Sabtu, 4 April 2026
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)

Agar Bisnis Terus Teguh di Dunia yang Penuh Guncangan

Higher Ground karya terbaru Alison Taylor, profesor etika bisnis terkemuka. Salah satu buku etika dan keberlanjutan bisnis terbaik di dunia.

Oleh Jalal
13 Juni 2024
di Resensi
A A
Higher Ground Alison Taylor

Sumber foto: Sustainable Food Lab

Mungkin di akhir 2023 saya tahu bahwa buku Profesor Alison Taylor bertajuk Higher Ground: How Business Can Do the Right Thing in a Turbulent World bakal segera terbit. Dia adalah salah satu profesor etika bisnis yang selalu bicara dengan cara yang mudah dimengerti, dan isinya selalu “daging semua”. Dalam situasi dunia yang terus berguncang-guncang dalam beberapa tahun terakhir dan tak tampak ada pertanda bakal segera mereda, saya tak sabar menunggu terbitnya buku tersebut.

Buku itu akhirnya terbit pada Februari 2024, dan sebulan kemudian saya sudah memilikinya, dan langsung membaca hingga separuh isinya. Bukan lantaran saya tak menikmati buku itu—sebaliknya, buku itu sangat menarik, hampir seperti karya penulis fiksi—namun lantaran saya punya banyak jadwal di lapangan, dan terseling oleh buku-buku baru lainnya. Baru di akhir Mei saya mendapatkan waktu yang pas untuk meneruskan membaca lima bab, dari dua belas, yang tersisa. Dan, membaca kelima bab itu, sambil melongok bab-bab lain yang tadinya sudah dibaca, membuat saya semakin ingin menuliskan kesan atas buku ini.

Buku ini jelas sekali adalah salah satu buku tentang etika dan keberlanjutan bisnis terbaik yang pernah ditulis oleh siapa pun, dan bukan cuma untuk tahun ini. Kalau saya berefleksi soal buku-buku dalam tema ini sejak kita masuk ke dekade 2020-an, jelas saya akan mengingat juga buku ini untuk masuk ke dalam daftar yang terbaik. Padahal, setiap tahun saya membaca puluhan buku dalam tema ini sebagai bagian dari minat profesional dan personal saya.

Jadi, tak mengherankan kalau Bob Eccles, Ed Freeman, Adam Grant, Ken Pucker, dan Leo Strine—yang seluruhnya adalah raksasa di bidang etika dan keberlanjutan bisnis—meminjamkan kalimat-kalimat sakti mereka untuk mendukung buku ini. Ulasan dan pujian terhadap karya Taylor ini juga datang dari psikolog dan penulis terkenal, Jonathan Haidt, yang menulis kata pengantarnya. Haidt dan Taylor adalah sesama pengajar di NYU Stern School of Business. Mereka juga bersama-sama mengurus organisasi terkenal, Ethical Systems. Haidt yang kenal luar-dalam Taylor menjamin bahwa buku ini tak berisi omong kosong sama sekali.

Dan memang begitulah kesan pertama saya atas buku ini, persis sama dengan cara Taylor bicara di berbagai acara. Di kedua belas bab, serta introduksi di bagian awal dan konklusi di bagian akhir, Taylor benar-benar mencurahkan seluruh pengetahuan dan pengalamannya, sebagai akademisi dan konsultan, dengan tidak mendakik-dakik. Bahasanya lurus bagai anak panah, membelah bermacam masalah bisnis yang rasanya semakin ruwet kita hadapi.

BACA JUGA:

Kenali Lebih Dekat untuk Menjauhi Prasangka

Kisah dari Negeri Para Insinyur

Di Persimpangan Jalan: Minyak, Memori, dan Misi Mustahil Indonesia

Mitos, Mitigasi, dan Krisis Iklim: Membaca Narasi Putri Karang Melenu dan Naga Sungai Mahakam

Kalau bab pertama, yang dengan tepat diberi judul Why Running a Business Got So Complicated terasa menyesakkan nafas, memang begitu yang Taylor mau dari pembacanya. Kalau bab kedua, How “Responsible Business” Became a Tangle of Traps membuat pembacanya tersadar soal beragam solusi yang tak efektif, saya juga sangat yakin begitu maunya Taylor.

Dua bab awal itu dijahit ke dalam Bagian Pertama yang menjelaskan bahwa dunia ini memang sedang berguncang-guncang keras, dan transparansi yang dituntut kepada bisnis bisa membuat guncangan itu semakin tampak di hadapan siapa pun. Bahkan, transparansi jelas bisa pula membuat bisnis makin terguncang. Apakah bisnis yang baik akan terbebas dari guncangan?

