Sabtu, 6 Juni 2026
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)

Apakah Kita Orang Tua yang Buruk? Ini Penjelasannya dalam “The Book You Wish Your Parents Had Read”

Oleh Rizal Siddiq
27 Juli 2023
di Berita Buku
A A
apakah kita orang tua yang buruk

foto: gettyimages.com

Menjadi orang tua adalah peran yang penuh tanggung jawab. Kadang, tanggung jawab ini bisa menimbulkan kekhawatiran tentang menjadi orang tua yang buruk. Banyak ayah dan ibu merasa tekanan untuk memberikan yang terbaik bagi anak-anak mereka. Tetapi seringkali, rasa takut dan keraguan muncul. Kehawatiran ini menimbulkan pertanyaan: Apakah kita sudah menjadi orang tua yang baik bagi anak kita? Apakah kita termasuk orang tua yang buruk?

Dalam buku “The Book You Wish Your Parents Had Read”, penulis Philippa Perry mengangkat isu tentang orang tua yang baik dan buruk. Pembahasan ini muncul dengan poin krusial pada pesan “jangan menghakimi,”. Pesan ini tidak hanya dalam konteks menghakimi anak, tetapi juga menghakimi diri sendiri sebagai orang tua baik atau buruk.

Buku “The Book You Wish Your Parents Had Read”

Jangan Menghakimi Diri

Perry menekankan bahwa sebagai orang tua, sangat mudah untuk terjebak dalam sikap insecure terhadap diri sendiri, merasa tidak layak atau tidak kompeten, dan berkecil hati saat merasa tidak mampu memenuhi harapan sosial atau ideal menjadi orang tua yang sempurna. Dalam menghadapi peran yang kompleks ini, kita seringkali menghakimi diri sendiri dengan keras, menyulut rasa bersalah dan kekhawatiran bahwa kita tidak melakukan yang terbaik untuk anak-anak kita.

Namun, Perry mengajak untuk menghindari menghakimi diri sendiri secara berlebihan dan mengadopsi sikap lebih ringan dan empati. Sebagai orang tua, kita adalah manusia, tidak sempurna, dan belajar dari pengalaman adalah proses alami. Mengakui kelemahan dan kesalahan adalah langkah pertama untuk tumbuh dan berkembang sebagai ayah atau ibu yang lebih baik.

Jangan Menghakimi Anak

Selain itu, Perry juga menyoroti bahaya menghakimi anak-anak kita. Ketika kita menghakimi anak-anak, kita mengirimkan pesan bahwa diri mereka tidak diterima atau dicintai sebagaimana adanya. Hal ini dapat menghambat pertumbuhan dan percaya diri mereka, serta menghambat komunikasi yang jujur dan terbuka antara orang tua dan anak.

Sebagai gantinya, Perry menganjurkan pendekatan empati dan pengertian terhadap anak. Mendengarkan dengan penuh perhatian dan berusaha memahami perasaan dan pikiran anak adalah cara terbaik untuk menghadapi tantangan sebagai sebuah keluarga. Memberikan dukungan dan cinta tanpa syarat akan membantu anak merasa diterima dan diberdayakan untuk menjadi diri mereka yang sejati.

Menjadi Orang Tua Adalah Perjalanan

Dalam keseluruhan buku ini, Perry mengingatkan kita bahwa menjadi orang tua adalah perjalanan yang terus berkembang, dengan kebahagiaan dan kesedihan, sukses dan kegagalan. Dengan menjauhkan diri dari menghakimi, baik terhadap diri sendiri maupun anak, kita dapat menciptakan lingkungan yang positif dan mendukung untuk pertumbuhan dan perkembangan anak-anak kita.

Jika kita menghargai perbedaan dan menerima keunikan masing-masing individu, kita dapat membangun ikatan yang kokoh dan penuh kasih dengan anak-anak kita. Ini dapat membantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang kuat, percaya diri, dan bahagia.

BACA JUGA:

Fiksi Ilmiah Bangkit Lagi: Penghargaan “Future History” Musim Kedua Tawarkan Hadiah Lebih Besar dan Kategori Skenario

Sayyidat al-Qamar: Novel Fenomenal dari Padang Pasir

Ancaman Nyata di Balik Fiksi: Saat AI dan Kiamat Ekologi Menjadi Karib

Peluncuran Buku “Filosofi Parenting Try Sutrisno” Sajikan Formula Pola Asuh Keluarga Indonesia

Topik: orang tuaparentingphilippa perrythe book you wishthe book you wish your parents had read
SendShareTweetShare
Sebelumnya

Burnout: Mencari Jawaban dan Solusi untuk Kesehatan Mental

Selanjutnya

Kutipan Lucu, Romantis, hingga Inspiratif dari “The Communication Book”

Rizal Siddiq

Rizal Siddiq

Redaktur Jakarta Book Review

TULISAN TERKAIT

future history

Fiksi Ilmiah Bangkit Lagi: Penghargaan “Future History” Musim Kedua Tawarkan Hadiah Lebih Besar dan Kategori Skenario

5 Juni 2026
sayyidat al-qamar

Sayyidat al-Qamar: Novel Fenomenal dari Padang Pasir

4 Juni 2026
ancaman-nyata

Ancaman Nyata di Balik Fiksi: Saat AI dan Kiamat Ekologi Menjadi Karib

3 Juni 2026
Try Sutrisno

Peluncuran Buku “Filosofi Parenting Try Sutrisno” Sajikan Formula Pola Asuh Keluarga Indonesia

15 November 2025
Selanjutnya
Selanjutnya
kutipan the communication book

Kutipan Lucu, Romantis, hingga Inspiratif dari "The Communication Book"

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

future history

Fiksi Ilmiah Bangkit Lagi: Penghargaan “Future History” Musim Kedua Tawarkan Hadiah Lebih Besar dan Kategori Skenario

5 Juni 2026
sayyidat al-qamar

Sayyidat al-Qamar: Novel Fenomenal dari Padang Pasir

4 Juni 2026
ancaman-nyata

Ancaman Nyata di Balik Fiksi: Saat AI dan Kiamat Ekologi Menjadi Karib

3 Juni 2026
kenal lebih dekat

Kenali Lebih Dekat untuk Menjauhi Prasangka

26 Januari 2026
Kisah dari Negeri Para Insinyur

Kisah dari Negeri Para Insinyur

21 November 2025

Di Persimpangan Jalan: Minyak, Memori, dan Misi Mustahil Indonesia

17 November 2025

© 2026 Jakarta Book Review (JBR) | Kurator Buku Bermutu

  • Tentang
  • Redaksi
  • Iklan
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Masuk
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In