Jumat, 23 Januari 2026
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)

The Intern: Bekerja untuk Ibadah

Film yang penuh inspirasi; tentang sebuah nilai dan prinsip kerja yang tidak akan pernah lapuk dimakan oleh waktu.

Oleh Ahsan Jamet Hamidi
9 Juli 2024
di Film
A A
Film The Intern

”Cinta dan pekerjaan adalah landasan kemanusiaan kita.” –Sigmund Freud

Penggalan kalimat Sigmund Freud itu selalu membisiki telinga Ben Whittaker (Robert De Niro), pria pensiunan berusia 70 tahun yang sedang berada pada puncak kesepian. Rasa itu terus mengusiknya setelah Molly, istri tercintanya, meninggal dunia 3,5 tahun lalu. Ben dan Molly telah hidup bersama selama kurang lebih 42 tahun. Pernikahan yang terajut di usia muda, 19 dan 20, itu terasa berlalu begitu cepat setelah Molly wafat

”Tidak ada yang berubah dari Molly sejak usia 19 tahun hingga tutup usia. Dia selalu membuat segalannya menjadi mudah, meski kami melaluinnya dengan penuh kesulitan,” kenang Ben saat mengisahkan sosok Molly kepada Jules Ostin (Anna Hathaway), seorang bos di perusahaan tempat Ben bekerja.

Sepeninggal Molly, Ben berusaha keras mengusir kesepian batinnya, semua begitu terasa hampa. Ia pergi keliling kota di berbagai negara, hingga rutin mengunjungi anak dan cucunya yang hidup terpisah di kota lain. Namun usaha itu tetap tidak mampu menggantikan sosok Molly dalam hidupnya. Sebagai laki-laki, Ben membiasakan diri hidup dengan disiplin dan mandiri. Ia terbiasa menyiapkan sarapan dan kopi untuk istri. Mengatur letak dasi, celana, baju, kaos, jam tangan di tempatnya, tata letak semua barang-barang di rumah ditata dengan rapi adalah Ben sendiri. Namun kehilangan Molly berarti hilangnya separuh jiwa, batinnya terasa begitu hampa.

Usai berbelanja rutin, ia menemukan iklan tertempel di tembok. Isinnya tentang lowongan program magang untuk warga senior di sebuah perusahaan online shop bernama ”About the Fit”. Dia bergegas melamar dan diterima. Perusahaan di bidang fesyen itu dikelola oleh Jules Ostin, seorang perempuan muda, modis, dan cantik. Jules pekerja keras, ulet, dan sedikit tidur karena kesibukannya. Ia pun memutuskkan untuk tidak banyak bergaul dengan bayak orang. Jujur mengakui dirinya sebagai pribadi yang selfish, tidak berbasa basi, dan sulit menerima pendapat orang lain. Jules mengemukakan semua sifat pribadinya itu kepada Ben. Ia mengabaikan kehadiran sosok Ben yang dianggap terlalu tua, seumuran ibunya. Sebagai pegawai magang, pasti tidak akan banyak berguna.

BACA JUGA:

Tarian Maut Ana de Armas

Mengenang Mr Miyagi Sambil Membaca Geopolitik

Saat Elphaba dan Glinda Menyihir Penonton

Kembali ke Koloseum

Layaknya karakter sebuah prasangka yang selalu mendahului fakta, kehadiran Ben awalnya diabaikan. Tapi kehidupan bisa berubah kapan saja. Ben akhirnya menjadi orang yang sangat berguna bagi perjalanan hidup Jules. Ia tidak hanya menjadi sopir pribadi, mengantar putrinya sekolah, ikut pesta ulang tahun. Pengalaman hidup Ben bisa menjadi sosok ”ayah”, sekaligus teman dekat yang mampu menjadi pemandu hidup bagi karir dan rumah tangga Jules. Experience never gets old, itu telah menemukan pembuktiannya.

Di balik sukses besar, karir cemerlang, perusahaan yang berkembang pesat, keuntungan berlipat ganda, Jules tebentur tembok keras di depannya. Tiba-tiba suami Matt (Anders Holms) yang sangat ia cintai berselingkuh dengan ibu teman putrinya di sekolah. Jules merasa hidupnya gagal total, hatinnya hancur penuh luka, semua menjadi sia-sia. Ia menangis keras karena kelak tidak mau mati sendirian, dikubur tanpa kehadiran anak dan suami yang sedih menangisinya. Dalam puncak keputusasaan itulah Ben hadir sebagai ayah, sebagai teman diskusi yang sangat bijaksana. Ben hanya mendengar, sesekali bergurau, ”Tenang Jules, kamu bisa berbaring di samping kuburanku dan Molly kelak.” Keduanya bisa tertawa lega.

Kisah di atas adalah penggalan cerita dalam The Intern. Film drama komedi Amerika yang dirilis tahun 2015. Film keren ini diborong penggarapanya oleh Nancy Meyers. Perempuan kelahiran 1949 ini sukses menulis, memproduksi, dan menyutradarai The Intern dan banyak film komersial lainnya. Film yang dibintangi oleh Robert De Niro, Anne Hathaway, dan Rene Russo ini sudah tiga kali saya tonton. Selalu ada kesan inspiratif baru setiap menontonnya. Soal kualitas keaktoran, saya tidak pernah ragu dengan gaya akting Mbah Rober De Niro dan Neng Anne Hathaway. Keduanya selalu tampil segar, penuh pesona, dan totalitas prima.

