Sabtu, 24 Oktober 2026
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)

Bahlol dan Persidangan Iklim di Negeri Andainusa

Lindungi negeri ini dari krisis iklim. Jangan biarkan pemikiran yang merusak seperti disebarkan Bahlol memengaruhi kita!

Oleh Sultan Dipsiq
31 Januari 2025
di Kolom
A A

Di negeri Andainusa, sebuah negeri yang dikelilingi oleh lautan luas dan pegunungan hijau, kehidupan banyak warganya selalu harmonis dengan alam. Namun, belakangan ini, ancaman krisis iklim mulai mengganggu ketenangan negeri itu. Banjir besar sering melanda daerah pesisir, permukaan air laut terus naik, dan musim kemarau yang panjang mengancam persediaan air dan hasil pertanian.

Negeri ini, yang dipimpin oleh Prabu Subianta dari keluarga cerdik pandai, telah lama berkomitmen untuk melindungi generasi muda dan mendatang dari bahaya krisis iklim dengan menjadi bagian dari Perjanjian Baris. Namun, suatu hari, kabar mengejutkan datang dari Kerajaan Amriki. Raja Donal, pemimpin baru Amriki, menyatakan bahwa kerajaannya tidak akan lagi menjadi bagian dari Perjanjian Baris. Keputusan ini mengguncang dunia, termasuk Andainusa. Di tengah kegelisahan itu, seorang cantrik bernama Bahlol, yang bertugas mengurusi distribusi minyak tanah dan arang, tetiba bersikap aneh.

Bahlol, yang dulu dikenal sebagai penjual minyak tanah keliling, tiba-tiba berteriak-teriak di pasar, menyerukan agar Andainusa mengikuti jejak Amriki dan mengabaikan Perjanjian Baris. “Kenapa kita harus terikat dengan perjanjian itu? Lihatlah Amriki, mereka maju tanpa harus memikirkan hal-hal seperti ini!” teriak Bahlol, matanya berbinar-binar seperti mengingat masa mudanya yang penuh kebebasan.

Warga yang mendengarnya terkejut. Beberapa bahkan mulai mempertanyakan niat Bahlol. “Apakah dia tidak menyadari betapa pentingnya Perjanjian Baris bagi kita?” bisik seorang berbaju putih kepada temannya di warung angkringan tempat para cerdik pandai biasa berkumpul.

Kabar tentang tingkah Bahlol akhirnya sampai ke telinga Prabu Subianta. Sang raja, yang dikenal bijaksana dan cenderung mendasarkan keputusannya pada ilmu pengetahuan, segera memerintahkan penyidangan terhadap Bahlol. “Kita tidak bisa membiarkan pemikiran yang merusak ini menyebar. Andainusa adalah negeri yang rentan terhadap bencana iklim. Kita harus melindungi masa depan kita,” kata Prabu Subianta dengan tegas.

BACA JUGA:

16 Tahun Rene Turos: Berkah, Keringat, dan Cita-Cita

MBG: Membaca Buku Gratis

AL-QANUN FI AL-THIBB: Kitab Kuning Kedokteran yang Fenomenal

WAKAF LITERASI: Solusi Impian Hadapi Pembajakan Buku

Persidangan Bahlol

Persidangan digelar di Balai Kota Andainusa. Ruangan itu dipenuhi oleh warga yang penasaran dengan nasib Bahlol. Di depan majelis hakim, Bahlol berdiri dengan wajah keras, seolah tidak menyesali tindakannya.

Hakim Agung, seorang perempuan bernama Nyai Kanti, membuka persidangan. “Bahlol, kamu dituduh telah menyebarkan pemikiran yang dapat merusak komitmen Andainusa terhadap Perjanjian Baris. Apa yang kamu katakan untuk membela dirimu?”

Bahlol menjawab dengan nada tinggi, “Saya hanya ingin Andainusa menjadi seperti Amriki! Mereka kuat, mereka kaya, dan mereka tidak perlu terikat dengan perjanjian-perjanjian yang membatasi!”

Nyai Kanti mengangguk perlahan, lalu memanggil cerdik pandai utama bidang klimatologi, Aruna, untuk memberikan kesaksian. Aruna menjelaskan dengan detail bagaimana Andainusa adalah salah satu negeri yang paling rentan terhadap dampak krisis iklim. “Jika kita mengabaikan Perjanjian Baris, kita tidak hanya mengancam masa depan generasi muda, tetapi juga keberlangsungan negeri ini,” kata Aruna.

Setelah mendengarkan kesaksian itu, Nyai Kanti kembali berbicara. “Bahlol, kamu mendengar sendiri betapa pentingnya Perjanjian Baris bagi kita. Lalu, mengapa kamu masih bersikeras untuk mengabaikannya?”

Bahlol terdiam sejenak, lalu menjawab, “Saya hanya ingin kita bebas seperti Amriki. Mereka tidak peduli dengan perjanjian ini, dan mereka tetap kuat!”

