Jumat, 19 Juni 2026
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)

Hari Buku Nasional 17 Mei, Inilah Sejarah dan Tujuannya

Oleh Rizal Siddiq
17 Mei 2023
di Berita Buku
A A
hari-buku-nasional-17-mei

JAKARTA – Hari Buku Nasional (Harbuknas) 2023 bertepatan dengan hari ini, Rabu 17 Mei 2023. Indonesia telah memperingati Harbuknas selama lebih dari satu dekade sejak 2002. Dalam sejarah tercatat pencetusnya adalah Abdul Malik Fadjar, Menteri Pendidikan yang menjabat pada masa Kabinet Gotong Royong 2001-2004. Peringatan Hari Buku Nasional ini merupakan momen yang tepat untuk meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia.

Bagaimana sejarah peringatan Hari Buku Nasional? Simak ulasan berikut:

Sejarah Hari Buku Nasional 17 Mei

Dikutip dari situs Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI, Perayaan Hari Buku Nasional pertama kali pada tahun 2002. Ide peringatan ini dicetuskan oleh Abdul Malik Fadjar yang saat itu menjabat sebagai Menteri Pendidikan. Tanggal 17 Mei dipilih bertepatan dengan berdirinya Perpustakaan Nasional pada 17 Mei 1980.

Alasan utama pencetusan Harbuknas ini adalah untuk meningkatkan literasi dan minat baca masyarakat Indonesia yang tergolong masih rendah. Data UNESCO pada 2002 menunjukkan tingkat literasi orang dewasa berada di angka 87,9 persen. Angka yang sangat rendah jika kita bandingkan dengan negara-negara lain di Asia Tenggara, seperti Vietnam (90,3 persen), Thailand (92,6 persen), dan Malaysia (88,7 persen).

Selain untuk meningkatkan literasi dan minat baca, Harbuknas juga bertujuan untuk meningkatkan penjualan buku. Pada tahun 2002, jumlah rata-rata buku yang dicetak setiap tahun hanya mencapai 18 ribu judul. Jumlah tersebut sangat rendah daripada negara Asia lainnya, seperti Jepang dan Cina yang mencapai 40 ribu hingga 140 ribu judul buku.

BACA JUGA:

Tren “Text Hip” Dongkrak Literasi di Korea Selatan

Survei Creative Australia: 14,4 Juta Warga Setia Membaca, Buku Cetak Belum Tergantikan

Fiksi Ilmiah Bangkit Lagi: Penghargaan “Future History” Musim Kedua Tawarkan Hadiah Lebih Besar dan Kategori Skenario

Sayyidat al-Qamar: Novel Fenomenal dari Padang Pasir

Abdul Malik Fadjar sadar bahwa meningkatkan minat baca masyarakat merupakan sebuah tantangan yang cukup berat mengingat generasi muda yang sudah mulai menggunakan sistem komunikasi dengan telepon dengan dominan dan sedikit membaca buku. Ia mengajak masyarakat Indonesia untuk meningkatkan minat baca sebab membaca bisa menambah pengetahuan perkembangan dunia modern.

Literasi dan Minat Baca Indonesia

Tingkat literasi masyarakat Indonesia saat ini juga masih terbilang rendah. Menurut survei dari Program for International Student Assessment (PISA) pada 2019 menunjukkan Indonesia berada di peringkat ke 62 dari 70 negara. Artinya, Indonesia adalah 10 negara terbawah dengan tingkat literasi yang rendah.

Data dari UNESCO juga mengatakan hal yang sama. Situs Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menyebutkan, minat baca masyarakat Indonesia hanya sebesar 0,001 persen. Artinya, hanya ada 1 dari 1.000 orang Indonesia yang rajin membaca. UNESCO juga menempatkan Indonesia sebagai negara terendah kedua untuk tingkat minat baca.

Itulah penjelasan mengenai sejarah peringatan Hari Buku Nasional 17 Mei dan kondisi literasi Indonesia saat ini. Dengan tingkat literasi yang masih rendah, kita masih harus berusaha agar masyarakat negeri ini dapat teredukasi dengan baik mengenai literasi. Untuk itu, mari kita rayakan Hari Buku Nasional 17 Mei 2023 dengan membeli, berbagi, dan membaca buku serta ikut serta berkontribusi dalam meningkatkan literasi dan minat baca di Indonesia.

Topik: berita bukuhari buku nasionalhari buku nasional 17 meiliterasi
SendShareTweetShare
Sebelumnya

Keluarga Samawa dan Tiga Kunci Mewujudkannya

Selanjutnya

Bahas Tasawuf di Kampus, UIN Jakarta Gelar Bedah Buku “Apa itu Tasawuf?” bersama Turos Pustaka

Rizal Siddiq

Rizal Siddiq

Redaktur Jakarta Book Review

TULISAN TERKAIT

text hip

Tren “Text Hip” Dongkrak Literasi di Korea Selatan

11 Juni 2026
buku cetak australia

Survei Creative Australia: 14,4 Juta Warga Setia Membaca, Buku Cetak Belum Tergantikan

8 Juni 2026
future history

Fiksi Ilmiah Bangkit Lagi: Penghargaan “Future History” Musim Kedua Tawarkan Hadiah Lebih Besar dan Kategori Skenario

5 Juni 2026
sayyidat al-qamar

Sayyidat al-Qamar: Novel Fenomenal dari Padang Pasir

4 Juni 2026
Selanjutnya
Selanjutnya
Bahas Tasawuf di Kampus, UIN Jakarta Gelar Bedah Buku “Apa itu Tasawuf?” bersama Turos Pustaka

Bahas Tasawuf di Kampus, UIN Jakarta Gelar Bedah Buku "Apa itu Tasawuf?" bersama Turos Pustaka

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

menikah

Menikah Bukan Cuma Soal ‘I Do’: Nasihat dan Pandangan Realistis dari Imam al-Ghazali

13 Juni 2026
text hip

Tren “Text Hip” Dongkrak Literasi di Korea Selatan

11 Juni 2026
buku cetak australia

Survei Creative Australia: 14,4 Juta Warga Setia Membaca, Buku Cetak Belum Tergantikan

8 Juni 2026
future history

Fiksi Ilmiah Bangkit Lagi: Penghargaan “Future History” Musim Kedua Tawarkan Hadiah Lebih Besar dan Kategori Skenario

5 Juni 2026
sayyidat al-qamar

Sayyidat al-Qamar: Novel Fenomenal dari Padang Pasir

4 Juni 2026
ancaman-nyata

Ancaman Nyata di Balik Fiksi: Saat AI dan Kiamat Ekologi Menjadi Karib

3 Juni 2026

© 2026 Jakarta Book Review (JBR) | Kurator Buku Bermutu

  • Tentang
  • Redaksi
  • Iklan
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Masuk
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In