Jakarta, 5 Oktober 2026 — Renebook telah menggelar Meaning Sharing Session bertajuk “Tentang Menemukan, Memulihkan, dan Menguatkan Diri” pada 30 September 2026 dalam rangkaian Indonesia International Book Fair (IIBF) 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC).
Sesi ini menghadirkan Sabrina Maidah, M.Psi., Psikolog, bersama Sakti Ramadhan, Editor Renebook, sebagai moderator. Melalui diskusi yang berlangsung hangat dan interaktif, peserta diajak membahas proses mengenali diri, menerima emosi, menghadapi luka, hingga menemukan kembali kekuatan untuk melanjutkan hidup.
Pembahasan berangkat dari buku A Gentle Reminder, sebuah buku yang menghadirkan berbagai pengingat tentang relasi, kehilangan, penerimaan diri, proses bertumbuh, serta bagaimana seseorang menghadapi fase-fase ketika hidup terasa tidak baik-baik saja.
Dalam diskusi, Sabrina menilai buku tersebut memiliki pendekatan yang dekat dengan pengalaman sehari-hari. Menurutnya, bahasa dalam A Gentle Reminder mudah dipahami dan dapat menjadi bacaan yang kembali dibuka ketika seseorang sedang membutuhkan ruang untuk merefleksikan apa yang sedang dirasakan. Ia bahkan menyebut buku tersebut dapat menjadi semacam pocketbook bagi pembaca yang ingin menandai dan kembali membaca bagian-bagian yang dirasa relevan dengan kondisi dirinya.
Sabrina juga melihat bahwa kekuatan buku ini bukan hanya terletak pada kalimat-kalimat yang terasa hangat, tetapi pada kemampuannya membuat pembaca merasa dipahami. Dari pengalamannya menangani berbagai kasus terkait relasi, pernikahan, proses jatuh dan bangkit, ia melihat bahwa orang yang sedang terluka atau berada dalam kondisi terpuruk sering kali membutuhkan ruang untuk mengenali kembali apa yang dirasakan, bukan sekadar menerima nasihat.
Pembahasan kemudian berkembang pada hubungan antara kata-kata, validasi emosi, dan proses pemulihan. Sabrina menjelaskan bahwa kata-kata yang hadir pada waktu yang tepat dapat memberi efek menenangkan, terutama ketika seseorang merasa didengarkan, ditemani, dan tidak dihakimi atas apa yang sedang dirasakannya. Karena itu, sebuah bacaan dapat berfungsi bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai pintu masuk untuk melakukan refleksi diri.
Ia juga menekankan bahwa membaca akan menjadi lebih bermakna ketika pembaca tidak berhenti pada halaman terakhir. Menurut Sabrina, setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam memproses pengalaman: ada yang lebih nyaman membaca, menulis, berbicara, atau bertemu dengan orang lain. Namun yang terpenting adalah seberapa jauh seseorang mau merefleksikan apa yang dibaca dan menghubungkannya dengan kehidupannya sendiri.
Diskusi turut menyinggung persoalan akses terhadap psikolog dan psikiater yang belum tentu mudah bagi setiap orang. Sabrina mengakui bahwa akses terhadap bantuan profesional dapat menjadi sebuah privilese, termasuk karena faktor finansial. Namun menurutnya, bantuan profesional tetap berperan sebagai wadah dan panduan, sementara proses mengenali diri tetap membutuhkan keterlibatan aktif dari individu itu sendiri. Buku, proses belajar, percakapan, maupun berbagai sumber pengetahuan lainnya dapat menjadi bagian dari proses tersebut.
Tema lain yang muncul adalah bagaimana seseorang menemukan rasa nyaman dalam pekerjaan. Sabrina menilai kebahagiaan merupakan sesuatu yang sangat personal dan tidak memiliki ukuran yang sama bagi setiap orang. Karena itu, sebelum mencari jawaban tentang bagaimana merasa bahagia dalam pekerjaan, seseorang perlu memahami lebih dahulu tujuan dirinya bekerja: apakah untuk bertahan hidup, aktualisasi diri, mencari rasa aman, atau kebutuhan lainnya.
