Kamis, 18 Juni 2026
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)

Menuju Era Keemasan Bisnis Intuitif

Keberanian untuk bertindak berdasarkan intuisi jauh lebih penting daripada terjebak dalam dokumen-dokumen teknis yang membosankan.

Oleh Cak Jipiti
17 Maret 2025
di Kolom
A A

Di zaman yang serba cepat ini, kita tak lagi punya waktu untuk berlama-lama dalam diskusi yang melelahkan. Semua hal yang dulu dianggap esensial dalam perencanaan bisnis—riset pasar, studi kelayakan, dan perhitungan matang—ternyata hanyalah beban yang menghambat laju pembangunan. Mengapa kita harus repot dengan segala teori yang membosankan jika kita bisa mengambil keputusan hanya dengan mengandalkan intuisi?

Sudah saatnya kita meninggalkan kebiasaan lama yang penuh dengan angka-angka dan laporan tebal yang hanya menyita waktu. Perasaan, itulah yang seharusnya menjadi panglima dalam menentukan arah pembangunan. Seorang pemimpin yang baik tak perlu repot menelusuri data, cukup berdiri di lokasi, menarik napas dalam-dalam, dan merasakan getaran dari tanah yang ia pijak. Jika hatinya berkata, “Di sini tempatnya!” maka itu sudah lebih dari cukup.

Ilmu pengetahuan sering kali hanya menghambat kreativitas. Terlalu banyak perhitungan justru menimbulkan keraguan. Coba bayangkan jika para pendiri bangsa kita dulu sibuk berkutat dengan analisis SWOT sebelum mengambil keputusan. Mungkin kita takkan pernah merdeka. Maka dari itu, keberanian untuk bertindak berdasarkan intuisi jauh lebih penting daripada terjebak dalam dokumen-dokumen teknis yang membosankan.

Ada semacam romantisme dalam membangun sesuatu tanpa rencana tertulis. Seperti seorang seniman yang melukis tanpa sketsa awal, seorang pengusaha sejati juga seharusnya membiarkan instingnya mengalir bebas, membentuk bisnisnya seiring waktu. Jika ada yang mengatakan bahwa ini berisiko, biarkan saja. Risiko adalah bagian dari petualangan. Jika sebuah kawasan industri tiba-tiba ditemukan tak memiliki akses logistik yang memadai, itu bukan kesalahan perencanaan, melainkan tantangan yang harus dihadapi dengan kreativitas.

Pembangunan berbasis intuisi ini juga bisa diterapkan di berbagai bidang lain. Bayangkan dunia di mana dokter tak lagi terjebak dalam protokol medis yang panjang, melainkan cukup menatap pasien dan berkata, “Saya merasa kamu baik-baik saja.” Atau bayangkan sistem hukum di mana seorang hakim tak perlu membaca pasal-pasal yang rumit, melainkan cukup merasakan apakah seorang terdakwa memiliki wajah yang penuh penyesalan atau tidak, lalu memutuskan: “kamu layak dijatuhi hukuman mati!”

BACA JUGA:

AL-QANUN FI AL-THIBB: Kitab Kuning Kedokteran yang Fenomenal

WAKAF LITERASI: Solusi Impian Hadapi Pembajakan Buku

Kifayatul Atqiya’: Menjinakkan Hawa Nafsu di Era Digital

Kala Mesin AI Menjawab, Manusia (Harus) Bertanya

Dengan meninggalkan ilmu pengetahuan dan sepenuhnya menyerahkan nasib kepada intuisi, kita akan memasuki era baru di mana segala sesuatu terasa lebih mudah dan lebih cepat. Tak perlu lagi memusingkan angka-angka atau membuat prediksi yang sering kali meleset. Toh, pada akhirnya, semua akan kembali pada takdir. Jika berhasil, kita bisa mengklaim bahwa intuisi kita luar biasa. Jika gagal, ya, mungkin memang belum waktunya, dan kita bisa lanjut dengan intuisi lainnya.

Bacaan terkait

Trump dan “Teman Nyebur Sumur”

Ketika Bahlol Disesatkan Raja Donal

Bahlol dan Persidangan Iklim di Negeri Andainusa

Protes Keras Sultan Dipsiq kepada Raja Juli Antoni

Menuju Pertambangan Berbasis Intuisi

Topik: intuisi
SendShareTweetShare
Sebelumnya

Menuju Pertambangan Berbasis Intuisi

Selanjutnya

Urgensi Memperkuat Literasi Keagamaan Kita 

Cak Jipiti

Cak Jipiti

Sohib kecil para Sultan di Planet Bumi, pernah tinggal lama di Negeri Konoha.

TULISAN TERKAIT

al-qanun

AL-QANUN FI AL-THIBB: Kitab Kuning Kedokteran yang Fenomenal

17 Juni 2026
wakaf literasi

WAKAF LITERASI: Solusi Impian Hadapi Pembajakan Buku

10 Juni 2026
kifayatul atqiya

Kifayatul Atqiya’: Menjinakkan Hawa Nafsu di Era Digital

5 Juni 2026
kala mesin ai menjawab

Kala Mesin AI Menjawab, Manusia (Harus) Bertanya

3 Juni 2026
Selanjutnya
Selanjutnya
Urgensi Memperkuat Literasi Keagamaan Kita 

Urgensi Memperkuat Literasi Keagamaan Kita 

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

menikah

Menikah Bukan Cuma Soal ‘I Do’: Nasihat dan Pandangan Realistis dari Imam al-Ghazali

13 Juni 2026
text hip

Tren “Text Hip” Dongkrak Literasi di Korea Selatan

11 Juni 2026
buku cetak australia

Survei Creative Australia: 14,4 Juta Warga Setia Membaca, Buku Cetak Belum Tergantikan

8 Juni 2026
future history

Fiksi Ilmiah Bangkit Lagi: Penghargaan “Future History” Musim Kedua Tawarkan Hadiah Lebih Besar dan Kategori Skenario

5 Juni 2026
sayyidat al-qamar

Sayyidat al-Qamar: Novel Fenomenal dari Padang Pasir

4 Juni 2026
ancaman-nyata

Ancaman Nyata di Balik Fiksi: Saat AI dan Kiamat Ekologi Menjadi Karib

3 Juni 2026

© 2026 Jakarta Book Review (JBR) | Kurator Buku Bermutu

  • Tentang
  • Redaksi
  • Iklan
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Masuk
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In