AL-QANUN FI AL-THIBB: Kitab Kuning Kedokteran yang Fenomenal
Di pesantren, kitab kuning adalah menu sehari-hari kami. Ada Jurumiyah, Alfiyah Ibn Malik, Fathul Qarib, Ihya Ulumiddin, dan masih banyak lagi — dari tajwid, nahwu, hingga tasawuf dan tafsir.
Kami mengaji kitab-kitab itu dari mengeja huruf demi huruf, mengi’rab (menganalisis gramatikalnya), ngesahi (memberi harokat/tanda baca,) hingga maknani (menerjemahkan kata per kata) dan murodi (menjelaskan maknya). Bahkan, kami pun menghafal matan dan bait-bait beberapa kitab tersebut,
Kami pun mengenal banyak nama besar mushannif (sebutan santri untuk para penulis kitab) — Imam Syafi’i, Imam Nawawi, Imam Ghazali, Ibnu Malik, dan puluhan lainnya. Tapi ada satu nama yang selalu mengganjal di dada saya setiap kali disebut: Ibnu Sina.
Namanya ada di mana-mana. Di plang rumah sakit di kota kami. Di nama yayasan pendidikan Islam. Di mulut para penceramah yang bangga menyebutnya sebagai bukti peradaban sains Islam. Tapi ketika saya bertanya kepada sesama pengasuh pesantren: “Pernahkah jenengan membaca langsung Al-Qanun fi al-Thibb?” — jawaban yang paling sering saya terima adalah senyum meringis. Malu mengiyakan, sungkan menolak.
Dari ribuan pesantren di seluruh Indonesia, sangat sedikit yang pernah menyentuh langsung kitab mahakarya Ibnu Sina itu. Ia lebih sering disebut daripada dibaca. Lebih banyak dikagumi dari kejauhan daripada dikaji dari dekat.
Ini ironi yang sudah terlalu lama kita biarkan berlalu.
Rak yang Penuh, Tapi Tak Lengkap
Saya tidak sedang mengkritik pesantren. Saya adalah bagian darinya dan mencintainya sepenuh hati. Tapi justru karena cinta itulah saya merasa perlu jujur.
Rak-rak perpustakaan pesantren kita penuh sesak dengan kitab-kitab gundul dari berbagai cabang ilmu. Tapi di manakah Ibnu Sina? Di manakah Al-Qanun fi al-Thibb?
Padahal dalam sejarah peradaban Islam, kitab ini pernah menjadi mahakarya paling berpengaruh yang pernah ditulis seorang Muslim. Selama hampir 500 tahun — dari abad ke-12 hingga abad ke-17 — ia menjadi rujukan utama dan buku wajib di fakultas-fakultas kedokteran Eropa: dari Bologna, Montpellier, hingga Leuven. Sejarawan bahkan menegaskan bahwa perkembangan kedokteran Eropa akan jauh lebih lambat tanpa kehadiran kitab ini.
Sebuah kitab yang lahir dari rahim peradaban Islam, mengubah sejarah peradaban Barat selama lima abad, lalu nyaris terlupakan di lingkungan pesantren yang seharusnya paling bangga mewarisinya.
Remaja Genius Penyembuh Raja
Ibnu Sina lahir pada 980 Masehi di desa Afshaneh, dekat Bukhara — kini wilayah Uzbekistan. Sejak usia 16 tahun ia mendalami berbagai ilmu. Pada usia 17 tahun, ia berhasil memulihkan kesehatan Pangeran Nuh ibn Mansyur dan diangkat menjadi dokter pribadi istana. Pada usia 18 tahun, ia sudah berpraktik secara profesional.
Yang selalu membuat saya tercenung adalah kisah ini: ia membaca Metaphysics karya Aristoteles hingga 40 kali sebelum merasa benar-benar memahaminya. Bukan karena ia lambat — ia terlalu serius untuk berpindah sebelum sebuah ilmu betul-betul tertanam. Sebuah adab belajar yang, kalau jujur, sudah jarang kita temukan hari ini.
Sepanjang hidupnya, Ibnu Sina menghasilkan tidak kurang dari 276 karya di berbagai disiplin ilmu, termasuk Al-Syifa dalam 18 jilid tebal di bidang filsafat. Di bidang kedokteran, ia mewariskan Al-Qanun fi al-Thibb — yang mulai ditulisnya sekitar tahun 1012 Masehi dan diselesaikan di Hamadan, Iran. Salah satu naskah kunonya yang disalin pada 1597 Masehi kini tersimpan di Bibliotheca Alexandria, Mesir, setebal 1.026 halaman dalam satu jilid kokoh.
Ia wafat pada 1037 Masehi akibat penyakit kolik — ironi kecil yang menyentuh: seorang tabib agung bergelar Medicorum Principalis, Maharaja Para Dokter, dipanggil Tuhan oleh penyakit yang seharusnya sangat ia kenali. Makamnya di Hamadan, Iran. Tapi warisannya — semestinya — ada di sini, di tangan kita.
Kitab Kuning yang Sesungguhnya
Ada sesuatu yang ingin saya sampaikan kepada para santri dan kiai yang membaca tulisan ini.
Al-Qanun fi al-Thibb, bila kita mau jujur, sesungguhnya adalah kitab kuning. Ia ditulis dalam bahasa Arab. Ia lahir dari tradisi syarah, ikhtisar, sintesis, dan dialog panjang dengan para ilmuwan sebelumnya — dari Hippocrates dan Galen hingga para tabib Muslim pendahulunya. Metodenya sangat akrab: mengumpulkan pendapat, mengkritik, membandingkan, lalu menyusun kesimpulan secara sistematis. Ada matan. Ada penjelasan. Ada argumentasi. Ada sanad intelektual yang panjang dan terhormat.