Sesi juga membahas peran support system dalam mendampingi seseorang yang mengalami gangguan psikologis. Sabrina menegaskan bahwa teman, pasangan, dan keluarga memiliki peran penting sebagai sistem pendukung, tetapi tidak dapat menggantikan pendampingan profesional ketika sudah menyangkut kondisi klinis. Ia juga menyoroti pentingnya kemauan dari individu untuk menerima bantuan dan terlibat dalam proses pemulihannya sendiri.
Pembahasan menjadi semakin dekat dengan peserta ketika mereka diajak memilih langsung kutipan dari A Gentle Reminder yang paling berkesan bagi mereka. Beberapa peserta mengaitkan isi buku dengan pengalaman mengenai kehilangan arah, patah hati, harapan, overthinking, hingga proses melepaskan sesuatu yang tidak lagi sehat untuk dipertahankan.
Ketika menanggapi pembahasan mengenai overthinking, Sabrina mengingatkan bahwa seseorang perlu membedakan antara apa yang dirasakan dan apa yang dipikirkan. Menurutnya, perasaan dapat diakui dan diterima, tetapi pikiran belum tentu selalu merepresentasikan kenyataan karena bisa terbentuk dari asumsi, ketakutan, atau skenario terburuk yang dibuat oleh diri sendiri.
Sabrina juga menyoroti pentingnya menyadari bahwa hidup selalu menyediakan pilihan. Bertahan, diam, melepaskan, maupun mengambil arah yang berbeda merupakan keputusan yang perlu disadari dan dipertanggungjawabkan oleh masing-masing individu. Pandangan ini muncul ketika peserta membahas proses penyembuhan, hubungan, serta keberanian untuk keluar dari situasi yang dirasakan tidak lagi tepat.
Dalam sesi tersebut, peserta juga berbagi pengalaman personal setelah membaca A Gentle Reminder. Salah satu peserta menceritakan bahwa buku tersebut membantunya kembali menemukan motivasi setelah mengalami patah hati. Sabrina kemudian menegaskan kembali bahwa kata-kata dapat menjadi salah satu medium yang membantu seseorang memperoleh sudut pandang baru dan merasa lebih tenang.
Menutup diskusi, Sabrina merangkum pesan utama sesi dengan mengajak peserta untuk memberi ruang terhadap emosi tanpa kehilangan kesadaran bahwa kehidupan tetap perlu dijalani.
“Apa yang kalian rasakan itu valid, resapi dan pahami, tetapi hidup terus berjalan; jangan pernah merasa hidup sudah berhenti, karena ketika sedang tidak baik-baik saja kita memang membutuhkan ruang untuk merasakannya, namun kita juga perlu mengingat bahwa kita masih memiliki diri kita sendiri.” ujar Sabrina.
Melalui Meaning Sharing Session ini, Renebook tidak hanya menghadirkan sesi bedah buku, tetapi juga membuka ruang percakapan antara bacaan, pengalaman personal, dan perspektif psikologi. Peserta tidak sekadar mendengarkan pembahasan mengenai isi buku, tetapi turut membawa pengalaman mereka sendiri ke dalam diskusi.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Renebook untuk menghadirkan literasi yang lebih dekat dengan kehidupan pembaca. Buku diharapkan tidak berhenti sebagai sesuatu yang dibaca, tetapi dapat menjadi medium untuk memahami diri, membuka percakapan, serta membantu pembaca menemukan makna dari pengalaman yang sedang dijalani.
Tentang Renebook
Renebook merupakan bagian dari Rene Turos Group yang menerbitkan berbagai buku bertema pengembangan diri, psikologi populer, bisnis, produktivitas, parenting, dan tema-tema lain yang relevan dengan kehidupan pembaca masa kini.
Melalui buku dan berbagai kegiatan literasi, Renebook berupaya menghadirkan bacaan yang tidak hanya informatif, tetapi juga mampu membuka percakapan, memperluas perspektif, dan memberi pengalaman membaca yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Informasi lebih lanjut:
Website: reneturos.com
Instagram: @penerbitrenebook








