Minggu, 25 Oktober 2026
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)

Ismail Haniyah, Tarekat, dan Perlawanan Melawan Penindasan [Menyambut Hari Kemerdekaan Indonesia]

Tak sedikit pejuang pembebasan dan pemimpin perlawanan Islam dalam sejarah adalah para pengikut tasawuf dan pengamal tarekat. Juga Ismail Haniyah.

Oleh Haidar Bagir
11 Agustus 2024
di Kolom
A A

Siapa tidak kenal Ismail Haniyeh. Dialah pejuang dan Kepala Biro Politik Hamas yang belum lama ini syahid dalam kiprahnya melawan kezaliman Zionis Israel. Siapa Ismail Haniyeh?

Ismail Haniyeh lahir pada 1963 dari keluarga Arab Palestina. Ayahnya adalah seorang Syekh Sufi (Mursyid Tarekat).

Tidak jauh dari kediamannya terdapat zawiyah, yakni tempat berkumpulnya para pengamal tarekat (thariqah).   “… dan saya tumbuh dalam suasana pengamalan Tarekat seperti ini.”

Ayah Haniyeh adalah juga seorang mu’adz-dzin, yang membiasakan Haniyeh kecil berangkat bersamanya–membuka pintu masjid, melaungkan azan–lalu salat subuh di masjid yang sama.

Ayahnya juga membiasakan mengajak Haniyeh untuk mengikuti acara-acara maulid dan ta’ziyah/tahliil, serta majelis-majelis zikir yang biasa diadakan oleh ayahnya itu.

BACA JUGA:

16 Tahun Rene Turos: Berkah, Keringat, dan Cita-Cita

MBG: Membaca Buku Gratis

AL-QANUN FI AL-THIBB: Kitab Kuning Kedokteran yang Fenomenal

WAKAF LITERASI: Solusi Impian Hadapi Pembajakan Buku

Dalam wawancaranya dengan Aljazeera, Haniyeh mengungkapkan betapa masa kecil dan remajanya dalam lingkungan Tarekat ini telah membentuk karakternya.

Kisah Ismail Haniyeh ini mengingatkan kita pada kenyataan bahwa, tak sedikit pejuang pembebasan dan pemimpin perlawanan Islam dalam sejarah agama ini adalah para pengikut tasawuf dan pengamal Tarekat.

Kaum Sufi oleh sebagian pengkritiknya dituduh sebagai kelompok yang menyendiri, menjauh dari masyarakat, dan mengabaikan kehidupan duniawi. Pada kenyataannya, justru tasawuf mendorong mereka untuk menjadi orang-orang yang paling mementingkan perbaikan kehidupan dunia, dengan berupaya memastikan bahwa setiap orang mendapatkan hak kemanusiaannya.

Dalam sejarah Islam, betapa banyak catatan tentang para sufi yang menjadi pemimpin gerakan perlawanan terhadap penindasan dan penjajahan, baik di negeri kita maupun di berbagai belahan dunia Muslim lain.

Di Indonesia, misalnya kita mengenal Pangeran Diponegoro yang, terlepas apakah dia seorang sufi atau bukan, adalah orang yang dibesarkan dalam keluarga yang mempraktikkan tasawuf. Bahkan keluarganya dikenal sebagai pengikut Tarekat Syath-thariyah.

Diponegoro dikenal sebagai orang yang juga mempelajari dan mencoba mempraktikkan ajaran-ajaran tasawuf, khususnya wahdatul wujud.

Sebagaimana dikutip oleh Peter Carey, Diponegoro disebutkan sebagai pembaca Kitab Topah. Kitab Topah yang dimaksudkan di sini adalah kitab Al-Tuhfah al-Mursalah ila Ruh al-Nabi yang dikarang oleh Syeikh Muhammad bin Fadhlullah al-Burhanpuri al-Hindi (w. 1620 M). Kitab tersebut tiada lain merupakan salah satu kitab yang menjadi perantara masuk dan meluasnya ajaran tasawuf wahdatul wujud di Indonesia.

Sartono Kartodirdjo, seorang sosiolog dan antropolog, termasuk di antara yang menuliskan banyaknya pemberontakan petani di Indonesia yang dipimpin oleh orang-orang yang dianggap sebagai pemimpin Tarekat atau kaum sufi.

