Kamis, 18 Juni 2026
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)

Toleransi, Politik, dan Seni Mengelabui

Meski politik sebentuk seni mengelabui, ia masih punya ruang menjadi utama ketika pemenang bertanggungjawab pada para konstituennya.

Oleh Heru Harjo Hutomo
9 April 2025
di Kolom
A A

Beruntunglah Karl Marx yang tak sempat mengunduh buah dari sebuah perjuangan. Ia jelas tak akan merasakan apa yang dialami oleh Lenin, Stalin ataupun Mao: penyesuaian antara niat yang mulia dengan realitas yang ada. Dan itu artinya, Marx telah selamat dari menjadi seorang politisi yang lazimnya merasa “besar” karena tuntutan untuk mengelabui.

Menyandingkan dunia politik dengan seni mengelabui pada dasarnya bukanlah suatu hal yang ngayawara. Ibaratkan politik itu adalah sebentuk hasrat seksual yang sudah memuncak, yang pada dasarnya tak pernah peduli pada media yang digunakan untuk melampiaskannya: moral, agama, ideologi, dan lainnya.

Politik dan moral, pada dasarnya, adalah dua dunia yang musykil untuk ditunggalkan. Sebab, para politisi ketika berbicara masalah moral pun adalah tetap dalam kerangka perhitungan politis. Kenapa tetap saja mesti berdasarkan kepentingan ataupun perhitungan politis?

Politik, pada dasarnya, tak mengenal sebuah kekalahan. Ketika pun mengakui sebuah kekalahan, tetap saja pengakuan itu dalam rangka kepentingan politik. Maka, pada titik ini politik pada dasarnya bukanlah sebuah dunia yang dapat diperbincangkan. Karena perbincangan adalah sebentuk penjarakan atas sebuah pengalaman yang hanya nyata ketika dialami.

Pada dunia yang seperti itulah membawa isu soal toleransi, secara sekilas, adalah suatu hal yang tampak konyol. Sifat pragmatis-eksperiental politik rasanya memang tak menyediakan ruang untuk saling toleran atau membiarkan satu sama lain. Bukankah lazim dalam sebuah kontestasi politik terjadi pengkotakan masyarakat yang tentu saja sangat berlawanan dengan semangat toleransi: “agamis-sekular,” “abangan-putihan,” “nasionalis-islamis,” “Timur-Barat,” “Utara-Selatan,” “pribumi-liyan ndrayan”?

BACA JUGA:

AL-QANUN FI AL-THIBB: Kitab Kuning Kedokteran yang Fenomenal

WAKAF LITERASI: Solusi Impian Hadapi Pembajakan Buku

Kifayatul Atqiya’: Menjinakkan Hawa Nafsu di Era Digital

Kala Mesin AI Menjawab, Manusia (Harus) Bertanya

Sebagaimana permainan catur, pada sebuah kontestasi politik toleran hanyalah berarti saling memberikan kesempatan yang seturut dengan berbagai peraturan yang ada. Dan toleransi semacam ini sangatlah bertentangan dengan toleransi yang lazim dikaitkan dengan proses kedua dalam mengenal diri sendiri: nandhing sarira, tepa sarira (toleransi), dan mulat sarira.

Bukankah politik, sebagaimana yang sudah dibahas, karena sebentuk kontestasi yang terpaksa menjual perbedaan, adalah sebentuk proses nandhing sarira? Bukankah konyol ketika berkontestasi orang akan saling mencari persamaan dalam perbedaan, yang lazim dikenal sebagai tepa sarira, yang akan membuat sebuah kontestasi tak lagi bermakna. Apakah kemudian, pada aras kehidupan bersama, politik bermakna serendah itu?

Ada sebentuk prinsip etis yang disebuat sebagai etika “jalan perak” di mana orang mesti membahagiakan diri sendiri sebelum membahagiakan orang lainnya. Meskipun kalah utama daripada prinsip etis “jalan emas,” yang lazim ditempuh oleh para agamawan masa lalu, prinsip ini masihlah bersifat etis, karena sisi terjauhnya adalah juga orang lainnya. Dan di sinilah, meski politik adalah sebentuk seni mengelabui, ia masih memiliki ruang untuk menjadi utama ketika sang pemenang bertanggungjawab pada para konstituennya. Bahkan pun bisa jadi politik itu, dengan daya kuasa dan teba kuasa yang melebihi agama, akan lebih utama karena dapat menjangkau lebih banyak orang lainnya.

Bacaan terkait

Kabinet Inklusif Prabowo: Mengakomodasi Faksi-faksi Islam untuk Kohesi Politik

Demokrasi Dikorupsi

Kebebalan Komunikasi Hasan Nasbi

Membentuk Demokrasi Indonesia: Kebangkitan Kaum Muda di Tengah #IndonesiaGelap

Apakah Prabowo Menghidupkan Kembali Rezim Soeharto?

Topik: agama dan demokrasipolitik Indonesiatoleransi
SendShareTweetShare
Sebelumnya

Surga Milik Siapa: Cukupkah dengan Identitas Agama di KTP?

Selanjutnya

NEGO SAMPAI LAWAN “KO”

Heru Harjo Hutomo

Heru Harjo Hutomo

Seniman, Pengarang, dan Budayawan Jawa, Alumnus Center for Religious and Cross-Cultural Studies UGM Yogyakarta.

TULISAN TERKAIT

al-qanun

AL-QANUN FI AL-THIBB: Kitab Kuning Kedokteran yang Fenomenal

17 Juni 2026
wakaf literasi

WAKAF LITERASI: Solusi Impian Hadapi Pembajakan Buku

10 Juni 2026
kifayatul atqiya

Kifayatul Atqiya’: Menjinakkan Hawa Nafsu di Era Digital

5 Juni 2026
kala mesin ai menjawab

Kala Mesin AI Menjawab, Manusia (Harus) Bertanya

3 Juni 2026
Selanjutnya
Selanjutnya
nego sampai lawan ko

NEGO SAMPAI LAWAN “KO”

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

menikah

Menikah Bukan Cuma Soal ‘I Do’: Nasihat dan Pandangan Realistis dari Imam al-Ghazali

13 Juni 2026
text hip

Tren “Text Hip” Dongkrak Literasi di Korea Selatan

11 Juni 2026
buku cetak australia

Survei Creative Australia: 14,4 Juta Warga Setia Membaca, Buku Cetak Belum Tergantikan

8 Juni 2026
future history

Fiksi Ilmiah Bangkit Lagi: Penghargaan “Future History” Musim Kedua Tawarkan Hadiah Lebih Besar dan Kategori Skenario

5 Juni 2026
sayyidat al-qamar

Sayyidat al-Qamar: Novel Fenomenal dari Padang Pasir

4 Juni 2026
ancaman-nyata

Ancaman Nyata di Balik Fiksi: Saat AI dan Kiamat Ekologi Menjadi Karib

3 Juni 2026

© 2026 Jakarta Book Review (JBR) | Kurator Buku Bermutu

  • Tentang
  • Redaksi
  • Iklan
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Masuk
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In