Kamis, 18 Juni 2026
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)

5 Etika yang Sering Diremehkan Saat Berkunjung ke Perpustakaan

Oleh Siti Khotijah
26 Juli 2022
di Berita Buku
A A
5 Etika yang Sering Diremehkan Saat Berkunjung ke Perpustakaan

Ilustrasi bercanda di perpustakaan. (Foto: liputan6.com/Jakarta Book Review)

Jakarta – Berada di tempat umum, sudah seharusnya kita menaati peraturan yang berlaku, tak terkecuali di perpustakaan. Sebagai pengunjung, kita wajib menaati peraturan yang ditetapkan dengan cermat. Hal ini guna menjaga ketenangan dan tidak mengganggu kenyamanan orang lain.

Meski telah ada peraturan yang ditetapkan, tetap saja ada oknum yang melanggarnya. Berikut ini lima etika yang sering dilupakan oleh pengunjung, yaitu,

Mengobrol dengan suara yang keras 

Perpustakaan merupakan tempat orang-orang membaca buku. Membaca buku itu membutuhkan konsentrasi penuh, oleh karena itu wajib bagi para pengunjung untuk mengontrol volume suara ketika berbicara dengan orang lain.

Namun hal ini sering terlupakan. Masih banyak pengunjung yang menganggu kenyamanan dan konsentrasi pengunjung lain dengan berbicara terlalu keras.

Bergurau

Bercanda tawa memang menyenangkan, tapi bergurau di perpustakaan merupakan Tindakan yang sangat tidak tepat. Bergurau identik dengan suara nyaring dan tertawa terbahak-bahak. Hal itu sudah pasti akan mengganggu kenyamanan pengunjung yang lain.

BACA JUGA:

Tren “Text Hip” Dongkrak Literasi di Korea Selatan

Survei Creative Australia: 14,4 Juta Warga Setia Membaca, Buku Cetak Belum Tergantikan

Fiksi Ilmiah Bangkit Lagi: Penghargaan “Future History” Musim Kedua Tawarkan Hadiah Lebih Besar dan Kategori Skenario

Sayyidat al-Qamar: Novel Fenomenal dari Padang Pasir

Bergurau rupanya menjadi etika yang kerap diacuhkan ketika sedang berkunjung ke perpustakaan. Kita sering melempar canda tawa dengan teman atau keluarga yang tanpa disadari hal itu dapat mengganggu kenyamanan dan membuyarkan konsentrasi pengunjung lain.

Melakukan tindakan yang bisa merusak buku 

Pada dasarnya buku di perpustakaan adalah milik bersama. Sudah seharusnya semua pengunjung untuk menjaganya sebaik mungkin. Namun, sepertinya masih banyak orang yang belum memahami akan hal tersebut. Salah satu Tindakan yang dapat merusak buku adalah sesukanya melipat suatu halaman sehingga mengakibatkan salah satu bagian buku kusut, bahkan hingga robek.

Bermain gadget dengan volume yang nyaring

Di perpustakaan meski berhadapan dengan buku terkadang rasa bosan dan kantuk bisa menyerang. Salah satu pilihan untuk menghilangkan gangguan itu adalah dengan bermain gadget atau handphone.

Berada di tempat yang hening dan minim aktivitas, rasa bosan bisa jadi akan mendominasi. Sebanarnya hal ini boleh-boleh saja sejauh tidak menimbulkan kebisingan.

Sayangnya masih banyak pengunjung yang tak mengindahkan aturan tersebut. Alih-alih menjaga suasana agar tetap tenang dan kondusif, mereka justru bermain gadget dengan volume yang nyaring. Padahal hal itu jelas mengganggu kenyamanan dan konsentrasi pengunjung lain.

Tidak mengembalikan buku ke tempat semula

Salah satu etika bahkan masuk dalam daftar peraturan di perpustakaan adalah mengembalikan buku ke tempat semula. Meski sudah tertulis dengan jelas, banyak pengunjung yang tidak mengindahkan hal tersebut. Mereka berasalan sudah ada staff yang mengurusi hal tersebut. Buku-buku yang sudah dibaca dibiarkan tergeletak di atas meja atau sembarang tempat. Padahal Tindakan inin dapat meningkatkan resiko kehilangan buku sehingga koleksi buku bisa semakin berkurang.

Itu tadi lima etika berkunjung ke perpustakaan yang sering terabaikan oleh pengunjung. Padahal hal ini sangat-sangat menganggu kenyamanan dan konsentrasi pengunjung lain. Tindakan mana nih yang masih sobat lakukan jika berkunjung ke perpustakaan? (ST/JBR)

Berkunjung ke perpustakaan memang tidak bisa sembarangan. Kira-kira dari lima pelanggaran etika di atas, adakah yang masih sering kamu lakukan?

SendShareTweetShare
Sebelumnya

Selamat, Kota Strasbourg Terpilih Menjadi Kota Buku Dunia 2024

Selanjutnya

4 Kitab Wajib Bagi Kalian Para Calon Founder Startup

Siti Khotijah

Siti Khotijah

Redaktur Jakarta Book Review

TULISAN TERKAIT

text hip

Tren “Text Hip” Dongkrak Literasi di Korea Selatan

11 Juni 2026
buku cetak australia

Survei Creative Australia: 14,4 Juta Warga Setia Membaca, Buku Cetak Belum Tergantikan

8 Juni 2026
future history

Fiksi Ilmiah Bangkit Lagi: Penghargaan “Future History” Musim Kedua Tawarkan Hadiah Lebih Besar dan Kategori Skenario

5 Juni 2026
sayyidat al-qamar

Sayyidat al-Qamar: Novel Fenomenal dari Padang Pasir

4 Juni 2026
Selanjutnya
Selanjutnya
4 Kitab Wajib Bagi Kalian Para Calon Founder Startup

4 Kitab Wajib Bagi Kalian Para Calon Founder Startup

Terbaru

menikah

Menikah Bukan Cuma Soal ‘I Do’: Nasihat dan Pandangan Realistis dari Imam al-Ghazali

13 Juni 2026
text hip

Tren “Text Hip” Dongkrak Literasi di Korea Selatan

11 Juni 2026
buku cetak australia

Survei Creative Australia: 14,4 Juta Warga Setia Membaca, Buku Cetak Belum Tergantikan

8 Juni 2026
future history

Fiksi Ilmiah Bangkit Lagi: Penghargaan “Future History” Musim Kedua Tawarkan Hadiah Lebih Besar dan Kategori Skenario

5 Juni 2026
sayyidat al-qamar

Sayyidat al-Qamar: Novel Fenomenal dari Padang Pasir

4 Juni 2026
ancaman-nyata

Ancaman Nyata di Balik Fiksi: Saat AI dan Kiamat Ekologi Menjadi Karib

3 Juni 2026

© 2026 Jakarta Book Review (JBR) | Kurator Buku Bermutu

  • Tentang
  • Redaksi
  • Iklan
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Masuk
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In