Senin, 30 Maret 2026
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)

Tentang Kabinet Merah Putih nan Jumbo

Pembekalan saja tidak cukup. Begitu sampai pada kerja konkret kementerian, kompleksitas persoalan yang dihadapi tidak seperti saat simulasi.

Oleh Yanuar Nugroho
21 Oktober 2024
di Kolom
A A

Kabinet Merah Putih 2024-2029 baru saja diumumkan oleh Presiden Prabowo Subianto. 48 kementerian, 5 lembaga setingkat kementerian anggota kabinet. Total ada 109 menteri-dan-wakil-menteri yang akan segera dilantik. Ini adalah kabinet terbesar pasca era Bung Karno. Memang, dengan direvisinya UU Kementerian Negara, Prabowo (dan Presiden selanjutnya) punya hak menyusun kabinet sebesar (atau sekecil) apa pun.

Apakah ekspansi kabinet ini sekadar untuk mengakomodasi kepentingan politik Prabowo? Kalaupun iya, itu sah-sah saja. Itu haknya. Tapi Prabowo mesti bisa menunjukkan bahwa kabinetnya profesional. Karena, kalau ternyata kabinetnya tidak berkinerja, janji politiknya dalam Asta Cita bisa gagal diwujudkan.

Apa risiko kabinet berukuran XL atau malah XXL ini? Pertama,tak bisa segera beroperasi, apalagi berlari. Penataan ulang apalagi pembentukan K/L baru butuh waktu. Ingat masa lalu (pembentukan BRG, BRIN, BPIP, OIKN, dll.). Urusan SOTK, penggajian, aturan kerja, dll tak bisa seketika. Padahal Prabowo butuh kabinetnya segera bisa bekerja. 

Kedua, tak mudah dikoordinasi. Kecenderungan K/L bekerja dengan ‘kacamata kuda’, fokus hanya pada sektornya (‘ego-sektoral’). Dengan 34 kementerian saja Presiden Joko Widodo berkali-kali mengeluhkan sulitnya koordinasi. Kini, dengan 48? Nampaknya tantangan Presiden Prabowo untuk koordinasi ini tidak akan mudah.

Ketiga, tidak efisien. Satu urusan/isu yang mestinya bisa ditangani secara cepat oleh satu-dua kementerian saja, kini akan butuh waktu dan sumber daya lebih banyak karena mesti ditangani lebih banyak kementerian. Ini belum lagi bicara soal keuangan dan pembiayaan kementerian, termasuk penggajian menteri, wakil menteri dan seluruh perangkatnya termasuk para staf khusus.

BACA JUGA:

Lampu Petunjuk

Membijakkan Sabar dan Ikhlas di Kota Suci

1 Muharram: Momen Kebangkitan Spiritual Kita

Ugly, Bad and Okay Mining: Pertambangan Indonesia di Persimpangan Jalan

Dari sini saja kita bisa membayangkan, akibat obesitas ini, Kabinet Merah Putih tak kan segera bisa berkibar, takkan bisa segera berlari kencang. Pak Prabowo memang sudah mengumpulkan semua calon menteri dan wamen dalam pembekalan di Hambalang. Ini langkah yang bagus dan tepat. Memang, semua menteri mesti punya visi yang sebangun dengan visi Presiden (dan sebenarnya akan lebih baik lagi jika juga diikat dengan kontrak kinerja). Tapi pembekalan saja tidak cukup. Karena, begitu sampai pada kerja konkret kementerian, kompleksitas persoalan yang dihadapi tidak seperti saat simulasi dalam pembekalan. Kerumitannya nyata, mulai dari soal teknis, administratif birokratis, hingga politis.

Karena itu, dalam kondisi ini, perlu terobosan konkret dan cepat. Saya ajukan tiga. Pertama, pengawasan dan Pengendalian Pembangunan. Pak Prabowo meneruskan Kantor Staf Presiden (KSP) dari zaman Pak Jokowi. KSP ini, yang sebenarnya adalah kelanjutan UKP4 (Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan) zaman Pak SBY, mesti diperkuat. Bukan secara politis, tetapi secara teknokratis untuk mengendalikan pembangunan: memastikan janji politik presiden diterjemahkan dalam prioritas pembangunan.

