Alexa yakin seratus persen bahwa wajahnya sudah semerah kepiting rebus saat ini.
Sembari menutup pintu ruangan Leon dengan pikiran yang masih berkecamuk, tubuh Alexa terasa seperti dialiri listrik bertegangan tinggi sewaktu menemukan River setia menunggunya di depan ruangan Leon. Semoga saja dia tidak mendengarkan pembicaraannya dengan Leon beberapa menit silam (walau Alexa yakin ruangan Leon kedap suara). “Kenapa kau masih di sini dan bukannya pergi ke paviliun?”
“Ada yang ingin saya bicarakan dengan Anda, Luna Alexa,” balas River.
Alexa memperhatikan sekelilingnya waswas. Haruskah Alexa menerima ajakan River? Kendati Alexa merasa River tidak berbahaya karena kondisinya tengah terluka sehingga tidak memungkinkan melakukan hal yang berisiko, tetap saja Alexa masih merasa ragu terhadap perempuan itu. Namun, Alexa ingat tujuan utamanya memaksa Leon untuk membiarkan River singgah sementara di sini. Mencari tahu mengenai River lebih jauh. Ia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini. “Kalau kau ingin berbicara denganku, ikut aku.”
Membimbing River berjalan ke luar dari mansion, Alexa menimbang-nimbang harus ke mana ia mengajak perempuan itu pergi. Mengajak River berbicara di kebun bunga jelas mustahil – kecuali jika Alexa ingin pembicaraannya terdengar di telinga para prajurit dan para Omega. Ia harus membawa River pergi ke ruangan yang jarang dijamah oleh anggota pack dan terletak di pelosok pack house. Ruang putih. Tidak ada tempat yang lebih aman untuk berbicara secara empat mata dibanding ruang putih.
“Kita hendak pergi ke mana, Luna Alexa?”
“Diam dan ikuti terus langkahku.” Alexa terkejut saat dirinya mampu melontarkan ucapan setajam itu.
Karena jarak ke ruang putih bisa dikatakan cukup jauh dan membutuhkan waktu tujuh menit, sesekali Alexa harus menghentikan langkahnya dan menunggu River menyamakan posisi langkahnya lantaran perempuan itu berjalan dalam tempo yang cukup lambat. Alexa mencoba memakluminya—karena keadaan kaki River terlihat cukup memprihatinkan.
Sepuluh menit setelahnya, Alexa baru bisa bernapas lega sewaktu ia sudah mencapai ruang putih. Menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri seperti penjahat yang hendak melakukan tindak kriminal, Alexa menarik gagang pintu ruang putih—yang untungnya tidak dikunci. Gadis itu lalu mengisyaratkan kepada River agar masuk lebih dulu. “Masuklah.”
River berderap memasuki ruang putih dengan agak kepayahan karena permukaan jalan setapak sedikit tidak rata dan menyulitkan perempuan itu ketika melangkah. Mengembuskan napas melalui mulut, Alexa lalu beranjak memapah River untuk mempersingkat waktu.
Usai memastikan bahwa River telah sepenuhnya berada dalam ruang putih, Alexa lekas menutup pintunya sebelum mendudukkan bokongnya dengan tidak nyaman di hadapan River. “Jadi, River, kau mengatakan bahwa kau mengenalku. Sebenarnya, siapa kau?”
“Kau sungguh-sungguh melupakanku, Alexa?’’? tanya River. Ekspresinya kelihatan terluka. “Aku River Meadow, temanmu.”
Alexa terkejut saat River tahu-tahu saja mengubah gaya bicaranya secepat itu seakan-akan perempuan itu memang benar kawan Alexa. Ia bukannya mempermasalahkan River yang memanggil namanya tanpa julukan, hanya saja, ucapan River membuatnya bingung setengah mati. “Temanku? Aku tidak ingat aku memiliki teman di masa—“
River berdiri dari posisinya dengan kedua tangan yang bertumpu di atas meja yang membatasi dirinya dengan Alexa. Bersamaan dengan itu, mata hitam milik River berubah warna menjadi hijau terang dan sekujur tubuh perempuan itu tampak dikelilingi oleh bayangan hitam. Alexa hendak melontarkan pekikan terkejut melihatnya—namun, pandangan gadis itu mendadak kosong saat mata cokelat tuanya bertumbukan dengan mata River.
