Senin, 30 Maret 2026
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)

Kala Para Pemimpin Keberlanjutan Berkumpul di Negeri Singa

Ke depan, dunia yang tak stabil bakal terus merongrong upaya menggapai keberlanjutan.

Oleh Jalal
18 Juli 2024
di Kolom
A A

Mulai menuliskan catatan pendek sekitar 2 jam setelah acara sejak pagi hingga malam selesai sebetulnya tak bijak. Tak ada waktu untuk benar-benar mencerna apa yang didiskusikan, apalagi memikirkan konsekuensi-konsekuensinya. Tetapi catatan ini memang bukan untuk tujuan itu, melainkan untuk memastikan bahwa topik yang paling panas bisa disajikan panas-panas.

Jadi, apa yang saya dapatkan dari berkumpulnya para petinggi Cambridge Institute of Sustainability Leadership (CISL) dan para alumninya di kawasan Asia Pasifik ini? Dengan menanggung kemungkinan melewatkan beberapa poin penting, menurut saya yang terpenting adalah sebagai berikut:

Geopolitik dan Keberlanjutan

Tak ada yang menduga Covid-19 bakal datang di awal 2020. Setelah reda, tampaklah dunia tak seperti sebelumnya. Bukan cuma pemulihannya tidak mulus, tapi malahan terhambat oleh invasi Rusia ke Ukraina dan kemudian menguatnya aksi militer Israel di Palestina. Rantai pasok dunia terganggu, emisi akibat peperangan meningkat, dan sumber daya yang sangat dibutuhkan untuk keberlanjutan malah teralihkan untuk persenjataan. Ke depan, dunia yang tak stabil bakal terus merongrong upaya menggapai keberlanjutan.

Kemunafikan Barat

Hal terpenting yang terungkap dari peperangan adalah kemunafikan Barat. Mereka mengutuki Rusia namun pada saat yang sama mendukung Israel yang sudah melanggar konvensi internasional sejak pertengahan abad lalu. Ini membuat kepercayaan pada kemampuan tata kelola internasional apa pun, termasuk keberlanjutan, terkikis. Ketika pengadilan AS memutuskan perusahaan-perusahaan teknologi AS yang menggunakan kobalt dari Kongo tak bersalah atas situasi pekerja anak, perusahaan-perusahaan di Asia makin kehilangan respek atas tuntutan kinerja lingkungan dan sosial dari mereka, dan juga dari Eropa (yang dianggap sama munafiknya). Kalau mau keberlanjutan lebih bergigi, tanggung jawab harus ditunjukkan juga oleh perusahaan-perusahaan AS dan Eropa yang berada di ujung rantai nilai.

Krisis Iklim dan Transisi Energi yang Adil

Walau isu-isu lingkungan lain juga dibicarakan, namun 12 bulan terakhir di tahun 2023-2024 di mana suhu Bumi sudah konsisten berada di rerata 1,5 derajat Celsius di atas pra-Revolusi Industri membuat semua orang khawatir. Ini membuat isu transisi energi menjadi topik pembicaraan penting. Dan, dengan melihatnya dari kawasan ini, maka pembicaraannya semakin berat ditekankan pada transisi yang adil, terutama terkait sumber daya finansial dari Barat untuk memastikan terlindunginya kelompok rentan. Lagi-lagi, keseriusan Barat ditagih, lantaran dinilai lebih banyak ‘omon-omon’ dibandingkan yang seharusnya.

BACA JUGA:

Lampu Petunjuk

Membijakkan Sabar dan Ikhlas di Kota Suci

1 Muharram: Momen Kebangkitan Spiritual Kita

Ugly, Bad and Okay Mining: Pertambangan Indonesia di Persimpangan Jalan

Asia adalah Lokasi Terpenting Perjuangan Keberlanjutan

Asia adalah salah satu wilayah terpenting penghasil sumber daya alam untuk transisi energi. Asia juga adalah wilayah manufaktur untuk keperluan global. Asia juga merupakan lokasi yang masih membutuhkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi untuk mayoritas warganya. Kombinasi hal-hal itu membuat Asia menjadi lokus terpenting perjuangan keberlanjutan. “London, apalagi Cambridge, bukanlah lokasi di mana keberlanjutan itu paling perlu diperjuangkan dengan serius,” begitu kata salah seorang peserta diskusi.

