Kamis, 18 Juni 2026
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)

Jangan Ajari Berenang Seorang yang Tengah Tenggelam

Ramadan adalah bulan penyelamatan, bukan penghakiman. Ibarat seorang yang kehausan, jangan menyuruhnya mencari mata air sendiri.

Oleh Nadirsyah Hosen
5 Maret 2025
di Kolom
A A

Bayangkan seorang lelaki yang terlempar ke tengah lautan di malam yang pekat. Ombak menggulungnya tanpa ampun, menyeretnya ke dalam pusaran arus yang dingin dan tak bertepi. Napasnya tersengal, tangannya menggapai-gapai, berusaha meraih sesuatu yang tak ada.

Di tengah kepanikan, ia mendengar suara dari kejauhan, mengajarinya cara mengayuh, cara bertahan di permukaan. Tapi tubuhnya terlalu lemah, terlalu lelah. Ia tidak butuh teori tentang cara berenang—ia butuh seseorang yang menyelamatkannya sebelum tenggelam lebih dalam.

Begitulah hidup. Berapa banyak orang yang terjebak dalam badai ujian, dilanda kecewa, dikhianati harapan, atau tenggelam dalam gelapnya dosa? Mereka tak butuh ceramah panjang, tak perlu dikuliahi dengan kata-kata yang menggurui. Tak perlu dihajar dengan dalil tentang kesabaran. Yang mereka perlukan adalah uluran tangan, sentuhan yang tulus, seseorang yang bersedia menyelam ke kedalaman dan menarik mereka ke permukaan.

Lalu Ramadan datang, seperti fajar yang membelah malam.

Bulan suci ini bukan waktunya kita hanya bicara tentang kebaikan tanpa menjadi rahmat bagi sesama. Bukan saatnya menuding dan menghakimi mereka yang masih berjuang melawan diri sendiri. Ramadan adalah bulan penyelamatan, bukan penghakiman. Ibarat seorang yang kehausan, jangan menyuruhnya mencari mata air sendiri—ulurkan cawan, biarkan ia meneguknya hingga ia kembali kuat.

BACA JUGA:

AL-QANUN FI AL-THIBB: Kitab Kuning Kedokteran yang Fenomenal

WAKAF LITERASI: Solusi Impian Hadapi Pembajakan Buku

Kifayatul Atqiya’: Menjinakkan Hawa Nafsu di Era Digital

Kala Mesin AI Menjawab, Manusia (Harus) Bertanya

Imam Al-Ghazali pernah berkata, “Jangan menghina seorang pendosa, sebab mungkin ia telah bertaubat sementara engkau masih tenggelam dalam ujub.” Berapa banyak dari kita yang lupa bahwa kita sendiri pun masih berjuang? Bahwa seseorang yang hari ini terjatuh, mungkin esok hari lebih mulia daripada kita?

Rumi mengingatkan, “Di mana ada reruntuhan, di situlah ada harapan untuk menemukan harta karun.” Maka, jangan berpaling dari mereka yang sedang karam dalam ujian. Jangan menatap mereka dengan mata penuh penghakiman, tetapi dengan tangan yang siap mengangkat. Sebab, kita tidak pernah tahu, siapa di antara kita yang benar-benar selamat di akhir perjalanan.

Puasa mengajarkan kita untuk merasakan haus dan lapar, agar kita mengerti arti kelemahan dan harapan. Dalam perjalanan ini, kita semua sedang belajar. Belajar bahwa sebelum mengajari seseorang berenang, kita harus terlebih dahulu memastikan mereka masih hidup. Puasa mengajarkan kita menumbuhkan empati, bukan malah sibuk berasumsi.

Dan mungkin, di saat kita menyelamatkan mereka, kita pun tanpa sadar sedang menyelamatkan diri kita sendiri, dari merasa si paling hebat dan paling suci.

Bacaan Ramadan

Saat Kesalehan Tak Bisa Lagi Dipoles

“Puasa Diet” Ulil dan Hidup Sehat

Ramadan, Bulan Pengendalian Diri (Kecuali Saat Berbelanja)

Kitab Puasa: Melihat Ramadan dari Bumi dan Langit

Topik: puasaRamadan
SendShareTweetShare
Sebelumnya

Apakah Prabowo Menghidupkan Kembali Rezim Soeharto?

Selanjutnya

Hakikat Dakwah dan Iman yang Tak Mungkin Terkonversikan

Nadirsyah Hosen

Nadirsyah Hosen

Cendekiawan Indonesia, Associate Professor di Melbourne Law School (sejak Juli 2024), Australia, sebelumnya di Monash University (2015-2024). Penulis produktif, buku-bukunya antara lain "Islam Yes, Khilafah No 1 & 2", "Ngaji Fikih", "Saring Sebelum Sharing", "Modern Perspectives on Islamic Law", "Tafsir Al-Quran di Medsos".

TULISAN TERKAIT

al-qanun

AL-QANUN FI AL-THIBB: Kitab Kuning Kedokteran yang Fenomenal

17 Juni 2026
wakaf literasi

WAKAF LITERASI: Solusi Impian Hadapi Pembajakan Buku

10 Juni 2026
kifayatul atqiya

Kifayatul Atqiya’: Menjinakkan Hawa Nafsu di Era Digital

5 Juni 2026
kala mesin ai menjawab

Kala Mesin AI Menjawab, Manusia (Harus) Bertanya

3 Juni 2026
Selanjutnya
Selanjutnya
Hakikat Dakwah dan Iman yang Tak Mungkin Terkonversikan

Hakikat Dakwah dan Iman yang Tak Mungkin Terkonversikan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

menikah

Menikah Bukan Cuma Soal ‘I Do’: Nasihat dan Pandangan Realistis dari Imam al-Ghazali

13 Juni 2026
text hip

Tren “Text Hip” Dongkrak Literasi di Korea Selatan

11 Juni 2026
buku cetak australia

Survei Creative Australia: 14,4 Juta Warga Setia Membaca, Buku Cetak Belum Tergantikan

8 Juni 2026
future history

Fiksi Ilmiah Bangkit Lagi: Penghargaan “Future History” Musim Kedua Tawarkan Hadiah Lebih Besar dan Kategori Skenario

5 Juni 2026
sayyidat al-qamar

Sayyidat al-Qamar: Novel Fenomenal dari Padang Pasir

4 Juni 2026
ancaman-nyata

Ancaman Nyata di Balik Fiksi: Saat AI dan Kiamat Ekologi Menjadi Karib

3 Juni 2026

© 2026 Jakarta Book Review (JBR) | Kurator Buku Bermutu

  • Tentang
  • Redaksi
  • Iklan
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Masuk
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In