Rabu, 3 Juni 2026
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)

Kala Mesin AI Menjawab, Manusia (Harus) Bertanya

Oleh Anis Maftuhin
3 Juni 2026
di Kolom
A A
kala mesin ai menjawab

Beberapa santri saya tanya tentang AI. Apakah mereka menggunakan kecerdasan buatan itu untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah? Jawaban mereka lekas dan terang: Ya. Tak seperti umumnya orang dewasa yang mungkin masih meraba-raba, santri-santri saya ini telah terbiasa menggunakan Dola AI untuk menuntaskan pekerjaan rumah, atau mencari jawaban-jawaban ulangan harian.

Ketika saya tanya seberapa besar akurasi jawaban mesin itu, mereka menjawab kompak, “Kadang ada yang salah juga.” Pikir saya, mungkin prompting atau cara mereka memberi perintah yang keliru. Namun ketika saya kejar bagaimana cara mereka bertanya, hampir semuanya menjawab enteng, “Ya, tinggal difoto saja. Terus diunggah.”

Jawaban ini menyisakan sebuah simpulan di kepala saya: ada sebuah “keinstanan” yang kini melekat dalam diri mereka, dan rupanya itu sudah akut.

Saya pun melakukan riset kecil-kecilan. Beberapa teman ustaz dan penceramah ternyata sudah mulai karib dengan AI. “Untuk kebutuhan-kebutuhan mendadak, misal untuk menyusun teks khotbah, dan ceramah-ceramah bertema spesifik,” kata sebagian dari mereka. Ada pula seorang kolega yang mengaku tiap pagi berdiskusi dengan AI—kadang Gemini, ChatGPT, Claude, dan semacamnya. “Diskusi apa saja, bahkan saya juga sering mendiskusikan gramatika sebuah teks bahasa Arab dengan AI,” ujarnya.

Ini menunjukkan bahwa AI telah merangsek masuk, “semakin dekat” dengan degup kehidupan manusia. Sesuatu yang tak mungkin lagi ditolak. Menurut saya, mereka harus menjadi sahabat karib. Maksudnya, kita tetap harus sadar bahwa bila manusia saja bisa salah, demikian juga AI. Maka dalam berhubungan dengan AI pun perlu ada dialektika. Kita harus menggunakannya dengan dialog; bertanya, mengkritisi, merevisi, dan mengevaluasi apa pun jawaban atau hasil pekerjaan yang dilakukan oleh mesin tersebut.

BACA JUGA:

Jejak Fatwa Haram Kopi dan Manuskrip Yang Raib

Lampu Petunjuk

Membijakkan Sabar dan Ikhlas di Kota Suci

1 Muharram: Momen Kebangkitan Spiritual Kita

Bila dialektika itu luput, barangkali kita akan terperosok ke dalam kecemasan senyap yang digambarkan Helen Phillips dalam Hum, sebuah novel yang memenangkan Climate Fiction Prize 2026. Di dalam karya itu, ancaman tidak mewujud dalam bentuk invasi alien atau monster raksasa, melainkan sesuatu yang teramat banal dan dekat.

May, sang tokoh utama, kehilangan pekerjaannya setelah posisinya digantikan oleh robot humanoid cerdas. Di dunia May yang muram, alam tak lagi menjadi ruang komunal yang gratis. Ia mengalami semacam “Disneyfikasi”, di mana udara bersih dan pepohonan di Botanical Garden berubah menjadi barang mewah eksklusif yang menuntut tiket masuk. Keluarga May hidup di bawah satu atap, namun berjarak, diasingkan oleh layar dan pengawasan digital yang menyusup ke setiap sudut kehidupan.

Dunia Hum rupanya bukan lagi sekadar fiksi spekulatif. Ia adalah cermin yang memantulkan napas kita hari ini.

Laporan World Economic Forum (WEF) 2023 mengingatkan kita pada profesi human alarm clock di masa lalu—orang yang dibayar untuk mengetuk jendela membangunkan pekerja di pagi buta, sebelum akhirnya musnah dihalau oleh jam weker. Kini, sejarah berulang. Lembaga konsultan Accenture menakar bahwa sekitar 40% jam kerja manusia modern yang didominasi oleh bahasa dan teks akan terdampak oleh AI generatif.

