Rabu, 28 Januari 2026
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)

Lulus Sekolah di The Asia Foundation

Memahami akar masalah adalah kunci di TAF. Peta jalan yang bisa memandu setiap individu agar mencapai tujuan sangat diperlukan.

Oleh Ahsan Jamet Hamidi
16 April 2025
di Kolom
A A
Setelah 15 tahun sekolah di TAF

Setelah 15 tahun sekolah di TAF

Saya bergabung dengan The Asia Foundation (TAF) pada April 2010 dan lulus pada April 2025. Mengapa saya menggunakan kata “lulus” daripada pensiun? Karena selama ini saya lebih banyak belajar sambil menjalankan berbagai tanggung jawab di TAF. Setiap bulan, saya menerima beasiswa dengan skema lengkap, seperti insentif bulanan, jaminan kesehatan, serta fasilitas ekstra saat bepergian, mulai dari tiket pesawat dengan standar baik, penginapan di hotel berbintang, hingga mobil sewaan yang nyaman untuk perjalanan dinas.

TAF dan Ilmu Pengetahuan

TAF berdiri pada tahun 1954 dan kini hadir di 17 negara. Lembaga ini dikenal luas karena tradisi baiknya dalam menciptakan dan menyebarkan ilmu pengetahuan. Tak heran jika di dalamnya banyak ilmu pengetahuan yang berwujud buku maupun dalam diri orang-orang yang ada di dalamnya. Suasana kerja di TAF memang mampu mendorong seseorang untuk terus mengembangkan ilmu pengetahuan berdasarkan pengalaman mereka di lapangan. Tidak heran jika banyak orang pintar yang bergabung di dalam gerbong ini.

Saya memiliki definisi tersendiri tentang siapa yang disebut orang “pintar.” Jika banyak orang menganggap bahwa orang pintar itu identik dengan gelar akademik, atau kemampuan menulis karya ilmiah yang terpublikasi di jurnal internasional bereputasi, itu bukanlah gambaran saya. Bagi saya, orang pintar adalah mereka yang memiliki pemahaman mendalam tentang suatu masalah, tahu akar penyebab dan solusi dari setiap persoalan yang dihadapi dalam program yang sedang dikelolanya.

Seni Mengelola Program

BACA JUGA:

Lampu Petunjuk

Membijakkan Sabar dan Ikhlas di Kota Suci

1 Muharram: Momen Kebangkitan Spiritual Kita

Ugly, Bad and Okay Mining: Pertambangan Indonesia di Persimpangan Jalan

Para pengampu program di TAF akan mengetahui betul target perubahan yang ingin dicapainya, memahami intervensi yang akan dilakukan, tahu kapan harus bertindak, dengan siapa mereka akan bekerja, dan sejauh mana mereka mampu memanfaatkan seluruh kekuatan sumber daya yang dimiliki. Tidak cukup hanya memahami, tetapi mereka juga harus mampu menerapkan semua pengetahuan tersebut dengan selalu membangun sinergi bersama para mitra di lapangan. Bisa dengan pemerintah, CSO, atau langsung dengan warga.

Ibarat sedang menempuh sebuah perjalanan, anak-anak TAF yang tengah menjalankan suatu program selalu waspada akan keberadaan mereka. Terkadang mereka harus berhenti di sebuah pengkolan, sekadar untuk mengubah rute perjalanan atau membangun strategi perbekalan baru, agar tujuan bisa lebih cepat dan mudah dicapai. Kesadaran itu mampu membimbing mereka dalam memanfaatkan setiap peluang, mengatasi tantangan, dan mengelola kelemahan menjadi kekuatan. Mereka akan berusaha bekerja dengan penuh kesadaran dan kelenturan. Itulah sedikit gambaran yang saya tangkap ketika bekerja, eh, bersekolah bersama AnakTAF.