Semua Mata Mengarah ke Tiongkok dan Indonesia

Jelas, tak ada yang jadi sorotan lebih kuat daripada Tiongkok, kalau peserta global membicarakan Asia. Berbagai kemajuan yang dicapai Tiongkok dalam eradikasi kemiskinan, peningkatan mutu udara di Beijing  dan kota-kota besar lainnya, investasi dan produksi energi terbarukan, juga dominasi mereka dalam produksi kendaraan listrik mengundang kekaguman. Di sisi lain, dominasi mereka atas pengolahan mineral untuk energi terbarukan di mana pun mineralnya berada agaknya membuat mereka yang ada di Eropa dan AS benar-benar sesak nafas, dan menurut mereka bukanlah hal yang baik untuk masa depan elektrifikasi dan dekarbonisasi secara keseluruhan.

Dari Tiongkok pembicaraan beralih ke lokasi di mana sumber mineral untuk transisi energi diambil. Lantaran kobalt terbanyak ada di Kongo, lithium terbanyak ada di Australia, dan tembaga terbanyak ditambang di Chile, maka semua mata melihat Indonesia dengan nikelnya. Semua bertanya-tanya soal hubungan perusahaan pertambangan nikel Indonesia dengan rekan bisnis Tiongkoknya, juga peluang bagaimana Eropa dan AS bisa beroleh mineral yang sama.

Di luar soal nikel, pemindahan ibu kota ke Nusantara juga jadi topik menarik, terutama soal apakah memang Indonesia serius dalam mewujudkan janji membuatnya menjadi contoh ibu kota yang berkelanjutan. Pertanyaan lainnya: adakah yang masih bisa/bakal dilakukan untuk membuat kemacetan Jakarta berkurang dan mutu udaranya membaik? 

Keadilan Sosial (Mungkin) Sulit Dijual

Mengingat banyak urusan terkait dengan isu-isu sosial di seluruh dunia, terutama soal Bisnis dan HAM, DEI, dan perlakuan terhadap kelompok-kelompok rentan, tahun lalu CISL menawarkan kursus Bisnis dan Keadilan Sosial, di mana saya menjadi peserta kohort inauguralnya. Menurut saya, kursus itu sangatlah membuka mata, tetapi kenyataan bahwa jumlah peserta yang mendaftar tak cukup membuat di bulan lalu kursus ini tak jadi diselenggarakan. Beberapa komentar bilang bahwa istilah ‘keadilan sosial’ itu lebih dekat ke sektor pemerintah dan masyarakat sipil. Bisnis mungkin agak alergi atau setidaknya takut mendengarnya dan membuat target kursus CISL itu (para profesional dan konsultan keberlanjutan) ragu untuk mengambilnya. Benarkah demikian? Entahlah.

Peran Investor dan Bank

Seluruh sektor sebetulnya mendapat sorotan keras. Banyak yang melontarkan kritik, bahkan otokritik, terhadap perilaku perusahaan di sektor mana pun tidak cukup serius mengarahkan diri pada keberlanjutan. Arah perubahan ke keberlanjutan sebetulnya diapresiasi, tapi kelambatannya menimbulkan perasaan frustrasi. Dan, kecenderungan greenwashing dan greenhushing dicaci. Di antara sektor yang dianggap bakal bisa bikin perubahan lebih cepat dan green bo’ongan itu bisa ditekan itu adalah sektor keuangan, terutama investor institusional dan bank. Tetapi, alih-alih mendorong kuat seluruh sektor dengan kekuasaannya, sektor ini dipandang keterlaluan kelambatannya berubah. Seluruh peserta berharap kondisi ini bisa segera berubah agar dunia punya peluang selamat pada waktunya.

Tata Kelola Itoe Koentji

“Di Asia perhatian kepada isu lingkungan mungkin 30%, sosial sampai 65%, dan tata kelola cuma 5% saja. Banyak perusahaan tak ingin perhatian terhadap tata kelola menjadi lebih kuat.” Begitu kata seorang peserta yang institusinya memegang data ESG sangat besar di kawasan ini. Sementara, beragam penelitian menunjukkan bahwa peningkatan kinerja tata kelola itulah yang paling mungkin mendongkrak kinerja finansial perusahaan. Seluruh peserta agaknya mengamini bahwa perusahaan-perusahaan di kawasan ini memang perlu jauh lebih serius dalam urusan tata kelola, termasuk dan terutama tata kelola yang mengarahkan pada kebaikan kolektif para pemangku kepentingan dan mengarahkan pada keberlanjutan.

