Kamis, 22 Oktober 2026
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)

Hakikat Dakwah dan Iman yang Tak Mungkin Terkonversikan

Sesanti “Bhinneka Tunggal Ika” sebenarnya adalah penegasan belaka tentang kenyataan yang tunggal, namun memiliki perspektif yang beragam.

Oleh Heru Harjo Hutomo
5 Maret 2025
di Kolom
A A

Terus-terang, daripada para da’i, saya lebih suka mendengarkan orang-orang non-Muslim—entah itu kalangan penghayat, Buddha, Katolik, dan lainnya—berbicara tentang nilai-nilai universal yang berangkat dari agama yang dipeluknya. Bukan saya cukup islami atau benar-benar paham tentang ajaran-ajaran Islam. Namun, persoalannya, bagi saya, cukuplah sederhana: iman bukanlah serupa perempuan bagi seorang playboy.

Tentu, orang perlu menengok pada karakteristik iman yang, konon, cukup beragam—sebagaimana kedirian yang, konon, juga berjenjang. Pada kasus ini, kebudayaan Jawa menyuguhkan istilah yang sepadan dengan istilah iman, “kapitayan,” yang secara mendasar celakanya sama sekali tak ada kaitannya dengan keyakinan ataupun kepercayaan.

Istilah “kapitayan” berakarkan kata “Taya,” yang bermakna tunggal ataupun tan kena kinaya apa yang jelas tepat menukik pada karakteristik Tuhan sebagai yang tak terbayangkan. Dan dari istilah Taya itu pun istilah kapitayan berkembang menjadi kepercayaan. Maka, ketika orang paham akan iman, sebagaimana yang dibawakan oleh kapitayan, tentu tak bakal ada yang dinamakan fenomena “konversi iman” sebagaimana yang dikhawatirkan ketika orang mendengarkan ceramah atau pembahasan ajaran agama yang lain.

Namun, kenapa ketika iman yang pada dasarnya tak mungkin terkonversikan, orang banyak melihat fenomena konversi iman, perpindahan dari satu agama ke agama yang lainnya, yang konon disebabkan oleh keterpesonaan pada sistem iman yang lain?

Dengan merunut pada istilah kapitayan, yang terjadi pada dasarnya bukanlah konversi iman, namun perubahan perspektif akan suatu kenyataan yang satu. Sebab, bagaimana mungkin ketika istilah iman yang sepadan dengan istilah kapitayan, yang mendasarkan diri pada istilah Taya, atau tan kena kinaya apa, menjadi berubah, berpindah? Bukankah, seumpamanya dalam agama Islam, hidayah itu adalah urusan Tuhan, yang senada dengan ungkapan bahwa iman adalah bagian dari Tuhan, sebagaimana kapitayan dengan Taya?

BACA JUGA:

MBG: Membaca Buku Gratis

AL-QANUN FI AL-THIBB: Kitab Kuning Kedokteran yang Fenomenal

WAKAF LITERASI: Solusi Impian Hadapi Pembajakan Buku

Kifayatul Atqiya’: Menjinakkan Hawa Nafsu di Era Digital

Dengan demikian, dakwah yang, konon, memiliki agenda utama untuk mengkonversikan iman, jelaslah bertentangan dengan hakikat iman itu sendiri yang, karena erat kaitannya dengan Yang Maha Tunggal, tak mungkin terkonversikan.

Di sinilah kemudian orang sampai pada dasar dari ajaran yang tersarikan pada Konsili Vatikan II (Katolik) dan rahmat bagi semesta alam (Islam). Bukankah kemudian sia-sia saja ketika fenomena konversi iman dihadapkan pada kenyataan bahwa terdapat keselamatan di luar gereja ataupun bahwa Islam adalah rahmat bagi semesta alam, ketika perubahan perspektif akan kenyataan yang tunggal diartikan sebagai konversi iman?

Atas dasar itulah Indonesia mencantumkan sesanti “Bhinneka Tunggal Ika” sebagai prinsip bermasyarakat dan bernegara, yang sebenarnya adalah penegasan belaka tentang kenyataan yang tunggal, namun memiliki perspektif yang beragam. Dan bukankah sesanti “Bhinneka Tunggal Ika”, konon, memang dilatarbelakangi oleh perbedaan agama di masa Majapahit, yang secara historis membuktikan bahwa Indonesia tak pernah mengaitkan iman dengan agama ataupun media-media yang membuat orang dapat beriman?

Bacaan terkait

Moh. Yamin dan Sumpah Kawula Muda

Kitab Kuning dan Jalan Moderasi

Mengilmiahkan Islam Modern

Runtuhnya Nalar Kami

Topik: agama dan akalbhinneka tunggal ikaimankonversi iman
SendShareTweetShare
Sebelumnya

Jangan Ajari Berenang Seorang yang Tengah Tenggelam

Selanjutnya

“Gua Al Jufri, Bukan Al Capone!”

Heru Harjo Hutomo

Heru Harjo Hutomo

Seniman, Pengarang, dan Budayawan Jawa, Alumnus Center for Religious and Cross-Cultural Studies UGM Yogyakarta.

TULISAN TERKAIT

MBG: Membaca Buku Gratis

MBG: Membaca Buku Gratis

12 Oktober 2026
al-qanun

AL-QANUN FI AL-THIBB: Kitab Kuning Kedokteran yang Fenomenal

17 Juni 2026
wakaf literasi

WAKAF LITERASI: Solusi Impian Hadapi Pembajakan Buku

10 Juni 2026
kifayatul atqiya

Kifayatul Atqiya’: Menjinakkan Hawa Nafsu di Era Digital

5 Juni 2026
Selanjutnya
Selanjutnya
“Gua Al Jufri, Bukan Al Capone!”

"Gua Al Jufri, Bukan Al Capone!"

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

penerbit rene turos

16 Tahun Penerbit Rene Turos: Bagikan 1.600 Buku kepada Pembaca dan Komunitas

20 Oktober 2026
Rayakan 16 Tahun, Rene Turos Group Bagikan 1.600 Buku untuk Pembaca

Rayakan 16 Tahun, Rene Turos Group Bagikan 1.600 Buku untuk Pembaca

17 Oktober 2026
Feri Amsari: Prabowo Harus Baca “Politik Kaum Tertindas”

Feri Amsari: Prabowo Harus Baca “Politik Kaum Tertindas”

10 Oktober 2026
politik kaum tertindas

Bedah Buku “Politik Kaum Tertindas”, Feri Amsari Kritik Praktik Blusukan yang Kehilangan Esensi

10 Oktober 2026
in this economy

In This Economy: Yang Lain Boleh Efisiensi, Kecuali Literasi

7 Oktober 2026
GENTLE REMINDER

Renebook Hadirkan Ruang Refleksi Diri Lewat Meaning Sharing Session di IIBF 2026

5 Oktober 2026

© 2026 Jakarta Book Review (JBR) | Kurator Buku Bermutu

  • Tentang
  • Redaksi
  • Iklan
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Masuk
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In