Jumat, 19 Juni 2026
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)

Hakikat Dakwah dan Iman yang Tak Mungkin Terkonversikan

Sesanti “Bhinneka Tunggal Ika” sebenarnya adalah penegasan belaka tentang kenyataan yang tunggal, namun memiliki perspektif yang beragam.

Oleh Heru Harjo Hutomo
5 Maret 2025
di Kolom
A A

Terus-terang, daripada para da’i, saya lebih suka mendengarkan orang-orang non-Muslim—entah itu kalangan penghayat, Buddha, Katolik, dan lainnya—berbicara tentang nilai-nilai universal yang berangkat dari agama yang dipeluknya. Bukan saya cukup islami atau benar-benar paham tentang ajaran-ajaran Islam. Namun, persoalannya, bagi saya, cukuplah sederhana: iman bukanlah serupa perempuan bagi seorang playboy.

Tentu, orang perlu menengok pada karakteristik iman yang, konon, cukup beragam—sebagaimana kedirian yang, konon, juga berjenjang. Pada kasus ini, kebudayaan Jawa menyuguhkan istilah yang sepadan dengan istilah iman, “kapitayan,” yang secara mendasar celakanya sama sekali tak ada kaitannya dengan keyakinan ataupun kepercayaan.

Istilah “kapitayan” berakarkan kata “Taya,” yang bermakna tunggal ataupun tan kena kinaya apa yang jelas tepat menukik pada karakteristik Tuhan sebagai yang tak terbayangkan. Dan dari istilah Taya itu pun istilah kapitayan berkembang menjadi kepercayaan. Maka, ketika orang paham akan iman, sebagaimana yang dibawakan oleh kapitayan, tentu tak bakal ada yang dinamakan fenomena “konversi iman” sebagaimana yang dikhawatirkan ketika orang mendengarkan ceramah atau pembahasan ajaran agama yang lain.

Namun, kenapa ketika iman yang pada dasarnya tak mungkin terkonversikan, orang banyak melihat fenomena konversi iman, perpindahan dari satu agama ke agama yang lainnya, yang konon disebabkan oleh keterpesonaan pada sistem iman yang lain?

Dengan merunut pada istilah kapitayan, yang terjadi pada dasarnya bukanlah konversi iman, namun perubahan perspektif akan suatu kenyataan yang satu. Sebab, bagaimana mungkin ketika istilah iman yang sepadan dengan istilah kapitayan, yang mendasarkan diri pada istilah Taya, atau tan kena kinaya apa, menjadi berubah, berpindah? Bukankah, seumpamanya dalam agama Islam, hidayah itu adalah urusan Tuhan, yang senada dengan ungkapan bahwa iman adalah bagian dari Tuhan, sebagaimana kapitayan dengan Taya?

BACA JUGA:

AL-QANUN FI AL-THIBB: Kitab Kuning Kedokteran yang Fenomenal

WAKAF LITERASI: Solusi Impian Hadapi Pembajakan Buku

Kifayatul Atqiya’: Menjinakkan Hawa Nafsu di Era Digital

Kala Mesin AI Menjawab, Manusia (Harus) Bertanya

Dengan demikian, dakwah yang, konon, memiliki agenda utama untuk mengkonversikan iman, jelaslah bertentangan dengan hakikat iman itu sendiri yang, karena erat kaitannya dengan Yang Maha Tunggal, tak mungkin terkonversikan.

Di sinilah kemudian orang sampai pada dasar dari ajaran yang tersarikan pada Konsili Vatikan II (Katolik) dan rahmat bagi semesta alam (Islam). Bukankah kemudian sia-sia saja ketika fenomena konversi iman dihadapkan pada kenyataan bahwa terdapat keselamatan di luar gereja ataupun bahwa Islam adalah rahmat bagi semesta alam, ketika perubahan perspektif akan kenyataan yang tunggal diartikan sebagai konversi iman?

Atas dasar itulah Indonesia mencantumkan sesanti “Bhinneka Tunggal Ika” sebagai prinsip bermasyarakat dan bernegara, yang sebenarnya adalah penegasan belaka tentang kenyataan yang tunggal, namun memiliki perspektif yang beragam. Dan bukankah sesanti “Bhinneka Tunggal Ika”, konon, memang dilatarbelakangi oleh perbedaan agama di masa Majapahit, yang secara historis membuktikan bahwa Indonesia tak pernah mengaitkan iman dengan agama ataupun media-media yang membuat orang dapat beriman?

Bacaan terkait

Moh. Yamin dan Sumpah Kawula Muda

Kitab Kuning dan Jalan Moderasi

Mengilmiahkan Islam Modern

Runtuhnya Nalar Kami

Topik: agama dan akalbhinneka tunggal ikaimankonversi iman
SendShareTweetShare
Sebelumnya

Jangan Ajari Berenang Seorang yang Tengah Tenggelam

Selanjutnya

“Gua Al Jufri, Bukan Al Capone!”

Heru Harjo Hutomo

Heru Harjo Hutomo

Seniman, Pengarang, dan Budayawan Jawa, Alumnus Center for Religious and Cross-Cultural Studies UGM Yogyakarta.

TULISAN TERKAIT

al-qanun

AL-QANUN FI AL-THIBB: Kitab Kuning Kedokteran yang Fenomenal

17 Juni 2026
wakaf literasi

WAKAF LITERASI: Solusi Impian Hadapi Pembajakan Buku

10 Juni 2026
kifayatul atqiya

Kifayatul Atqiya’: Menjinakkan Hawa Nafsu di Era Digital

5 Juni 2026
kala mesin ai menjawab

Kala Mesin AI Menjawab, Manusia (Harus) Bertanya

3 Juni 2026
Selanjutnya
Selanjutnya
“Gua Al Jufri, Bukan Al Capone!”

"Gua Al Jufri, Bukan Al Capone!"

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

menikah

Menikah Bukan Cuma Soal ‘I Do’: Nasihat dan Pandangan Realistis dari Imam al-Ghazali

13 Juni 2026
text hip

Tren “Text Hip” Dongkrak Literasi di Korea Selatan

11 Juni 2026
buku cetak australia

Survei Creative Australia: 14,4 Juta Warga Setia Membaca, Buku Cetak Belum Tergantikan

8 Juni 2026
future history

Fiksi Ilmiah Bangkit Lagi: Penghargaan “Future History” Musim Kedua Tawarkan Hadiah Lebih Besar dan Kategori Skenario

5 Juni 2026
sayyidat al-qamar

Sayyidat al-Qamar: Novel Fenomenal dari Padang Pasir

4 Juni 2026
ancaman-nyata

Ancaman Nyata di Balik Fiksi: Saat AI dan Kiamat Ekologi Menjadi Karib

3 Juni 2026

© 2026 Jakarta Book Review (JBR) | Kurator Buku Bermutu

  • Tentang
  • Redaksi
  • Iklan
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Masuk
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In