Saya sering menjumpai fakta tentang superioritas dan heroisme laki-laki yang acap kali pupus, jiwa dan tubuhnya mendadak lunglai tak berdaya tatkala pasangan hidupnya meninggal dunia. Persis seperti yang dialami oleh Ben. Namun ia bisa kembali bangkit untuk menemukan aktivitas agar hidupnya tetap bisa bermanfaat untuk orang lain. Pilihan yang keren dan mewakili aspirasi banyak laki-laki lain.

Salah satu nilai luhur agama adalah mengajarkan kepada para penganutnya, bahwa bekerja adalah ibadah. Pada irisan tertentu, Ben telah mempraktikannya. Ia telah memberi teladan baik kepada puluhan karyawan lain di perusahaan itu, tentang sebuah nilai dan prinsip kerja yang tidak akan pernah lapuk dimakan oleh waktu. Sebuah tatanan nilai yang tak bisa tergantikan oleh teknologi canggih yang terus berkembang saat ini. Apa itu? Disiplin kerja, tepat waktu, jujur, amanah, penuh tanggung jawab dengan semua tugas yang diberikan kepadanya.

Suatu ketika Ben diminta Jules untuk menemaninnya pergi ke luar kota. Di sebuah hotel mewah tempat mereka menginap, Jules mengajak Ben masuk ke kamarnya untuk berbincang. Awalnya Ben hendak duduk di kursi, tapi Jules memintanya untuk di kasur yang sama. Ben memilih berbaring di sudut ranjangnya sambil menikmati cemilan. Jules yang berpiyama putih duduk di sebelahnya, ia terus menangis sedih menceritakan kisah suaminya yang sedang selingkuh sejak 18 hari lalu.

Ben hanya menatap Jules dengan iba, membuka telinga lebar-lebar, mendengarkan keluh kesah dengan penuh takzim. Dia tidak membuka mulut, kecuali saat diminta menjawab pertanyaan. Usai lega bercerita, Jules membaringkan tubuhnya di atas bantal empuk sambil menonton babak drama tentang cinta di layar televisi. Kantuk menyerangnya hingga tertidur pulas. Ben perlahan dan hati-hati meninggalkannya menuju kamarnya. Ben telah berhasil memerankan sosok laki-laki jentel yang berpegang teguh pada nilai kesantunan yang dianutnya.

Topik: drama komediRobert De NiroThe Intern
SendShareTweetShare
Sebelumnya

Keadilan Sosial dan Cinta di Balik Pencurian

Selanjutnya

Jadi Apa Siswa Kita Setelah Lulus?

Ahsan Jamet Hamidi

Ahsan Jamet Hamidi

Anggota Dewan Pengarah Sekber Kebebasan Beragama/Berkeyakinan (KBB), Ketua Ranting Muhammadiyah Legoso, Tangerang Selatan, Wakil Sekretaris LPCRPM Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

TULISAN TERKAIT

Tarian Maut Ana de Armas

Tarian Maut Ana de Armas

8 Juni 2025
Mengenang Mr Miyagi Sambil Membaca Geopolitik

Mengenang Mr Miyagi Sambil Membaca Geopolitik

3 Juni 2025
Saat Elphaba dan Glinda Menyihir Penonton

Saat Elphaba dan Glinda Menyihir Penonton

23 November 2024
Kembali ke Koloseum

Kembali ke Koloseum

18 November 2024
Selanjutnya
Selanjutnya
Gen-Z Cari Kerja

Jadi Apa Siswa Kita Setelah Lulus?

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Kisah dari Negeri Para Insinyur

Kisah dari Negeri Para Insinyur

21 November 2025

Di Persimpangan Jalan: Minyak, Memori, dan Misi Mustahil Indonesia

17 November 2025
Try Sutrisno

Peluncuran Buku “Filosofi Parenting Try Sutrisno” Sajikan Formula Pola Asuh Keluarga Indonesia

15 November 2025
Tahap Akhir “AYO BACA!” Institut Prancis Indonesia: Soroti Dunia Literasi dan Sastra Kontemporer

Tahap Akhir “AYO BACA!” Institut Prancis Indonesia: Soroti Dunia Literasi dan Sastra Kontemporer

14 November 2025
Buku “The Girl with the Dragon Tattoo” Jadi Best Crime & Mystery versi Goodreads

Buku “The Girl with the Dragon Tattoo” Jadi Best Crime & Mystery versi Goodreads

29 Oktober 2025
Mitos, Mitigasi, dan Krisis Iklim: Membaca Narasi Putri Karang Melenu dan Naga Sungai Mahakam

Mitos, Mitigasi, dan Krisis Iklim: Membaca Narasi Putri Karang Melenu dan Naga Sungai Mahakam

20 Oktober 2025

© 2025 Jakarta Book Review (JBR) | Kurator Buku Bermutu

  • Tentang
  • Redaksi
  • Iklan
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Masuk
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In