MBG: Membaca Buku Gratis
Oleh: KH. Anis Maftukhin
Saya punya impian sederhana, tapi terhitung muluk untuk ukuran hari ini: MBG, alias Membaca Buku Gratis.
Bila kelak hajat ini benar-benar terwujud di tanah air, haqqul yakin, bangsa ini tak sekadar bakal tambah gagah, melainkan juga jauh lebih beradab, berbudaya, dan boleh jadi merupakan bangsa paling mbeling sekaligus keren di muka bumi. Persoalannya cuma satu: Kapan? Entahlah. Kita hanya bisa memelihara harapan sambil mengelus dada.
Mengapa mesti buku? Sejarah, dengan kejujurannya yang kadang menyengat, telah lama mencatat: dunia Islam pernah menggenggam puncak kejayaan justru karena para pemimpinnya mengidap sejenis “kegilaan” yang indah—kegilaan pada buku. Mata mereka celak oleh pentingnya aksara. Hati mereka terang melihat faedah ilmu. Sedangkan akal mereka tahu betul, tak ada kemajuan peradaban yang ditetaskan tanpa bantuan kertas dan tinta.
Sebagai pengingat bagi kita yang hari ini kerap merasa sudah menjadi “pecinta buku” sejati hanya lantaran rajin menyisihkan uang bulanan demi novel pop atau sibuk menata rak buku agar kelihatan estetik di media sosial, mari kita menengok ke belakang. Pada masa keemasan Islam abad pertengahan, definisi bibliophile—sang penggila buku—memiliki kadar yang sama sekali berada di langit berbeda.
Tercatat ada lima tingkatan “kegilaan” para khalifah dan ilmuwan masa lalu dalam mencintai buku, yang kalau dibandingkan dengan kadar literasi kita hari ini, jangankan sekelas gunung, remah-remahnya pun mungkin tak sampai.
1. Menimbang Buku dengan Emas Murni
Di zaman sekarang, kita kerap mengeluh sewaktu berhadapan dengan harga buku impor atau sibuk memburu diskonan toko gaek. Khalifah Al-Ma’mun punya cara tersendiri yang jauh lebih memanjakan. Beliau membuat maklumat: siapa saja yang berhasil menerjemahkan buku ilmiah asing ke dalam bahasa Arab, karyanya akan ditimbang. Imbalannya? Emas murni seberat buku tersebut. Insentif yang amat royal ini jelas memicu persaingan sengit. Para cendekiawan berlomba-lomba memeras otak, sebab satu jilid buku tebal sanggup mengubah nasib seorang ilmuwan menjadi jutawan mendadak dalam semalam.
2. Buku Sebagai Alat Diplomasi (Bahkan Mahar Perang)
Bagi penguasa modern, urusan diplomasi luar negeri tak jauh-jauh dari urusan konsesi minyak, transaksi senjata, atau kesepakatan dagang. Namun bagi Harun al-Rasyid dan putranya, Al-Ma’mun, pengetahuan adalah komoditas politik tertinggi. Harun kerap kali menolak upeti dalam bentuk tunai dan memilih memintanya dalam bentuk naskah-naskah kuno. Bahkan Al-Ma’mun tak segan menggertak Kaisar Bizantium dan penguasa Sisilia dengan ancaman perang, hanya gara-gara kedua penguasa itu enggan menyerahkan koleksi manuskrip sains dan filsafat yang berdebu di gudang mereka. Perang demi buku—sebuah kegilaan diplomasi yang belum ada tandingannya.
3. Menggolkan Megaproyek Akademi Aksara
Ketika koleksi manuskrip istana sudah melimpah dan tak lagi muat ditampung di perpustakaan pribadi, para khalifah Abbasiyah mengambil tindakan radikal: membangun Bayt al-Hikmah (Rumah Kebijaksanaan). Ini bukan sekadar tempat penyimpanan kitab atau perpustakaan sepi pengunjung. Ini adalah megaproyek akademi ilmiah pertama dalam sejarah peradaban. Di sanalah laboratorium penerjemahan, ruang kuliah, pusat riset, hingga studio penulisan raksasa melebur jadi satu. Pada masa puncaknya, kompleks ini mengasuh tak kurang dari satu juta judul buku.
4. Meruntuhkan Sekat Agama Demi Ilmu
Gila literasi dalam tradisi Islam juga berarti keberanian merobohkan tembok fanatisme sektarian. Di koridor Bayt al-Hikmah, para khalifah mengumpulkan pikiran-pikiran terbaik dari pelbagai penjuru angin tanpa mempedulikan latar belakang iman maupun suku. Penerjemah andalan seperti Hunayn bin Ishaq, misalnya, adalah seorang Kristen Suriah yang sangat mahir berbahasa Yunani dan Arab. Ia dirangkul, diberi penghormatan tinggi, dan digaji mahal. Bagi peradaban Islam masa itu, kebenaran ilmu adalah milik universal yang berhak dipetik dari dahan mana pun.
5. Pantang Mati Sebelum Menulis
Dalam tradisi ini, mencintai buku tak cukup hanya dengan menjadi konsumen yang pasif membaca. Ada kewajiban moral untuk menjadi produsen: menulis. Gerakan penerjemahan karya-karya Yunani, Persia, Sanskerta, hingga Koptik selalu berjalan seiring dengan gerakan penulisan karya-karya orisinal. Para ilmuwan merasa belum sah menyerap ilmu jika belum menyumbangkan gagasan baru. Dari rahim kegelisahan inilah lahir jilid-jilid buku orisinal di bidang kedokteran, aljabar, astronomi, hingga mekanika—karya-karya yang kelak menyinari benua Eropa dari kegelapan dan memicu era Renaisans.
Tradisi literasi masa silam itu sesungguhnya meninggalkan satu pelajaran benderang bagi kita hari ini: bilamana sebuah bangsa bersedia memperlakukan buku dan pengetahuan dengan cara yang “agak gila”—menghargainya melampaui tumpukan materi dan meletakkannya sebagai tiang penyangga negara—maka secara alami bangsa itu akan melangkah ke depan, memimpin irama peradaban dunia.
Dan MBG, barangkali, bisa menjadi langkah pertama untuk memulainya.
*Pegiat Literasi Islam Indonesia & Pengasuh Pondok Pesantren WALI, Tuntang, Kab Semarang.