Di negara berpenduduk Muslim lainnya, misalnya kita mengenal Omar Mukhtar di Libya yang memimpin pemberontakan melawan penjajahan Eropa; Imam Syamil, seorang sufi di Uni Soviet yang memimpin pemberontakan melawan penindasan Rusia. Juga Badi’uzzaman Sa’id Nursi di Turki, dan Imam Khomeini di Iran, serta banyak lagi di berbagai belahan dunia lainnya.

Dan kesemuanya itu bukanlah suatu kebetulan. Menjadi sufi dan mengamalkan Tarekat bukan saja tidak bertentangan dengan jihad melawan penindasan. Justru sebaliknya.

Ajaran Tasawuf yang mendidik para pengikutnya untuk menghindar dari pengumbaran hawa nafsu duniawi dan mengorientasikannya kepada kebahagiaan spiritual, terbukti telah menyemangati para penempuhnya untuk melakukan jihad dan menyelenggarakan amal-amal saleh untuk mereformasi dunia, demi mampu meraih pertemuan dengan Allah (liqaa’ Allah).

Ya, jalan tasawuf justru dapat menjadi sumber ilham paling kuat bagi pengorbanan diri di jalan-Nya.

Perjalanan menuju Allah–suluuk–yang harus ditempuh kaum sufi harus dimanifestasikan dalam bentuk kembalinya si sufi ke dunia untuk mereformasinya dalam bingkai keruhanian. Inilah yang telah dibuktikan oleh para sufi dan pengamal tarekat itu. Termasuk Ismail Haniyeh.

Bacaan terkait

Filosofi Ilmu Nahwu, Pelajaran Hidup Sufi dari Nahwul Qulub

Al-Hikam: Untaian Mutiara Kebijaksanaan Sufi

Maraqi al-Ubudiyah Syekh Nawawi al-Bantani: Kitab Fikih Berjiwa Tasawuf

Tarekat Syaziliyah dalam Risalah al-Amin

Konsepsi Jiwa Ibnu Sina

Topik: Ismail Haniyehjalan sufitrasawuf
SendShareTweetShare
Sebelumnya

Teroris-teroris Belia

Selanjutnya

Obituari: Selamat Jalan, Mang Deddy

Haidar Bagir

Haidar Bagir

Cendekiawan, filantropis, penulis, dan presiden direktur Mizan Group.

TULISAN TERKAIT

16 Tahun Renebook: Berkah, Keringat, dan Cita-Cita

16 Tahun Rene Turos: Berkah, Keringat, dan Cita-Cita

23 Oktober 2026
MBG: Membaca Buku Gratis

MBG: Membaca Buku Gratis

12 Oktober 2026
al-qanun

AL-QANUN FI AL-THIBB: Kitab Kuning Kedokteran yang Fenomenal

17 Juni 2026
wakaf literasi

WAKAF LITERASI: Solusi Impian Hadapi Pembajakan Buku

10 Juni 2026
Selanjutnya
Selanjutnya
Obituari: Selamat Jalan, Mang Deddy

Obituari: Selamat Jalan, Mang Deddy

Ulasan Pembaca 1

  1. Ping-balik: Lebanon antara Israel dan Iran - Jakarta Book Review (JBR)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

bsi international expo

IKAPI Jakarta dan Rene Turos Group Meriahkan BSI International Expo 2026 Menembus Pasar Global

24 Oktober 2026
penerbit rene turos

16 Tahun Penerbit Rene Turos: Bagikan 1.600 Buku kepada Pembaca dan Komunitas

20 Oktober 2026
Rayakan 16 Tahun, Rene Turos Group Bagikan 1.600 Buku untuk Pembaca

Rayakan 16 Tahun, Rene Turos Group Bagikan 1.600 Buku untuk Pembaca

17 Oktober 2026
Feri Amsari: Prabowo Harus Baca “Politik Kaum Tertindas”

Feri Amsari: Prabowo Harus Baca “Politik Kaum Tertindas”

10 Oktober 2026
politik kaum tertindas

Bedah Buku “Politik Kaum Tertindas”, Feri Amsari Kritik Praktik Blusukan yang Kehilangan Esensi

10 Oktober 2026
in this economy

In This Economy: Yang Lain Boleh Efisiensi, Kecuali Literasi

7 Oktober 2026

© 2026 Jakarta Book Review (JBR) | Kurator Buku Bermutu

  • Tentang
  • Redaksi
  • Iklan
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Masuk
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In