Survei Creative Australia: 14,4 Juta Warga Setia Membaca, Buku Cetak Belum Tergantikan
Kertas belum takluk pada layar. Di tengah gempuran era digital, 69 persen warga Australia tetap setia membaca, dengan buku fisik sebagai primadona mutlak. Meski rekomendasi lisan masih mendominasi, algoritma TikTok kini turut mendikte selera bacaan satu dari lima warga. Pupuk mujarab pencetak para pelahap buku usia dewasa ini adalah pendidikan seni di sekolah sekolah.
JBR — Di tengah masifnya gempuran hiburan digital dan media sosial, kebiasaan membaca nyatanya enggan ditinggalkan oleh warga Australia. Laporan terbaru mencatat, sebanyak 14,4 juta warga atau sekitar 69% dari populasi berusia 15 tahun ke atas di Negeri Kangguru tersebut tetap setia menjadikan aktivitas membaca sebagai sumber kesenangan pada tahun 2025.
Berdasarkan laporan Creative Transformations: Results of the National Arts Participation Survey edisi ke-6 yang dirilis oleh lembaga Creative Australia, tingkat partisipasi membaca ini terbilang sangat stabil. Angka tersebut tidak mengalami perubahan sejak tahun 2022, sekaligus meredakan kekhawatiran banyak pihak setelah sebelumnya partisipasi membaca sempat merosot dari 72% pada tahun 2019.
Pengamat literasi dari Monash University, Ben Eltham, seperti dikutip dari SBS News (5/6/2026), menyoroti temuan ini sebagai sinyal positif. Stabilitas data ini menjadi angin segar yang menepis anggapan bahwa masyarakat modern mulai meninggalkan literasi panjang.
Buku Cetak Tetap Jadi Primadona
Menariknya, terlepas dari kepraktisan teknologi, buku fisik atau cetak tetap menjadi format bacaan yang paling populer. Dua dari tiga warga Australia masih memilih aroma dan tekstur kertas saat menyelami sebuah cerita.
Frekuensi membaca pun menunjukkan tren peningkatan di semua format. Hampir setengah dari pembaca buku cetak (49%) meluangkan waktu untuk membaca setidaknya setiap minggu, naik dari posisi 45% pada tahun 2022.
Sementara itu, format digital juga menunjukkan geliat yang konsisten:
- Buku Elektronik (E-book): Tingkat membaca e-book naik menjadi 26%, dengan sekitar seperempat dari penggunanya membaca setiap minggu.
- Buku Audio (Audiobook): Tingkat mendengarkan buku audio meningkat menjadi 24%, di mana seperempat pendengarnya juga rutin mengonsumsi format ini setiap minggu.
Dari Mulut ke Mulut hingga “Racun” TikTok
Terkait bagaimana warga Australia menemukan buku baru untuk dibaca, cara-cara konvensional rupanya masih mendominasi. Rekomendasi “dari mulut ke mulut” menjadi metode utama yang paling banyak diandalkan, disusul oleh kunjungan ke perpustakaan dan penelusuran di rak-rak toko buku.
Namun, pengaruh era digital tidak bisa dikesampingkan. Satu dari lima warga Australia kini menemukan buku bacaan mereka melalui platform media sosial, seperti TikTok (yang melahirkan tren BookTok) dan Instagram (Bookstagram).
Faktor Demografi dan Pendidikan Seni
Mendedah lebih jauh profil para pembaca, survei ini menemukan tren unik dari segi demografi dan latar belakang pendidikan:
- Gender: Responden dengan gender beragam mencatat tingkat partisipasi tertinggi, yakni 96% membaca untuk kesenangan. Angka ini melampaui partisipasi wanita (73%) dan pria (65%).
- Latar Belakang Komunitas: Warga dari komunitas First Nations (Masyarakat Adat Australia) tercatat memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk membaca demi kesenangan dibandingkan dengan warga non-First Nations.
- Korelasi Pendidikan Seni: Survei membuktikan adanya benang merah antara pendidikan seni di masa sekolah dengan kebiasaan membaca di masa dewasa. Warga yang pernah mengenyam pendidikan seni di sekolah memiliki tingkat partisipasi membaca yang jauh lebih tinggi (75%) dibandingkan dengan mereka yang tidak mendapatkan pendidikan tersebut (53%).
Merangkum rilis data dari ArtsHub (3/6/2026) dan SBS News (5/6/2026), temuan ini menegaskan bahwa membaca di Australia bukan sekadar kewajiban akademis, melainkan kebiasaan kultural yang berakar kuat. Perpaduan antara kecintaan pada buku fisik, pengaruh media sosial, dan fondasi pendidikan seni terbukti mampu menjaga ketahanan literasi di tengah derasnya arus disrupsi digital. (Diolah dari berbagai sumber)