Ketika saya menyatakan bahwa di TAF banyak orang pintar, itu bukan karena gelar atau titel akademik yang tertulis panjang di dalam kartu nama. Penilaian saya lebih didasarkan pada kemampuan seseorang dalam memahami setiap detail masalah yang dihadapi, lalu bagaimana membangun strategi untuk menyelesaikannya. Memahami akar masalah adalah kunci. Untuk itu, peta jalan yang bisa memandu setiap individu agar mencapai tujuan sangat diperlukan. Jika berhasil, maka alhamdulillah; jika pun belum berhasil, maka masing-masing paham di mana letak kelemahan dan tantangan berikutnya.

Saya selalu kagum dengan cara anak-anak TAF ketika menjelaskan sebuah program yang mereka kerjakan. Pengetahuan mereka solid bersumber dari akar masalah yang berbasis data, sehingga mereka mampu menguatkan argumen mereka. Isu-isu yang ditangani bisa terkait dengan isu hukum, demokrasi, tata kelola pemerintahan, ekonomi, masalah perempuan, hingga isu lingkungan. Meskipun kompleks, mereka mampu menjelaskannya dengan bahasa yang mudah dipahami. Kadang penjelasan mereka bisa membuat pendengarnya terperangah, sedih, bahkan marah.

Dalam hal pengelolaan sistem keuangan di internal TAF, patut diacungi jempol. Sistem yang terus dikembangkan ini selalu berinovasi untuk memastikan akuntabilitas yang tinggi, dengan standar audit yang transparan dan terpercaya. Jika ada yang menganggap bahwa sistem keuangan di TAF rumit, itu mungkin hanya karena belum terbiasa. Disiplin dalam pertanggungjawaban setiap rupiah yang digunakan adalah hal yang tak bisa ditawar, tidak peduli siapa pun yang menggunakannya. Alhamdulillah, saya dapat mengadaptasi dan bersyukur karena terhindar dari perilaku yang tidak sesuai dengan prinsip tersebut.

Jenis Kelamin Bukan Penghalang

Selama hampir 15 tahun di TAF, lembaga ini selalu dipimpin oleh perempuan. Tiga perempuan hebat terpatri di dalam kepala dan batin saya. Mereka adalah Robin Bush, Sandra Hamid, dan Hana Satryo. Karakter kepemimpinan mereka telah memberikan kesan mendalam, bahwa di dunia ini tidak ada pembeda antara laki-laki dan perempuan, kecuali jenis kelamin dan fungsi reproduksi. Selebihnya, kita semua sama. Ibarat sedang berperang, ketiga pemimpin perempuan ini seperti menerapkan prinsip Seni Perang Sun Tzu: Mereka cermat dalam mengambil tindakan. Kapan harus menyerang ataupun bertahan, dan ketika saatnya tiba, mereka akan menyerang dengan kekuatan penuh hingga musuh tumbang.

Berkat peran ketiganya, semua prasangka negatif tentang pemimpin perempuan pun hilang dari kepala saya. Saya memiliki standar sederhana dalam menakar kualitas kepemimpinan seseorang. Selama seseorang telah berhasil menjadi contoh baik sesuai dengan nilai-nilai yang kita anut bersama, maka bagi saya mereka adalah paripurna. Bagi saya, bekerja bersama ketiga perempuan hebat ini adalah rahmat dan kebahagiaan; saya akan terus mensyukurinya.

Teguh pada Nilai

Kekuatan utama TAF yang membuatnya bisa bertahan dan berkembang hingga kini adalah komitmennya yang teguh pada nilai-nilai dan prinsip organisasi. Di TAF, setiap individu akan terus didorong, diingatkan, dan diawasi agar bisa terus belajar menghormati setiap perbedaan yang ada pada diri orang lain. Nilai kemanusiaan dan akuntabilitas akan selalu menjadi prinsip dasar yang harus dijunjung tinggi secara bersama-sama. Di sini, setiap orang akan berupaya untuk selalu dihargai sesuai marwah kemanusiaannya yang alami, terlepas dari segala kekurangan dan kelebihannya.

