Kamis, 18 Juni 2026
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)

Trump dan “Teman Nyebur Sumur”

Nun jauh di sana, di negeri khatulistiwa, dua orang petinggi sekelas menteri menyatakan diri tertarik ikut mengikuti jejak Trump!

Oleh Dicky Edwin Hindarto
2 Februari 2025
di Kolom
A A

Dulu, zaman saya masih kecil dan hidup di kampung di Kota Malang, ada banyak kebijakan atau local wisdom khas Malang yang saya pelajari, atau lebih tepatnya diajarkan oleh kedua orang tua saya. Salah satunya adalah yang selalu kami sebut sebagai “teman nyebur sumur”.

Di balik segala bahasanya yang cenderung lebih kasar dari daerah lain, penuh pisuhan, tapi banyak kebijakan yang bisa kita dapat.

“Teman nyebur sumur” arti harfiahnya adalah “ikut perbuatan buruk yang dilakukan teman.” Jadi, bila dulu ada teman melakukan kenakalan, misalnya mencuri buah tetangga, dan saya tertarik untuk ikutan, maka Ibu selalu bilang, “Kalau temanmu mau nyebur sumur, apa kamu ikut?”

Beranjak pada konteks global kekinian, kelakuan aneh dan ugal-ugalan dipertontonkan oleh Donald Trump, orang nomor satu dan Presiden Amerika Serikat. Setelah dilantik beberapa minggu lalu, ada lebih dari 60 presidential order atau perintah presiden, sudah dikeluarkan.

Mulai dari hanya mengakui 2 jenis kelamin di AS, anti imigran (gelap), menghentikan semua bantuan asing yang diberikan AS, termasuk yang paling menghebohkan adalah mengundurkan diri atau keluar dari Perjanjian Paris (Paris Agreement). Kelakuan ugal-ugalan yang, meskipun banyak yang mendukung secara domestik, sebenarnya juga mencemaskan banyak negara koleganya.

BACA JUGA:

AL-QANUN FI AL-THIBB: Kitab Kuning Kedokteran yang Fenomenal

WAKAF LITERASI: Solusi Impian Hadapi Pembajakan Buku

Kifayatul Atqiya’: Menjinakkan Hawa Nafsu di Era Digital

Kala Mesin AI Menjawab, Manusia (Harus) Bertanya

Penghentian bantuan dan keluarnya AS dari Perjanjian Paris adalah dua hal yang paling mencemaskan dunia. AS adalah pengemisi Gas Rumah Kaca (GRK) nomor dua terbesar di dunia setelah China, dan mungkin adalah negara yang paling berdosa dalam penyebab Perubahan Iklim. Membutuhkan waktu lebih dari 15 tahun untuk membujuk AS agar ikut bertanggung jawab dalam penurunan emisi GRK global, lebih jauh lagi ikut membiayai kegiatan penurunan emisinya. Tanpa AS, mustahil target penurunan emisi global tercapai di tahun 2030, apalagi 2050.

Trump lebih mementingkan ekonomi dibanding lingkungan. Cuan lebih penting dari pencegahan Perubahan Iklim. Sementara Perubahan Iklim adalah kenyataan sehari-hari yang harus dihadapi dunia. Dan semakin parah.

Dan nun jauh di sana, di negeri khatulistiwa, dua orang petinggi sekelas menteri menyatakan diri tertarik untuk ikut mengikuti jejak Trump! Mereka tahu dengan jelas, apa itu Perjanjian Paris, apa itu Perubahan Iklim, dan apa konsekuensinya meninggalkan Perjanjian Paris. Konsekuensi yang bukan hanya harus ditanggung oleh dunia saat ini, tapi juga generasi mendatang.

Seperti juga Trump, di sisi lain pilihannya adalah uang. Cuan. Yang kebanyakan adalah dari sawit dan batubara.

Apakah kalau Trump mau nyebur sumur, kita harus ikutan nyebur?

Trump jelas-jelas bertekad melakukan itu, didukung dengan semua modal perbankan nasional dan konco-konconya. Rakyat AS juga jauh lebih makmur dari rakyat negeri Indonesia yang mendapat penghasilan US$2 per hari per kapita, sudah digolongkan orang kaya.

