Kamis, 22 Oktober 2026
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)

Toleransi, Politik, dan Seni Mengelabui

Meski politik sebentuk seni mengelabui, ia masih punya ruang menjadi utama ketika pemenang bertanggungjawab pada para konstituennya.

Oleh Heru Harjo Hutomo
9 April 2025
di Kolom
A A

Beruntunglah Karl Marx yang tak sempat mengunduh buah dari sebuah perjuangan. Ia jelas tak akan merasakan apa yang dialami oleh Lenin, Stalin ataupun Mao: penyesuaian antara niat yang mulia dengan realitas yang ada. Dan itu artinya, Marx telah selamat dari menjadi seorang politisi yang lazimnya merasa “besar” karena tuntutan untuk mengelabui.

Menyandingkan dunia politik dengan seni mengelabui pada dasarnya bukanlah suatu hal yang ngayawara. Ibaratkan politik itu adalah sebentuk hasrat seksual yang sudah memuncak, yang pada dasarnya tak pernah peduli pada media yang digunakan untuk melampiaskannya: moral, agama, ideologi, dan lainnya.

Politik dan moral, pada dasarnya, adalah dua dunia yang musykil untuk ditunggalkan. Sebab, para politisi ketika berbicara masalah moral pun adalah tetap dalam kerangka perhitungan politis. Kenapa tetap saja mesti berdasarkan kepentingan ataupun perhitungan politis?

Politik, pada dasarnya, tak mengenal sebuah kekalahan. Ketika pun mengakui sebuah kekalahan, tetap saja pengakuan itu dalam rangka kepentingan politik. Maka, pada titik ini politik pada dasarnya bukanlah sebuah dunia yang dapat diperbincangkan. Karena perbincangan adalah sebentuk penjarakan atas sebuah pengalaman yang hanya nyata ketika dialami.

Pada dunia yang seperti itulah membawa isu soal toleransi, secara sekilas, adalah suatu hal yang tampak konyol. Sifat pragmatis-eksperiental politik rasanya memang tak menyediakan ruang untuk saling toleran atau membiarkan satu sama lain. Bukankah lazim dalam sebuah kontestasi politik terjadi pengkotakan masyarakat yang tentu saja sangat berlawanan dengan semangat toleransi: “agamis-sekular,” “abangan-putihan,” “nasionalis-islamis,” “Timur-Barat,” “Utara-Selatan,” “pribumi-liyan ndrayan”?

BACA JUGA:

MBG: Membaca Buku Gratis

AL-QANUN FI AL-THIBB: Kitab Kuning Kedokteran yang Fenomenal

WAKAF LITERASI: Solusi Impian Hadapi Pembajakan Buku

Kifayatul Atqiya’: Menjinakkan Hawa Nafsu di Era Digital

Sebagaimana permainan catur, pada sebuah kontestasi politik toleran hanyalah berarti saling memberikan kesempatan yang seturut dengan berbagai peraturan yang ada. Dan toleransi semacam ini sangatlah bertentangan dengan toleransi yang lazim dikaitkan dengan proses kedua dalam mengenal diri sendiri: nandhing sarira, tepa sarira (toleransi), dan mulat sarira.

Bukankah politik, sebagaimana yang sudah dibahas, karena sebentuk kontestasi yang terpaksa menjual perbedaan, adalah sebentuk proses nandhing sarira? Bukankah konyol ketika berkontestasi orang akan saling mencari persamaan dalam perbedaan, yang lazim dikenal sebagai tepa sarira, yang akan membuat sebuah kontestasi tak lagi bermakna. Apakah kemudian, pada aras kehidupan bersama, politik bermakna serendah itu?

Ada sebentuk prinsip etis yang disebuat sebagai etika “jalan perak” di mana orang mesti membahagiakan diri sendiri sebelum membahagiakan orang lainnya. Meskipun kalah utama daripada prinsip etis “jalan emas,” yang lazim ditempuh oleh para agamawan masa lalu, prinsip ini masihlah bersifat etis, karena sisi terjauhnya adalah juga orang lainnya. Dan di sinilah, meski politik adalah sebentuk seni mengelabui, ia masih memiliki ruang untuk menjadi utama ketika sang pemenang bertanggungjawab pada para konstituennya. Bahkan pun bisa jadi politik itu, dengan daya kuasa dan teba kuasa yang melebihi agama, akan lebih utama karena dapat menjangkau lebih banyak orang lainnya.

Bacaan terkait

Kabinet Inklusif Prabowo: Mengakomodasi Faksi-faksi Islam untuk Kohesi Politik

Demokrasi Dikorupsi

Kebebalan Komunikasi Hasan Nasbi

Membentuk Demokrasi Indonesia: Kebangkitan Kaum Muda di Tengah #IndonesiaGelap

Apakah Prabowo Menghidupkan Kembali Rezim Soeharto?

Topik: agama dan demokrasipolitik Indonesiatoleransi
SendShareTweetShare
Sebelumnya

Surga Milik Siapa: Cukupkah dengan Identitas Agama di KTP?

Selanjutnya

NEGO SAMPAI LAWAN “KO”

Heru Harjo Hutomo

Heru Harjo Hutomo

Seniman, Pengarang, dan Budayawan Jawa, Alumnus Center for Religious and Cross-Cultural Studies UGM Yogyakarta.

TULISAN TERKAIT

MBG: Membaca Buku Gratis

MBG: Membaca Buku Gratis

12 Oktober 2026
al-qanun

AL-QANUN FI AL-THIBB: Kitab Kuning Kedokteran yang Fenomenal

17 Juni 2026
wakaf literasi

WAKAF LITERASI: Solusi Impian Hadapi Pembajakan Buku

10 Juni 2026
kifayatul atqiya

Kifayatul Atqiya’: Menjinakkan Hawa Nafsu di Era Digital

5 Juni 2026
Selanjutnya
Selanjutnya
nego sampai lawan ko

NEGO SAMPAI LAWAN “KO”

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

penerbit rene turos

16 Tahun Penerbit Rene Turos: Bagikan 1.600 Buku kepada Pembaca dan Komunitas

20 Oktober 2026
Rayakan 16 Tahun, Rene Turos Group Bagikan 1.600 Buku untuk Pembaca

Rayakan 16 Tahun, Rene Turos Group Bagikan 1.600 Buku untuk Pembaca

17 Oktober 2026
Feri Amsari: Prabowo Harus Baca “Politik Kaum Tertindas”

Feri Amsari: Prabowo Harus Baca “Politik Kaum Tertindas”

10 Oktober 2026
politik kaum tertindas

Bedah Buku “Politik Kaum Tertindas”, Feri Amsari Kritik Praktik Blusukan yang Kehilangan Esensi

10 Oktober 2026
in this economy

In This Economy: Yang Lain Boleh Efisiensi, Kecuali Literasi

7 Oktober 2026
GENTLE REMINDER

Renebook Hadirkan Ruang Refleksi Diri Lewat Meaning Sharing Session di IIBF 2026

5 Oktober 2026

© 2026 Jakarta Book Review (JBR) | Kurator Buku Bermutu

  • Tentang
  • Redaksi
  • Iklan
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Masuk
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In