Minggu, 18 Januari 2026
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)

Urgensi Memperkuat Literasi Keagamaan Kita 

Banyak ajaran agama yang disalahpahami oleh para penganut agama lain. Saatnya membangun dan meningkatkan literasi keagamaan kita.

Oleh Muhamad Ali
18 Maret 2025
di Kolom
A A
Paus Fransiskus bertemu Syekh Azhar Ahmad Tayyib di Vatikan (23/05/2016)

Paus Fransiskus bertemu Syekh Azhar Ahmad Tayyib di Vatikan (23/05/2016)

Meski Amerika adalah negeri yang paling majemuk agamanya di dunia, banyak masyarakatnya yang tidak tahu dasar-dasar tentang agama (religious illiteracy), seperti yang ditulis Dr. Stephen Prothero. Indonesia, yang dikenal sebagai salah satu bangsa yang paling beragama di dunia, tampaknya juga tidak tahu dasar-dasar agama-agama dan para pemeluknya. Kita perlu membangun dan meningkatkan literasi keagamaan, pengetahuan dasar tentang agama-agama.

Banyak ajaran agama yang disalahpahami para penganut agama lain. Misalnya, banyak non-Yahudi tahu Yahudi sebagai agama hukum, khususnya Sepuluh Perintah Tuhan (Ten Commandments), seperti perintah menyembah Tuhan Yang Satu, menghormati orang tua, menghormati hari Sabtu, jangan membunuh, jangan mencuri, dan lainnya. Tapi, karena kita menganggap Yahudi legalistik, Yahudi tidak dikenal memiliki ajaran kasih sayang juga. Kita menganggap Yahudi tidak memiliki tradisi spiritual atau mistisisme.

Yahudi sering disamakan dengan bangsa dan ras—dan berkembang anggapan bangsa Yahudi bertujuan menguasai dunia. Karena konflik di Palestina yang berkepanjangan, Negara Israel yang berdiri 1948 dianggap mewakili sikap agama Yahudi dunia, seolah-olah semua orang Yahudi adalah zionis dan pendukung setiap kebijakan Negara Israel.

Banyak orang menduga semua Yahudi melakukan lobi-lobi di Amerika karena mereka kaya dan menguasai media, ekonomi, dan bahkan budaya dunia. Dalam hubungan Yahudi-Kristen, muncul anti-Semitisme, sikap negatif sebagian umat Kristen dan lain-lain terhadap Yahudi. Yahudi diminta bertanggung jawab atas penyaliban Yesus, meski setelah deklarasi Nostra Aetate tahun 1965, Gereja Katolik menyatakan bangsa Yahudi zaman moderen tidak bisa diminta bertanggung jawab dan tidak semua Yahudi pada zaman Yesus bertanggung jawab.

Banyak orang Yahudi masih kecewa, mereka tidak bersedia dituduh bertanggung jawab sama sekali. Program-program antariman dan antardenominasi terus dilakukan, mengurangi salah pengertian satu sama lain.

BACA JUGA:

Lampu Petunjuk

Membijakkan Sabar dan Ikhlas di Kota Suci

1 Muharram: Momen Kebangkitan Spiritual Kita

Ugly, Bad and Okay Mining: Pertambangan Indonesia di Persimpangan Jalan

Dalam hubungan Yahudi-Islam, Yahudi diyakini pembenci Islam. Kitab suci umat Yahudi—disebut Perjanjian Lama oleh Kristen, Hebrew Bible atau Kitab Ibrani atau Tanakh oleh banyak orang Yahudi sendiri, yang memuat Taurat (bersamaan para nabi dan tulisan) selain kitab Talmud semacam tafsir, dan Kabbalah, teks mistik.

Oleh banyak orang Islam, kitab Taurat yang disebut al-Qur’an mengalami distorsi dan penyalahgunaan. Bangsa Yahudi dianggap melecehkan Allah, malaikat, mendustakan dan membunuh para nabi, mengubah isi kitab suci, sering berbuat dosa dan kerusakan. Lebih-lebih lagi, bangsa dan agama Yahudi disamakan. Dan kuat anggapan, bangsa Yahudi dari dulu sampai sekarang sama saja.

Tentang ajaran Kristen, ada anggapan trinitas memiliki satu makna saja: menyembah tiga tuhan. Penyaliban Yesus dianggap tidak pernah terjadi atau, kalaupun penyaliban itu terjadi, dianggap sebagai distorsi sejarah (bukan Yesus yang disalib, tapi orang lain).

