Senin, 15 Juni 2026
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)

Bahaya Ormas Agama Cawe-Cawe Main Tambang

Ironis jika ormas keagamaan berdiri bersisian dengan perusahaan industri ekstraktif vis a vis dengan komunitas.

Oleh Hairus Salim
5 Juni 2024
di Kolom
A A
Ormas Agama Tambang

Sumber gambar: Berita Nasional Indonesia

Agama bukan urusan sembahyang dan doa saja. Karena itu, agama—melalui kelembagaannya—boleh dan perlu terlibat dalam bidang pendidikan (bikin sekolah); sosial, dan kesehatan (bikin rumah sakit misal), dan lain-lain—di berbagai tempat dan di berbagai zaman. Demikianlah yang dilakukan agama, tapi tidak untuk terlibat dalam soal tambang. Mengapa?

Berbeda dengan sekolah (pendidikan); rumah yatim (sosial); kesehatan (RS), misalnya, yang merupakan pengabdian dan pelayanan, tambang adalah bagian dari industri ekstraktif, yang mengolah dan menguras sumber daya alam. Ia bisa menimbulkan penghancuran habitat, mengakibatkan polusi, dan penipisan sumber daya, serta bencana alam lainnya. Masak agama menjadi penghancur alam dan lingkungan?

Karena daya rusak tambang, orang banyak mulai meninggalkannya dan mulai mencari alternatif-alternatif baru yang lebih ramah dan memberikan pada kehidupan yang lebih sehat dan beradab. Kalangan agama semestinya mendukung dan bahkan terlibat dalam pencarian energi alternatif ini.

Selain itu, industri ekstratif ini lebih banyak menguntungkan negara-negara besar, dan makin memerosotkan negara asal, dan terutama komunitas tempat tambang itu dikuras, bukan hanya alam, tapi sistem sosialnya juga hancur.

Dalam keadaan seperti itu, agama semestinya menjadi pengkritik industri ekstraktif, bukan malah menjadi pelaku perusakannya. Lebih dari itu, ketika terjadi konflik antara komunitas dan perusahaan tambang (seperti banyak terjadi di berbagai tempat), maka betapa ironisnya jika ormas keagamaan berdiri bersisian dengan perusahaan industri ekstraktif tersebut vis a vis dengan komunitas. Ia bukan lagi pengabsah industri tambang, tapi telah menjadi salah satu pelakunya. Menyedihkan, Mas Bro!

BACA JUGA:

WAKAF LITERASI: Solusi Impian Hadapi Pembajakan Buku

Kifayatul Atqiya’: Menjinakkan Hawa Nafsu di Era Digital

Kala Mesin AI Menjawab, Manusia (Harus) Bertanya

Jejak Fatwa Haram Kopi dan Manuskrip Yang Raib

Jika ormas keagamaan ikut cawe-cawe dalam industri tambang, maka ia kehilangan legitimasi moralnya untuk mengkritik bukan hanya dampak tambang, juga yang lainnya. Karena ia kehilangan keberpihakan dan komitmen sosialnya kepada masyarakat. Pada kenyataan, penyertaan ormas agama ini mungkin semacam pola penjinakan saja. Dalam praktiknya, nama ormas agama dipakai sebagai “atas nama” saja dengan “sedikit pembagian”, pembagian terbesarnya tetap para investor kawakan tersebut.

Industri tambang memang menggiurkan karena bisa menghasilkan banyak fulus. Benar-benar bikin ngiler. Tak bisa dibantah bahwa di kalangan masyarakat di mana ada tambang, kelimpahan uang ini telah mengakibatkan demoralisasi. Yang kaya makin kaya (di Kalimantan Selatan, hanya dalam 30 tahun terakhir ada rumah seperti istana [setelah era tambang], sebelumnya tidak pernah ada). Agama, kalau mau omong moral, mau gimana lagi, lha wong ia sudah mengabsahkan salah satu sumber demoralisasi tersebut. Bahkan kalangan agama yang terlibat dalam tambang itu, terutama karena rendahnya tradisi akuntabilitas dan transparansi, mungkin akan menjadi korban utama demoralisasi tersebut, rebutan jatah di kalangan elite pimpinannya dan korupsi merajalela di dalamnya. Benar-benar mengkhawatirkan.

“Kita” (saya ajak kalian yang sepaham) bukan hanya perlu khawatir dengan ide menyertakan ormas ikut industri tambang, tapi juga harus menolaknya.

 

Sumber: Facebook Hairus Salim

Topik: cawe-cawe main tambangindustri ekstraktifkolomormas agama
SendShareTweetShare
Sebelumnya

Umur Berapa Anda di Tahun 2050? Seperti Apa Indonesia di Tahun Itu?

Selanjutnya

Agar Fikih Lingkungan Beneran Bertaring

Hairus Salim

Hairus Salim

Esais, aktif di Yayasan LKiS, Yogyakarta.

TULISAN TERKAIT

wakaf literasi

WAKAF LITERASI: Solusi Impian Hadapi Pembajakan Buku

10 Juni 2026
kifayatul atqiya

Kifayatul Atqiya’: Menjinakkan Hawa Nafsu di Era Digital

5 Juni 2026
kala mesin ai menjawab

Kala Mesin AI Menjawab, Manusia (Harus) Bertanya

3 Juni 2026
Jejak Fatwa Haram Kopi dan Manuskrip Yang Raib

Jejak Fatwa Haram Kopi dan Manuskrip Yang Raib

30 Mei 2026
Selanjutnya
Selanjutnya
Fikih Lingkungan

Agar Fikih Lingkungan Beneran Bertaring

Ulasan Pembaca 2

  1. Ping-balik: Apakah Fikih (Tambang) Memadai? - Jakarta Book Review (JBR)
  2. Ping-balik: Kiai Ulil dan Klaim “Penambangan Itu Baik, Asal Bukan Bad Mining” - Jakarta Book Review (JBR)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

menikah

Menikah Bukan Cuma Soal ‘I Do’: Nasihat dan Pandangan Realistis dari Imam al-Ghazali

13 Juni 2026
text hip

Tren “Text Hip” Dongkrak Literasi di Korea Selatan

11 Juni 2026
buku cetak australia

Survei Creative Australia: 14,4 Juta Warga Setia Membaca, Buku Cetak Belum Tergantikan

8 Juni 2026
future history

Fiksi Ilmiah Bangkit Lagi: Penghargaan “Future History” Musim Kedua Tawarkan Hadiah Lebih Besar dan Kategori Skenario

5 Juni 2026
sayyidat al-qamar

Sayyidat al-Qamar: Novel Fenomenal dari Padang Pasir

4 Juni 2026
ancaman-nyata

Ancaman Nyata di Balik Fiksi: Saat AI dan Kiamat Ekologi Menjadi Karib

3 Juni 2026

© 2026 Jakarta Book Review (JBR) | Kurator Buku Bermutu

  • Tentang
  • Redaksi
  • Iklan
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Masuk
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In