Angka ini menemukan gema yang lebih meresahkan di Eropa. Morgan Stanley memproyeksikan bahwa dalam lima tahun ke depan, 20% tenaga kerja perbankan di benua itu—sekitar 400.000 pekerja administratif, pemantau risiko, dan staf pengolah dokumen—terancam menguap. Perbankan punya alasan yang teramat pragmatis: mesin terbukti mampu menekan biaya operasional sekaligus mendongkrak produktivitas hingga 30% tanpa mengenal letih. Pekerjaan-pekerjaan repetitif itulah yang pertama-tama akan bernasib sama seperti pekerjaan May.

Namun, apakah AI benar-benar datang semata untuk menjadi sang algojo bagi profesi manusia?

Sebuah riset mendalam dari Microsoft Research pada 2025 mencoba menjawabnya dengan membedah 200.000 percakapan nyata dari pengguna Copilot. Kesimpulannya menghadirkan nuansa yang berbeda: saat ini, AI lebih sering mengambil peran sebagai asisten pengetahuan, alih-alih pengganti total. Ia menjadi rekan kerja digital. Manusia memintanya mengumpulkan informasi, menyusun draf, merangkum dokumen, atau menjelaskan konsep.

Bahkan profesi pemrogram dan ahli matematika—yang tadinya diyakini paling aman—tercatat sebagai kelompok yang paling tinggi berinteraksi dengan AI untuk menulis atau menguji kode (debugging). Sang mesin membantu menopang kerangka kerja, tetapi manusia tetap memegang kendali arah dan gagasannya.

Di sinilah kita berdiri hari ini. AI memang akan menyapu bersih pekerjaan yang mengandalkan pengolahan dokumen rutin, tetapi di saat bersamaan, ia tak akan mampu menyentuh esensi yang membuat kita menjadi manusia: kreativitas, penilaian moral, empati, empati, dan kepemimpinan. Masa depan tidak sedang membelah dunia menjadi “manusia melawan AI”, melainkan mengkotakkannya menjadi manusia yang mampu bekerja bersama AI, berhadapan dengan mereka yang enggan beradaptasi.

Maka, kembali pada cerita santri dan ustaz tadi, “keinstanan” hanyalah godaan pertama dari teknologi, sebentuk kemalasan yang wajar namun membahayakan. Tugas sejati kita di tengah arus otomasi ini adalah terus menghidupkan ruang dialektika. Selama kita masih terus bertanya, mengkritisi, dan mengevaluasi—selama kita tidak menelan mentah-mentah apa yang disuapkan algoritma—kitalah yang tetap menjadi majikan atas kesadaran dan kemanusiaan kita sendiri.

Oleh: KH. Anis Maftukhin, Pengasuh Pondok Pesantren WALI

SendShareTweetShare
Sebelumnya

Ancaman Nyata di Balik Fiksi: Saat AI dan Kiamat Ekologi Menjadi Karib

Anis Maftuhin

Anis Maftuhin

TULISAN TERKAIT

Jejak Fatwa Haram Kopi dan Manuskrip Yang Raib

Jejak Fatwa Haram Kopi dan Manuskrip Yang Raib

30 Mei 2026
Lampu Petunjuk

Lampu Petunjuk

11 Juli 2025
Membijakkan Sabar dan Ikhlas di Kota Suci

Membijakkan Sabar dan Ikhlas di Kota Suci

10 Juli 2025
1 Muharram: Momen Kebangkitan Spiritual Kita

1 Muharram: Momen Kebangkitan Spiritual Kita

27 Juni 2025
Selanjutnya

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

kenal lebih dekat

Kenali Lebih Dekat untuk Menjauhi Prasangka

26 Januari 2026
Kisah dari Negeri Para Insinyur

Kisah dari Negeri Para Insinyur

21 November 2025

Di Persimpangan Jalan: Minyak, Memori, dan Misi Mustahil Indonesia

17 November 2025
Try Sutrisno

Peluncuran Buku “Filosofi Parenting Try Sutrisno” Sajikan Formula Pola Asuh Keluarga Indonesia

15 November 2025
Tahap Akhir “AYO BACA!” Institut Prancis Indonesia: Soroti Dunia Literasi dan Sastra Kontemporer

Tahap Akhir “AYO BACA!” Institut Prancis Indonesia: Soroti Dunia Literasi dan Sastra Kontemporer

14 November 2025
Buku “The Girl with the Dragon Tattoo” Jadi Best Crime & Mystery versi Goodreads

Buku “The Girl with the Dragon Tattoo” Jadi Best Crime & Mystery versi Goodreads

29 Oktober 2025

© 2026 Jakarta Book Review (JBR) | Kurator Buku Bermutu

  • Tentang
  • Redaksi
  • Iklan
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Masuk
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In