Ada juga anggapan, semua orang Kristen menyembah Yesus sebagai Tuhan yang sama dan sejajar dengan Tuhan Bapak. Ada juga anggapan semua orang Katolik menyembah patung Bunda Maria persis seperti Tuhan. Karena itu, semua Kristen Protestan dan Katolik dianggap menyekutukan Tuhan. Bagi banyak orang, Kristen dianggap agama yang satu dan monolitik dari sejak abad pertama Masehi sampai sekarang. Kekristenan dan umat Kristen dianggap sama dan tetap sepanjang masa.

Sering kali agama Kristen dianggap anti-Islam. Persepsi umum, Kristen adalah agama orang Barat, agama para penjajah Eropa. Banyak orang beranggapan semua orang Kristen percaya bahwa keselamatan hanya melalui gereja—tidak ada keselamatan di luarnya. Tuduhan Kristenisasi masih kuat ketika mereka melakukan misinya. Dan anggapan semua Kristen menolak berdampingan dengan penganut agama lain.

Kitab Perjanjian Baru (dan Perjanjian Lama) dianggap mengalami distorsi dan tidak asli lagi karena itu bukan wahyu Tuhan. Ada juga anggapan, semua orang Kristen membaca firman Tuhan secara harfiah dan meyakini setiap ayat dan cerita sebagai melulu fakta sejarah. Arti wahyu agama tertentu disamakan artinya dengan arti wahyu dalam agama lain.

Tentang Islam, Islamofobia masih sangat kuat. Ada anggapan umat Islam menyembah Ka’bah dan Hajar Aswad, meski mereka menyembah satu tuhan, Allah. Bahkan ada pendapat bahwa umat Islam juga memuja malaikat sebagai pembantu Tuhan dan meminta tolong jin-jin.

Di era-era zaman pertengahan dan kolonial, Muhammad—yang diyakini Nabi yang bebas dosa—justru dipersepsikan menyukai perempuan, poligami, dan pedofil. Islam dianggap sekte sesat Kristen. Ada persepsi bahwa ada satu Islam di dunia, dan sama dari dulu sampai sekarang. Allah diketahui sebagai tuhannya umat Islam, tapi berbeda sekali dengan God, dan Tuhan Esa yang ada dalam agama-agama lain (seperti Yahweh, Tuhan Bapak, Brahman, Tien, dan selainnya).

Buku terbaru Prof Muhamad Ali (2025)
Buku terbaru Prof Muhamad Ali (2025)

Ada anggapan umum Islam mengajarkan jihad sebagai perang melawan kaum kafir, khususnya Yahudi dan Kristen di mana pun dan kapan pun. Umat Islam dianggap pelaku dan pendukung terorisme sebagai jihad dan jalan menuju surga. Islam dituduh mendiskriminasi dan menindas perempuan, di rumah dan dalam kehidupan publik. Islam anti-kesetaraan gender.

Islam mengakui perbudakan. Islam agama orang Arab. Islam tidak mengenal Yesus, Bunda Maria, tidak mengenal Ibrahim, Musa, Nuh, Adam, dan figur-figur yang ada dalam Kitab Perjanjian. Sebagian besar isi al-Qur’an menjiplak ajaran, figur, dan praktik dalam kitab-kitab Yahudi dan Kristen.

Konflik Sunni dan Syiah sebagai konflik teologi semata. Ada anggapan Sunni dan Syiah memiliki kitab suci yang berbeda. Ada konsepsi umum, Islam agama politik dari sejak zaman awal sampai zaman sekarang. Islam dianggap sebagai agama hukum yang kaku, lebih kaku dari hukum Yahudi, dan lebih kaku lagi dibandingkan agama Kristen. Islam tidak menekankan ajaran kasih sayang seperti Kristen. Kalaupun dikenal sufisme atau mistisisme, banyak yang berpendapat itu bukan Islam.

Tentang agama Hindu, ada anggapan umum, agama penyembah berhala atau patung. Seorang Hindu selalu menyembah lebih dari satu tuhan (politeisme). Ada persepsi, agama Hindu agama orang India saja. Sistem kasta (pendeta, penguasa, pedagang, pelayan), berlaku secara kaku dan tidak pernah berubah di mana pun. Dalam konteks politik diskriminasi pemerintah India terhadap Kashmir, makin kuat anggapan bahwa Hindu anti-Islam.