Seringaian terlukis di bibir River. Perempuan itu mendekatkan bibirnya di telinga Alexa sementara tangan kirinya mencengkeram puncak kepala gadis itu. Bayangan hitam yang semula mengitari tubuh River kini bergerak menuju Alexa yang tampak linglung.
“Kau akan mengatakan kepada Leon bahwa aku adalah teman masa kecilmu.” Suara maskulin River berubah menjadi bisikan tajam. Selama River berbicara, bayangan hitam keluar dari rongga mulutnya dan masuk ke dalam telinga Alexa. “Kau akan menolak semua perintah Leon. Kau akan membelaku habis-habisan di depan Leon. Aku adalah River Meadow, teman masa kecilmu. Seorang teman terdekatmu. Apa kau mengerti, Alexa Hawkins?”
Masih dalam keadaan linglung, Alexa menganggukkan kepalanya.
River melepaskan cengkeramannya pada kepala gadis itu dan duduk kembali. Pendaran hijau di kedua mata perempuan itu meredup, berganti menjadi hitam seperti sediakala.
“Jadi, Alexa, apa kau sudah mengingatku?” tanya River sambil persenyum.
Pandangan Alexa yang semula tampak kosong kini berangsur-angsur menjadi tatapan bingung. Gadis itu mengerjap sekali, lalu tubuhnya berjingkat ketika menemukan sosok River di hadapannya, Alexa mengucek matanya. “R-River?” katanya tidak percaya. “I-ini.., benar-benar kau”
River mengangkat salah satu sudut bibirnya. “Merindukanku, Alexa?”
Alexa menggelengkan kepalanya tidak percaya. “Ya maksudku… bagaimana kau bisa ada di sini dan—”
“Tentu saja bisa, Alexa,” River tertawa lembut. “Tidakkah kau tahu butuh perjuangan besar bagiku untuk menemukanmu di sini? Tidakkah kau tahu betapa aku sangat merindukanmu, Alexa?”
Sampai-sampai aku ingin membunuhmu.
Berusaha fokus menyelesaikan pekerjaan dalam keadaan pikiran yang sedang kacau bukanlah hal yang mudah.
Leon sudah berusaha sekuat tenaga untuk mengenyahkan pemikiran-pemikiran negatif yang berkeliaran di otaknya, tetap saja organ penyerap informasi itu mengkhianatinya. Alih-alih menghilang dari kepalanya, pemikiran negatif itu justru semakin menguat di batinnya dan membuat Leon merasa sebal sendiri. Frustasi karena otaknya tidak bisa diajak bekerja sama, Leon meletakkan pena yang digengamnya dengan asal sebelum menelangkupkan kepalanya di atas meja. Pikirannya langsung membawa Alpha itu pada kejadian beberapa jam yang lalu—saat seorang perempuan bernama River Meadow yang entah dari mana asalnya terang-terangan mengaku mengenal pasangan jiwanya.
Leon tidak tahu apa dia sudah kehilangan kewarasannya sendiri saat ia terang-terangan mengutarakan perasaannya—lebih tepatnya, kecemasannya—pada Alexa ketika gadis itu bersikeras untuk mencari tahu lebih jauh mengenai sosok River. Saat ini yang ada di pikiran Leon hanyalah keselamatan Alexa. Walua Alexa mengatakan bahwa ia mampu menjaga dirinya sendin, bagi Leon, Alexa justru sangat tidak bisa menjaga dirinya sendiri. Pasangan jiwanya itu terlampau naif dan sangat mudah dijangkau oleh orang-orang yang memiliki niat jahat kepadanya—semacam Eros Archer. Pada pertemuan terakhirnya dengan Eros di acara perayaan, Leon memiliki firasat bahwa Eros pasti sudah menaruh sedikit perhatiannya pada sosok Alexa sejak laki-laki itu mengetahui eksistensi pasangan jiwanya.