Kedua, segera merapikan kerangka regulasi. Mesti dipastikan tidak ada tabrakan aturan, mulai dari UU, PP, Perpres, Keppres, Inpres hingga ke Permen dan Kepmen. Kalau regulasi tabrakan, dengan kementerian yang kegemukan ini, bisa dipastikan program pembangunan akan macet.

Ketiga, segera menyusun mekanisme akuntabilitas: multilateralisme. Artinya, satu inisiatif atau prioritas yang ditugaskan mesti jelas siapa penanggungjawab utamanya. Tapi perencanaan dan penganggarannya melibatkan bukan hanya BAPPENAS dan Kemenkeu, namun juga BPKP, dan KPK (Pencegahan). Demikian juga pengawasan implementasi dan evaluasinya. Ini mencegah korupsi sejak awal.

Merenungkan situasi ini, sebenarnya saya khawatir Pak Prabowo malah menciptakan sendiri masalahnya (dan ini masalah besar!) di awal beliau menjabat dengan menyusun kabinet sebesar ini. Saya tentu berharap saya salah. Sungguh, semoga saya salah. Semoga Pak Prabowo sudah menghitung semua risikonya. Apa pun itu, saya ucapkan: Selamat bekerja Kabinet Merah Putih!

Bacaan terkait

Skenario Terbaik Indonesia dari Presiden Prabowo

Demokrasi Dikorupsi

Topik: kabinet merah putihPresiden Prabowo
SendShareTweetShare
Sebelumnya

Kanjeng Doktor Bahlil

Selanjutnya

Membangkitkan “The Santri” di Hari Santri

Yanuar Nugroho

Yanuar Nugroho

Aktivis, akademisi, Deputi II Kepala Staf Kepresidenan (KSP) pada Kabinet Kerja (2 April 2015-18 Oktober 2019). Sejak 14 Januari 2022 menjabat Koordinator Tim Ahli di Sekretariat Nasional SDGs di Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Editor buku "Menanti Tanggung Jawab Sosial Sektor Finansial di Indonesia" (2004)

TULISAN TERKAIT

Lampu Petunjuk

Lampu Petunjuk

11 Juli 2025
Membijakkan Sabar dan Ikhlas di Kota Suci

Membijakkan Sabar dan Ikhlas di Kota Suci

10 Juli 2025
1 Muharram: Momen Kebangkitan Spiritual Kita

1 Muharram: Momen Kebangkitan Spiritual Kita

27 Juni 2025
Ugly, Bad and Okay Mining: Pertambangan Indonesia di Persimpangan Jalan

Ugly, Bad and Okay Mining: Pertambangan Indonesia di Persimpangan Jalan

27 Juni 2025
Selanjutnya
Selanjutnya
Membangkitkan “The Santri” di Hari Santri

Membangkitkan "The Santri" di Hari Santri

Ulasan Pembaca 4

  1. Ping-balik: Kabinet Prabowo yang Gemuk dan Akomodatif - Jakarta Book Review (JBR)
  2. Ping-balik: Menteri Utusan Ormas - Jakarta Book Review (JBR)
  3. Ping-balik: Indonesia-nya Prabowo: Mewarisi Demokrasi di Saat Senja - Jakarta Book Review (JBR)
  4. Ping-balik: Saya dan Kuntoro Mangkusubroto - Jakarta Book Review (JBR)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

kenal lebih dekat

Kenali Lebih Dekat untuk Menjauhi Prasangka

26 Januari 2026
Kisah dari Negeri Para Insinyur

Kisah dari Negeri Para Insinyur

21 November 2025

Di Persimpangan Jalan: Minyak, Memori, dan Misi Mustahil Indonesia

17 November 2025
Try Sutrisno

Peluncuran Buku “Filosofi Parenting Try Sutrisno” Sajikan Formula Pola Asuh Keluarga Indonesia

15 November 2025
Tahap Akhir “AYO BACA!” Institut Prancis Indonesia: Soroti Dunia Literasi dan Sastra Kontemporer

Tahap Akhir “AYO BACA!” Institut Prancis Indonesia: Soroti Dunia Literasi dan Sastra Kontemporer

14 November 2025
Buku “The Girl with the Dragon Tattoo” Jadi Best Crime & Mystery versi Goodreads

Buku “The Girl with the Dragon Tattoo” Jadi Best Crime & Mystery versi Goodreads

29 Oktober 2025

© 2025 Jakarta Book Review (JBR) | Kurator Buku Bermutu

  • Tentang
  • Redaksi
  • Iklan
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Masuk
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In