Minggu, 15 Februari 2026
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)

Produk Gagal Bermerek Jokowi

Jokowi lupa diri, keasyikan menikmati kekuasaan, 10 tahun berdiam di istana “berbau kolonial” membuatnya bukan cuma berbau, tapi juga berperilaku, kolonial.

Oleh Lukas Luwarso
26 September 2024
di Kolom
A A

Politik mirip aktivitas bisnis, intinya adalah “jualan” produk. Seni memasarkan barang atau jasa agar laku. Lazimnya bisnis jualan, memasarkan politik perlu merek agar barang atau jasa laku. Merek adalah simbol agar mudah dikenal dan dijual. Jokowi adalah merek bisnis politik yang pernah sangat populer. Merek ini berhasil “menyihir” konsumen Indonesia, bahkan sampai mancanegara. Majalah Time pernah menjadikannya cover utama dengan judul “a new hope”, harapan baru bagi Indonesia.

Kenapa Jokowi pernah dianggap dianggap sebagai harapan baru? Karena sebagai merek politik ia cukup “otentik dan orisinil”. Selain berasal dari kalangan rakyat biasa (produk industri politik rumahan—bukan darah biru politik—sebelum diakuisisi oleh PDIP), ia juga memikat publik dengan tampang ndeso, aksi-aksi blusukan, masuk gorong-gorong. Ketidaklaziman aksi-aksi politik yang tidak terpikirkan oleh para politikus aristokrat.

Jokowi membawa suasana baru setelah 10 tahun sebelumnya Indonesia dibombardir wacana “galau dan prihatin” era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Sebagai produk politik, SBY memang berasal dari aristokrasi militer, dan dikenal dengan gaya jaim, formalis, protokoleris. Tipikal produk politik old-school, elitis, intelektualis, yang mulai kehilangan daya pikat di era baru, era media sosial.

Jokowi menjadi merek politik populis yang punya daya tarik, masyarakat akar rumput bisa relate dengan kesederhanaannya. Caranya berpakaian, berbicara, bertingkah, termasuk gaya plonga-plongo inosense-nya.

Politik yang sebelumnya menjadi panggung pertunjukan eksklusif elite parpol (aristokrat) menjadi mudah diakses. Akar rumput bisa ikut bermain dalam persaingan bisnis politik, bukan lagi cuma menjadi penonton di pinggir lapangan. Bermunculan “relawan politik” yang secara “sukarela” ikut memasarkan dan menjual merek Jokowi secara eceran.

BACA JUGA:

Lampu Petunjuk

Membijakkan Sabar dan Ikhlas di Kota Suci

1 Muharram: Momen Kebangkitan Spiritual Kita

Ugly, Bad and Okay Mining: Pertambangan Indonesia di Persimpangan Jalan

Dari segi strategi marketing, sebagai merek, Jokowi memang sukses. Laku keras. Namun sukses dalam pemasaran, image branding, sayangnya tidak diikuti dengan quality control dan konsistensi produk. Tagline “Jokowi Adalah Kita”, wacana story-telling yang ingin mengasosiasikannya sebagai orang bawah, warga kebanyakan, rendah hati, dekat dengan rakyat, satu persatu mulai tumbang. Setelah terpilih lagi sebagai merek yang disukai, Jokowi mulai memperlihatkan karakter produk aslinya.

Alih-alih sebagai “kita”, Jokowi semakin terlihat menjadi “kami”. Semua hal yang dia lakukan adalah untuk jualan kepentingan kami: keluarga kami, oligarki kami, kroni kami, bansos kami, legasi kami, ibukota (kerajaan) kami, kepala daerah kami, KPK-TNI-kepolisian-kejaksaan-kami. Intinya: kekuasaan kami.

Jokowi terobsesi dengan proyek-proyek fisik megah dan mewah, dengan dana utang, untuk menunjukkan siapa kami, ketimbang membangun kedaulatan dan martabat kita—rakyat yang ia bebani berbagai iuran, pungutan dan pajak yang memberatkan.

Jokowi lupa diri, keasyikan menikmati kekuasaan, 10 tahun berdiam di istana “berbau kolonial” membuatnya bukan cuma berbau—namun juga berperilaku—kolonial. Termasuk kegemarannya melempar-lemparkan hadiah kepada rakyat dari mobilnya yang melaju. Ia berupaya menaklukkan semua hal, dari parpol, birokrasi, hingga aparat, dan menjadikannya sebagai koloni.

