Kamis, 18 Juni 2026
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)

Eep Saefulloh Fatah Ajak Anak Muda Gunakan Buku “48 Laws of Power” untuk Lawan Ketidakadilan

Oleh Redaksi JBR
22 Juni 2025
di Berita Buku
A A

Jakarta— Penerbit Renebook, bagian dari Rene Turos Group, kembali mencuri perhatian di panggung Islamic Book Fair (IBF) 2025 yang digelar di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan Jakarta (21/6/2025). Salah satu acara unggulan yang menarik ratusan pengunjung adalah bedah buku Versi Ringkas 48 Laws of Power, karya legendaris Robert Greene yang diterjemahkan dan diterbitkan oleh Renebook.

Acara yang berlangsung di panggung Kreasi Hall A ini menghadirkan narasumber utama Eep Saefulloh Fatah, konsultan politik senior yang dikenal tajam dalam menganalisis peta kekuasaan. Dalam sesi berdurasi lebih dari satu jam tersebut, Eep tidak hanya mengupas isi buku, tapi juga mengaitkannya secara kritis dengan kondisi sosial-politik Indonesia masa kini dan masa depan.

“Buku ini seharusnya jatuh ke tangan orang-orang baik agar bisa menjadi senjata untuk melawan kezaliman kekuasaan,” tegas Eep, lulusan Sosiologi Politik dari The Ohio State University.

Buku 48 Laws of Power sendiri merupakan ringkasan dari karya orisinal Greene yang membedah dinamika kekuasaan lintas zaman dan budaya selama lebih dari tiga abad. Dalam versi ringkasnya yang diterbitkan oleh Renebook, isi buku dikoenversi menjadi sekitar 200 halaman tanpa mengurangi kekuatan substansinya dan telah mengalami 22 kali cetak ulang dalam waktu kurang dari satu tahun, menunjukkan antusiasme pembaca yang luar biasa.

BACA JUGA:

Tren “Text Hip” Dongkrak Literasi di Korea Selatan

Survei Creative Australia: 14,4 Juta Warga Setia Membaca, Buku Cetak Belum Tergantikan

Fiksi Ilmiah Bangkit Lagi: Penghargaan “Future History” Musim Kedua Tawarkan Hadiah Lebih Besar dan Kategori Skenario

Sayyidat al-Qamar: Novel Fenomenal dari Padang Pasir

Dalam pemaparannya, Eep menggambarkan politik sebagai bagian tak terpisahkan dari hidup sehari-hari, “Politik itu seperti udara, Anda boleh membenci polusinya, tapi Anda tidak bisa berhenti menghirupnya.”

Ia juga menyinggung pentingnya tetap memiliki sikap kritis sekaligus memberi ruang harapan terhadap pemerintahan baru.

“Presiden yang baru, harapan saya, harus jadi presiden yang baik. Tapi dalam politik, kepercayaan tidak boleh diberikan sepenuhnya. Greene juga menyiratkan hal ini dalam bukunya.”

Salah satu pertanyaan peserta yang cukup memancing diskusi adalah tentang kesan ‘brutal’ dari isi buku dan perlunya buku tandingan untuk menangkalnya. Eep menjawab dengan tegas:

“Kita tidak perlu buku tandingan. Yang kita butuhkan adalah sudut pandang yang bijak. Buku ini bisa menjadi cermin, bukan panduan untuk menjadi licik, tapi alat untuk memahami, mengkritisi, dan melawan praktik kekuasaan yang tidak adil.”

Pertanyaan lainnya menyentuh isu mengapa people power tidak terjadi di Indonesia meski kondisi politik dinilai memburuk. Menurut Eep, salah satu alasannya adalah absennya kecemasan publik (people anxiety).

“Penguasa membuat masyarakat merasa semuanya baik-baik saja, padahal sebaliknya. Ini juga termasuk salah satu hukum kekuasaan yang dijelaskan dalam buku Greene.”

Antusiasme peserta membuat diskusi berlangsung dinamis hingga akhir sesi, dengan banyak peserta yang masih mengangkat tangan untuk bertanya ketika waktu telah habis. Bedah buku ini menjadi salah satu sesi yang paling ramai dan menyita perhatian di IBF 2025, menandakan bahwa minat masyarakat terhadap isu kekuasaan dan literasi politik terus tumbuh.

Topik: 48 laws of powereepIBF 2025robert greene
SendShareTweetShare
Sebelumnya

Religi, Reklamasi, dan Korupsi

Selanjutnya

The Culture Code: Budaya Adalah Susu Dalam Secangkir Kopi Kehidupan

Redaksi JBR

Redaksi JBR

You are what you read, you read what we review.

TULISAN TERKAIT

text hip

Tren “Text Hip” Dongkrak Literasi di Korea Selatan

11 Juni 2026
buku cetak australia

Survei Creative Australia: 14,4 Juta Warga Setia Membaca, Buku Cetak Belum Tergantikan

8 Juni 2026
future history

Fiksi Ilmiah Bangkit Lagi: Penghargaan “Future History” Musim Kedua Tawarkan Hadiah Lebih Besar dan Kategori Skenario

5 Juni 2026
sayyidat al-qamar

Sayyidat al-Qamar: Novel Fenomenal dari Padang Pasir

4 Juni 2026
Selanjutnya
Selanjutnya
The Culture Code: Budaya Adalah Susu Dalam Secangkir  Kopi Kehidupan

The Culture Code: Budaya Adalah Susu Dalam Secangkir Kopi Kehidupan

Ulasan Pembaca 1

  1. Ping-balik: Versi Ringkas 48 Laws of Power: Melihat Sudut Pandang Penguasa Yang Licik - Jakarta Book Review (JBR)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

menikah

Menikah Bukan Cuma Soal ‘I Do’: Nasihat dan Pandangan Realistis dari Imam al-Ghazali

13 Juni 2026
text hip

Tren “Text Hip” Dongkrak Literasi di Korea Selatan

11 Juni 2026
buku cetak australia

Survei Creative Australia: 14,4 Juta Warga Setia Membaca, Buku Cetak Belum Tergantikan

8 Juni 2026
future history

Fiksi Ilmiah Bangkit Lagi: Penghargaan “Future History” Musim Kedua Tawarkan Hadiah Lebih Besar dan Kategori Skenario

5 Juni 2026
sayyidat al-qamar

Sayyidat al-Qamar: Novel Fenomenal dari Padang Pasir

4 Juni 2026
ancaman-nyata

Ancaman Nyata di Balik Fiksi: Saat AI dan Kiamat Ekologi Menjadi Karib

3 Juni 2026

© 2026 Jakarta Book Review (JBR) | Kurator Buku Bermutu

  • Tentang
  • Redaksi
  • Iklan
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Masuk
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In