Sekali lagi, sangat mungkin ada ceceran topik yang tak saya masukkan di dalam catatan ringkas ini. Mungkin juga ada poin-poin di dalam setiap topik yang tak cukup baik saya representasikan. Dua gelas teh tarik yang saya tenggak habis sambil menuliskan catatan ini agaknya tak bikin saya bisa mengingat lebih banyak detail lagi.

 

Singapura, 17 Juli 2024 23:45

 

Bacaan Terkait

Generasi Muda dan Krisis Iklim: Kami yang Cemas dan Marah

Perusahaan, Bertanggungjawablah atas Seluruh Dampakmu

Mengekang Dorongan Konsumsi Tiada Henti

Fikih Ekologi Ulil dan Deep Ecology

Topik: etika bisnisisu keberlanjutankeberlanjutan bisniskrisis iklim
SendShareTweetShare
Sebelumnya

Hijrah Muharam: Dari Radikalisasi ke Jihad Literasi

Selanjutnya

Tak Sekadar Teriakan “How Dare You!”: Memahami Perjuangan Greta Thunberg Secara Lebih Komprehensif

Jalal

Jalal

Provokator Keberlanjutan, ESG and CSR Strategist, dan penggila buku, film, dan duren. Pengarang buku "Mengurai Benang Kusut Indonesia: Jokowinomics di Bawah Cengkeraman Korporasi" (2020).

TULISAN TERKAIT

Lampu Petunjuk

Lampu Petunjuk

11 Juli 2025
Membijakkan Sabar dan Ikhlas di Kota Suci

Membijakkan Sabar dan Ikhlas di Kota Suci

10 Juli 2025
1 Muharram: Momen Kebangkitan Spiritual Kita

1 Muharram: Momen Kebangkitan Spiritual Kita

27 Juni 2025
Ugly, Bad and Okay Mining: Pertambangan Indonesia di Persimpangan Jalan

Ugly, Bad and Okay Mining: Pertambangan Indonesia di Persimpangan Jalan

27 Juni 2025
Selanjutnya
Selanjutnya
Tak Sekadar Teriakan “How Dare You!”: Memahami Perjuangan Greta Thunberg Secara Lebih Komprehensif

Tak Sekadar Teriakan “How Dare You!”: Memahami Perjuangan Greta Thunberg Secara Lebih Komprehensif

Ulasan Pembaca 4

  1. Ping-balik: Dari Depok Menaklukkan Istanbul - Jakarta Book Review (JBR)
  2. Ping-balik: Menjadi Pemimpin, Menjadi Kekuatan untuk Kebaikan  - Jakarta Book Review (JBR)
  3. Ping-balik: Menuju Indonesia 2040 yang Bukan Kaleng-kaleng – Penerbit Milestone
  4. Ping-balik: Dari Depok Menaklukkan Istanbul – Dasbor JJ

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

kenal lebih dekat

Kenali Lebih Dekat untuk Menjauhi Prasangka

26 Januari 2026
Kisah dari Negeri Para Insinyur

Kisah dari Negeri Para Insinyur

21 November 2025

Di Persimpangan Jalan: Minyak, Memori, dan Misi Mustahil Indonesia

17 November 2025
Try Sutrisno

Peluncuran Buku “Filosofi Parenting Try Sutrisno” Sajikan Formula Pola Asuh Keluarga Indonesia

15 November 2025
Tahap Akhir “AYO BACA!” Institut Prancis Indonesia: Soroti Dunia Literasi dan Sastra Kontemporer

Tahap Akhir “AYO BACA!” Institut Prancis Indonesia: Soroti Dunia Literasi dan Sastra Kontemporer

14 November 2025
Buku “The Girl with the Dragon Tattoo” Jadi Best Crime & Mystery versi Goodreads

Buku “The Girl with the Dragon Tattoo” Jadi Best Crime & Mystery versi Goodreads

29 Oktober 2025

© 2025 Jakarta Book Review (JBR) | Kurator Buku Bermutu

  • Tentang
  • Redaksi
  • Iklan
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Masuk
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In