Rabu, 1 April 2026
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)

Menjadi Pemimpin, Menjadi Kekuatan untuk Kebaikan 

Kini, ukuran kesuksesan bisnis tak lagi hanya didasarkan pada pencapaian finansial tapi juga pada kontribusi terhadap keberlanjutan dan kesejahteraan manusia.

Oleh Jalal
17 November 2024
di Resensi
A A

Di tengah dunia yang terus berubah dengan cepat, penuh tantangan global seperti krisis iklim, ketimpangan sosial, dan ketidakpastian ekonomi, peran pemimpin menjadi semakin krusial. Namun, kepemimpinan tradisional yang hanya berorientasi pada keuntungan tidak lagi memadai, bahkan diyakini sedang menuju ajalnya. “The profit-driven age has given us many great things. Wealth. Status. Belongings. Power. Freedom. But it has also given us smog.  And climate change. And waste. And inequality. And soaring suicide rates. And global lockdowns. It is the premise of this book that the profit-driven age is ending. It is not evil or immoral, but its usefulness as a prevailing paradigm is increasingly in question. It is coming to a close and, deep down, however much we may fight it, we know that to be true.”

John Blakey, yang menuliskan kalimat-kalimat di atas dalam buku mutakhirnya Force for Good: How to Thrive as a Purpose-Driven Leader, mengajukan model kepemimpinan baru yang lebih bermakna, yaitu kepemimpinan untuk tujuan mulia (purpose-driven leadership). Dengan mengedepankan keberlanjutan, etika, dan dampak sosial, Blakey menyuguhkan panduan praktis untuk pemimpin yang ingin membawa perubahan positif dalam organisasi mereka dan berkontribusi pada perbaikan dunia.

Sebagai orang yang merasa bahwa seluruh dunia, termasuk Indonesia, sedang mengalami krisis kepemimpinan, saya tak bisa lebih berbahagia lagi ketika menemukan buku ini. Membaca beberapa halaman awalnya saja cukup untuk membuat saya terpanggil untuk bertekad menuliskan hasil pembacaan atas buku yang bernas dan terbit di waktu yang tepat ini.

Membongkar Model Lama, Membentuk Masa Depan 

Seperti yang dikutip di atas, Blakey mengakui kontribusi besar dari model kepemimpinan tradisional di era industri dan Kapitalisme. Model ini telah membawa kemajuan teknologi, kemakmuran ekonomi, dan inovasi di berbagai bidang. Namun, ia juga tidak menutup mata terhadap sisi gelapnya, seperti kerusakan lingkungan, ketimpangan sosial, dan meningkatnya tingkat stres dan tekanan mental di masyarakat modern. Karena bisnis adalah institusi yang paling kuat dalam era industrialisasi bersandarkan pada ideologi Kapitalisme, maka Blakey meyakini bahwa kepemimpinan bisnislah yang terutama harus diubah. Jadi, walaupun buku ini bisa dibaca oleh siapa pun, para (calon) pemimpin bisnis adalah mereka yang bakal mendapatkan manfaat terbesar.

BACA JUGA:

Kenali Lebih Dekat untuk Menjauhi Prasangka

Kisah dari Negeri Para Insinyur

Di Persimpangan Jalan: Minyak, Memori, dan Misi Mustahil Indonesia

Mitos, Mitigasi, dan Krisis Iklim: Membaca Narasi Putri Karang Melenu dan Naga Sungai Mahakam

Menurut Blakey, model bisnis yang menempatkan keuntungan di atas segalanya kini harus bertransformasi. Di era baru ini, ukuran kesuksesan bisnis tidak lagi hanya didasarkan pada pencapaian finansial tetapi juga pada kontribusi terhadap keberlanjutan dan kesejahteraan manusia. Konsep triple bottom line—People (manusia), Planet (lingkungan), dan Profit (keuntungan)—menjadi landasan dalam membangun organisasi yang relevan dan berdampak positif.

