Jumat, 23 Oktober 2026
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)

16 Tahun Rene Turos: Berkah, Keringat, dan Cita-Cita

Oleh Anis Maftukhin
23 Oktober 2026
di Kolom
A A
16 Tahun Renebook: Berkah, Keringat, dan Cita-Cita

16 Tahun Rene Turos: Berkah, Keringat, dan Cita-Cita

Ibarat usia manusia, umur 16 tahun bagi sebuah penerbitan buku itu tergolong masih kencur. Lagi genit-genitnya, punya mimpi setinggi langit, dan tentu saja: lagi doyan-doyannya ‘akrobat’ menghadapi kerasnya industri. Rasa-rasanya itu pula yang tengah kami jalani di Renebook. Hari ini, “bocah” yang dulu lahir dari sepetak kontrakan itu sudah tidak sendirian. Ia beranak-pinak, memiliki beberapa saudara kandung alias imprint dengan warna dan ceruk pasarnya masing-masing: ada Turos Pustaka, Wali Pustaka, Rene Islam, Renekids, hingga Reneluv. Lumayan ramai untuk sebuah rumah produksi yang mulanya cuma dimotori dua orang.

Kini, si “bocah” 16 tahun ini sedang bersiap melangkah setahun ke depan menuju sweet seventeen—sebuah fase krusial yang kerap menjadi penanda atau gerbang tonggak kedewasaan. Bagi saya, kedewasaan sebuah penerbitan tentu bukan diukur dari megahnya gedung atau ramainya panggung seremonial, melainkan kematangan dalam melahirkan karya-karya yang makin bermutu, konsistensi menjaga kualitas naskah dan cetakan, serta terbinanya hubungan yang makin hangat dan loyal dengan para pembaca setia.

Selasa kemarin, kami memotong tumpeng sebagai tanda syukur atas umur 16 tahun. Ada perasaan haru saat Bro Lukman menyerahkan sepiring nasi tumpeng potongannya. Sesaat saya tertegun, bahkan ketika harus memberikan sambutan pun saya tak seperti biasanya yang biasa ngoceh di depan jamaah pengajian.

Usai acara tumpengan, saya termenung, lalu ingatan saya mendadak melompat ke belasan tahun silam. Tahun 2010 adalah titik pancang resminya, tapi embrionya sudah bergolak jauh sebelum itu. Saya masih ingat betul momen ketika saya dan Bro Lukman Hakim Arifin berhadapan, lalu berjabat tangan erat tanda deal untuk melahirkan penerbitan ini. Jalannya tidak mulus, penuh kuah keringat dan gumpalan asap rokok. Dari sepetak kontrakan kecil di kawasan Pejaten, Pasar Minggu, kami duduk melingkar. Berdiskusi, adu argumen, lalu menebak-nebak—lebih tepatnya berspekulasi—berapa biaya yang dibutuhkan untuk mencetak satu per satu buku yang mau dilempar ke pasar.

BACA JUGA:

MBG: Membaca Buku Gratis

AL-QANUN FI AL-THIBB: Kitab Kuning Kedokteran yang Fenomenal

WAKAF LITERASI: Solusi Impian Hadapi Pembajakan Buku

Kifayatul Atqiya’: Menjinakkan Hawa Nafsu di Era Digital

Sangat bersahaja, kalau tak boleh dibilang nekat. Tim redaksi? Nihil. Tim pemasaran? Absurd. Apalagi tim keuangan. Soal modal? Pas-pasan tingkat dewa. Ya mirip tukang cukur di bawah pohon rindang: hampir semua urusan, mulai dari ngedit naskah, angkut karung buku, jualan, sampai bongkar-pasang kas, kami lakoni berdua. Hanya urusan layout, desain sampul, dan mesin cetak yang kami lempar keluar. Bahkan soal logo Renebook pertama kali? Silakan tertawa, tapi itu murni hasil ketikan dan kreasi Bro Lukman pakai Microsoft Word!

 

Mungkin ada yang heran, kok bisa-bisanya dua orang ini seberani itu?

Jawabannya ada pada riwayat lama. Kami ini kawan lama yang pernah minum “air kawah” yang sama di Pondok Modern Gontor. Dulu, kami sama-sama riwa-riwi mengurus majalah pesantren yang legendaris, Darussalam Pos. Sempat berpisah jalan: saya terbang “ngaji” ke Kairo, sementara Lukman mengais ilmu di UGM. Awal 2004, takdir mempertemukan kami kembali di riuh-pikuk Jakarta. Saya jadi kuli tinta di Majalah Islam Panjimas—di bawah asuhan langsung guru besar saya, almarhum Abah Syubah Asa—sementara Lukman menancapkan kuku di Majalah Gatra.

Ketika Panjimas akhirnya gulung tikar, sayalah “orang terakhir” yang bertahan di kantor menemani Abah Syubah. Di sana saya banyak menyerap kearifan. Ada Mas Aman (Abdurrahman Makmun) yang membuat saya kagum atas kecerdasannya mengolah isu, serta Mas Suryana Sudrajat yang telaten mengajari saya bagaimana merangkai kata agar tak sekadar berbunyi, tapi juga punya isi dan nyawa.

