Kebanyakan film memiliki skor kolektif yang dekat antara kritikus dan penonton. Tapi beberapa film memisahkan penilaian keduanya dengan ekstrem. Karate Kid: Legends adalah salah satu contohnya. Dari 137 resensi oleh kritikus, film ini hanya beroleh 59%, tetapi para penonton memberi ponten 91%.
Saya bisa sepenuhnya mengerti mengapa demikian. Semua film serial Karate Kid itu jalan ceritanya formulaic alias mudah ditebak. Tidak ada akting luar biasa di serial ini, termasuk di film mutakhirnya. Tapi, apakah pernah film-filmnya buruk? Tidak pernah. Termasuk yang sekarang sedang main di bioskop-bioskop di seluruh dunia sekarang.
Melanjutkan Karate Kid sebelumnya, Mr. Han muncul lagi. Mr. Han, diperankan Jackie Chan, kali ini lebih santai dan kocak dibandingkan ketika 15 tahun lampau melatih Dre Parker (Jaden Smith). Dia melatih jagoan kung fu muda, Li Fong (diperankan Ben Wang dengan sangat apik) di Beijing, lalu New York City.
Saya tak perlu mengungkap jalan ceritanya, tapi Li Fong harus tampil di turnamen karate (ini ujung semua cerita serial ini), lantaran sesuatu hal terkait Mia (Sadie Stanley, yang semoga akan tampil lebih sering lagi), gebetan barunya di NYC dan ayahnya (dengan pas diperankan Joshua Jackson).
Lantaran Li Fong adalah pendekar muda kung fu, sementara yang akan diikutinya adalah turnamen karate, maka Mr. Han datang menemui murid kesayangan Mr. Miyagi, Daniel LaRusso (siapa lagi kalau bukan Ralph Macchio, yang mungkin posternya menghiasi kamar siswi SMP hingga mahasiswi di dekade 1980an-1990an). Di film ini diceritakan apa hubungan Karate Miyagi dan Kung Fu Han, dan membuat saya tersenyum lebar.
Semua orang yang pernah menyaksikan satu saja (apalagi semua film yang jadi cikal bakal Miyagi Universe ini dari tahun 1984, 1986, 1989, dan 1994) tahu persis apa yang bakal terjadi. Jadi, ruang untuk bermanuver dalam soal puncak cerita tidaklah besar. Yang dirindukan para penontonnya adalah proses latihan fisik beserta dialog yang berusaha ‘filosofis’ namun ringan itu.
Dan para penonton film mutakhir ini tak mungkin kecewa kalau harapannya ditaruh di situ. Bahkan mereka bakal senang bukan kepalang karena bukan cuma Han Sifu yang melatih murid berbakatnya, melainkan juga LaRusso Sensei. Kombinasi bela diri keduanya yang digambarkan sebagai two branches, one tree itu sungguh mengena. Ada persaudaraan, ada persaingan, dan banyak humor di sesi latihan untuk menuju turnamen.
Di puncak turnamen, seperti biasa, jagoan kita ditunggu oleh lawan paling tangguh dan kejam. Connor Day (diperankan meyakinkan oleh Aramis Knight) adalah jagoan karate yang sudah 5 tahun berturut jadi juara. Tapi, tentu saja kita semua tahu hasil akhirnya. Yang menarik: bagaimana Li Fong melakukannya.
Ada dua aktor lain yang perlu saya sebutkan. Ming-Na Wen yang makin matang berperan sebagai dr Fong, ibunda Li Fong yang punya trauma terkait beladiri. Dan, yang benar-benar membuat saya tertawa lebar adalah kemunculan jagoan Kobra Kai, Johnny Lawrence (William Zabka). Bukan untuk bertukar pukulan dan tendangan melawan LaRusso, tapi untuk bertukar humor yang sangat menyegarkan di akhir film. Humor itu, bagi saya, adalah cara cerdas untuk meredakan kerinduan pada Mr. Miyagi, diperankan Pat Morita, yang telah meninggalkan dunia dan mewariskan serial ini.
Di luar urusan pertarungan dan persiapannya, atau awal kisah cinta Li Fong dan Mia, ada hal lain yang tersirat di film ini. Jagoan NYC yang perisak, kejam dan besar mulut dikalahkan oleh murid berdisiplin dari Beijing. Sifu dari Tiongkok dan Sensei dari Jepang bertukar ide untuk menaklukkan si perisak. Tentu, siapa pun yang mengikuti isu geopolitik dan geoekonomi mutakhir, terutama soal AS versus Tiongkok, bakal tersenyum memikirkan ‘kebetulan’ ini.
Berapa nilai film ini di mata saya? Kalau ada yang menanyakan itu, saya akan memberi nilai antara 76-79%. Buat mereka yang ‘telanjur sayang’ dengan serial yang memperkenalkan latihan jurus wax on, wax off ini, seperti saya, mustahil tidak terpuaskan, dan film ini wajib disaksikan dengan segala kenangan sejak 40 tahun lampau. Buat mereka yang tak punya alasan romantis, film ini tetaplah menarik dan berharga untuk disaksikan.
Depok, 3 Juni 2025 19:40








