bedah Buku di Bukupreneur Bogor

22 Juni 2026
text hip

Tren “Text Hip” Dongkrak Literasi di Korea Selatan

11 Juni 2026
buku cetak australia

Survei Creative Australia: 14,4 Juta Warga Setia Membaca, Buku Cetak Belum Tergantikan

8 Juni 2026
future history

Fiksi Ilmiah Bangkit Lagi: Penghargaan “Future History” Musim Kedua Tawarkan Hadiah Lebih Besar dan Kategori Skenario

5 Juni 2026
Selanjutnya
Selanjutnya
future history

Fiksi Ilmiah Bangkit Lagi: Penghargaan "Future History" Musim Kedua Tawarkan Hadiah Lebih Besar dan Kategori Skenario

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Belum Sebulan Terbit, “Toko Manisan Ajaib Amberglow” Rayakan Cetak Ulang Lewat Bedah Buku di Bukupreneur Bogor

Belum Sebulan Terbit, “Toko Manisan Ajaib Amberglow” Rayakan Cetak Ulang Lewat Bedah Buku di Bukupreneur Bogor

22 Juni 2026
menikah

Menikah Bukan Cuma Soal ‘I Do’: Nasihat dan Pandangan Realistis dari Imam al-Ghazali

13 Juni 2026
text hip

Tren “Text Hip” Dongkrak Literasi di Korea Selatan

11 Juni 2026
buku cetak australia

Survei Creative Australia: 14,4 Juta Warga Setia Membaca, Buku Cetak Belum Tergantikan

8 Juni 2026
future history

Fiksi Ilmiah Bangkit Lagi: Penghargaan “Future History” Musim Kedua Tawarkan Hadiah Lebih Besar dan Kategori Skenario

5 Juni 2026
sayyidat al-qamar

Sayyidat al-Qamar: Novel Fenomenal dari Padang Pasir

4 Juni 2026

© 2026 Jakarta Book Review (JBR) | Kurator Buku Bermutu

  • Tentang
  • Redaksi
  • Iklan
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Masuk
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In