Sabtu, 14 Maret 2026
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)

Setelah NU Dapat Konsesi Tambang

Pertambangan adalah sektor yang kontroversial. Kemampuan pengelolaan lingkungan, sosial, dan tata kelola yang terbaik menjadi taruhan.

Oleh Jalal
7 Juni 2024
di Kolom
A A
NU Tambang

Sumber foto: VOI

Berjalan jauh di hutan gambut
Bertemu dengan bermacam kembang
Pantaslah banyak orang ribut
Ormas agama dikasih konsesi tambang

Ketika rumor terdengar bahwa ormas keagamaan bakal diberi konsesi pertambangan, banyak orang keheranan. Dan, dari heran orang-orang kemudian menebak-nebak soal motivasi itu. Kebanyakannya langsung berkesimpulan: ini adalah politik balas budi, dan balas budi politik, terkait dengan pemilu lalu.

Tetapi, tentu saja dugaan seperti itu tak di-iya-kan oleh yang punya ide. Menteri Bahlil seperti meradang ketika ditanya jurnalis. Dia bilang bahwa ormas keagamaan itulah yang memerdekakan Indonesia dengan seruan perlawanan kepada penjajah. Kalau sekarang Negara memberikan konsesi tambang, itu adalah balas budi untuk jasa yang itu, bukan urusan pemilu.

Lain Bahlil lain pula Menteri Siti. Dia sama sekali tak menolak ide pemberian konsesi tambang kepada ormas keagamaan, dengan alasan yang sangat pragmatis: daripada setiap hari mengirimkan proposal. Tentu yang dimaksud adalah proposal untuk pendanaan berbagai kegiatan berbasis keagamaan. Walau mengandung kebenaran, sebetulnya pernyataan Siti ini bisa dianggap menghina ormas keagamaan. Untunglah tak ada yang marah.

Alih-alih marah dinyatakan “tukang” mengirimkan proposal setiap hari, NU malah secara terbuka menyatakan memang BU, butuh uang. Dan mereka merasa percaya diri bisa mengelola pertambangan dan menghasilkan uang—dan semoga saja benar bisa mengurangi kecenderungan menjadi pabrik proposal.

BACA JUGA:

Lampu Petunjuk

Membijakkan Sabar dan Ikhlas di Kota Suci

1 Muharram: Momen Kebangkitan Spiritual Kita

Ugly, Bad and Okay Mining: Pertambangan Indonesia di Persimpangan Jalan

Mengelola tambang bukan sekadar mendapatkan konsesi dari pemerintah. Seabrek persyaratan lain musti mereka penuhi, termasuk puluhan dokumen dan izin, yang di baliknya ada penelitian, pembuatan kebijakan, strategi, program, dan beragam jenis sumber daya.

Kalau seluruh dokumen dan perizinan itu sudah terpenuhi—yang bisa dikerjakan konsultan—​implementasinya butuh juga sumber daya manusia, sumber daya organisasi, sumber daya finansial yang tidak kecil jumlahnya dan tidak sembarangan kualifikasinya. Teknologi yang dipilih untuk dipergunakan juga bakal sangat penting dipertimbangkan. Kalau itu semua ada, urusan pemasaran produknya juga bukan barang mudah.

NU Tambang

Ini tidak untuk bilang bahwa Nahdlatul Ulama (NU), atau ormas keagamaan mana pun, pasti tidak sanggup melakukannya. NU, ormas keagamaan terbesar di dunia, punya banyak SDM jempolan, punya koneksi terhadap sumber pendanaan, dan mungkin sudah punya kejelasan kepada siapa produknya bakal dipasarkan.

Tetapi perlu diingat bahwa pertambangan adalah sektor yang kontroversial. Dia punya jasa sangat besar bagi kehidupan manusia modern, namun dampak lingkungan dan sosial negatif selalu jadi catatan. Persoalan tata kelolanya membelit banyak pihak.

