Jumat, 23 Januari 2026
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)

Keadilan Sosial dan Cinta di Balik Pencurian

Dari kisah nyata dengan kemahiran seni peran luar biasa dari semua tokohnya. Ada motivasi keadilan sosial dan cinta tak terbatas.

Oleh Jalal
9 Juli 2024
di Film
A A
Film The Duke

Seberapa jauh orang akan memperjuangkan apa yang dia percayai? Seberapa besar pengorbanan orang untuk mereka yang dicintai?

Kempton Bunton, tokoh nyata yang diperankan dengan luar biasa oleh Jim Broadbent dalam film The Duke ini tak punya batas. Kecintaannya pada sesama manusia membuatnya masuk penjara karena memperjuangkan hak para pensiunan dan veteran perang. Dia tak membayar pajak televisi lantaran siaran layanan pemerintah, BBC, tak bisa ia akses; tapi terutama karena ia memperjuangkan agar semua orang pensiunan tak perlu membayar sumber hiburan penting dan utama buat kewarasan mereka.

Istri Bunton, Dorothy, yang diperankan tak bisa lebih baik lagi oleh Helen Mirren, kesulitan memahami mengapa suaminya selalu saja melakukan perlawanan sipil. Dia betul-betul kecewa lantaran suaminya dipaksa berhenti bekerja dan kehilangan nafkah, “hanya” karena dia melawan sang atasan yang melalukan pelecehan rasial kepada rekan kerjanya yang berasal dari Pakistan.

Kekecewaan itu menjadi kemarahan luar biasa ketika dia mendapati suaminya sedang membungkus lukisan Duke of Wellington karya terkenal Francisco de Goya. Lukisan itu sedang dicari-cari seantero negeri karena beberapa hari sebelumnya dicuri dari Galeri Nasional London. Bunton yang menjadi sasaran murka istrinya lalu pergi ke galeri itu, untuk mengembalikannya. Tentu saja dia ditangkap dan diadili.

Bunton lalu menggunakan pengadilan itu sebagai panggung perjuangannya. Bersama pengacaranya yang brilian, diperankan Matthew Goode, jawaban jujur, penuh falsafah, namun kocak dari Bunton tentang mengapa ia “mencuri” lukisan itu, membetot perhatian masyarakat Inggris. Sebagaimana kisah aslinya, pengadilan di tahun 1961 itu ditutup dengan hukuman sangat ringan, lantaran para juri hanya sepakat bahwa Bunton bersalah mencuri pigura (ya, hanya piguranya saja!) lukisan itu. Bunton dibebaskan dari 3 tuduhan lain.

BACA JUGA:

Tarian Maut Ana de Armas

Mengenang Mr Miyagi Sambil Membaca Geopolitik

Saat Elphaba dan Glinda Menyihir Penonton

Kembali ke Koloseum

Ada banyak film tentang pencurian lukisan yang telah saya tonton. Ada banyak film pencurian atau perampokan yang dilakukan oleh orang berusia lanjut yang juga telah saya saksikan. Tapi saya akan mengenang The Duke yang baru saja selesai saya saksikan di Amazon Prime sebagai yang terbaik di antara mereka semua. Bukan cuma karena ini kisah nyata dengan kemahiran seni peran luar biasa dari semua tokohnya, melainkan juga, dan mungkin terutama, lantaran motivasi keadilan sosial dan cinta tak terbatas yang ditunjukkan oleh Bunton.

Sutradara film ini, Roger Michell, yang di antara karya terkenalnya adalah Notting Hill dan dokumenter Elizabeth: A Portrait in Parts pantaslah berbangga pada film yang para kritikus memberi nilai agregat 97% di Rotten Tomatoes ini. Para penonton awam memberi “cuma” 88%.

Sedihnya, The Duke dan Elizabeth adalah dua film terakhirnya, yang dirilis hampir bersamaan pada April 2022, beberapa bulan setelah Michell berpulang pada September 2021. Buat saya, seandainya Michell cuma pernah melahirkan The Duke saja, dunia sudah berhutang sangat besar kepadanya, lantaran film ini memang keterlaluan bagusnya

Topik: cintakeadilan sosialroger michellthe duke
SendShareTweetShare
Sebelumnya

Fikih Ekologi Ulil dan Deep Ecology

Selanjutnya

The Intern: Bekerja untuk Ibadah

Jalal

Jalal

Provokator Keberlanjutan, ESG and CSR Strategist, dan penggila buku, film, dan duren. Pengarang buku "Mengurai Benang Kusut Indonesia: Jokowinomics di Bawah Cengkeraman Korporasi" (2020).

TULISAN TERKAIT

Tarian Maut Ana de Armas

Tarian Maut Ana de Armas

8 Juni 2025
Mengenang Mr Miyagi Sambil Membaca Geopolitik

Mengenang Mr Miyagi Sambil Membaca Geopolitik

3 Juni 2025
Saat Elphaba dan Glinda Menyihir Penonton

Saat Elphaba dan Glinda Menyihir Penonton

23 November 2024
Kembali ke Koloseum

Kembali ke Koloseum

18 November 2024
Selanjutnya
Selanjutnya
Film The Intern

The Intern: Bekerja untuk Ibadah

Ulasan Pembaca 1

  1. Ping-balik: The Intern: Bekerja untuk Ibadah - Jakarta Book Review (JBR)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Kisah dari Negeri Para Insinyur

Kisah dari Negeri Para Insinyur

21 November 2025

Di Persimpangan Jalan: Minyak, Memori, dan Misi Mustahil Indonesia

17 November 2025
Try Sutrisno

Peluncuran Buku “Filosofi Parenting Try Sutrisno” Sajikan Formula Pola Asuh Keluarga Indonesia

15 November 2025
Tahap Akhir “AYO BACA!” Institut Prancis Indonesia: Soroti Dunia Literasi dan Sastra Kontemporer

Tahap Akhir “AYO BACA!” Institut Prancis Indonesia: Soroti Dunia Literasi dan Sastra Kontemporer

14 November 2025
Buku “The Girl with the Dragon Tattoo” Jadi Best Crime & Mystery versi Goodreads

Buku “The Girl with the Dragon Tattoo” Jadi Best Crime & Mystery versi Goodreads

29 Oktober 2025
Mitos, Mitigasi, dan Krisis Iklim: Membaca Narasi Putri Karang Melenu dan Naga Sungai Mahakam

Mitos, Mitigasi, dan Krisis Iklim: Membaca Narasi Putri Karang Melenu dan Naga Sungai Mahakam

20 Oktober 2025

© 2025 Jakarta Book Review (JBR) | Kurator Buku Bermutu

  • Tentang
  • Redaksi
  • Iklan
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Masuk
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In