Ancaman Nyata di Balik Fiksi: Saat AI dan Kiamat Ekologi Menjadi Karib
JBR – Ketakutan terbesar manusia tak lagi berwujud invasi alien atau monster raksasa. Dalam tren sastra dunia saat ini, kengerian itu justru mewujud dalam bentuk layar gawai, kecerdasan buatan (AI), dan alam yang tak lagi gratis.
Pergeseran ini tergambar kuat dalam novel Hum karya Helen Phillips, yang baru saja didapuk sebagai pemenang penghargaan internasional Climate Fiction Prize 2026 di London. Keberhasilan karya ini menandai pergeseran minat pembaca dari fiksi ilmiah bertema luar angkasa ke isu yang jauh lebih membumi dan personal.
Novel ini menyoroti kehidupan May, seorang perempuan yang kehilangan pekerjaannya lantaran digantikan oleh “hum”, sebuah robot humanoid cerdas. Terhimpit krisis ekonomi, May nekat mengikuti eksperimen bedah wajah agar tak lagi terlacak oleh sistem pengawasan digital yang merangsek ke hampir seluruh sudut kehidupan masyarakat.
Uang hasil eksperimen tragis itu ia gunakan untuk mengajak keluarganya berlibur ke Botanical Garden, salah satu ruang hijau terakhir yang tersisa di kotanya. Melalui latar ini, para juri menilai Phillips berhasil melontarkan kritik tajam tentang fenomena “Disneyfikasi alam”—sebuah kondisi di mana udara bersih dan pepohonan tak lagi menjadi ruang hidup komunal, melainkan barang mewah eksklusif yang hanya bisa dinikmati lewat tiket masuk berbiaya mahal.
Lebih dari itu, keluarga May digambarkan hidup di bawah satu atap namun saling berjarak, diasingkan oleh ketergantungan akut pada perangkat digital dan sistem iklan yang mampu membaca keinginan mereka sebelum disadari.
Di berbagai forum pembaca internasional, banyak yang mengaku merasa tidak nyaman membaca Hum. Dunia distopia yang dibangun Phillips dinilai terlalu dekat dengan realitas hari ini.
Pertanyaan tentang apa yang tersisa ketika alam menjadi kemewahan, serta bagaimana manusia bertahan saat pekerjaannya direbut AI, kini mendominasi percakapan. Pada akhirnya, Hum bukan sekadar fiksi tentang masa depan. Ia adalah cermin jernih yang memantulkan kecemasan paling sunyi dari masyarakat modern—tentang nasib keluarga, teknologi, dan kemanusiaan itu sendiri.







