Kamis, 22 Oktober 2026
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)

Maraqi al-Ubudiyah Syekh Nawawi al-Bantani: Kitab Fikih Berjiwa Tasawuf

Resensi Kitab Maraqi al-Ubudiyah karya Syekh Nawawi al-Bantani penerbit Turos Pustaka

Oleh Mujib Rahman
25 April 2022
di Resensi
A A
Kitab Maraqi al-Ubudiyah karya Syekh Nawawi al-Bantani penerbit Turos Pustaka

Kitab Maraqi al-Ubudiyah karya Syekh Nawawi al-Bantani penerbit Turos Pustaka

Lisan adalah anggota tubuh yang paling tajam, melebihi anggota tubuh manapun. Sebagian besar dosa yang menjerumuskan manusia ke dalam neraka adalah apa yang telah dilakukan lisan mereka. Kitab Maraqi al-Ubudiyah Syekh Nawawi al-Bantani membahas fikih sufistik dengan tema ibadah, amaliyah, dan teknik membendung maksiat dari sumber-sumbernya.

Pada dasarnya sumber maksiat adalah organ tubuh manusia. Dari sekian banyak anggota tubuh, lisan adalah biang keladi yang paling berbahaya. Di dunia ini, dosa yang ditimbulkan oleh mata, telinga, dan anggota tubuh yang lain, bahkan oleh kemaluan, masih tak sebesar dosa lisan. Dosa-dosa seperti berbohong,  menggunjing, dan memfitnah, itu bisa dilakukan di manapun, kapanpun, tanpa persiapan khusus dan tidak memerlukan biaya.

Berbeda dengan zina atau mencuri yang memerlukan perencanaan jangka panjang dan tak bisa dilakukan oleh sembarang orang. Maka dari segi masifnya, dosa-dosa lisan lebih mendominasi. Repotnya, dosa lisan sering dianggap remeh karena dalam banyak kasus tidak menimbulkan implikasi luas dan sulit dibuktikan. Namun sebenarnya perbuatan lidah memiliki konsekuensi dunia dan akhirat secara signifikan.

Nabi Dawud as sampai berdoa khusus kepada Allah agar diselamatkan dari bahaya lisan. “Ya Allah aku berlindung kepadamu dari empat perkara: aku memohon kepadamu lisan yang berzikir, hati yang bersykur, jiwa yang sabar, dan istri yang membantu di dunia dan akhirat”.

Sebuah hadis menyebutkan, perkataan orang yang menyakiti hati seorang muslim dapat membuat ia masuk ke neraka selama 70 tahun. Tajamnya lidah juga dapat menghalangi suatu kebaikan besar mendapat pahalanya. Lidah yang menyakiti, meskipun menyampaikan hal yang baik adalah sebuah dosa. Salah satu tipu daya setan adalah “Tunjukkan kebenaran dan janganlah bersikap lunak dalam membela kebenaran,”.

BACA JUGA:

Dari Penjara Menuju Lumbung Negara: Refleksi Kebijakan Publik atas “Strategi Fiskal Nabi Yusuf”

Kitab Nahwul Qulub: Asupan Gizi Tambahan Untuk Nalar Para Santri

Habis Haflah, Terbitlah Arah: Catatan Kritis atas Buku Kang Yanuar Tentang Masa Depan NU

Menikah Bukan Cuma Soal ‘I Do’: Nasihat dan Pandangan Realistis dari Imam al-Ghazali

Syahdan, ada seorang yang gugur sebagai syahid di perang Uhud, dan di perutnya ditemukan sebuah batu yang diikat untuk menahan rasa lapar. Kemudian Ummul Fadhl mengusap debu yang melekat di wajah orang itu dan berkata: “Sungguh beruntung ia masuk surga”. Rasulullah saw berkata: “Dari mana engkau tahu? Barangkali ia pernah membicarakan sesuatu yang tidak perlu baginya atau kikir dengan apa-apa yang perlu baginya”.

Perkataan itu ada empat jenis: (1) yang bermanfaat, (2) yang madharat, (3) yang ada ada unsur keduanya, (4) yang tidak ada unsur keduanya. Perkataan yang mengandung madharat tetapi juga mengandung manfaat harus ditinggalkan, apalagi yang semata-mata hanya membawa madharat. Sedangkan perkataan yang tidak mengandung manfaat dan madharat adalah perkataan sia-sia yang itu berarti tidak penting.

Ibnu Abbas berkata, “Apabila engkau ingin menyebut kejelekan sahabatmu maka ingatlah akan kejelekanmu”. Sementara Abu Hurairah berkata, “Engkau melihat debu di mata saudaramu, tetapi tidak melihat pohon di depan matamu,”.

Tutupilah keburukan orang lain, maka Allah set akan menutupi keburukanmu. Jika engkau membeberkan aib orang lain, maka Allah akan berbuat serupa itu di akhirat nanti. Allah swt akan menurunkan orang-orang yang tajam lisannya sewaktu di dunia, lalu mempermalukannya di hadapan semua makhluk.