Tentang penganut Buddha, ada konsepsi umum, semua adalah penyembah Buddha sebagai Tuhan, atau penyembah bodhisatwa. Agama Buddha dianggap agama para biksu saja. Ajaran Buddha dianggap pesimistik tentang kehidupan karena mengajarkan kehidupan adalah penderitaan. Agama Buddha dianggap sama dengan agama Hindu sehingga sering muncul istilah “agama Hindu-Buddha”, dan “pengaruh Hindu-Buddha” di Indonesia.

Tentang Konghucu, juga dianggap penyembah patung, patung Konghucu. Ada perdebatan, Konghucu dianggap sebagai agama ataupun falsafah hidup ketimbang agama. Konghucu dianggap sebagai nama identitas agama eksklusif dan tidak bisa berdampingan dengan Daoisme dan Buddha. Konghucu, karena dilekatkan pada etnik Tionghoa, sering dituduh memperkuat materialisme. Konghucu juga dianggap antikesetaraan karena menekankan hierarki sosial.

Bukan hanya itu. Agama-agama lokal di Indonesia dianggap bukan agama, tapi aliran kepercayaan atau kebatinan. Karena dianut oleh suku-suku tertentu, agama-agama lokal bukan “agama” dan tidak masuk “Kementerian Agama”, karena tidak punya kitab suci, tidak punya nabi, dan tidak punya ajaran sistematik seperti agama-agama lain.

Agama-agama lokal sering dicap juga takhayul, hanya percaya dan menyembah roh-roh halus. Mereka dianggap tidak memperhatikan literasi dan pendidikan agama, menentang kemajuan dan tidak berperadaban. Jika mereka ingin sejajar dan beradab, mereka harus masuk agama-agama dunia.

Itulah beberapa pandangan dan anggapan umum tentang agama-agama di masyarakat. Padahal, jika kita pelajari dasar-dasar agama-agama di atas, ada beberapa poin yang perlu dipahami.

Pertama, sering ada perbedaan antara pandangan orang lain dan pandangan atau pemahaman penganut agama. Pandangan kita tentang agama orang lain cenderung menggeneralisasi penganut agama lain sebagai hanya satu umat. Kita sering menggunakan patokan ideal agama kita dalam menilai dan bahkan menghakimi doktrin dan praktik agama lain. Kita belum terbiasa memahami agama lain menurut bagaimana penganutnya sendiri memahaminya.

Kedua, setiap agama memiliki perbedaan dan keragaman internal. Di dalam agama Yahudi, di dalam agama Kristen, di dalam agama Islam, dan agama-agama lain, ada keragaman pemahaman dan praktik yang umumnya menganggap benar dan baik. Meyakini kebenaran dan kebaikan agama atau aliran keagamaan sendiri tidak berarti merendahkan keyakinan orang lain tentang kebenaran agama dan alirannya.

Ketiga, setiap agama berubah, dari waktu ke waktu, dari tempat ke tempat, meski ada bagian ajaran dasar yang tidak berubah. Ada pembaharuan keagamaan dalam setiap agama, dan ada penolakan dan penerimaan, juga kompromi dan saling berdampingan antar kelompok dalam agama yang sama.

Keempat, setiap agama memiliki konteks sejarah. Tidak ada ajaran agama yang muncul ujug-ujug dari langit atau dari sumber supraalami lainnya tanpa ada proses pergumulan pendirinya atau tokoh-tokohnya dengan lingkungan. Banyak ajaran agama muncul, sebagai hasil perjumpaan dengan agama-agama dan budaya-budaya lain. Ada ajaran agama yang dimunculkan untuk membedakan dari ajaran-ajaran yang ada karena ketidakpuasaan dengan ajaran-ajaran yang ada. Tapi, ada juga ajaran agama yang merekonsiliasi, atau menengahi, mencari alternatif jalan tengah dari ajaran-ajaran yang dianggap bertentangan. Setiap agama muncul sebagai usaha pembaharuan seperti yang dipahami pendiri dan kemudian para pengikutnya.

Kelima, meski bentuk, bahasa, dan budaya berbeda, ada banyak ajaran agama yang memiliki kesamaan mendasar dan kesamaan tujuan, walau tidak persis sama karena pemaknaan bisa berbeda. Yang beragama adalah manusia, dan setiap manusia memiliki kesamaan-kesamaan mendasar sebagai manusia.

Keenam, tidak semua orang beragama menjalankan agamanya. Tidak semua orang beragama dalam satu agama menjalankan agamanya secara sama. Tidak semua orang beragama berperilaku etis atau baik, dan tidak semua orang yang beretika itu beragama tertentu. Hubungannya cukup kompleks dan tidak bisa digeneralisasi.

