Trump adalah satu pengecualian. Trump selalu berbeda. Dan Trump punya dukungan kuat dari oligarkinya untuk membuat kebijakan kontroversial yang bahkan bertentangan dengan pendapat umum dan ilmu pengetahuan. Yang penting, dia dan para pengusaha teman-temannya tetap lancar cuan!
Jurus Donald Trump ini mirip jurus Jacky Chan di dalam film Drunken Master, berputar-putar, mengejek lawan, bergaya seperti orang mabok, tapi tujuannya tetap sama, menang dan memperkaya diri pribadi beserta teman-temannya. Konon, jurus yang sama ini banyak mengilhami para kepala negara lain di dunia.
Dan hari ini, sekali lagi Trump menyatakan Amerika Serikat (USA) keluar dari kesepakatan global yang sebelumnya sudah disetujui oleh para presiden pendahulunya. US quits from Paris Agreement!
Percobaan pertama keluar dari Perjanjian Paris ini sebenarnya sudah dilakukan pada periode pertama kepresidenan Trump, US sudah menarik diri dari Perjanjian Paris. Dengan masa tunggu setelah pernyataan resmi pembatalan perjanjian selama 1 tahun, maka efektivitas dari penarikan diri ini sebenarnya berlaku di bulan-bulan terakhir masa pemerintahannya.
US kemudian masuk lagi ke Perjanjian Paris setelah pada hari pertama setelah dilantik, Presiden Joe Biden menandatangani ulang Perjanjian Paris. Maka, hari ini, sekali lagi pengemisi terbesar nomor dua terbesar di dunia keluar dari Perjanjian Paris. Pengemisi terbesar kedua terbesar setelah China, tapi juga secara sejarah emisi atau historical emission, adalah pengemisi yang paling besar sumbangsihnya dalam mempercepat terjadinya Perubahan Iklim.
US adalah salah satu pendosa terbesar terjadinya Perubahan Iklim, yang seharusnya juga bertanggung jawab terhadap pengurangannya
Secara umum memang presiden yang berasal dari Partai Republik selalu berusaha keluar dari setiap perjanjian dan tidak mau berkomitmen di dalam pencegahan Perubahan Iklim. Bahkan banyak tokoh dari Partai Republik yang menyatakan tidak percaya fenomena Perubahan Iklim atau Climate Deniers.
Latar belakang posisi mereka ini adalah karena para penyokong utama Partai Republik berasal dari kalangan pengusaha migas dan para taipan industri yang semuanya adalah pengemisi besar. Merekalah golongan para penyumbang emisi terbesar di dunia. Keharusan dan kewajiban US untuk menurunkan emisi akan membuat bisnis mereka berantakan.
Penemuan teknologi shale gas di awal tahun 2000-an juga menyebabkan Partai Republik sangat menentang segala perjanjian iklim. Shale gas menyebabkan para konglomerat migas di US mendapat pemasukan yang luar biasa karena biaya eksploitasi gas dan minyak menjadi sangat kecil biayanya. Kebiasaan para warga US yang selalu menggunakan kendaraan ber-cc besar dan bangunan AC juga membutuhkan pasokan energi yang besar dan murah. Dan ini juga menjadi keengganan mereka untuk berubah karena tidak mau keluar dari zona nyaman.
US secara sengaja tidak mau ikut di dalam Kesepakatan Kyoto (Kyoto Protocol) yang akhirnya hanya diikuti oleh negara maju Rusia, Uni Eropa, Jepang, Australia, dan Selandia Baru. Membutuhkan waktu yang lama untuk Presiden Obama guna meyakinkan para koleganya untuk mendorong perundingan di Copenhagen yang kurang berhasil, dan akhirnya menyepakati Perjanjian Paris.
Walau begitu, selalu ada anomali. Gubernur California dari Partai Republik untuk 2 periode masa jabatan, Arnold Schwarzenegger, yang sekaligus aktor terkenal, sangat dikenal juga sebagai gubernur pro-lingkungan. Pada masanya, negara bagian California adalah negara bagian pertama yang mempunyai peraturan pembatasan emisi, bahkan sampai membangun platform perdagangan karbon yang dikenal sebagai CCX (California Carbon Exchange). Ada beberapa negara bagian yang kemudian mengikuti jejak Gubernur Arnold, sampai sekarang.
Bagaimana pengaruh penarikan diri US dari Perjanjian Paris?
Yang pertama jelas akan terjadi perubahan kepemimpinan di dalam pencapaian target penurunan emisi global tahun 2030: US tidak lagi ada di barisan paling depan, tapi segera digantikan oleh Uni Eropa dan China. Secara politik global ini adalah kemunduran besar bagi US yang selalu ingin memimpin setiap kegiatan di area Perubahan Iklim.
Yang kedua, yang sangat mengkhawatirkan para enviromentalist adalah target pengurangan emisi global tahun 2030 akan sangat berat tercapai, hampir mustahil. Segala jenis rencana US untuk menurunkan emisi di dalam negerinya dan bantuan ke negara lain, akan sangat mungkin ditunda atau malah dibatalkan.
Ketiga, keputusan Trump akan memengaruhi pasar energi fosil secara global. Kenaikan konsumsi migas akan terjadi karena tentu saja negara saingan dagang US juga akan berusaha menurunkan biaya produksi dengan memakai kembali bahan bakar fosil yang lebih murah dari energi terbarukan.
Dan yang keempat adalah penarikan diri US dari Perjanjian Paris juga akan bisa menjadi pembenaran bagi banyak orang dan negara untuk kembali tidak peduli pada Perubahan Iklim. Untuk apa repot-repot melakukan pengurangan emisi dan memenuhi target NDC (National Determined Contribution), toh US saja menarik diri dari Perjanjian Paris?
Program transisi energi berkeadilan, pensiun dini pembangkit batubara, pengurangan bahann bakar fosil, dan berbagai program adaptasi Perubahan Iklim akan ikut terkena imbasnya. Sementara masyarakat dunia semakin menderita karena Perubahan Iklim terus menggila. Sementara para korban banjir, kebakaran, angin topan, dan berbagai bencana iklim semakin banyak. Sementara yang paling menderita dan terdampak tetap saja adalah masyarakat miskin.
Jabal Golfie, 19 Januari 2025
Bacaan terkait
Donald Trump dan Ancaman Krisis Iklim
Umur Berapa Anda di Tahun 2050? Seperti Apa Indonesia di Tahun Itu?
Ulil, Tambang Batubara, dan Krisis Iklim












Ulasan Pembaca 8