Kitab Maraqi al-Ubudiyah ditulis oleh Syekh Nawawi al-Bantani (1813-1897 M), salah satu ulama klasik asal Indonesia yang bermukim di Arab Saudi hingga akhir hayatnya. Sosoknya memiliki kedudukan istimewa dalam jaringan ulama nusantara dan perkembangan intelektual pesantren di Indonesia.

Maraqi al-Ubudiyah Syekh Nawawi al-Bantani ini adalah syarah atau penjelasan kitab Bidayatul Hidayah, karya Imam al-Ghazali mengulas fikih tingkat tinggi, tidak hanya pada halal-haramnya, tetapi pada adab dan etika melakukannya. Bidayatul Hidayah sendiri adalah syarah kitab Ihya Ulumuddin karya Al-Ghazali.

Kitab ini tidak hanya membahas masalah fikih praktis, tetapi memiliki tinjauan yang lebih mendalam dengan spirit sufisme. Kitab ini bisa disebut konvergensi dua bidang ilmu (fikih dan tasawuf). Syekh Nawawi Al-Bantani membagi kitab ini dalam dua bagian besar. Bagian pertama berisi tentang masalah fikih, sedangkan bagian kedua berisi tentang masalah tasawuf.

Konstruksi bab-bab awal sangat khas kitab fiqih. Misalnya Adab bangun tidur, berpakaian, wudhu, mandi, tayamum, tidur, salat, puasa, dan sebagainya. Di bagian awal ini banyak pembahasan tentang etika  melakukan sesuatu aktifitas, baik ibadah maupun amaliyah.

Sedangkan di bagian kedua, yang dibahas adalah teknik mengunci anggota badan dari segala bentuk maksiat dan potensi yang mungkin terjadi. Misalnya bab menjaga mata, telinga, lisan, perut, tangan, kaki, dan kemaluan.

Judul: Maraqi al-Ubudiyah, Kitab Tuntunan Adab dan Tahapan Untuk Mencapai Kesempurnaan Ibadah

Penulis: Syekh Nawawi al-Bantani

Penerbit: Turos Pustaka

Penerjemah: Fuad Saifudin Nur

Genre: Spiritual Islam

Edisi: Cet 1, Februari 2020

Tebal: 380 halaman

ISBN: 978-623-7327-28-8

Topik: Headline
SendShareTweetShare
Sebelumnya

Rantau: Kisah Nyata Zulkifli Hasan Menaklukkan Jakarta

Selanjutnya

Buku Terbaru Nilam Zubir, Usung Misi “Cerdas Bermedsos”

Mujib Rahman

Mujib Rahman

Wartawan Senior

TULISAN TERKAIT

nabi yusuf

Dari Penjara Menuju Lumbung Negara: Refleksi Kebijakan Publik atas “Strategi Fiskal Nabi Yusuf”

2 Oktober 2026
nahwul qulub tata bahasa ruhani

Kitab Nahwul Qulub: Asupan Gizi Tambahan Untuk Nalar Para Santri

30 September 2026
Habis Haflah, Terbitlah Arah: Catatan Kritis atas Buku Kang Yanuar Tentang Masa Depan NU

Habis Haflah, Terbitlah Arah: Catatan Kritis atas Buku Kang Yanuar Tentang Masa Depan NU

7 September 2026
menikah

Menikah Bukan Cuma Soal ‘I Do’: Nasihat dan Pandangan Realistis dari Imam al-Ghazali

13 Juni 2026
Selanjutnya
Selanjutnya
Buku Terbaru Nilam Zubir, Usung Misi “Cerdas Bermedsos”

Buku Terbaru Nilam Zubir, Usung Misi "Cerdas Bermedsos"

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

penerbit rene turos

16 Tahun Penerbit Rene Turos: Bagikan 1.600 Buku kepada Pembaca dan Komunitas

20 Oktober 2026
Rayakan 16 Tahun, Rene Turos Group Bagikan 1.600 Buku untuk Pembaca

Rayakan 16 Tahun, Rene Turos Group Bagikan 1.600 Buku untuk Pembaca

17 Oktober 2026
Feri Amsari: Prabowo Harus Baca “Politik Kaum Tertindas”

Feri Amsari: Prabowo Harus Baca “Politik Kaum Tertindas”

10 Oktober 2026
politik kaum tertindas

Bedah Buku “Politik Kaum Tertindas”, Feri Amsari Kritik Praktik Blusukan yang Kehilangan Esensi

10 Oktober 2026
in this economy

In This Economy: Yang Lain Boleh Efisiensi, Kecuali Literasi

7 Oktober 2026
GENTLE REMINDER

Renebook Hadirkan Ruang Refleksi Diri Lewat Meaning Sharing Session di IIBF 2026

5 Oktober 2026

© 2026 Jakarta Book Review (JBR) | Kurator Buku Bermutu

  • Tentang
  • Redaksi
  • Iklan
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Masuk
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In