Sangat mungkin, saya atau Anda, memiliki keimanan bahwa Yesus Sang Penyelamat, dan pada saat yang sama memiliki pengetahuan bahwa ada orang lain—banyak umat Islam—menyembah Allah untuk mendapatkan keselamatan dan surga, dan mengetahui bahwa ada orang lain lagi bertujuan pencerahan lahir batin (nirvana) dan tidak ingin hidup lagi (moksha).

Sangatlah mungkin saya atau Anda, seorang Muslim, meyakini Allah Tuhan Yang Maha Esa dan Pengasih, melaksanakan salat dengan khusyuk, menunaikan haji, dan berharap mendapat keridaan dan surga-Nya, dan pada saat yang sama memiliki pengetahuan tentang begitu banyak Kristen yang meyakini Yesus Kristus sebagai Penyelamat dan tentang banyak umat Hindu yang memuja tuhan mereka demi keselamatan dan kebahagiaan hidup mereka.

Pengetahuan tentang dasar-dasar agama-agama membantu kita meyakini kebenaran yang diyakini dan dipelajari, dan pada saat yang sama menghormati perbedaan-perbedaan, memahami, dan mencapai kebenaran dan kebahagiaan.

Bacaan terkait

Beragama secara Ilmiah?

Mengilmiahkan Islam Modern

Beragama dengan Nalar

Runtuhnya Nalar Kami

Ramadan dan Nalar Islam-Jawa

Topik: iman dan kepercayaanliterasi keagamaantoleransi
SendShareTweetShare
Sebelumnya

Menuju Era Keemasan Bisnis Intuitif

Selanjutnya

Trouble in Paradise: Krisis Lingkungan di Pulau Dewata

Muhamad Ali

Muhamad Ali

Associate Professor di University of California, Riverside, AS, bidang Studi-studi Agama, Studi Islam; penulis kolom dan buku keislaman yang produktif. Buku terbarunya "Non-Muslim Bisa Masuk Surga" (2025).

TULISAN TERKAIT

Lampu Petunjuk

Lampu Petunjuk

11 Juli 2025
Membijakkan Sabar dan Ikhlas di Kota Suci

Membijakkan Sabar dan Ikhlas di Kota Suci

10 Juli 2025
1 Muharram: Momen Kebangkitan Spiritual Kita

1 Muharram: Momen Kebangkitan Spiritual Kita

27 Juni 2025
Ugly, Bad and Okay Mining: Pertambangan Indonesia di Persimpangan Jalan

Ugly, Bad and Okay Mining: Pertambangan Indonesia di Persimpangan Jalan

27 Juni 2025
Selanjutnya
Selanjutnya
Trouble in Paradise: Krisis Lingkungan di Pulau Dewata

Trouble in Paradise: Krisis Lingkungan di Pulau Dewata

Ulasan Pembaca 1

  1. Ping-balik: Surga Milik Siapa: Cukupkah dengan Identitas Agama di KTP? - Jakarta Book Review (JBR)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Kisah dari Negeri Para Insinyur

Kisah dari Negeri Para Insinyur

21 November 2025

Di Persimpangan Jalan: Minyak, Memori, dan Misi Mustahil Indonesia

17 November 2025
Try Sutrisno

Peluncuran Buku “Filosofi Parenting Try Sutrisno” Sajikan Formula Pola Asuh Keluarga Indonesia

15 November 2025
Tahap Akhir “AYO BACA!” Institut Prancis Indonesia: Soroti Dunia Literasi dan Sastra Kontemporer

Tahap Akhir “AYO BACA!” Institut Prancis Indonesia: Soroti Dunia Literasi dan Sastra Kontemporer

14 November 2025
Buku “The Girl with the Dragon Tattoo” Jadi Best Crime & Mystery versi Goodreads

Buku “The Girl with the Dragon Tattoo” Jadi Best Crime & Mystery versi Goodreads

29 Oktober 2025
Mitos, Mitigasi, dan Krisis Iklim: Membaca Narasi Putri Karang Melenu dan Naga Sungai Mahakam

Mitos, Mitigasi, dan Krisis Iklim: Membaca Narasi Putri Karang Melenu dan Naga Sungai Mahakam

20 Oktober 2025

© 2025 Jakarta Book Review (JBR) | Kurator Buku Bermutu

  • Tentang
  • Redaksi
  • Iklan
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Masuk
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In