Nawacita yang menjadi slogan kampanye Jokowi untuk memasarkan diri, semakin tidak terbukti. Ia berceloteh, mendongeng, bahwa Negara bakal hadir untuk melindungi rakyat; Membangun tata kelola pemerintahan yang bersih; Membangun Indonesia dari pinggiran; Meningkatkan kualitas hidup melalui pendidikan; Meningkatkan produktivitas dan daya saing rakyat; Mewujudkan kemandirian ekonomi; Melakukan revolusi (mental) karakter bangsa; Memperteguh kebhinnekaan dan restorasi sosial.

Dongeng Nawacita itu kini justru menjadi fakta Nawa dosa. Jokowi justru: Membangun dinasti politik; Melumpuhkan demokrasi; Mengembalikan TNI ke ranah sipil; Menjadikan kepolisian dan kejaksaan sebagai alat kekuasaan; Melemahkan KPK; Memperbesar utang; Merusak lingkungan; Menggusur rakyat; Memindahkan ibu kota—sebagai ambisi pribadi.

Jokowi meski awalnya sukses sebagai merek, tapi terbukti gagal sebagai produk. Orang lupa pada Nawacita, janji marketing-nya, dan yang akan teringat adalah Nawadosa, perilakunya. Sejarah mencatat dosa-dosanya. Jokowi yang punya intuisi bisnis dalam memasarkan merek, gagal menghasilkan produk sesuai ekspektasi. Tipikal penjual merek abal-abal yang kini marak di era bisnis online ala media sosial—bisnis pencitraan dan tipu-tipu.

Jokowi, merek yang pernah begitu populer, kini mulai ditinggalkan dan kesepian. Orang mulai merasa malu dan ngeri pernah terasosiasi dengan merek ini. Ia ingin menyepi di IKN, istana pasir delusinya, yang akan tersapu ombak mangkrak. Sebagai produk gagal, dia cuma bisa menghitung hari, untuk diadili.

Bacaan terkait

Demokrasi Dikorupsi

Kala Anak Presiden Menunggang Jet Gulfstream

Sandyakala Ning Prabu Mulyono

Tujuh Belasan di IKN, Ibu Kota (yang Diharapkan) Inklusif Indonesia

Jokowi dan Kolonialisme di Ibu Kota Nusantara

Topik: Jokowinawacitanepotismepolitik dinasti
SendShareTweetShare
Sebelumnya

Mengenang Hadimulyo (1 Juni 1951-17 September 2024)

Selanjutnya

Mentalitas, Bukan Fasilitas (Lagi-lagi Soal Sampah)

Lukas Luwarso

Lukas Luwarso

Jurnalis senior, Pemimpin Redaksi GBN.top, penulis buku "Sains dan Pencarian Kebenaran", "Negara dalam Bahaya", dll.

TULISAN TERKAIT

Lampu Petunjuk

Lampu Petunjuk

11 Juli 2025
Membijakkan Sabar dan Ikhlas di Kota Suci

Membijakkan Sabar dan Ikhlas di Kota Suci

10 Juli 2025
1 Muharram: Momen Kebangkitan Spiritual Kita

1 Muharram: Momen Kebangkitan Spiritual Kita

27 Juni 2025
Ugly, Bad and Okay Mining: Pertambangan Indonesia di Persimpangan Jalan

Ugly, Bad and Okay Mining: Pertambangan Indonesia di Persimpangan Jalan

27 Juni 2025
Selanjutnya
Selanjutnya
Mentalitas, Bukan Fasilitas (Lagi-lagi Soal Sampah)

Mentalitas, Bukan Fasilitas (Lagi-lagi Soal Sampah)

Ulasan Pembaca 1

  1. Ping-balik: Untuk Sang Presiden Prabowo – KBB

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

kenal lebih dekat

Kenali Lebih Dekat untuk Menjauhi Prasangka

26 Januari 2026
Kisah dari Negeri Para Insinyur

Kisah dari Negeri Para Insinyur

21 November 2025

Di Persimpangan Jalan: Minyak, Memori, dan Misi Mustahil Indonesia

17 November 2025
Try Sutrisno

Peluncuran Buku “Filosofi Parenting Try Sutrisno” Sajikan Formula Pola Asuh Keluarga Indonesia

15 November 2025
Tahap Akhir “AYO BACA!” Institut Prancis Indonesia: Soroti Dunia Literasi dan Sastra Kontemporer

Tahap Akhir “AYO BACA!” Institut Prancis Indonesia: Soroti Dunia Literasi dan Sastra Kontemporer

14 November 2025
Buku “The Girl with the Dragon Tattoo” Jadi Best Crime & Mystery versi Goodreads

Buku “The Girl with the Dragon Tattoo” Jadi Best Crime & Mystery versi Goodreads

29 Oktober 2025

© 2025 Jakarta Book Review (JBR) | Kurator Buku Bermutu

  • Tentang
  • Redaksi
  • Iklan
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Masuk
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In