Cerita soal Starbucks yang dipergunakan Taylor untuk membuka buku ini membuat kita mafhum bahwa perusahaan yang dianggap sebagai pemimpin dalam etika dan keberlanjutan sekalipun masih memiliki pekerjaan rumah yang seabrek, sehingga bebas guncangan bukanlah kondisi yang bisa diharapkan. Perusahaan perlu menjadi tangguh, bukan berharap tak ada guncangan.

Taylor dalam beberapa kesempatan selalu bilang bahwa dia tidak suka untuk menyatakan ada perusahaan baik dan buruk. Dia bilang perusahaan bisa lebih baik dan lebih buruk, dalam bidang-bidang tertentu, dan dalam waktu tertentu. Jadi, jawabannya selalu kontekstual. Itu juga yang dia tunjukkan di dalam Bagian Kedua, tentang bagaimana bisnis bisa menegakkan hal yang benar di dalam situasi seperti sekarang. Teguh dalam prinsip itulah yang akan membuat perusahaan menjadi lebih tangguh.

Alison Taylor Higher Ground
Sumber foto: Linkedin Alison Taylor

Bagian Kedua ini, terdiri dari enam bab, dimulai dengan bagaimana bisnis berhubungan dengan para pemangku kepentingannya untuk bisa meraih dan mempertahankan kepercayaan. Kemudian, bagaimana bisnis bisa memprioritaskan isu-isu sosial dan lingkungan untuk dikelola; bagaimana korupsi bisa ditangani hingga benar-benar tuntas; menegakkan nilai-nilai berdasarkan dampak positif terhadap seluruh manusia; menavigasi urusan politik; dan menegakkan transparansi.

Seluruh bab ditulis dengan mumpuni, menandai betapa Taylor memang memahami lika-liku bisnis dalam berhadapan dengan masalah-masalah tersebut. Di ujung bab, dia selalu sertakan Steps to Higher Ground—yaitu kumpulan rekomendasi yang benar-benar bernas.

Prioritisasi isu-isu sosial dan lingkungan bagi perusahaan lewat apa yang disebut uji materialitas adalah suatu keniscayaan. Dengan melihat betapa banyak isu yang dihadapi oleh perusahaan di sektor mana pun, bisa dibayangkan perusahaan-perusahaan akan sangat disengsarakan bila bertindak berdasarkan respons atas apa pun yang datang kepada mereka. Taylor, pada bab keempat buku ini, menjelaskan langkah-langkah yang perlu dilakukan oleh perusahaan untuk melakukan prioritisasi. Dengan prioritisasi yang benar—yang menurut Taylor harus disandarkan pada dampak perusahaan terhadap manusia dan lingkungan dengan perspektif HAM—​perusahaan akan bisa memfokuskan sumber dayanya untuk mengelola risiko dan peluang yang ada.

Empat bab terakhir dia dedikasikan untuk para pemimpin bisnis yang benar-benar ingin memimpin dan membentuk masa depan yang lebih baik. Di situ Taylor memaparkan soal budaya etis di dalam perusahaan; kepemimpinan yang sesuai dengan situasi mutakhir dan masa depan; bagaimana aturan perlu dibuat dengan mempertimbangkan sifat-sifat manusia; serta bagaimana perusahaan perlu bersuara dalam era aktivisme seperti sekarang. Sama dengan bagian sebelumnya, paparan Taylor tentang masalah serta solusinya sangat mengagumkan.

Buku ini diakhiri dengan bab konklusi yang diberi tajuk Purpose Starts with Impact. Tujuan perusahaan itu sesungguhnya adalah memberikan dampak sepositif mungkin sesuai dengan bisnis inti mereka. Tak perlu dalam semua isu dampak positif itu diwujudkan, namun pada isu-isu material yang sudah diidentifikasikan dengan cara yang benar. Walau tak benar-benar mirip, uraian Taylor tentang tujuan perusahaan membuat saya ingat pada pemikiran Profesor Colin Mayer dari Universitas Oxford, bahwa tujuan bisnis adalah untuk memecahkan masalah yang dihadapi oleh manusia dan lingkungan dengan cara-cara yang menguntungkan, dan bukannya mendapatkan keuntungan dari membuat masalah bagi manusia dan lingkungan.

