Kamis, 16 April 2026
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)

Catatan Pribadi Setelah Proses Capim KPK

Ketika diumumkan dan nama saya tidak ada dalam list 10 nama untuk diajukan presiden ke DPR, saya tidak terkejut sama sekali.

Oleh Yanuar Nugroho
3 Oktober 2024
di Kolom
A A

Semalam saya dan keluarga berefleksi bersama dan anak saya bilang, “this is probably the way God protects you.”

Saya sendiri melihat keikutsertaan saya dalam proses pencalonan pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ini sebagai ‘eksperimen politik’. Meski saya sadar sejak awal bahwa kans saya tidak besar, saya sangat serius. mulai dari menyiapkan berkas, mendaftar, menulis paper, hingga mengikuti semua tes yang demikian melelahkan —lelah hayati dan rohani.

Mesti saya akui bahwa proses tes berjalan relatif baik. Misalnya di tes tertulis, penyusunan soal dan formasinya bagus. Soal-soalnya tidak pilihan ganda, tidak menjebak, bersifat menggali pendapat. Memang ada soal yang secara fair akan memetakan pilihan/sikap politis dan bisa jadi seperti “saringan”. Misalnya pandangan tentang pelemahan KPK. Saya jawab apa adanya. Itu mengapa saya pikir saya sudah akan tersingkir di awal. Ternyata tidak —saya lolos.

Lanjut ke tahap berikut: Critical assessment. Ini yang melelahkan. Tes dua hari, pelaksana tes adalah konsultan psikologi. Sehari full “dihajar” dengan assessment psikologis yg memang melelahkan pikiran, dari pagi sampai malam. Hari berikutnya interaksi dalam kelompok: paparan, debat, leaderless group discussion, game (yang serius), dan diakhiri wawancara dengan psikolog selama 2,5 jam.

Harus saya akui, tes ini sangat serius. Tujuannya: memetakan apakah ada ‘traits’ untuk mampu menjabat di tingkat nasional. Karena selama tes saya apa adanya, nyolot dalam diskusi, debat, ditanya psikolog malah saya tanya balik, saya menduga saya terhenti di situ. Eh, ternyata saya lolos lagi.

BACA JUGA:

Lampu Petunjuk

Membijakkan Sabar dan Ikhlas di Kota Suci

1 Muharram: Momen Kebangkitan Spiritual Kita

Ugly, Bad and Okay Mining: Pertambangan Indonesia di Persimpangan Jalan

Tahap berikut adalah tes kesehatan:  raga dan jiwa di RSPAD. Saya alhamdulillah dinyatakan sehat raganya, meski saya yakin jiwa terguncang melihat kekacauan republik . Tapi kata dokter, kesimpulannya: bisa menjalankan tugas memimpin KPK jika terpilih. Catatan: RSPAD ini yang bertanggung jawab meloloskan para calon presiden kemarin. Jadi, saya bercanda ke dokternya, “saya mau tahu yg dianggap tidak mampu itu seperti apa.” Dia ketawa… 

Setelah tes kesehatan, sampailah pada tahap terakhir: wawancara. Dilakukan secara terbuka, dihadiri publik, di gedung III Sekretaris Negara. Yang mewawancara 9 panitia seleksi plus 2 orang pakar: Dadang Trisasongko dan Taufiqurrachman Ruki. Pertanyaannya langsung: pandangan tentang Jokowi, apakah 02 atau 03, TPN atau TKN, setuju atau tidak KPK dilemahkan, apa strategi jika terpilih, pandangan tentang korupsi parpol, duit selama ini dari mana, rekening apa saja, klarifikasi transfer mencurigakan.

Saya jawab semuanya. Pandangan saya tentang Jokowi, pilihan politik saya, pandangan saya tentang pelemahan KPK, strategi saya jika terpilih (penguatan pencegahan; mulai dari kebijakan dan perencanaan pembangunan serta penguatan kapasitas dan integritas KPK), perlunya parpol membuka catatan keuangan, saya jelaskan semua sumber pendapatan.

Intinya, semua saya jawab langsung, lugas, tuntas, apa adanya. Tidak ada jawaban normatif, berbelit-belit. Usai wawancara, saya mbatin: this is it. Mungkin “perjalanan” saya akan berakhir di sini. Mengapa? Mungkin karena saya dilihat terlalu blak-blakan apa adanya. Mungkin karena terbaca tidak mau kompromi. Mungkin karena strategi pemberantasan korupsi yang saya ajukan dinilai terlalu idealis. Bisa jadi juga mungkin dianggap tidak ‘kompatibel’ dengan pendekatan pemberantasan korupsi yang akan diambil ke depan.

