Rabu, 28 Oktober 2026
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)

Cinta yang Tak Berlalu, Meski Ramadan Pergi

Waktu terasa suci, dada dipenuhi harap ampunan. Tapi perpisahan dengannya seolah mengembalikan kita pada dunia lama.

Oleh Nadirsyah Hosen
30 Maret 2025
di Kolom
A A

“Tuhan yang kamu sembah di bulan Ramadan itu sama dengan Tuhan yang kamu sembah di luar bulan Ramadan. Lantas, mengapa caramu beribadah berbeda?” — Rumi

Pertanyaan ini menghantam pelan tapi dalam. Mengapa saat Ramadan datang, hati kita terasa hidup, sajadah tak pernah kosong, dan malam-malam menjadi taman rindu? Tapi ketika Ramadan berlalu, gairah itu ikut surut. Padahal Tuhan tak pernah pergi. Tak berubah. Tak berpaling.

Pertemuan dengan Ramadan membuat hidup lebih jernih. Waktu terasa suci, dan dada dipenuhi harap ampunan. Tapi perpisahan dengannya seolah mengembalikan kita pada dunia lama—tempat di mana doa-doa sering tertinggal dan hati kembali beku. Padahal Tuhan yang kita sembah sebelum dan sesudah Ramadan tetap sama. Lantas, kenapa cinta kita berbeda?

Mungkin inilah ujian cinta sejati. Pecinta tak menunggu momen, tapi menciptakan momen. Ia mencinta dalam hadir dan dalam jarak. Tak peduli musim. Tak peduli waktu. Karena yang dicinta tetap satu, tak berubah dan tak bergeser. Cinta itu menetap, bukan sekadar singgah.

Malam ini—malam ke-29—mungkin adalah malam ganjil terakhir. Mungkin pula malam perpisahan. Tapi jika ini perpisahan, biarlah ia jadi luka yang indah—luka karena takut tak mampu menjaga cahaya yang telah dinyalakan Ramadan.

BACA JUGA:

16 Tahun Rene Turos: Berkah, Keringat, dan Cita-Cita

MBG: Membaca Buku Gratis

AL-QANUN FI AL-THIBB: Kitab Kuning Kedokteran yang Fenomenal

WAKAF LITERASI: Solusi Impian Hadapi Pembajakan Buku

Kalau ini benar malam terakhir, biarlah ia menjadi malam janji. Bahwa selepas Ramadan pun, kita tetap mencintai Tuhan yang sama, dengan rindu yang sama. Karena cinta sejati tak mengenal akhir. Ia bukan singgah sesaat saat kita butuh atau nyaman. Ia bukan ritual musiman yang on – off. Tapi ikatan jiwa yang tak lepas, relasi yang hidup sepanjang usia. Dan semoga, sepanjang usia itu, kita tetap bersama-Nya—dalam perjumpaan, juga dalam perpisahan dengan Ramadan.

Mungkin ini malam ganjil terakhir kita. Mungkin ini Ramadan terakhir dalam hidup kita.

Bacaan terkait

Ramadan, Bulan Pengendalian Diri (Kecuali Saat Berbelanja)

Saat Kesalehan Tak Bisa Lagi Dipoles

Kitab Puasa: Melihat Ramadan dari Bumi dan Langit

Topik: RamadanRamadan terakhir
SendShareTweetShare
Sebelumnya

Mengelola Limbah Pangan di Bali: Sebuah Tantangan Global dengan Solusi Lokal

Selanjutnya

Trump, Tarif, dan Tatanan Baru Dunia

Nadirsyah Hosen

Nadirsyah Hosen

Cendekiawan Indonesia, Associate Professor di Melbourne Law School (sejak Juli 2024), Australia, sebelumnya di Monash University (2015-2024). Penulis produktif, buku-bukunya antara lain "Islam Yes, Khilafah No 1 & 2", "Ngaji Fikih", "Saring Sebelum Sharing", "Modern Perspectives on Islamic Law", "Tafsir Al-Quran di Medsos".

TULISAN TERKAIT

16 Tahun Renebook: Berkah, Keringat, dan Cita-Cita

16 Tahun Rene Turos: Berkah, Keringat, dan Cita-Cita

23 Oktober 2026
MBG: Membaca Buku Gratis

MBG: Membaca Buku Gratis

12 Oktober 2026
al-qanun

AL-QANUN FI AL-THIBB: Kitab Kuning Kedokteran yang Fenomenal

17 Juni 2026
wakaf literasi

WAKAF LITERASI: Solusi Impian Hadapi Pembajakan Buku

10 Juni 2026
Selanjutnya
Selanjutnya
Trump, Tarif, dan Tatanan Baru Dunia

Trump, Tarif, dan Tatanan Baru Dunia

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

bsi international expo

IKAPI Jakarta dan Rene Turos Group Meriahkan BSI International Expo 2026 Menembus Pasar Global

24 Oktober 2026
penerbit rene turos

16 Tahun Penerbit Rene Turos: Bagikan 1.600 Buku kepada Pembaca dan Komunitas

20 Oktober 2026
Rayakan 16 Tahun, Rene Turos Group Bagikan 1.600 Buku untuk Pembaca

Rayakan 16 Tahun, Rene Turos Group Bagikan 1.600 Buku untuk Pembaca

17 Oktober 2026
Feri Amsari: Prabowo Harus Baca “Politik Kaum Tertindas”

Feri Amsari: Prabowo Harus Baca “Politik Kaum Tertindas”

10 Oktober 2026
politik kaum tertindas

Bedah Buku “Politik Kaum Tertindas”, Feri Amsari Kritik Praktik Blusukan yang Kehilangan Esensi

10 Oktober 2026
in this economy

In This Economy: Yang Lain Boleh Efisiensi, Kecuali Literasi

7 Oktober 2026

© 2026 Jakarta Book Review (JBR) | Kurator Buku Bermutu

  • Tentang
  • Redaksi
  • Iklan
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Masuk
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In