Selepas dari Panjimas, saya melalang buana di ibu kota demi menyambung hidup. Pindah dari satu penerbitan ke penerbitan lain, sambil menyambi proyek-proyek penulisan. Tapi saban minggu, saya dan Bro Lukman hampir selalu bertemu. Tempat “akademi” kami saat itu adalah kamar kos Bro Lukman di kawasan Kalibata. Di sana, di antara aroma kopi hitam dan kepulan kretek, cita-cita itu terus dirawat: kita harus punya penerbitan sendiri.

Maka sewaktu Bro Lukman mantap keluar dari Majalah Gatra pada 2007 lalu, tekad kami makin bulat. Meski butuh waktu dan napas panjang hingga bendera Renebook resmi berdiri kokoh di tahun 2010, roda sejarah itu sudah mulai kami putar dari kamar kos tersebut.

Mahfuzhat Gontor dan Kitab Tawakal

Di masa-masa awal, kantor Renebook lebih mirip markas gerilya ketimbang kantor perusahaan. Kami sering menginap di sana, jarang pulang ke kontrakan. Apalagi saat itu kami berdua sedang melakoni nasib sebagai pejuang LDR dengan keluarga. Sampai tahun keempat, kami masih bergantian mudik ke kampung halaman.

Daya tahan kami dalam merintis semua ini sejatinya lahir dari bentukan filosofi kerja keras yang didoktrinkan para kyai sewaktu kami nyantri di Gontor dulu. Ada pepatah atau mahfuzhat yang sangat fasih kami hafal dan coba kami pegang erat-erat saat berjuang bersama membangun Renebook:

مَنْ جَدَّ وَجَدَ

“Man jadda wajada” — Barang siapa yang bersungguh-sungguh, ia akan berhasil.

Mantra ini yang membakar otot dan semangat kami untuk bersungguh-sungguh, totalitas, dan yakin bahwa kerja keras tak akan mengkhianati hasil. Namun, bersungguh-sungguh saja tidak cukup jika tidak diimbangi dengan modal kedua:

مَنْ صَبَرَ ظَفِرَ

“Man shabara zhafira” — Barang siapa yang bersabar, ia akan beruntung.

Sebab kami sadar betul, setiap proses melahirkan sesuatu yang besar selalu menuntut kesabaran ekstra saat melewati karang rintangan. Dan sebagai puncaknya, ada mantra ketiga yang menjadi penunjuk arah konsistensi kami:

مَنْ سَارَ عَلَى الدَّرْبِ وَصَلَ

“Man saara ‘ala ad-darbi washala” — Barang siapa berjalan pada jalurnya, maka ia akan sampai pada tujuan.

Bagi kami, selama langkah ini tetap setia meniti rel literasi yang benar—meski kadang perlahan dan gontai—kami yakin takdir akan mengantarkan Renebook sampai ke dermaga cita-citanya.

Suasana saban malam di markas kami selalu hidup. Tempat kami ramai digedor kawan-kawan dan kolega. Mereka datang bukan untuk menagih utang, tapi untuk berdiskusi, bertukar cerita, hingga beradu gagasan. Sajiannya konsisten: kopi, kretek, dan menu pamungkas yang tak pernah absen—martabak manis.

Soal distribusi? Jangan bayangkan sistem canggih. Saya sendiri yang membonceng karung buku-buku terbitan awal naik sepeda motor. Keluar-masuk kawasan Senen, merayap dari distributor satu ke distributor lain. Ngepak barang, mengantar pesanan, sampai menagih pembayaran—semua dikerjakan sendiri dengan modal otot dan bismillah.

Cerita getirnya? Banyak. Tak jarang agen yang mau ditagih ternyata lapaknya sudah tutupan permanen. Ada pula distributor yang bablas kabur membawa tagihan puluhan juta rupiah milik kami. Bahkan, kami pernah kena tipu pesanan besar dengan iming-iming bayar cash. Angan-angan dapat suntikan cash flow segar seketika terbang melayang begitu sadar kami cuma gigit jari.

Namun, di situlah intisari “pesantren kehidupan” bekerja. Kami ingat betul ajaran para kyai: Gusti Allah memerintahkan kita bekerja keras sebagai ikhtiar datangnya rezeki. Soal berapa jumlahnya dan cukup-tidaknya, itu sepenuhnya domain Gusti Allah. Tugas manusia cuma menjalankan perintah untuk berusaha; hasil akhir sudah ada yang mengatur di atas langit.

Mekar di Setu Babakan, Menatap 2045

Perlahan tapi pasti, roda zaman bergulir. Dari rumah kontrakan Pejaten, kini kami berlabuh di kawasan Setu Babakan. Tim kerja mulai bertambah. Dulu, di tahun-tahun awal, orang keluar-masuk gonta-ganti karena kami belum berani memberi gaji yang menjajikan—bahkan tak sedikit yang ragu penerbitan ini bakal bertahan hidup.