Kalau kemudian, misalnya NU, tak bisa menunjukkan kemampuan pengelolaan lingkungan, sosial, dan tata kelola terbaik, sangat mungkin nama NU tercoreng. Kalau, lagi-lagi misalnya NU, memilih ongkang-ongkang kaki melego konsesinya kepada pihak tertentu, dan kinerjanya tak memuaskan, tetap saja orang akan mengingat bahwa itu adalah tambang “milik” NU.

Beberapa ormas keagamaan sudah menyatakan tidak akan meminta konsesi—​dan secara lebih halus menyatakan tidak akan menerima konsesi bila ditawarkan atau diberikan. Mereka bilang bahwa mereka bukan pihak yang kompeten untuk mengelola pertambangan. Sebuah kejujuran yang patut diapresiasi. Begitu agaknya lebih bijak, dan lebih agamis.​

Semua bumbu ditumbuk halus
Lalu dibalurkan ke sate usus
Bukan soal ormas pasti tak becus
Tapi tambang itu perlu diurus serius

Topik: agama dan lingkungankonsesi tambangNU
SendShareTweetShare
Sebelumnya

Meneladani Mentalitet Korea Komandan Bambang Pacul

Selanjutnya

2 Buku Agama Terbaru tentang Lingkungan

Jalal

Jalal

Provokator Keberlanjutan, ESG and CSR Strategist, dan penggila buku, film, dan duren. Pengarang buku "Mengurai Benang Kusut Indonesia: Jokowinomics di Bawah Cengkeraman Korporasi" (2020).

TULISAN TERKAIT

Lampu Petunjuk

Lampu Petunjuk

11 Juli 2025
Membijakkan Sabar dan Ikhlas di Kota Suci

Membijakkan Sabar dan Ikhlas di Kota Suci

10 Juli 2025
1 Muharram: Momen Kebangkitan Spiritual Kita

1 Muharram: Momen Kebangkitan Spiritual Kita

27 Juni 2025
Ugly, Bad and Okay Mining: Pertambangan Indonesia di Persimpangan Jalan

Ugly, Bad and Okay Mining: Pertambangan Indonesia di Persimpangan Jalan

27 Juni 2025
Selanjutnya
Selanjutnya
Islam dan Lingkungan

2 Buku Agama Terbaru tentang Lingkungan

Ulasan Pembaca 4

  1. Ping-balik: Ulil, Tambang Batubara, dan Krisis Iklim - JBR
  2. Ping-balik: Apakah Fikih (Tambang) Memadai? - Jakarta Book Review (JBR)
  3. Ping-balik: Fikih Ekologi Ulil dan Deep Ecology - Jakarta Book Review (JBR)
  4. Ping-balik: Tak Sekadar Teriakan “How Dare You!” Memahami Perjuangan Greta Thunberg Secara Lebih Komprehensif - Jakarta Book Review (JBR)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

kenal lebih dekat

Kenali Lebih Dekat untuk Menjauhi Prasangka

26 Januari 2026
Kisah dari Negeri Para Insinyur

Kisah dari Negeri Para Insinyur

21 November 2025

Di Persimpangan Jalan: Minyak, Memori, dan Misi Mustahil Indonesia

17 November 2025
Try Sutrisno

Peluncuran Buku “Filosofi Parenting Try Sutrisno” Sajikan Formula Pola Asuh Keluarga Indonesia

15 November 2025
Tahap Akhir “AYO BACA!” Institut Prancis Indonesia: Soroti Dunia Literasi dan Sastra Kontemporer

Tahap Akhir “AYO BACA!” Institut Prancis Indonesia: Soroti Dunia Literasi dan Sastra Kontemporer

14 November 2025
Buku “The Girl with the Dragon Tattoo” Jadi Best Crime & Mystery versi Goodreads

Buku “The Girl with the Dragon Tattoo” Jadi Best Crime & Mystery versi Goodreads

29 Oktober 2025

© 2025 Jakarta Book Review (JBR) | Kurator Buku Bermutu

  • Tentang
  • Redaksi
  • Iklan
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Masuk
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In