Blakey menghubungkan pendekatannya dengan teori kebutuhan Maslow, yang menunjukkan bahwa manusia, termasuk pemimpin, memiliki kebutuhan yang terus berkembang, mulai dari kebutuhan dasar hingga aktualisasi diri. Kepemimpinan bertujuan mulia, menurutnya, adalah tentang bagaimana melampaui kebutuhan pribadi untuk mengejar nilai-nilai intrinsik seperti kebaikan, keadilan, dan keberlanjutan.

Dimensi Kepemimpinan Bertujuan Mulia 

Dalam bab 3 hingga 5 bukunya, Blakey memperkenalkan tiga dimensi utama yang harus dikuasai oleh pemimpin dalam menjalankan kepemimpinan berbasis tujuan: UP, IN, dan OUT. Setiap dimensi ini berfungsi sebagai pilar untuk mendukung transformasi pemimpin dalam membangun organisasi yang bertujuan mulia.

UP: Mencapai Panggilan Tertinggi. Dimensi ini menekankan pentingnya pemimpin untuk menemukan dan terhubung dengan panggilan tertinggi mereka. Apa tujuan utama seorang pemimpin? Bagaimana kontribusi pemimpin terhadap masyarakat dan lingkungan? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi inti dari dimensi UP.

Blakey menyatakan bahwa pemimpin harus mampu selalu menjaga koneksi emosional dengan tujuan mereka. Tujuan ini tidak boleh menjadi beban, tetapi menjadi sumber kegembiraan dan motivasi. Dalam dunia yang penuh distraksi, menjaga fokus pada panggilan ini adalah tantangan besar. Sebagai contoh, seorang CEO yang memimpin perusahaan dengan tujuan keberlanjutan harus memastikan bahwa keputusan bisnisnya selaras dengan nilai-nilai ini, meskipun menghadapi tekanan dari pemegang saham yang belum bisa melihat kaitan antara keberlanjutan dengan kinerja keuangan jangka panjang.

IN: Membangun Ketahanan Pribadi. Dimensi IN berbicara tentang pentingnya ketahanan emosional, fisik, dan spiritual seorang pemimpin. Blakey menyoroti bahwa pemimpin bertujuan mulia lebih sering menghadapi tekanan yang jauh lebih besar dibandingkan mereka yang menggunakan model tradisional, karena tuntutan untuk menjaga integritas, membangun kepercayaan, dan memenuhi harapan berbagai pemangku kepentingan.

Ketahanan ini tidak hanya tentang kekuatan mental, tetapi juga tentang menjaga keseimbangan hidup. Pemimpin harus mampu menjaga kesehatan mereka sambil memenuhi tanggung jawab yang besar. Blakey memberikan contoh seorang pemimpin yang terlalu sibuk dengan misi organisasi hingga mengalami burnout atau kelelahan fisik, mental dan emosional. Ia menekankan bahwa pemimpin bertujuan mulia harus menjaga kehidupan pribadi mereka—termasuk keluarga, kesehatan, dan waktu luang—agar tidak menjadi korban dari misi yang mereka emban.

OUT: Memimpin dengan Empati dan Harapan. Dimensi OUT berfokus pada bagaimana para pemimpin memimpin tim dan pemangku kepentingan mereka. Dalam dunia yang semakin kompleks, memimpin dengan empati menjadi kunci keberhasilan. Blakey mengingatkan bahwa pemimpin harus mampu membangun komunitas yang inklusif, memaafkan kesalahan individu tanpa mengorbankan misi organisasi, dan menjadi mercusuar harapan bagi para pemangku kepentingan.

Pemimpin bertujuan mulia juga harus mampu menangani kebutuhan yang beragam dari pemangku kepentingan. Tidak semua orang di organisasi berada pada tingkat motivasi yang sama. Memahami kebutuhan mereka yang spesifik dan menciptakan rasa memiliki dalam tim menjadi tantangan sekaligus peluang bagi pemimpin untuk membangun budaya organisasi yang positif.

Perlengkapan untuk Bertahan dan Tumbuh 

Untuk mendukung pemimpin menjalankan ketiga dimensi tersebut, pada bab 6 bukunya, Blakey memperkenalkan Thrival Kit, sebuah panduan praktis untuk mengembangkan kebiasaan positif. Kit ini mencakup rutinitas harian, mingguan, dan bulanan yang dirancang untuk membantu pemimpin menjaga keseimbangan, mengasah keterampilan, dan tetap termotivasi.

