Jumat, 5 Juni 2026
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)

Saat Kesalehan Tak Bisa Lagi Dipoles

Dalam puasa, semua topeng jatuh. Yang tersisa hanyalah kejujuran: antara dirimu dan Tuhan. Di sinilah Ramadan menjadi cermin yang tajam.

Oleh Nadirsyah Hosen
3 Maret 2025
di Kolom
A A

Manusia ingin dikenang sebagai orang baik, bahkan yang menindas pun tak ingin dicap buruk. Namun, di zaman ini, kebaikan bukan lagi soal hati—ia bisa dikemas, dijual, dan dipoles hingga berkilau. Amal bisa diatur pencahayaannya, kesalehan bisa direkayasa, bahkan dosa pun, dengan narasi yang tepat, bisa tampak seperti kebajikan.

Di era digital, pencitraan kesalehan semakin canggih. Amal dijadikan konten, kebaikan dipasarkan, dan ketulusan dikapitalisasi. Tak perlu benar-benar baik, cukup terlihat baik. Namun, di tengah gemuruh kepalsuan ini, ada satu ibadah yang tak bisa dipermainkan: puasa.

Puasa adalah ibadah yang sunyi dan tersembunyi. Tak ada yang bisa melihat isi perutmu, tak ada yang tahu apakah kau benar-benar menahan dahaga atau diam-diam meneguk air. Kau tak bisa berpura-pura lebih lapar dari orang lain, karena semua berbuka di waktu yang sama.

Berbeda dengan salat yang bisa dibuat berlama-lama di hadapan orang, tetapi disingkat saat sendirian. Berbeda pula dengan zakat yang bisa diumumkan jumlahnya agar tampak dermawan. Atau haji dan umrah, yang bisa dijadikan simbol status sosial dengan keberangkatan berkali-kali.

Tapi puasa? Tak ada panggung untuk kepura-puraan. Tak ada sudut pencahayaan yang bisa membuatnya tampak lebih mulia. Dalam puasa, semua topeng jatuh. Yang tersisa hanyalah kejujuran: antara dirimu dan Tuhan. Dan di sinilah Ramadan menjadi cermin yang tajam.

BACA JUGA:

Kifayatul Atqiya’: Menjinakkan Hawa Nafsu di Era Digital

Kala Mesin AI Menjawab, Manusia (Harus) Bertanya

Jejak Fatwa Haram Kopi dan Manuskrip Yang Raib

Lampu Petunjuk

Saat perutmu kosong, kau baru menyadari bahwa ada jutaan manusia yang menjalani “puasa” sepanjang tahun, bukan karena takwa, tetapi karena hidup tak memberi mereka pilihan.

Maka, di bulan suci ini, berpuasalah bersama rakyat. Rasakan perihnya bertahan hidup saat harga bahan pokok melambung, ribuan pekerja kena PHK, dan meja makan tak lagi penuh seperti dulu. Sebab puasa bukan sekadar menahan lapar, ia adalah pelajaran bahwa kesalehan tak bisa direkayasa, dan kepedulian tak bisa sekadar dikontenkan. Ibadah puasa Allah hadirkan untuk menghapus berbagai topeng kesalehan kita.

Bacaan terkait

Ramadan, Bulan Pengendalian Diri (Kecuali Saat Berbelanja)

Keistimewaan Nabi Muhammad

Topik: kesalehanpuasaRamadan
SendShareTweetShare
Sebelumnya

Mabuk Miras dan Mabuk Korupsi

Selanjutnya

Efisiensi Anggaran dan Biaya Kelakuan Pejabat

Nadirsyah Hosen

Nadirsyah Hosen

Cendekiawan Indonesia, Associate Professor di Melbourne Law School (sejak Juli 2024), Australia, sebelumnya di Monash University (2015-2024). Penulis produktif, buku-bukunya antara lain "Islam Yes, Khilafah No 1 & 2", "Ngaji Fikih", "Saring Sebelum Sharing", "Modern Perspectives on Islamic Law", "Tafsir Al-Quran di Medsos".

TULISAN TERKAIT

kifayatul atqiya

Kifayatul Atqiya’: Menjinakkan Hawa Nafsu di Era Digital

5 Juni 2026
kala mesin ai menjawab

Kala Mesin AI Menjawab, Manusia (Harus) Bertanya

3 Juni 2026
Jejak Fatwa Haram Kopi dan Manuskrip Yang Raib

Jejak Fatwa Haram Kopi dan Manuskrip Yang Raib

30 Mei 2026
Lampu Petunjuk

Lampu Petunjuk

11 Juli 2025
Selanjutnya
Selanjutnya
Efisiensi Anggaran dan Biaya Kelakuan Pejabat

Efisiensi Anggaran dan Biaya Kelakuan Pejabat

Ulasan Pembaca 2

  1. Ping-balik: Teknofeodalisme (Berujung) Maut - Jakarta Book Review (JBR)
  2. Ping-balik: Ramadan dan Nalar Islam-Jawa - Jakarta Book Review (JBR)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

future history

Fiksi Ilmiah Bangkit Lagi: Penghargaan “Future History” Musim Kedua Tawarkan Hadiah Lebih Besar dan Kategori Skenario

5 Juni 2026
sayyidat al-qamar

Sayyidat al-Qamar: Novel Fenomenal dari Padang Pasir

4 Juni 2026
ancaman-nyata

Ancaman Nyata di Balik Fiksi: Saat AI dan Kiamat Ekologi Menjadi Karib

3 Juni 2026
kenal lebih dekat

Kenali Lebih Dekat untuk Menjauhi Prasangka

26 Januari 2026
Kisah dari Negeri Para Insinyur

Kisah dari Negeri Para Insinyur

21 November 2025

Di Persimpangan Jalan: Minyak, Memori, dan Misi Mustahil Indonesia

17 November 2025

© 2026 Jakarta Book Review (JBR) | Kurator Buku Bermutu

  • Tentang
  • Redaksi
  • Iklan
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Masuk
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In