Kamis, 18 Juni 2026
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)

Jimly Asshiddiqie Luncurkan Dua Buku Kenegaraan

Oleh Erdy Nasrul
5 Desember 2022
di Berita Buku
A A
Pakar konstitusi Jimly Asshiddiqie

Youtube


Anggota DPD RI Jimly Asshiddiqie meluncurkan dua buku. Pertama berjudul Teokrasi, Sekularisme, dan Khilafahisme. Kedua Oligarki dan Totalitarianisme Baru.
Acara peluncuran berlangsung di Kantor Komisi Yudisial, Jakarta.

Lewat buku itu, mantan ketua Mahkamah Konstitusi tersebut menjelaskan dinamika bernegara saat ini, juga posisi Indonesia, apakah sebagai negara teokrasi, sekular, atau khilafah.

Beberapa tahun terakhir kalangan akademisi juga membicarakan kaitan oligarkhi dengan kenegaraan. Semua tema itu menjadi diskusi. Cendekiawan selalu termotivasi untuk membahasnya. Juga mengaitkan kata kunci tadi dengan dinamika keindonesiaan.

Komentar Ketua MPR

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo menilai tema besar dalam buku itu menggugah kesadaran. Juga komitmen kolektif masyarakat Indonesia. Mereka terdorong membicarakan bangsa ini dan mengaitkannya dengan persoalan mendasar dalam kehidupan.

“Ada diskusi tentang berbagai persoalan mendasar dalam kehidupan berbangsa,” ujar Bamsoet, sapaan akrab Bambang Soesatyo, saat menjadi pembicara kunci dalam acara peluncuran dua buku tadi.

BACA JUGA:

Tren “Text Hip” Dongkrak Literasi di Korea Selatan

Survei Creative Australia: 14,4 Juta Warga Setia Membaca, Buku Cetak Belum Tergantikan

Fiksi Ilmiah Bangkit Lagi: Penghargaan “Future History” Musim Kedua Tawarkan Hadiah Lebih Besar dan Kategori Skenario

Sayyidat al-Qamar: Novel Fenomenal dari Padang Pasir

Dalam buku Teokrasi, Sekularisme, dan Khilafahisme, Jimly menggugah kesadaran kolektif mengenai persoalan hubungan negara dan agama. Pada dasarnya, sebagai negara Pancasila, pengamalan agama dan penyelenggaraan negara Indonesia berjalan beriringan dan saling menguatkan. Agama dan negara sama-sama berjalan beriringan dan saling menguatkan.

Lebih lanjut, melalui buku Teokrasi, Sekularisme, dan Khilafahisme, Bamsoet menilai Jimly menyajikan kumpulan tulisan yang bertautan dengan eksistensi paham ketuhanan dan keagamaan dalam konteks kehidupan bernegara.

Di dalamnya pula, kata dia, terdapat relasi antara hukum agama dan sistem hukum nasional.

Bamsoet menyebutkan berbagai paham tersebut hadir sebagai mazhab pemikiran yang sejak akhir abad ke-20 kembali mengemuka. Semuanya adalah gagasan yang diasumsikan menjadi prinsip ideal untuk dipraktikkan pada zaman modern saat ini.

“Buku karya Prof. Jimly lainnya, Oligarki dan Totalitarianisme Baru, menyetir dinamika kualitas kehidupan demokrasi di Tanah Air yang tercermin dari pasang surut capaian indeks demokrasi. Itu mengisyaratkan bahwa kematangan dan kedewasaan berdemokrasi kita masih labil, belum mencapai pada titik kemapanan,” lanjutnya.

Buku kedua Jimly Asshiddiqie

Dalam buku Oligarki dan Totalitarianisme Baru, Jimly menggugah kesadaran kolektif bahwa Indonesia telah bersepakat, kekuasaan negara dan pemerintahan, terutama kekuasaan untuk mengelola serta memanfaatkan sumber daya material negara, tidak boleh hanya dikendalikan atau dikuasai oleh segelintir kelompok elite.

Dalam kesempatan yang sama, Bamsoet mengapresiasi kontribusi Jimly yang terus menggalang tanggung jawab intelektual bagi transformasi hukum dan sosial di Indonesia untuk mewujudkan tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara lebih baik.

“Prof. Jimly tidak pernah lelah menggalang tanggung jawab intelektual untuk turut memberikan kontribusi pemikiran dalam usaha transformasi hukum dan sosial menuju Indonesia yang lebih baik,” ujar dia.

Di samping itu, lanjut dia, Jimly sebagai tokoh bangsa juga tidak pernah lelah mewacanakan narasi serta wawasan kebangsaan untuk menggugah kesadaran kolektif bangsa Indonesia tentang berbagai persoalan mendasar dalam kehidupan berbangsa.

Topik: DPD RIkhilafahkonstitusimantan hakim mksekularismeteokrasi
SendShareTweetShare
Sebelumnya

Bahagia Meski Terkena Erupsi Semeru, Kok Bisa? Belajar dari Al-Ghazali

Selanjutnya

Jimly Asshiddiqie Berharap Gagasannya Mencerahkan Bangsa

Erdy Nasrul

Erdy Nasrul

Pegiat literasi

TULISAN TERKAIT

text hip

Tren “Text Hip” Dongkrak Literasi di Korea Selatan

11 Juni 2026
buku cetak australia

Survei Creative Australia: 14,4 Juta Warga Setia Membaca, Buku Cetak Belum Tergantikan

8 Juni 2026
future history

Fiksi Ilmiah Bangkit Lagi: Penghargaan “Future History” Musim Kedua Tawarkan Hadiah Lebih Besar dan Kategori Skenario

5 Juni 2026
sayyidat al-qamar

Sayyidat al-Qamar: Novel Fenomenal dari Padang Pasir

4 Juni 2026
Selanjutnya
Selanjutnya
Anggota DPD RI Jimly Asshiddiqie

Jimly Asshiddiqie Berharap Gagasannya Mencerahkan Bangsa

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

menikah

Menikah Bukan Cuma Soal ‘I Do’: Nasihat dan Pandangan Realistis dari Imam al-Ghazali

13 Juni 2026
text hip

Tren “Text Hip” Dongkrak Literasi di Korea Selatan

11 Juni 2026
buku cetak australia

Survei Creative Australia: 14,4 Juta Warga Setia Membaca, Buku Cetak Belum Tergantikan

8 Juni 2026
future history

Fiksi Ilmiah Bangkit Lagi: Penghargaan “Future History” Musim Kedua Tawarkan Hadiah Lebih Besar dan Kategori Skenario

5 Juni 2026
sayyidat al-qamar

Sayyidat al-Qamar: Novel Fenomenal dari Padang Pasir

4 Juni 2026
ancaman-nyata

Ancaman Nyata di Balik Fiksi: Saat AI dan Kiamat Ekologi Menjadi Karib

3 Juni 2026

© 2026 Jakarta Book Review (JBR) | Kurator Buku Bermutu

  • Tentang
  • Redaksi
  • Iklan
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Masuk
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In