Selain itu, pada bab berikutnya Blakey menyediakan alat untuk mengenali kecenderungan gaya kepemimpinan, yaitu zealot (fanatik), martyr (syahid), atau Pied Piper (pemikat). Dengan memahami kecenderungan ini, pemimpin dapat mengenali risiko yang mungkin muncul dari gaya kepemimpinan mereka dan mengambil langkah untuk menyeimbangkannya. Para fanatik perlu mengasah keterampilan untuk menginspirasi orang lain untuk mencapai tujuan mulia dan membangun hubungan pribadi yang lebih kuat berdasarkan kebutuhan dan perasaan mereka. Para martir memerlukan sistem peringatan dini ketika daya tahan mereka mulai menipis dan berisiko mengalami kelelahan. Sementara para pemikat perlu meluangkan lebih banyak waktu untuk merenungkan panggilan yang lebih tinggi dan menghasilkan visi organisasi yang lebih jelas.

B Corp: Revolusi Bisnis untuk Kebaikan 

Blakey juga mengangkat gerakan B Corp sebagai bukti nyata bahwa bisnis dapat menjadi kekuatan untuk kebaikan. Gerakan itu menyatakan bahwa tujuannya adalah “… redefine success in business by using the innovation, speed, and capacity for growth of business not only to make money but also to help alleviate poverty, build stronger communities, restore the environment, and inspire us to work for a higher purpose.” Karenanya, perusahaan dengan sertifikasi B Corp akan terus membuktikan komitmen untuk mengintegrasikan keberlanjutan dan keadilan sosial ke dalam operasi bisnis mereka.

Namun, menjadi B Corp bukanlah tugas mudah. Sertifikasi ini membutuhkan evaluasi mendalam tentang semua aspek perusahaan, mulai dari dampak lingkungan hingga tata kelola organisasi. Bagi pemimpin, hal ini berarti bahwa mereka harus benar-benar membuktikan apa yang mereka nyatakan dan menunjukkan integritas dalam semua keputusan mereka.

Gerakan B Corp, menurut Blakey, adalah contoh bagaimana bisnis dapat menjadi agen perubahan yang nyata. Dalam konteks global, gerakan ini mencerminkan pergeseran paradigma bisnis dari fokus pada keuntungan semata menjadi fokus pada dampak yang lebih luas.

Pelajaran untuk Indonesia 

Model kepemimpinan berbasis tujuan ini memiliki relevansi yang kuat bagi Indonesia. Sebagai negara dengan tantangan besar seperti dampak krisis iklim, kemiskinan, kesenjangan sosial, dan konflik lahan, Indonesia membutuhkan pendekatan baru dalam kepemimpinan bisnis—selain, tentu saja, perubahan lainnya seperti regulasi tata kelola perusahaan yang rasanya masih kelewat primitif.

Perusahaan besar, terutama di sektor perkebunan dan pertambangan, dapat mengadopsi prinsip B Corp untuk memastikan bahwa operasi mereka mendukung keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat setempat. Di sisi lain, UMKM yang merupakan tulang punggung ekonomi Indonesiadapat didorong untuk mengadopsi prinsip-prinsip keberlanjutan, sebagaimana yang sudah diteladankan oleh sejumlah perusahaan Indonesia yang sudah mendapatkan sertifikat B Corp—Instellar, MYCL, RMU, Sukkha Citta, Surplus, dan Xurya di antaranya.

Selain itu, pendekatan UP, IN, dan OUT dapat digunakan untuk menghadapi tantangan unik Indonesia, seperti keberagaman budaya, birokrasi yang kompleks, dan ketimpangan regional. Misalnya, pemimpin dapat menggunakan dimensi UP untuk memastikan bahwa strategi perusahaan mencerminkan nilai-nilai lokal, dimensi IN untuk menjaga kesehatan mental para pemimpin Milenial dan Gen Z, sementara dimensi OUT dapat membantu membangun komunitas yang inklusif di tengah keberagaman tersebut.