Atau, mungkin saya dianggap tidak kompeten—profil saya tidak cocok memimpin KPK. Tapi apa pun itu, saya tahu, saya mungkin ‘outlier‘ dari antara yang diwawancara. Jadi, ketika diumumkan dan nama saya tidak ada dalam list 10 nama untuk diajukan presiden ke DPR, saya tidak terkejut sama sekali. Proses pencarian capim KPK sudah berakhir bagi saya. To be fair, menurut saya, proses ini berjalan relatif baik. Tidak sempurna, tetapi not bad.

Saya dua kali jadi pansel: pansel pemilihan komisioner KIP (Komisi Informasi Pusat), dan direksi BPJS kesehatan. Proses capim KPK ini jauh lebih rigid. Pansel tidak sempurna, seperti kritik banyak orang, itu jelas. Mana ada yang sempurna. Tapi saya tahu pansel sudah bekerja keras dan berusaha semaksimal mungkin mencari orang-orang terbaik, meski pada akhirnya mungkin tidak bisa lepas dari kompromi politik. Apa pun itu, saya sangat menghargai kerja keras pansel. Terima kasih atas dukungan dan doa rekan-rekan selama ini.

2 Oktober 2024

Bacaan terkait

Demokrasi Dikorupsi

Suatu Petang bersama Faisal Basri

Produk Gagal Bermerek Jokowi

Menuju Indonesia 2040 yang Bukan Kaleng-kaleng

Topik: Komisi Pemberantasan KorupsiPresiden Jokowi
SendShareTweetShare
Sebelumnya

Marissa Haque yang Saya Kenal

Selanjutnya

Dari Depok Menaklukkan Istanbul

Yanuar Nugroho

Yanuar Nugroho

Aktivis, akademisi, Deputi II Kepala Staf Kepresidenan (KSP) pada Kabinet Kerja (2 April 2015-18 Oktober 2019). Sejak 14 Januari 2022 menjabat Koordinator Tim Ahli di Sekretariat Nasional SDGs di Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Editor buku "Menanti Tanggung Jawab Sosial Sektor Finansial di Indonesia" (2004)

TULISAN TERKAIT

Lampu Petunjuk

Lampu Petunjuk

11 Juli 2025
Membijakkan Sabar dan Ikhlas di Kota Suci

Membijakkan Sabar dan Ikhlas di Kota Suci

10 Juli 2025
1 Muharram: Momen Kebangkitan Spiritual Kita

1 Muharram: Momen Kebangkitan Spiritual Kita

27 Juni 2025
Ugly, Bad and Okay Mining: Pertambangan Indonesia di Persimpangan Jalan

Ugly, Bad and Okay Mining: Pertambangan Indonesia di Persimpangan Jalan

27 Juni 2025
Selanjutnya
Selanjutnya
Dari Depok Menaklukkan Istanbul

Dari Depok Menaklukkan Istanbul

Ulasan Pembaca 1

  1. Ping-balik: Saya dan Kuntoro Mangkusubroto - Jakarta Book Review (JBR)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

kenal lebih dekat

Kenali Lebih Dekat untuk Menjauhi Prasangka

26 Januari 2026
Kisah dari Negeri Para Insinyur

Kisah dari Negeri Para Insinyur

21 November 2025

Di Persimpangan Jalan: Minyak, Memori, dan Misi Mustahil Indonesia

17 November 2025
Try Sutrisno

Peluncuran Buku “Filosofi Parenting Try Sutrisno” Sajikan Formula Pola Asuh Keluarga Indonesia

15 November 2025
Tahap Akhir “AYO BACA!” Institut Prancis Indonesia: Soroti Dunia Literasi dan Sastra Kontemporer

Tahap Akhir “AYO BACA!” Institut Prancis Indonesia: Soroti Dunia Literasi dan Sastra Kontemporer

14 November 2025
Buku “The Girl with the Dragon Tattoo” Jadi Best Crime & Mystery versi Goodreads

Buku “The Girl with the Dragon Tattoo” Jadi Best Crime & Mystery versi Goodreads

29 Oktober 2025

© 2025 Jakarta Book Review (JBR) | Kurator Buku Bermutu

  • Tentang
  • Redaksi
  • Iklan
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Masuk
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In