Selasa, 23 Juni 2026
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)

IIBF 2025: Upaya Peningkatan Literasi dan Tantangan Industri Penerbitan Buku di Indonesia

Beragam program hadir untuk memajukan industri dan inovasi penerbitan buku di zaman modern.

Oleh Dimas Yusuf
24 September 2025
di Berita
A A
Poster-poster kegiatan IIBF 2025

Berbagai agenda kegiatan di pintu masuk IIBF 2025, JCC Senayan.

JBR, Jakarta (24/9) – Acara pameran dan perayaan literasi terbesar di Indonesia, yaitu Indonesia International Book Fair (IIBF) 2025 resmi dibuka pada Rabu (24/9) di Assembly Hall, JCC Senayan, Jakarta. Acara ini berlangsung selama 5 hari, dari tanggal 24-28 September 2025. Dengan mengusung tema “Exploring Content, Enlightening Mind” IIBF 2025 menegaskan posisinya sebagai poros pertemuan intelektual, budaya, dan bisnis kreatif di Asia Tenggara.

Pada tahun ini, IIBF 2025 diikuti oleh 13 peserta Internasional dari berbagai negara. Terdapat 82 peserta pameran buku (stand) yang termasuk 19 diantaranya adalah penerbit independen.

Di tengah-tengah peralihan zaman dari hal yang konvensional menjadi digital. Buku menjadi objek yang terdampak dari peralihan zaman tersebut. Buku sudah mulai banyak ditinggalkan dan tergantikan oleh konten-konten video pendek yang beredar di media sosial. Hal tersebut adalah tantangan bagi para pelaku di industri penerbitan. Bukan hanya produknya yang mendapatkan pajak lebih tinggi dari tahun sebelumnya, tetapi profesi penulis, editor, hingga percertakan harus bertahan di tengah-tengah perubahan zaman.

5 Tantangan bagi industri penerbit buku di Indonesia

Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) menyoroti 5 hal yang menjadi tantangan bagi para pelaku industri penerbitan. Yang pertama, minat baca masyarakat yang meningkat, tetapi belum merata. Melirik data dari Kementerian Pendidikan di tahun 2025, 65% usia anak sekolah membaca minimal 1 buku non-pelajaran per bulan, dengan durasi 30 menit per harinya. Durasi tersebut meningkat 15 menit dari data tahun 2022. Meskipun demikian, pemahaman terhadap buku yang dibaca masih sangat kurang.

Kedua, kesenjangan akses antarwilayah. Akses buku di Indonesia belum menyebar secara merata. IKAPI membandingkan antara Jakarta dan Papua. Di Jakarta akses perpustakaan begitu banyak dan beragam. Berbeda dengan wilayah Papua, dimana lingkungan sekolah pun banyak yang tidak mempunyai akses perpustaaan dan buku.

BACA JUGA:

Belum Sebulan Terbit, “Toko Manisan Ajaib Amberglow” Rayakan Cetak Ulang Lewat Bedah Buku di Bukupreneur Bogor

Tren “Text Hip” Dongkrak Literasi di Korea Selatan

Survei Creative Australia: 14,4 Juta Warga Setia Membaca, Buku Cetak Belum Tergantikan

Fiksi Ilmiah Bangkit Lagi: Penghargaan “Future History” Musim Kedua Tawarkan Hadiah Lebih Besar dan Kategori Skenario

Ketiga, distraksi digital. Anak-anak dan remaja di Indonesia menghabiskan rata-rata 4 jam untuk bermain smartphone. Di sisi lain, mereka hanya menghabiskan waktu sekitar 30 menit untuk membaca buku.

Keempat, harga buku dan daya beli. Di tahun 2025, buku cetak naik 12% dari tahun sebelumnya. Hal ini membuat harga buku melambung tinggi, sedangkan masih banyak upah minimum di beberapa provinsi yang tidak naik signifikan dan daya beli masyarakat sedang menurun.

Kelima, pembajakan digital. IKAPI menyebutkan bahwa 1 dari 3 buku yang diedarkan di platform digital terkena pembajakan. Hal itu menyebabkan kerugian bagi penerbit buku hingga penulis buku.