Nyai Kanti menghela napas. “Amriki bukanlah negeri yang bisa kita jadikan teladan. Mereka terus-menerus mendukung kolonialisme, apartheid, dan genosida yang dilakukan oleh negeri tengil bernama Isnotreal. Mereka juga telah menciptakan kekacauan di banyak negeri lainnya. Apakah itu yang kamu inginkan untuk Andainusa?”

Bahlol tidak bisa menjawab. Wajahnya mulai menunjukkan keraguan.

Setelah melalui proses persidangan yang panjang, majelis hakim akhirnya memutuskan bahwa Bahlol tidak lagi cocok memimpin distribusi minyak tanah dan arang.

“Kamu telah menunjukkan ketidakpedulian terhadap masa depan negeri ini. Oleh karena itu, kami memutuskan bahwa kamu tidak boleh berbicara selama 10 tahun. Gunakan waktu ini untuk merenungkan tindakanmu,” kata Nyai Kanti dengan suara tegas.

Bahlol terpukul. Dia tidak menyangka bahwa tindakannya akan berakhir seperti ini. Warga yang hadir di persidangan bertepuk tangan, menyetujui keputusan tersebut.

Epilog

Setelah persidangan, Prabu Subianta mengumpulkan para pemimpin dan warga Andainusa. “Kita harus tetap berpegang pada komitmen kita untuk melindungi negeri ini dari krisis iklim. Jangan biarkan pemikiran yang merusak seperti yang disebarkan oleh Bahlol memengaruhi kita,” kata sang raja.

Warga Andainusa pun kembali bersatu, bekerja sama untuk menghadapi tantangan krisis iklim. Mereka tahu bahwa masa depan negeri mereka tergantung pada tindakan yang mereka lakukan hari ini.

Sementara itu, Bahlol, yang kini tidak boleh berbicara, menghabiskan waktunya untuk merenung. Perlahan, dia mulai menyadari betapa pentingnya Perjanjian Baris bagi negerinya. Mungkin, dalam diamnya, dia akan menemukan kebijaksanaan yang selama ini dia abaikan.

Bacaan terkait

Jurus Dewa Mabok Trump di Perubahan Iklim

Donald Trump dan Ancaman Krisis Iklim

Raja Julid Deforesta dan Hutan yang Terkikis

“Neraka” di California dan Teori Konspirasi

Bisakah Demokrasi Menyelamatkan Kita dari Krisis Iklim?

Topik: Bahlolkrisis iklimRaja Donal
SendShareTweetShare
Sebelumnya

Bisakah Demokrasi Menyelamatkan Kita dari Krisis Iklim?

Selanjutnya

Geger DeepSeek R1

Sultan Dipsiq

Sultan Dipsiq

Sultan yang amat mencintai keberlanjutan alam dan seisinya.

TULISAN TERKAIT

16 Tahun Renebook: Berkah, Keringat, dan Cita-Cita

16 Tahun Rene Turos: Berkah, Keringat, dan Cita-Cita

23 Oktober 2026
MBG: Membaca Buku Gratis

MBG: Membaca Buku Gratis

12 Oktober 2026
al-qanun

AL-QANUN FI AL-THIBB: Kitab Kuning Kedokteran yang Fenomenal

17 Juni 2026
wakaf literasi

WAKAF LITERASI: Solusi Impian Hadapi Pembajakan Buku

10 Juni 2026
Selanjutnya
Selanjutnya
Geger DeepSeek R1

Geger DeepSeek R1

Ulasan Pembaca 1

  1. Ping-balik: Ketika Bahlol Disesatkan Raja Donal - Jakarta Book Review (JBR)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

bsi international expo

IKAPI Jakarta dan Rene Turos Group Meriahkan BSI International Expo 2026 Menembus Pasar Global

24 Oktober 2026
penerbit rene turos

16 Tahun Penerbit Rene Turos: Bagikan 1.600 Buku kepada Pembaca dan Komunitas

20 Oktober 2026
Rayakan 16 Tahun, Rene Turos Group Bagikan 1.600 Buku untuk Pembaca

Rayakan 16 Tahun, Rene Turos Group Bagikan 1.600 Buku untuk Pembaca

17 Oktober 2026
Feri Amsari: Prabowo Harus Baca “Politik Kaum Tertindas”

Feri Amsari: Prabowo Harus Baca “Politik Kaum Tertindas”

10 Oktober 2026
politik kaum tertindas

Bedah Buku “Politik Kaum Tertindas”, Feri Amsari Kritik Praktik Blusukan yang Kehilangan Esensi

10 Oktober 2026
in this economy

In This Economy: Yang Lain Boleh Efisiensi, Kecuali Literasi

7 Oktober 2026

© 2026 Jakarta Book Review (JBR) | Kurator Buku Bermutu

  • Tentang
  • Redaksi
  • Iklan
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Masuk
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In