Menurut saya, Blakey tidak hanya menawarkan model kepemimpinan, tetapi juga ajakan untuk merenungkan ulang apa arti kesuksesan yang hakiki. Dalam dunia yang semakin menuntut tanggung jawab sosial dan keberlanjutan, kepemimpinan bertujuan mulia menjadi lebih relevan dari sebelumnya. Model ini bukan hanya sebuah teori tetapi sebuah kebutuhan sekaligus pemandu agar para pemimpin dan organisasi yang dipimpinnya tetap atau bahkan semakin relevan di masa depan.

Bacaan terkait

Donald Trump dan Ancaman Krisis Iklim

Agar Bisnis Terus Teguh di Dunia yang Penuh Guncangan

Menghidupkan Sisi Spiritual Manusia (6), Hidup Bermakna: Small Winning

Inikah Akhir Pesta ESG?

Kala Para Pemimpin Keberlanjutan Berkumpul di Negeri Singa

Topik: isu keberlanjutanJohn Blakeykeberlanjutan bisniskepemimpinankrisis kepemimpinan
SendShareTweetShare
Sebelumnya

Menteri Nasar, Pesantren, dan Tuan di Rumah Sendiri

Selanjutnya

Sosok Apollonian Sukarno

Jalal

Jalal

Provokator Keberlanjutan, ESG and CSR Strategist, dan penggila buku, film, dan duren. Pengarang buku "Mengurai Benang Kusut Indonesia: Jokowinomics di Bawah Cengkeraman Korporasi" (2020).

TULISAN TERKAIT

kenal lebih dekat

Kenali Lebih Dekat untuk Menjauhi Prasangka

26 Januari 2026
Kisah dari Negeri Para Insinyur

Kisah dari Negeri Para Insinyur

21 November 2025

Di Persimpangan Jalan: Minyak, Memori, dan Misi Mustahil Indonesia

17 November 2025
Mitos, Mitigasi, dan Krisis Iklim: Membaca Narasi Putri Karang Melenu dan Naga Sungai Mahakam

Mitos, Mitigasi, dan Krisis Iklim: Membaca Narasi Putri Karang Melenu dan Naga Sungai Mahakam

20 Oktober 2025
Selanjutnya
Selanjutnya
Sosok Apollonian Sukarno

Sosok Apollonian Sukarno

Ulasan Pembaca 3

  1. Ping-balik: Memikirkan Ulang Tata Kelola Perusahaan - Jakarta Book Review (JBR)
  2. Ping-balik: Membunuh CEO Itu Gampang: Pelajaran dari Pembunuhan CEO UnitedHealthcare dan Refleksi atas Etika Industri Asuransi - Jakarta Book Review (JBR)
  3. Ping-balik: Karena Detoks Digital Itu Tidaklah Cukup - Jakarta Book Review (JBR)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

kenal lebih dekat

Kenali Lebih Dekat untuk Menjauhi Prasangka

26 Januari 2026
Kisah dari Negeri Para Insinyur

Kisah dari Negeri Para Insinyur

21 November 2025

Di Persimpangan Jalan: Minyak, Memori, dan Misi Mustahil Indonesia

17 November 2025
Try Sutrisno

Peluncuran Buku “Filosofi Parenting Try Sutrisno” Sajikan Formula Pola Asuh Keluarga Indonesia

15 November 2025
Tahap Akhir “AYO BACA!” Institut Prancis Indonesia: Soroti Dunia Literasi dan Sastra Kontemporer

Tahap Akhir “AYO BACA!” Institut Prancis Indonesia: Soroti Dunia Literasi dan Sastra Kontemporer

14 November 2025
Buku “The Girl with the Dragon Tattoo” Jadi Best Crime & Mystery versi Goodreads

Buku “The Girl with the Dragon Tattoo” Jadi Best Crime & Mystery versi Goodreads

29 Oktober 2025

© 2025 Jakarta Book Review (JBR) | Kurator Buku Bermutu

  • Tentang
  • Redaksi
  • Iklan
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Masuk
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In