Sebagai pengajar etika bisnis saya selalu kagum dengan jawaban seragam yang diberikan oleh para mahasiswa kalau saya tanyakan tentang tujuan bisnis. Mereka yakin jawabannya adalah mencari, meningkatkan, atau bahkan memaksimalkan keuntungan untuk pemegang saham. Sudah bertahun-tahun saya menikmati diskusi dengan mereka, untuk menunjukkan betapa tujuan yang sempit itu bukan cuma membahayakan bagi dunia dan pemangku kepentingan, melainkan juga berbahaya untuk bisnis sendiri. Dan, di bab penghujung buku Taylor ini saya menemukan ada beberapa mutiara kebijaksanaan baru yang bisa saya pergunakan bila berdiskusi dengan para mahasiswa bisnis kelak.

“Principled and pragmatic,” begitu kata Adam Grant soal rekomendasi-rekomendasi Taylor di dalam buku ini. Dan saya mengamininya. Oleh karena itu, buku ini perlu dibaca oleh siapa pun yang ingin mewujudkan bisnis menjadi kekuatan kebaikan di dunia.

 

Identitas Buku

Judul Buku Higher Ground
Penulis Alison Taylor
Kover Hard Cover
Cetakan Pertama, Febaruari 2024
Halaman 304
Penerbit Harvard Business Review Press
ISBN 978-602-0788-24-1

 

Topik: Alison Taylorbisnis berkelanjutanetika bisnistransparansi
SendShareTweetShare
Sebelumnya

Paruh Awal 2024 Tak Henti Dihujani Film Keren

Selanjutnya

Pergi Haji: Terbentuknya Jaringan Ulama Betawi

Jalal

Jalal

Provokator Keberlanjutan, ESG and CSR Strategist, dan penggila buku, film, dan duren. Pengarang buku "Mengurai Benang Kusut Indonesia: Jokowinomics di Bawah Cengkeraman Korporasi" (2020).

TULISAN TERKAIT

kenal lebih dekat

Kenali Lebih Dekat untuk Menjauhi Prasangka

26 Januari 2026
Kisah dari Negeri Para Insinyur

Kisah dari Negeri Para Insinyur

21 November 2025

Di Persimpangan Jalan: Minyak, Memori, dan Misi Mustahil Indonesia

17 November 2025
Mitos, Mitigasi, dan Krisis Iklim: Membaca Narasi Putri Karang Melenu dan Naga Sungai Mahakam

Mitos, Mitigasi, dan Krisis Iklim: Membaca Narasi Putri Karang Melenu dan Naga Sungai Mahakam

20 Oktober 2025
Selanjutnya
Selanjutnya
Haji Ulama Betawi

Pergi Haji: Terbentuknya Jaringan Ulama Betawi

Ulasan Pembaca 4

  1. Ping-balik: Kala Para Pemimpin Keberlanjutan Berkumpul di Negeri Singa - Jakarta Book Review (JBR)
  2. Ping-balik: Donald Trump dan Ancaman Krisis Iklim - Jakarta Book Review (JBR)
  3. Ping-balik: Pertarungan Dua Raksasa Kecerdasan Buatan - Jakarta Book Review (JBR)
  4. Ping-balik: Menuju Indonesia 2040 yang Bukan Kaleng-kaleng – Penerbit Milestone

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

kenal lebih dekat

Kenali Lebih Dekat untuk Menjauhi Prasangka

26 Januari 2026
Kisah dari Negeri Para Insinyur

Kisah dari Negeri Para Insinyur

21 November 2025

Di Persimpangan Jalan: Minyak, Memori, dan Misi Mustahil Indonesia

17 November 2025
Try Sutrisno

Peluncuran Buku “Filosofi Parenting Try Sutrisno” Sajikan Formula Pola Asuh Keluarga Indonesia

15 November 2025
Tahap Akhir “AYO BACA!” Institut Prancis Indonesia: Soroti Dunia Literasi dan Sastra Kontemporer

Tahap Akhir “AYO BACA!” Institut Prancis Indonesia: Soroti Dunia Literasi dan Sastra Kontemporer

14 November 2025
Buku “The Girl with the Dragon Tattoo” Jadi Best Crime & Mystery versi Goodreads

Buku “The Girl with the Dragon Tattoo” Jadi Best Crime & Mystery versi Goodreads

29 Oktober 2025

© 2025 Jakarta Book Review (JBR) | Kurator Buku Bermutu

  • Tentang
  • Redaksi
  • Iklan
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Masuk
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In