Kitab ini terdiri dari 5 buku utama dan 10 bagian besar. Buku pertama saja memuat 153 halaman teks dengan rata-rata 39 baris per halaman — kepadatan keilmuan yang tidak bisa dilalui dengan tergesa. Kajian akademik atas naskahnya membutuhkan 5 tahap penelitian filologis yang terstruktur.
Ini bukan buku tipis yang bisa dibaca sambil menunggu adzan. Ini adalah perpustakaan yang dipadatkan menjadi satu kitab.

Cara Berpikir yang Melampaui Zamannya
Yang paling mengesankan bukan sekadar kelengkapan isinya, melainkan cara berpikirnya.
Ibnu Sina hanya mengakui 2 keadaan tubuh manusia: sehat dan sakit. Ia mengategorikan penyebab penyakit ke dalam 4 jenis: material, efisien, formal, dan final. Membagi ilmu kedokteran menjadi 2 cabang pokok: pencegahan dan pengobatan. Dan untuk menjaga kesehatan, ia menetapkan moderasi pada 7 hal fundamental: temperamen, makanan dan minuman, pemurnian kelebihan dalam tubuh, perlindungan konstitusi tubuh, kemurnian udara, pakaian, serta keseimbangan gerak fisik dan psikis.
Tujuh dimensi kehidupan. Bukan satu pil. Bukan satu resep.
Ibnu Sina tidak melihat manusia sebagai kumpulan organ yang rusak lalu diperbaiki. Ia melihat manusia sebagai kesatuan tubuh, akal, jiwa, lingkungan, dan perilaku. Ia bahkan menganalogikan tubuh manusia dengan alam semesta — 4 musim dan 12 bulan diasosiasikan dengan 4 anggota badan dan 12 tulang sendi — manusia sebagai mikrokosmos dari makrokosmos semesta.
Cara berpikir seperti inilah yang sejatinya sangat dekat dengan ruh pesantren klasik: memandang ilmu sebagai satu kesatuan yang bermuara pada pengenalan terhadap Allah. Dan relevansinya menembus batas zaman — penjelasannya tentang standar air sehat yang bebas pencemaran dan wajib direbus tertulis lebih dari 1.000 tahun sebelum WHO dan CDC merumuskan standar yang persis serupa.
Yang Hilang Bukan Kitabnya
Pertanyaan yang paling mengganggu tidur saya bukan sekadar mengapa Al-Qanun tidak ada di rak pesantren. Yang lebih dalam adalah: mengapa kita memisahkan ilmu agama dari ilmu alam sejak awal?
Ketika Ibnu Sina menulis kitab ini, ia tidak sedang keluar dari tradisi keislamannya. Ia sedang mengekspresikannya. Baginya, menelusuri anatomi tubuh adalah bagian dari membaca ayat-ayat kauniyah Allah. Tidak ada pertentangan antara agama dan sains dalam jiwanya — yang ada hanyalah perbedaan objek kajian, dengan tujuan akhir yang tetap satu: memahami tanda-tanda kebesaran Allah.
Inilah yang hilang dari cara kita mendidik generasi hari ini. Santri yang mahir fikih dan santri yang mahir ilmu alam sesungguhnya sedang menempuh dua jalan berbeda menuju satu muara yang sama.
Saya sedikit lega mengetahui bahwa pada 2017, tim peneliti dari Unpad — Dr. Titin Nurhayati Ma’mun, Dr. Ikhwan, dan Ginanjar Sya’ban — telah menerbitkan Al-Qanun fi at-Tibb: Edisi Teks dan Terjemahan melalui Unpad Press. Ini pintu yang telah dibuka. Namun para peneliti sendiri mengakui betapa beratnya perjalanan itu: menelusuri naskah ke berbagai penjuru dunia, bergulat dengan diksi bahasa Arab klasik yang sudah jarang digunakan, menyelami terminologi medis yang sangat khas, dan melewati 5 tahap penelitian filologis untuk 1.026 halaman teks.
“Jer basuki mowo beo” — kata orang Jawa: setiap kemuliaan butuh pengorbanan. Dan proyek besar seperti ini jelas butuh pendanaan besar pula. Di sinilah para dokter Muslim dan kampus-kampus Islam bisa berperan, bergabung dalam konsorsium pendanaan sebagai jariyah peradaban.
Ibnu Sina menulis kitabnya bukan untuk dikagumi. Ia menulis karena merasa ada kewajiban merangkum dan mewariskan ilmu kepada generasi sesudahnya.
Kita adalah generasi sesudahnya itu.
Kitab itu sudah ada lebih dari 1.000 tahun. Sudah mengubah peradaban Barat selama 500 tahun. Sudah diberi gelar tertinggi oleh orang-orang yang bukan umatnya. Mungkin — dengan segala kerendahan hati seorang pengasuh pesantren yang merindukan kejayaan ilmu Islam — sudah waktunya ia pulang ke rumah. Ke rak-rak pesantren. Ke tangan para santri. Ke pangkuan umat yang seharusnya paling berhak atas warisannya.
Makam Ibnu Sina ada di Hamadan, Iran. Tapi warisannya seharusnya hidup di sini — di setiap pesantren dan madrasah. Bukan sekadar nama di plang rumah sakit, melainkan kitab yang dibuka, dibaca, dan direnungkan.
Oleh : KH Anis Maftukhin, Pengasuh Pondok Pesantren WALI Kab Semarang dan Pegiat Literasi Islam, IG : @gus_anies










