Jumat, 19 Juni 2026
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)

Lisan Gus Miftah nan Tak Tertakar

Lisan yang kotor telah kembali pada pemiliknya. Semudah ini Tuhan membuktikan kepada kita betapa manusia itu sungguh kerdil di hadapannya.

Oleh Ni Nyoman Ayu Suciartini
5 Desember 2024
di Kolom
A A

Video seorang bapak tua menjinjing jualannya tiba-tiba viral di media sosial. Rautnya tak dapat ditutupi ketika dia dimaki gob**k. Ia sampai mencari apakah makian itu memang untuk dirinya? Air mata menyaru dalam peluhnya. Entah video itu dipotong seperti apa, yang jelas saya saksikan adalah keinginan seorang penjual es teh keliling yang juga ingin mendengar pendakwah, ingin mematri kembali agama-agamanya yang mungkin sempat berantakan. Nyatanya, pendakwah itu mengoloknya.

Layakkah seorang terbahak-bahak saat ada yang memaki manusia gobl**k di depan umum? Pun ini terjadi di suatu acara yang, konon, suci, berkumpulnya orang-orang yang katanya paling paham agama, dan teriakan itu datang pada seorang yang dielukan karena pengetahuan agamanya. Apakah agama menjadikan orang jauh dari kemanusiaan? Tidakkah pendakwah itu bisa meregulasi emosinya sedikit saja? Banyak hal bisa digunakan untuk bercandaan. Namun, bukan makian, bukan kata-kata kasar, dan dilantunkan begitu ringan untuk seseorang yang kala itu tak berdaya.

Publik mengecam dan bereaksi. Sebab pemandangan ini sungguh sangat menyakiti nurani. Bagaimanapun caranya berkelit, lisannya, kata-katanya telah jatuh yang sama sekali tak bisa dipungut kembali. Penjual es teh hari ini lebih mulia dari penjual agama. Simpati publik di Indonesia menunjukkan bahwa negeri ini masih beradab, masih memanusiakan manusia di tengah penguasa yang sibuk mengurusi agama.

Untuk seorang ayah paruh baya, penjual es teh yang diolok-olok itu kini dinaikkan derajatnya. Diangkat setinggi-tingginya. Bahwa malam itu, malam perjalanan hatinya yang lapang, kini membukakan peluang. Lisan yang tak tertakar dan rezeki yang tak mungkin tertukar. Dua hal paradoks sedang terbuka di media sosial. Dimaki tak membuat ayah paruh baya ini tumbang. Justru yang memaki ini ketar-ketir mendapatkan sangsi sosial yang luar biasa keji.

Lisannya yang kotor telah kembali pada pemiliknya. Semudah ini Tuhan membuktikan kepada kita betapa manusia itu sungguh kerdil di hadapannya. Siapa yang menyangka dalam satu malam, Tuhan telah membalikkan keadaan dua dunia manusia yang sangat timpang ini.

BACA JUGA:

AL-QANUN FI AL-THIBB: Kitab Kuning Kedokteran yang Fenomenal

WAKAF LITERASI: Solusi Impian Hadapi Pembajakan Buku

Kifayatul Atqiya’: Menjinakkan Hawa Nafsu di Era Digital

Kala Mesin AI Menjawab, Manusia (Harus) Bertanya

Menormalisasi bercandaan konyol, sarkas, merundung, seharusnya tak menjadi pembenaran. Apalagi dilakukan oleh seorang pendakwah yang seharusnya sudah selesai dengan dirinya sendiri. Ke sana kemari kini klarifikasi untuk membentengi diri. Manusia mana yang akan tersentuh? Juga sahabat-sahabat yang duduk dekat dengannya sewaktu melempar candaan gob**k, ikut terbahak, lalu nurani dan akal sehatnya masihkah melekat?

Bukankah seharusnya pendakwah itu paling tahu tentang dirinya. Bukan temannya, kuasa hukumnya, sahabatnya, keluarganya, atau bahkan psikolognya. Sebelum lisannya terucap, Ia juga seharusnya sudah menakar sejauh mana kata-katanya akan berdampak. Gus Mitfah, sama sekali tak ada kebencian dalam tulisan ini. Seharusnya, Gus bisa menjadi tauladan anak muda yang memujamu. Jika ada yang masih membenarkanmu atas kata-kata gob**kmu, mungkin Gus perlu rehat sejenak. Menepi untuk bisa menemukan “diri”. Lagi.

Bacaan terkait

Surat Terbuka: Terima Kasih, Mas Nadiem. Selamat Bekerja, Mas Mukti

Guru Ngonten Vs Guru Menulis

Kanjeng Doktor Bahlil

Pergumulan Agama dan Tradisi

Strategi Mengajar Ala Nabi Muhammad

Topik: Gus Miftahpenjual agama
SendShareTweetShare
Sebelumnya

Pilkada dalam Ancaman Ketidakpercayaan Warga

Selanjutnya

Memikirkan Ulang Tata Kelola Perusahaan

Ni Nyoman Ayu Suciartini

Ni Nyoman Ayu Suciartini

Penulis, novelis, dan pengajar asal Bali. Karya-karyanya terbilang banyak, antara lain "Mimpi Itu Gratis" (Gramedia 2016), "Bersinar di Timur Pulau Bali" (2018), "Racun Puan" (Mizan).

TULISAN TERKAIT

al-qanun

AL-QANUN FI AL-THIBB: Kitab Kuning Kedokteran yang Fenomenal

17 Juni 2026
wakaf literasi

WAKAF LITERASI: Solusi Impian Hadapi Pembajakan Buku

10 Juni 2026
kifayatul atqiya

Kifayatul Atqiya’: Menjinakkan Hawa Nafsu di Era Digital

5 Juni 2026
kala mesin ai menjawab

Kala Mesin AI Menjawab, Manusia (Harus) Bertanya

3 Juni 2026
Selanjutnya
Selanjutnya
Memikirkan Ulang Tata Kelola Perusahaan

Memikirkan Ulang Tata Kelola Perusahaan

Ulasan Pembaca 1

  1. Ping-balik: Komunikasi Publik yang Bikin Masalah - Jakarta Book Review (JBR)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

menikah

Menikah Bukan Cuma Soal ‘I Do’: Nasihat dan Pandangan Realistis dari Imam al-Ghazali

13 Juni 2026
text hip

Tren “Text Hip” Dongkrak Literasi di Korea Selatan

11 Juni 2026
buku cetak australia

Survei Creative Australia: 14,4 Juta Warga Setia Membaca, Buku Cetak Belum Tergantikan

8 Juni 2026
future history

Fiksi Ilmiah Bangkit Lagi: Penghargaan “Future History” Musim Kedua Tawarkan Hadiah Lebih Besar dan Kategori Skenario

5 Juni 2026
sayyidat al-qamar

Sayyidat al-Qamar: Novel Fenomenal dari Padang Pasir

4 Juni 2026
ancaman-nyata

Ancaman Nyata di Balik Fiksi: Saat AI dan Kiamat Ekologi Menjadi Karib

3 Juni 2026

© 2026 Jakarta Book Review (JBR) | Kurator Buku Bermutu

  • Tentang
  • Redaksi
  • Iklan
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Masuk
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In