Rakyat AS bila mendapat bencana iklim seperti tornado, banjir, kebakaran hutan, dan kekeringan, dengan cepat negara memberi bantuan. Berlimpah. Sedang Indonesia itu bisa bertahun-tahun rakyatnya hidup dalam barak pengungsian, bantuannya bocor di jalan.

Jadi, kenapa harus ikutan Trump nyebur sumur? Sudah tahu kalau itu perbuatan salah, masih kepingin juga ikutan. Padahal Trump, sekutu pun sekarang bukan. Indonesia lebih memilih bergabung secara ekonomi dan politik mengikuti kelompok BRICS, Brasilia, Russia, India, China, dan South Africa.

Teman nanggung, sekutu pun bukan, kenapa harus ikutan?

Kalau Ibu saya masih hidup, pasti beliau minta saya memanggil kedua pejabat tersebut, lantas ditanya, “Opoo koen kepingin melok nyebur sumur, leee?”

Jabal Golfie, 1 Februari 2025

Bacaan terkait

Ketika Bahlol Disesatkan Raja Donal

Jurus Dewa Mabok Trump di Perubahan Iklim

Donald Trump dan Ancaman Krisis Iklim

Bahlol dan Persidangan Iklim di Negeri Andainusa

Topik: Donald Trumpteman nyebur sumur
SendShareTweetShare
Sebelumnya

Ketika Bahlol Disesatkan Raja Donal

Selanjutnya

Raja Donal dan Kunci Harta Kerajaan

Dicky Edwin Hindarto

Dicky Edwin Hindarto

Sultan Jabal Golfie, Ketua Dewan Pembina Yayasan Mitra Hijau

TULISAN TERKAIT

al-qanun

AL-QANUN FI AL-THIBB: Kitab Kuning Kedokteran yang Fenomenal

17 Juni 2026
wakaf literasi

WAKAF LITERASI: Solusi Impian Hadapi Pembajakan Buku

10 Juni 2026
kifayatul atqiya

Kifayatul Atqiya’: Menjinakkan Hawa Nafsu di Era Digital

5 Juni 2026
kala mesin ai menjawab

Kala Mesin AI Menjawab, Manusia (Harus) Bertanya

3 Juni 2026
Selanjutnya
Selanjutnya
Raja Donal dan Kunci Harta Kerajaan

Raja Donal dan Kunci Harta Kerajaan

Ulasan Pembaca 6

  1. Avatar Hashinatul Fikrial says:
    1 tahun yang lalu

    Nice pak

    Balas
  2. Ping-balik: Raja Donal dan Kunci Harta Kerajaan - Jakarta Book Review (JBR)
  3. Ping-balik: Agar Ketidakberlanjutan Perusahaan Tidak Berlanjut - Jakarta Book Review (JBR)
  4. Ping-balik: Ekonomi Politik Nikel di Indonesia [Belajar dari Artikel Trissia Wijaya dan Lee Jones (2025)] - Jakarta Book Review (JBR)
  5. Ping-balik: Menuju Era Keemasan Bisnis Intuitif - Jakarta Book Review (JBR)
  6. Ping-balik: Ekonomi Politik Nikel di Indonesia: Belajar dari Artikel Trissia Wijaya dan Lee Jones (2025) – Dasbor JJ

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

menikah

Menikah Bukan Cuma Soal ‘I Do’: Nasihat dan Pandangan Realistis dari Imam al-Ghazali

13 Juni 2026
text hip

Tren “Text Hip” Dongkrak Literasi di Korea Selatan

11 Juni 2026
buku cetak australia

Survei Creative Australia: 14,4 Juta Warga Setia Membaca, Buku Cetak Belum Tergantikan

8 Juni 2026
future history

Fiksi Ilmiah Bangkit Lagi: Penghargaan “Future History” Musim Kedua Tawarkan Hadiah Lebih Besar dan Kategori Skenario

5 Juni 2026
sayyidat al-qamar

Sayyidat al-Qamar: Novel Fenomenal dari Padang Pasir

4 Juni 2026
ancaman-nyata

Ancaman Nyata di Balik Fiksi: Saat AI dan Kiamat Ekologi Menjadi Karib

3 Juni 2026

© 2026 Jakarta Book Review (JBR) | Kurator Buku Bermutu

  • Tentang
  • Redaksi
  • Iklan
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Masuk
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In