Dulu, zaman saya masih kecil dan hidup di kampung di Kota Malang, ada banyak kebijakan atau local wisdom khas Malang yang saya pelajari, atau lebih tepatnya diajarkan oleh kedua orang tua saya. Salah satunya adalah yang selalu kami sebut sebagai “teman nyebur sumur”.
Di balik segala bahasanya yang cenderung lebih kasar dari daerah lain, penuh pisuhan, tapi banyak kebijakan yang bisa kita dapat.
“Teman nyebur sumur” arti harfiahnya adalah “ikut perbuatan buruk yang dilakukan teman.” Jadi, bila dulu ada teman melakukan kenakalan, misalnya mencuri buah tetangga, dan saya tertarik untuk ikutan, maka Ibu selalu bilang, “Kalau temanmu mau nyebur sumur, apa kamu ikut?”
Beranjak pada konteks global kekinian, kelakuan aneh dan ugal-ugalan dipertontonkan oleh Donald Trump, orang nomor satu dan Presiden Amerika Serikat. Setelah dilantik beberapa minggu lalu, ada lebih dari 60 presidential order atau perintah presiden, sudah dikeluarkan.
Mulai dari hanya mengakui 2 jenis kelamin di AS, anti imigran (gelap), menghentikan semua bantuan asing yang diberikan AS, termasuk yang paling menghebohkan adalah mengundurkan diri atau keluar dari Perjanjian Paris (Paris Agreement). Kelakuan ugal-ugalan yang, meskipun banyak yang mendukung secara domestik, sebenarnya juga mencemaskan banyak negara koleganya.
Penghentian bantuan dan keluarnya AS dari Perjanjian Paris adalah dua hal yang paling mencemaskan dunia. AS adalah pengemisi Gas Rumah Kaca (GRK) nomor dua terbesar di dunia setelah China, dan mungkin adalah negara yang paling berdosa dalam penyebab Perubahan Iklim. Membutuhkan waktu lebih dari 15 tahun untuk membujuk AS agar ikut bertanggung jawab dalam penurunan emisi GRK global, lebih jauh lagi ikut membiayai kegiatan penurunan emisinya. Tanpa AS, mustahil target penurunan emisi global tercapai di tahun 2030, apalagi 2050.
Trump lebih mementingkan ekonomi dibanding lingkungan. Cuan lebih penting dari pencegahan Perubahan Iklim. Sementara Perubahan Iklim adalah kenyataan sehari-hari yang harus dihadapi dunia. Dan semakin parah.
Dan nun jauh di sana, di negeri khatulistiwa, dua orang petinggi sekelas menteri menyatakan diri tertarik untuk ikut mengikuti jejak Trump! Mereka tahu dengan jelas, apa itu Perjanjian Paris, apa itu Perubahan Iklim, dan apa konsekuensinya meninggalkan Perjanjian Paris. Konsekuensi yang bukan hanya harus ditanggung oleh dunia saat ini, tapi juga generasi mendatang.
Seperti juga Trump, di sisi lain pilihannya adalah uang. Cuan. Yang kebanyakan adalah dari sawit dan batubara.
Apakah kalau Trump mau nyebur sumur, kita harus ikutan nyebur?
Trump jelas-jelas bertekad melakukan itu, didukung dengan semua modal perbankan nasional dan konco-konconya. Rakyat AS juga jauh lebih makmur dari rakyat negeri Indonesia yang mendapat penghasilan US$2 per hari per kapita, sudah digolongkan orang kaya.
Rakyat AS bila mendapat bencana iklim seperti tornado, banjir, kebakaran hutan, dan kekeringan, dengan cepat negara memberi bantuan. Berlimpah. Sedang Indonesia itu bisa bertahun-tahun rakyatnya hidup dalam barak pengungsian, bantuannya bocor di jalan.
Jadi, kenapa harus ikutan Trump nyebur sumur? Sudah tahu kalau itu perbuatan salah, masih kepingin juga ikutan. Padahal Trump, sekutu pun sekarang bukan. Indonesia lebih memilih bergabung secara ekonomi dan politik mengikuti kelompok BRICS, Brasilia, Russia, India, China, dan South Africa.
Teman nanggung, sekutu pun bukan, kenapa harus ikutan?
Kalau Ibu saya masih hidup, pasti beliau minta saya memanggil kedua pejabat tersebut, lantas ditanya, “Opoo koen kepingin melok nyebur sumur, leee?”
Jabal Golfie, 1 Februari 2025
Bacaan terkait
Ketika Bahlol Disesatkan Raja Donal
Jurus Dewa Mabok Trump di Perubahan Iklim












Nice pak