Memikirkan Eros di situasi seperti ini sama saja seperti menambahkan setumpuk ranting kayu pada kobaran api. Leo bisa merasakan kepalanya tiba-tiba berdenyut. Apalagi ketika membayangkan sosok Eros sedang menyeringai jahat ke arahnya dengan keberadaan Alexa dalam cengkraman tangan laki-laki itu, Leon hampir saja menggebrak meja kerjanya dengan segenap kekuatannya jika Leon tidak buru-buru mengusir pemikiran iru Leon tahu yang barusan dilihatnya itu hanyalah sekadar manifesta dari kebencian yang ia rasakan pada Eros, tetapi kenapa rasanya begitu nyata?
Entah kenapa, Leon merasa seperti tengah mendapatkan sebuah visi alih-alih sekadar manifestasi semata.
Leon memutuskan untuk tidak memikirkan hal itu lebih lanjut sebelum kepalanya betulan mengeluarkan asap. Leon harus menyegarkan pikirannya sebelum citra-citra lainnya yang kurang mengenakkan untuk disaksikan kembali muncul di alam bawah sadarnya. Barangkali sekadar guyuran air dingin pada kepalanya bisa membantu meringankan otaknya.
Tanpa membuang-buang waktu, Leon segera beranjak bangkit dari kursinya dan melangkahkan kaki menuju kamarnya.
Matahari sudah hampir tenggelam di ufuk barat ketika Leon baru saja selesai membersihkan tubuhnya—beruntungnya, mengguyur tubuhnya menggunakan air dingin benar-benar ampuh untuk meringankan sedikit beban pikiran yang dirasakan Leon. Usai mengenakan pakaian, Alpha itu mengedarkan pandangannya ke sepenjuru kamar. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Alexa di sini.
Dengan handuk yang masih terkalung di lehernya, Leon duduk di sisi ranjang sembari menyisir rambut hitamnya yang masih meneteskan titik-titik air. Saat Leon memindahkan handuk dari lehernya untuk mengeringkan rambutnya, niat itu seketika terurungkan begitu Leon mendapati sosok Alexa berdiri di ambang pintu.
“Dari mana saja kau?” tanya Leon.
Kedua alis Alexa bergerak terangkat. “Bukankah kau sudah tahu aku memiliki urusan dengan River?”
“Kau baru saja menemui River?” Leon tidak sadar menaikkan satu oktaf nada suaranya saking terkejutnya. “Apa yang kau lakukan dengan dia?”
Kendati merasa heran karena Leon tiba-tiba menghujaninya dengan banyak pertanyaan, Alexa tetap menjawabnya. Dahinya tampak berkerut. “Kami mengobrol.”
“Dan…?”
Alexa memijat pangkal hidungnya selama bebetapa saat. “Dan ternyata… dia adalah teman masa kecilku dulu.”
Salah satu alis Leon sukses terangkat dibuatnya. Seorang Rivet Meadow adalah teman masa kecil Alexa? Leon perlu memastikan bahwa kesadaran gadis itu sedang penuh saat mengatakannya. Leon ingat sekali bagaimana ekspresi kebingungan Alexa ketika pertama kali menatap River. Alexa jelas-jelas tidak terlihat mengenali Rivet sedikit pun. Malahan, setahu Leon, Alexa sempat berencana untuk menyelidiki sosok River lebih jauh.
‘“Teman masa kecil?” tanya Leon dengan tidak percaya.
“Ya… River adalah temanku,” jawab Alexa. “Kenapa kau terlihat kaget begitu?”
“Tidak apa-apa.” kata Leon, memutuskan untuk tidak melontarkan pertanyaan seputar River yang jawabannya pasti akan semakin tidak terduga-duga. Menatap lantai pualam yang menjadi tumpuan kedua tungkainya, Leon merasa ada yang salah dengan asangan jiwanya.











