Rabu, 14 Oktober 2026
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)

Tren “Text Hip” Dongkrak Literasi di Korea Selatan

Oleh Anis Maftukhin
11 Juni 2026
di Berita Buku
A A
text hip

Sumber: chosun.com

Tren “Text Hip” Dongkrak Literasi di Korea Selatan

JBR  — Kelompok Gen-Z di Korea Selatan berhasil mendongkrak tingkat membaca mereka hingga 75,3 persen sepanjang tahun 2025 lalu. Peningkatan drastis ini dipicu oleh meluasnya fenomena “text hip”—tren yang menganggap aktivitas membaca sebagai gaya hidup keren dan modis—tepat di tengah anjloknya rata-rata minat baca kelompok dewasa secara nasional ke level 38,5 persen.

Berdasarkan 2025 National Reading Survey yang dirilis oleh Kementerian Kebudayaan setempat, kenaikan pada generasi Z ini menjadi satu-satunya anomali positif yang terjadi. Tren text hip sukses menyulap membaca menjadi aktivitas sosial yang interaktif, didorong pula oleh euforia kemenangan Nobel Sastra Han Kang pada akhir 2024. Pola konsumsi anak muda pun berubah; medium digital mengambil alih dengan angka membaca e-book mencapai 59,4 persen, jauh menyalip pamor buku cetak konvensional.

Manifestasi nyata dari antusiasme ini terekam pada ajang Seoul International Book Fair (SIBF) di COEX, Juni 2025, yang diserbu habis oleh 150.000 pengunjung. Lebih dari sekadar pameran, membaca bagi mereka kini telah bertransformasi menjadi gerakan kultural yang seksi, penuh gaya, dan sangat fotogenik di media sosial. Unsur “pamer” atau berbagi momen estetik (socially shareable dan Instagramable) menjadi nyawa utama yang menghidupkan tren ini.

Melansir laporan The Picture, gaya hidup text hip sangat digandrungi oleh kelompok usia 20-an hingga 30-an dan terekam jelas di dunia maya, di mana kegiatan ini begitu sering dijadikan tagar (often tagged on social media). Senada dengan hal tersebut, The Korea Herald menyoroti bahwa membaca dewasa ini dipandang bukan sekadar aktivitas yang produktif untuk memperkaya diri, melainkan juga “stylish, trendy and socially shareable” (modis, trendi, dan layak dibagikan secara sosial).

BACA JUGA:

Feri Amsari: Prabowo Harus Baca “Politik Kaum Tertindas”

Bedah Buku “Politik Kaum Tertindas”, Feri Amsari Kritik Praktik Blusukan yang Kehilangan Esensi

In This Economy: Yang Lain Boleh Efisiensi, Kecuali Literasi

Renebook Hadirkan Ruang Refleksi Diri Lewat Meaning Sharing Session di IIBF 2026

Kini, anak muda berlomba-lomba mengunggah kutipan literatur estetis ke media sosial (posting literary quotes), mengikuti tantangan membaca “buku bata” (buku tebal), hingga memenuhi klub baca. “Kita mungkin selama ini melewatkan cara baru masyarakat berinteraksi dengan buku. Pada titik tertentu, kita harus mendefinisikan ulang aktivitas membaca itu sendiri,” ujar Kim Nam-young, tim peneliti dari Kementerian Kebudayaan, menanggapi anomali tersebut.

Pergeseran persepsi ini terbilang signifikan. Sebanyak 20,3 persen orang dewasa mengaku kini membaca murni karena mencari kesenangan, bukan lagi sekadar urusan akademik. Menyikapi momentum manis tersebut, pemerintah Korea Selatan berkomitmen memperluas budaya literasi harian melalui intervensi program yang dipusatkan di toko buku lokal dan komunitas kerja agar tren positif ini dapat terus bertahan.

(Diolah berdasarkan data dan laporan dari The Korea Herald, The Asia Business Daily, The Picture, dan Yonhap News)

Topik: korea selatanliterasitext hip
SendShareTweetShare
Sebelumnya

WAKAF LITERASI: Solusi Impian Hadapi Pembajakan Buku

Selanjutnya

Menikah Bukan Cuma Soal ‘I Do’: Nasihat dan Pandangan Realistis dari Imam al-Ghazali

Anis Maftukhin

Anis Maftukhin

Pengasuh Ponpes Wali, jurnalis, penceramah, motivator, penerjemah, dan praktisi komunikasi politik. Telah menerjemahkan dan mengedit 160+ buku. Tokoh Inspiratif Jateng 2023 dan ASEAN Award 2024.

TULISAN TERKAIT

Feri Amsari: Prabowo Harus Baca “Politik Kaum Tertindas”

Feri Amsari: Prabowo Harus Baca “Politik Kaum Tertindas”

10 Oktober 2026
politik kaum tertindas

Bedah Buku “Politik Kaum Tertindas”, Feri Amsari Kritik Praktik Blusukan yang Kehilangan Esensi

10 Oktober 2026
in this economy

In This Economy: Yang Lain Boleh Efisiensi, Kecuali Literasi

7 Oktober 2026
GENTLE REMINDER

Renebook Hadirkan Ruang Refleksi Diri Lewat Meaning Sharing Session di IIBF 2026

5 Oktober 2026
Selanjutnya
Selanjutnya
menikah

Menikah Bukan Cuma Soal 'I Do': Nasihat dan Pandangan Realistis dari Imam al-Ghazali

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Feri Amsari: Prabowo Harus Baca “Politik Kaum Tertindas”

Feri Amsari: Prabowo Harus Baca “Politik Kaum Tertindas”

10 Oktober 2026
politik kaum tertindas

Bedah Buku “Politik Kaum Tertindas”, Feri Amsari Kritik Praktik Blusukan yang Kehilangan Esensi

10 Oktober 2026
in this economy

In This Economy: Yang Lain Boleh Efisiensi, Kecuali Literasi

7 Oktober 2026
GENTLE REMINDER

Renebook Hadirkan Ruang Refleksi Diri Lewat Meaning Sharing Session di IIBF 2026

5 Oktober 2026
nabi yusuf

Dari Penjara Menuju Lumbung Negara: Refleksi Kebijakan Publik atas “Strategi Fiskal Nabi Yusuf”

2 Oktober 2026
nahwul qulub tata bahasa ruhani

Kitab Nahwul Qulub: Asupan Gizi Tambahan Untuk Nalar Para Santri

30 September 2026

© 2026 Jakarta Book Review (JBR) | Kurator Buku Bermutu

  • Tentang
  • Redaksi
  • Iklan
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Masuk
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In