Tren “Text Hip” Dongkrak Literasi di Korea Selatan
JBR — Kelompok Gen-Z di Korea Selatan berhasil mendongkrak tingkat membaca mereka hingga 75,3 persen sepanjang tahun 2025 lalu. Peningkatan drastis ini dipicu oleh meluasnya fenomena “text hip”—tren yang menganggap aktivitas membaca sebagai gaya hidup keren dan modis—tepat di tengah anjloknya rata-rata minat baca kelompok dewasa secara nasional ke level 38,5 persen.
Berdasarkan 2025 National Reading Survey yang dirilis oleh Kementerian Kebudayaan setempat, kenaikan pada generasi Z ini menjadi satu-satunya anomali positif yang terjadi. Tren text hip sukses menyulap membaca menjadi aktivitas sosial yang interaktif, didorong pula oleh euforia kemenangan Nobel Sastra Han Kang pada akhir 2024. Pola konsumsi anak muda pun berubah; medium digital mengambil alih dengan angka membaca e-book mencapai 59,4 persen, jauh menyalip pamor buku cetak konvensional.
Manifestasi nyata dari antusiasme ini terekam pada ajang Seoul International Book Fair (SIBF) di COEX, Juni 2025, yang diserbu habis oleh 150.000 pengunjung. Lebih dari sekadar pameran, membaca bagi mereka kini telah bertransformasi menjadi gerakan kultural yang seksi, penuh gaya, dan sangat fotogenik di media sosial. Unsur “pamer” atau berbagi momen estetik (socially shareable dan Instagramable) menjadi nyawa utama yang menghidupkan tren ini.
Melansir laporan The Picture, gaya hidup text hip sangat digandrungi oleh kelompok usia 20-an hingga 30-an dan terekam jelas di dunia maya, di mana kegiatan ini begitu sering dijadikan tagar (often tagged on social media). Senada dengan hal tersebut, The Korea Herald menyoroti bahwa membaca dewasa ini dipandang bukan sekadar aktivitas yang produktif untuk memperkaya diri, melainkan juga “stylish, trendy and socially shareable” (modis, trendi, dan layak dibagikan secara sosial).
Kini, anak muda berlomba-lomba mengunggah kutipan literatur estetis ke media sosial (posting literary quotes), mengikuti tantangan membaca “buku bata” (buku tebal), hingga memenuhi klub baca. “Kita mungkin selama ini melewatkan cara baru masyarakat berinteraksi dengan buku. Pada titik tertentu, kita harus mendefinisikan ulang aktivitas membaca itu sendiri,” ujar Kim Nam-young, tim peneliti dari Kementerian Kebudayaan, menanggapi anomali tersebut.
Pergeseran persepsi ini terbilang signifikan. Sebanyak 20,3 persen orang dewasa mengaku kini membaca murni karena mencari kesenangan, bukan lagi sekadar urusan akademik. Menyikapi momentum manis tersebut, pemerintah Korea Selatan berkomitmen memperluas budaya literasi harian melalui intervensi program yang dipusatkan di toko buku lokal dan komunitas kerja agar tren positif ini dapat terus bertahan.
(Diolah berdasarkan data dan laporan dari The Korea Herald, The Asia Business Daily, The Picture, dan Yonhap News)






