Sabtu, 20 Juni 2026
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)

Di Balik Undangan Haul Berkop Menteri

Almarhum Cak Nur kerap menekankan pentingnya etika dan moralitas publik bagi seorang penyelenggara negara. Mengapa ini masih terjadi?

Oleh Fachrurozi Majid
23 Oktober 2024
di Kolom
A A
Undangan haul berkop menteri yang bikin heboh.

Undangan haul berkop menteri yang bikin heboh.

Polemik surat undangan haul berkop Menteri Desa dan Daerah Tertinggal Republik Indonesia makin melebar. Surat dengan tanda tangan Menteri Yandri Susanto jelas sekali menyalahi aturan, sebab urusan keluarga, kok, seolah begitu leluasanya menjadi urusan negara.

Tapi, surat berkop Menteri Yandri ini bisa dipahami karena pejabat kita memang tak punya rasa malu. Padahal dia baru saja disumpah di Istana Negara, di bawah Kitab Suci “… akan menjalankan segala peraturan perundang-undangan dengan selurus-lurusnya demi darmabakti saya kepada bangsa dan negara.” Janji di bawah Kitab Suci itu seolah menguap, seolah tak pernah diucapkan.

Sang Menteri pasti tahu bahwa penggunaan kertas berkop itu semestinya hanya untuk urusan negara, bukan keluarga. Tapi mengapa bisa terjadi? Ya, karena para penyelenggara negara kita sudah kehilangan etika dan moralitas, oleh sebab itu wajar kalau tak punya rasa malu.

Dalam satu risalahnya, 30 Sajian Ruhani (2007:71), Nurcholish Madjid (Cak Nur) menekankan pentingnya etika dan moralitas publik bagi seorang penyelenggara negara. Persisnya, akhlak mulia harus menjelma menjadi etik sosial bagi seorang pejabat. Sebab, jika ia kehilangan akhlak, bisa dipastikan ia memerintah dengan ugal-ugalan, dengan cara menabrak norma dan hukum yang berlaku. Apa yang diisyaratkan Cak Nur itu terjadi pada Menteri Yandri kemarin, pejabat yang baru saja dilantik.

Di Amerika Serikat sana, tulis Cak Nur, dulu Ronald Reagan pernah mengalami kesulitan politik karena terbongkar skandalnya membuat katebelece, surat sakti bagi anaknya untuk masuk perguruan tinggi. Padahal, surat sakti yang ditulis itu hanya di atas kertas tak berkop kepresidenan.

BACA JUGA:

AL-QANUN FI AL-THIBB: Kitab Kuning Kedokteran yang Fenomenal

WAKAF LITERASI: Solusi Impian Hadapi Pembajakan Buku

Kifayatul Atqiya’: Menjinakkan Hawa Nafsu di Era Digital

Kala Mesin AI Menjawab, Manusia (Harus) Bertanya

Meski Reagen tak pernah jatuh dari jabatan presiden, skandal (berasal dari kata scandalous, yang berarti “aib” atau “malu”) itu telah membuatnya kesulitan selama beberapa waktu.

Dengan menyuguhkan contoh itu, Cak Nur ingin masyarakat memahami bahwa seorang pejabat publik mesti membawa serta etika dan moralitas sepanjang ia berkhidmat sebagai abdi masyarakat. Sekali saja ia mengabaikan keduanya (etika dan moralitas), ia pasti celaka.

Tapi, sayangnya, kita gampang mengabaikan, mudah melupakan, lantas menganggap ini perkara biasa. Padahal, ini perkara krusial di mana ada penyelewengan aturan yang dilanggar, yang dilakukan bukan oleh orang biasa: tapi oleh pejabat yang pasti memahaminya.

Kita berharap para pejabat lekas siuman, lalu belajar dari kesalahan, menahan diri untuk tidak mengkhianati ikrar yang diucapkan di bawah Kitab Suci, mengambil pelajar bahwa amanah harus ditunaikan, bukan dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi dan keluarga.

Wallahua’lam bi al-shawab.

Bacaan terkait

Kabinet Prabowo yang Gemuk dan Akomodatif

Demokrasi Dikorupsi

Tentang Kabinet Merah Putih nan Jumbo

Untuk Sang Presiden Prabowo

Mahfuzat Kata Mutiara Arab Penggugah Jiwa

Topik: etikaMenteri Yandri Susantopejabat negara
SendShareTweetShare
Sebelumnya

Kiri Apaan?

Selanjutnya

Beragama secara Ilmiah?

Fachrurozi Majid

Fachrurozi Majid

Alumnus Pondok Pesantren Daar el-Qolam, Tangerang, dan Sarjana Sastra UIN Jakarta. Kini Direktur Eksekutif Nurcholish Madjid Society, Jakarta.

TULISAN TERKAIT

al-qanun

AL-QANUN FI AL-THIBB: Kitab Kuning Kedokteran yang Fenomenal

17 Juni 2026
wakaf literasi

WAKAF LITERASI: Solusi Impian Hadapi Pembajakan Buku

10 Juni 2026
kifayatul atqiya

Kifayatul Atqiya’: Menjinakkan Hawa Nafsu di Era Digital

5 Juni 2026
kala mesin ai menjawab

Kala Mesin AI Menjawab, Manusia (Harus) Bertanya

3 Juni 2026
Selanjutnya
Selanjutnya
Beragama secara Ilmiah?

Beragama secara Ilmiah?

Ulasan Pembaca 1

  1. Ping-balik: Setelah Bulan Madu, Ke Mana Presiden Prabowo Membawa Indonesia? - Jakarta Book Review (JBR)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

menikah

Menikah Bukan Cuma Soal ‘I Do’: Nasihat dan Pandangan Realistis dari Imam al-Ghazali

13 Juni 2026
text hip

Tren “Text Hip” Dongkrak Literasi di Korea Selatan

11 Juni 2026
buku cetak australia

Survei Creative Australia: 14,4 Juta Warga Setia Membaca, Buku Cetak Belum Tergantikan

8 Juni 2026
future history

Fiksi Ilmiah Bangkit Lagi: Penghargaan “Future History” Musim Kedua Tawarkan Hadiah Lebih Besar dan Kategori Skenario

5 Juni 2026
sayyidat al-qamar

Sayyidat al-Qamar: Novel Fenomenal dari Padang Pasir

4 Juni 2026
ancaman-nyata

Ancaman Nyata di Balik Fiksi: Saat AI dan Kiamat Ekologi Menjadi Karib

3 Juni 2026

© 2026 Jakarta Book Review (JBR) | Kurator Buku Bermutu

  • Tentang
  • Redaksi
  • Iklan
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Masuk
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In