Kota Bogor—Meski diguyur hujan sejak siang, nuasana hangat dan penuh nuansa magis mewarnai acara bedah buku Toko Manisan Ajaib Amberglow yang digelar di toko buku Bukupreneur, bilangan Kota Bogor, Sabtu (20/6). Acara ini menjadi bincang buku perdana yang diselenggarakan Bukupreneur sejak berdiri tahun lalu.
Diskusi yang terbuka untuk umum tersebut menghadirkan dua kreator konten buku, Rifqah Fairuz Putri (@rurureadsbooks) dan Shafa Aulia (@shabacabuku), dengan Rahastri Fajar Puspasari, editor Renebook, sebagai moderator. Puluhan pembaca, komunitas, dan pegiat literasi dari berbagai kalangan turut memadati lokasi acara. Kegiatan juga dimeriahkan dengan pembagian doorprize berupa dua eksemplar Toko Manisan Ajaib Amberglow.
Owner Bukupreneur, Kevin, menyampaikan bahwa acara tersebut menjadi tonggak awal bagi ruang diskusi literasi yang ingin terus dikembangkan oleh Bukupreneur.
“Ini merupakan bincang buku yang pertama di Bukupreneur. Semoga istiqamah dan semakin baik ke depan,” ujarnya.
Selain menjadi ajang temu pembaca, kegiatan ini juga menjadi momen perayaan cetak ulang Toko Manisan Ajaib Amberglow, yang berhasil memasuki cetakan kedua dalam waktu kurang dari satu bulan sejak peluncurannya.
Publishing Manager Rene Turos Group, induk Renebook, M Farobi Afandi, mengungkapkan apresiasinya atas sambutan hangat para pembaca terhadap novel tersebut.
“Belum sebulan terbit, buku ini sudah memasuki cetakan ulang. Terima kasih kepada seluruh pembaca yang telah menyambutnya dengan antusias. Mari kita rayakan perjalanan buku ini bersama-sama,” kata Farobi.
Dalam sesi diskusi, Puspa, sapaan akrab Rahastri Fajar Puspasari menjelaskan bahwa Toko Manisan Ajaib Amberglow menghadirkan kisah tentang sebuah toko manisan misterius yang dipercaya mampu membantu para pengunjungnya menemukan jalan keluar dari berbagai persoalan hidup.
“Kami ingin menghadirkan ruang diskusi yang berbeda. Buku ini memiliki elemen magis yang kuat, tetapi di balik itu tersimpan kedalaman emosional yang jarang ditemukan dalam fiksi sejenis. Lewat bedah buku ini, kami berharap pembaca bisa mendapatkan pengalaman membaca yang lebih kaya,” ujar Puspa.
Shafa Aulia mengaku langsung terhubung secara emosional dengan cerita yang disuguhkan. Menurutnya, tokoh berusia 25 tahun yang hadir dalam novel tersebut membuat kisahnya terasa dekat dengan realitas yang dihadapi banyak anak muda.
“Buku ini sangat relate dengan aku, terutama tentang tokoh yang berusia 25 tahun. Di usia itu, kita sering berada di fase kebingungan, mencari jati diri, dan menghadapi beban yang tidak selalu terlihat. Buku ini berhasil menangkap perasaan itu dengan sangat baik,” ungkapnya.
Ia menambahkan, unsur magis dalam cerita justru menjadi medium yang memudahkan pembaca memahami pesan-pesan emosional yang disampaikan penulis.
“Manisan-manisan di Amberglow seperti metafora kehidupan. Tampak manis dari luar, tetapi menyimpan kisah yang terkadang pahit. Itu yang membuat buku ini begitu membekas,” katanya.
Sementara itu, Rifqah Fairuz Putri atau Ruru menilai kekuatan utama novel ini terletak pada kemampuannya membangun empati melalui beragam sudut pandang tokoh.
“Kita diajak melihat perspektif orang lain. Setiap tokoh yang datang ke toko Amberglow memiliki latar belakang dan persoalannya masing-masing, dan pembaca diajak memahami mereka tanpa menghakimi. Itu yang membuat buku ini istimewa,” ujarnya.
Ruru juga secara khusus memuji bagian penutup novel yang menurutnya menjadi salah satu momen paling berkesan.
“Bagian penutupnya benar-benar menjadi klimaks yang memukau. Semua perspektif yang sebelumnya dibangun bertemu di akhir dan membuat pembaca perlu sejenak mencerna semuanya,” katanya.
Diskusi yang berlangsung sekitar satu setengah jam itu turut menyinggung perkembangan genre healing fiction dalam lanskap literasi Indonesia. Para pembicara sepakat bahwa Toko Manisan Ajaib Amberglow menunjukkan bahwa cerita bertema penyembuhan diri tidak harus terlepas dari realitas sosial, tetapi justru dapat menjadi cermin bagi berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat modern.
Acara ditutup dengan sesi tanya jawab yang berlangsung hangat dan interaktif. Banyak peserta yang penasaran dengan proses kreatif di balik dunia Amberglow serta pesan-pesan yang diselipkan penulis melalui setiap kisah dalam novel tersebut.
Melalui kegiatan ini, Renebook kembali menegaskan komitmennya untuk menghadirkan ruang diskusi literasi yang inklusif, mendekatkan pembaca dengan karya-karya berkualitas, serta membangun ekosistem pembaca yang aktif dan kritis.