Kini, dengan dukungan anak-anak muda yang energik, cekatan, dan fasih beradaptasi dengan dunia digital, Renebook melangkah menuju kedewasaannya.

Jika melihat para senior di dunia penerbitan—seperti PT Karya Toha Putra Semarang yang kini berusia 64 tahun, Gramedia Pustaka Utama (GPU) yang genap 52 tahun, atau Mizan yang menginjak 43 tahun—umur 16 tahun Renebook jelas masih punya napas yang panjang untuk terus berlari.

Mimpi kami tidak tanggung-tanggung. Kami tidak ingin sekadar jadi pedagang kertas berhuruf. Lewat bendera Rene Turos Group, kami ingin menjadi jembatan akses literasi bagi bangsa ini. Spirit kami tersimpul dalam satu cita-cita besar: Mewujudkan 100.000 Judul Buku Bermutu pada Tahun 2045, termasuk menuntaskan niat menerbitkan 1.000 judul terjemahan khazanah turots—kitab-kitab klasik tanpa harakat alias “kitab gundul” yang selama ini menjadi jantung pengajian di pesantren-pesantren Indonesia. Kami ingin menghadirkan mutiara ilmu dan kearifan para ulama klasik ini ke hadapan publik masyarakat luas yang lebih lapang, sebagai wujud nyata khidmah serta dakwah bil qalam (literasi) bagi peradaban.

Dan ada satu hal yang membuat dada ini membuncah haru. Dari perasan keringat dan dinamika usaha di Renebook ini, alhamdulillah telah lahir sebuah pesantren rintisan yang kami namai “WALI” (Wakaf Akses Literasi Islam Indonesia). Sebuah wujud rasa syukur bahwa sebaik-baiknya ikhtiar adalah yang mampu menebar kemanfaatan bagi generasi mendatang.

Ala kulli hal, selamat ulang tahun ke-16, Renebook! Aku bangga padamu. Terima kasih untuk seluruh tim, para penulis, kawan-kawan jaringan, dan seluruh pembaca yang telah sudi berjalan bersama dalam jalan sunyi literasi ini.

Mari terus melangkah menyongsong usia ke-17 dan seterusnya, sebab tangga peradaban ini masih panjang untuk dianyam!

Topik: Rene Turos Grouprenebookturos pustaka
SendShareTweetShare
Sebelumnya

16 Tahun Penerbit Rene Turos: Bagikan 1.600 Buku kepada Pembaca dan Komunitas

Anis Maftukhin

Anis Maftukhin

Pengasuh Ponpes Wali, jurnalis, penceramah, motivator, penerjemah, dan praktisi komunikasi politik. Telah menerjemahkan dan mengedit 160+ buku. Tokoh Inspiratif Jateng 2023 dan ASEAN Award 2024.

TULISAN TERKAIT

MBG: Membaca Buku Gratis

MBG: Membaca Buku Gratis

12 Oktober 2026
al-qanun

AL-QANUN FI AL-THIBB: Kitab Kuning Kedokteran yang Fenomenal

17 Juni 2026
wakaf literasi

WAKAF LITERASI: Solusi Impian Hadapi Pembajakan Buku

10 Juni 2026
kifayatul atqiya

Kifayatul Atqiya’: Menjinakkan Hawa Nafsu di Era Digital

5 Juni 2026
Selanjutnya

Ulasan Pembaca 1

  1. Avatar Munib sidiq says:
    42 menit yang lalu

    keren seperti biasanya.. inspiratif pasti… semoga bertambah usia bertambah jaya omzetnya..
    selamat kawan… still fight

    Balas

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

penerbit rene turos

16 Tahun Penerbit Rene Turos: Bagikan 1.600 Buku kepada Pembaca dan Komunitas

20 Oktober 2026
Rayakan 16 Tahun, Rene Turos Group Bagikan 1.600 Buku untuk Pembaca

Rayakan 16 Tahun, Rene Turos Group Bagikan 1.600 Buku untuk Pembaca

17 Oktober 2026
Feri Amsari: Prabowo Harus Baca “Politik Kaum Tertindas”

Feri Amsari: Prabowo Harus Baca “Politik Kaum Tertindas”

10 Oktober 2026
politik kaum tertindas

Bedah Buku “Politik Kaum Tertindas”, Feri Amsari Kritik Praktik Blusukan yang Kehilangan Esensi

10 Oktober 2026
in this economy

In This Economy: Yang Lain Boleh Efisiensi, Kecuali Literasi

7 Oktober 2026
GENTLE REMINDER

Renebook Hadirkan Ruang Refleksi Diri Lewat Meaning Sharing Session di IIBF 2026

5 Oktober 2026

© 2026 Jakarta Book Review (JBR) | Kurator Buku Bermutu

  • Tentang
  • Redaksi
  • Iklan
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Masuk
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In