Penguatan kebijakan literasi menjadi salah satu langkah bagi IKAPI. Dalam hal ini, pemberian insentif bagi penerbit buku lokal, serta penghapusan pajak bahan baku. Selain itu, peningkatan program literasi di sekolah dan daerah terpencil menjadi upaya dalam menumbuhkan minat baca di daerah.

14 negara berpartisipasi dalam Indonesia Right Fair (IRF)

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. IIBF yang diselenggarakan ke-45 ini menghadirkan program IRF (Indonesia Right Fair) yang diberlangsungkan pada 3 hari pertama. IRF merupakan ajang transaksi hak cipta yang diikuti 80 penerbit dan agen naskah dari Indonesia dan berbagi negara lainnya.

Di dalam program ini, para penerbit buku dapat mencari buku-buku yang potensial yang akan diterbikan di masing-masing negara. Negara-negara kawasan Asia Tenggara, Pakistan, Turki, Uni Emrat Arab, hingga Britania Raya turut berpatisipasi dalam program ini.

Kerjasama antar penerbit dengan transaksi hak cipta dapat memperluas jaringan dan juga meraih pembaca lintas negara. Diharapkan program ini dapat menjadi peluang bagi industri penerbit buku untuk tetap menyelaraskan antara idelisme dengan kebutuhan pasar.

Reporter: Dimas Yusuf
Editor: Abdul Rahman Ma’mun
Foto: JBR

SendShareTweetShare
Sebelumnya

Bertahan di Zaman Modern: 36 Tahun Berdirinya Pustaka Al-Kautsar

Selanjutnya

3726 MDPL: Titik Tertinggi Belajar Melepaskan

Dimas Yusuf

Dimas Yusuf

Redaktur Jakarta Book Review (JBR)

TULISAN TERKAIT

Belum Sebulan Terbit, “Toko Manisan Ajaib Amberglow” Rayakan Cetak Ulang Lewat Bedah Buku di Bukupreneur Bogor

Belum Sebulan Terbit, “Toko Manisan Ajaib Amberglow” Rayakan Cetak Ulang Lewat Bedah Buku di Bukupreneur Bogor

22 Juni 2026
text hip

Tren “Text Hip” Dongkrak Literasi di Korea Selatan

11 Juni 2026
buku cetak australia

Survei Creative Australia: 14,4 Juta Warga Setia Membaca, Buku Cetak Belum Tergantikan

8 Juni 2026
future history

Fiksi Ilmiah Bangkit Lagi: Penghargaan “Future History” Musim Kedua Tawarkan Hadiah Lebih Besar dan Kategori Skenario

5 Juni 2026
Selanjutnya
Selanjutnya
Versi Hard Cover pada Buku 3726 MDPL

3726 MDPL: Titik Tertinggi Belajar Melepaskan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Belum Sebulan Terbit, “Toko Manisan Ajaib Amberglow” Rayakan Cetak Ulang Lewat Bedah Buku di Bukupreneur Bogor

Belum Sebulan Terbit, “Toko Manisan Ajaib Amberglow” Rayakan Cetak Ulang Lewat Bedah Buku di Bukupreneur Bogor

22 Juni 2026
menikah

Menikah Bukan Cuma Soal ‘I Do’: Nasihat dan Pandangan Realistis dari Imam al-Ghazali

13 Juni 2026
text hip

Tren “Text Hip” Dongkrak Literasi di Korea Selatan

11 Juni 2026
buku cetak australia

Survei Creative Australia: 14,4 Juta Warga Setia Membaca, Buku Cetak Belum Tergantikan

8 Juni 2026
future history

Fiksi Ilmiah Bangkit Lagi: Penghargaan “Future History” Musim Kedua Tawarkan Hadiah Lebih Besar dan Kategori Skenario

5 Juni 2026
sayyidat al-qamar

Sayyidat al-Qamar: Novel Fenomenal dari Padang Pasir

4 Juni 2026

© 2026 Jakarta Book Review (JBR) | Kurator Buku Bermutu

  • Tentang
  • Redaksi
  • Iklan
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Masuk
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In