Saya bersyukur bahwa selama 15 tahun terakhir ini bisa ikut mendayung perahu besar ini menuju pulau impian bersama dengan yang lain. Tak bisa dipungkiri, dalam perjalanan ini penuh dengan tantangan. Bisa berupa angin kencang atau ombak besar hingga membuat perahu tergoncang. Namun, saya bangga telah berhasil melewatinya. Terima kasih kepada AnakTAF yang selalu memberi pemakluman atas segala kekhilafan. Saya bersyukur pernah menjadi bagian dari sejarah hidup yang tercatat di sekolah ini.

Bacaan terkait

Memikirkan Ulang Tata Kelola Perusahaan

Menjadi Pemimpin, Menjadi Kekuatan untuk Kebaikan 

Indonesia (Bisa) Menggapai Keberlanjutan 

Kala Para Pemimpin Keberlanjutan Berkumpul di Negeri Singa

Inikah Akhir Pesta ESG?

Topik: nilai-nilai organisasitata kelola perusahaanThe Asia Foundation
SendShareTweetShare
Sebelumnya

CINTAI DIRI KITA SENDIRI: UBAH TITIK NADIR MENJADI TITIK BANGKIT

Selanjutnya

Ksatria JEDI Bernama Farhan Helmy dan Sepenggal Kisah tentang Pembiayaan Inovatif untuk Disabilitas dan Lansia

Ahsan Jamet Hamidi

Ahsan Jamet Hamidi

Anggota Dewan Pengarah Sekber Kebebasan Beragama/Berkeyakinan (KBB), Ketua Ranting Muhammadiyah Legoso, Tangerang Selatan, Wakil Sekretaris LPCRPM Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

TULISAN TERKAIT

Lampu Petunjuk

Lampu Petunjuk

11 Juli 2025
Membijakkan Sabar dan Ikhlas di Kota Suci

Membijakkan Sabar dan Ikhlas di Kota Suci

10 Juli 2025
1 Muharram: Momen Kebangkitan Spiritual Kita

1 Muharram: Momen Kebangkitan Spiritual Kita

27 Juni 2025
Ugly, Bad and Okay Mining: Pertambangan Indonesia di Persimpangan Jalan

Ugly, Bad and Okay Mining: Pertambangan Indonesia di Persimpangan Jalan

27 Juni 2025
Selanjutnya
Selanjutnya
Ksatria JEDI Bernama Farhan Helmy dan Sepenggal Kisah tentang Pembiayaan Inovatif untuk Disabilitas dan Lansia

Ksatria JEDI Bernama Farhan Helmy dan Sepenggal Kisah tentang Pembiayaan Inovatif untuk Disabilitas dan Lansia

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

kenal lebih dekat

Kenali Lebih Dekat untuk Menjauhi Prasangka

26 Januari 2026
Kisah dari Negeri Para Insinyur

Kisah dari Negeri Para Insinyur

21 November 2025

Di Persimpangan Jalan: Minyak, Memori, dan Misi Mustahil Indonesia

17 November 2025
Try Sutrisno

Peluncuran Buku “Filosofi Parenting Try Sutrisno” Sajikan Formula Pola Asuh Keluarga Indonesia

15 November 2025
Tahap Akhir “AYO BACA!” Institut Prancis Indonesia: Soroti Dunia Literasi dan Sastra Kontemporer

Tahap Akhir “AYO BACA!” Institut Prancis Indonesia: Soroti Dunia Literasi dan Sastra Kontemporer

14 November 2025
Buku “The Girl with the Dragon Tattoo” Jadi Best Crime & Mystery versi Goodreads

Buku “The Girl with the Dragon Tattoo” Jadi Best Crime & Mystery versi Goodreads

29 Oktober 2025

© 2025 Jakarta Book Review (JBR) | Kurator Buku Bermutu

  • Tentang
  • Redaksi
  • Iklan
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Masuk
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In