Selasa, 9 Juni 2026
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)

Survei Creative Australia: 14,4 Juta Warga Setia Membaca, Buku Cetak Belum Tergantikan

Oleh Anis Maftukhin
8 Juni 2026
di Berita Buku
A A
buku cetak australia

Sumber: australiareads.org.au

Survei Creative Australia: 14,4 Juta Warga Setia Membaca, Buku Cetak Belum Tergantikan

Kertas belum takluk pada layar. Di tengah gempuran era digital, 69 persen warga Australia tetap setia membaca, dengan buku fisik sebagai primadona mutlak. Meski rekomendasi lisan masih mendominasi, algoritma TikTok kini turut mendikte selera bacaan satu dari lima warga. Pupuk mujarab pencetak para pelahap buku usia dewasa ini adalah pendidikan seni di sekolah sekolah.

JBR — Di tengah masifnya gempuran hiburan digital dan media sosial, kebiasaan membaca nyatanya enggan ditinggalkan oleh warga Australia. Laporan terbaru mencatat, sebanyak 14,4 juta warga atau sekitar 69% dari populasi berusia 15 tahun ke atas di Negeri Kangguru tersebut tetap setia menjadikan aktivitas membaca sebagai sumber kesenangan pada tahun 2025.

Berdasarkan laporan Creative Transformations: Results of the National Arts Participation Survey edisi ke-6 yang dirilis oleh lembaga Creative Australia, tingkat partisipasi membaca ini terbilang sangat stabil. Angka tersebut tidak mengalami perubahan sejak tahun 2022, sekaligus meredakan kekhawatiran banyak pihak setelah sebelumnya partisipasi membaca sempat merosot dari 72% pada tahun 2019.

Pengamat literasi dari Monash University, Ben Eltham, seperti dikutip dari SBS News (5/6/2026), menyoroti temuan ini sebagai sinyal positif. Stabilitas data ini menjadi angin segar yang menepis anggapan bahwa masyarakat modern mulai meninggalkan literasi panjang.

BACA JUGA:

Fiksi Ilmiah Bangkit Lagi: Penghargaan “Future History” Musim Kedua Tawarkan Hadiah Lebih Besar dan Kategori Skenario

Sayyidat al-Qamar: Novel Fenomenal dari Padang Pasir

Ancaman Nyata di Balik Fiksi: Saat AI dan Kiamat Ekologi Menjadi Karib

Peluncuran Buku “Filosofi Parenting Try Sutrisno” Sajikan Formula Pola Asuh Keluarga Indonesia

Buku Cetak Tetap Jadi Primadona

Menariknya, terlepas dari kepraktisan teknologi, buku fisik atau cetak tetap menjadi format bacaan yang paling populer. Dua dari tiga warga Australia masih memilih aroma dan tekstur kertas saat menyelami sebuah cerita.

Frekuensi membaca pun menunjukkan tren peningkatan di semua format. Hampir setengah dari pembaca buku cetak (49%) meluangkan waktu untuk membaca setidaknya setiap minggu, naik dari posisi 45% pada tahun 2022.

Sementara itu, format digital juga menunjukkan geliat yang konsisten:

  • Buku Elektronik (E-book): Tingkat membaca e-book naik menjadi 26%, dengan sekitar seperempat dari penggunanya membaca setiap minggu.
  • Buku Audio (Audiobook): Tingkat mendengarkan buku audio meningkat menjadi 24%, di mana seperempat pendengarnya juga rutin mengonsumsi format ini setiap minggu.

Dari Mulut ke Mulut hingga “Racun” TikTok

Terkait bagaimana warga Australia menemukan buku baru untuk dibaca, cara-cara konvensional rupanya masih mendominasi. Rekomendasi “dari mulut ke mulut” menjadi metode utama yang paling banyak diandalkan, disusul oleh kunjungan ke perpustakaan dan penelusuran di rak-rak toko buku.

Namun, pengaruh era digital tidak bisa dikesampingkan. Satu dari lima warga Australia kini menemukan buku bacaan mereka melalui platform media sosial, seperti TikTok (yang melahirkan tren BookTok) dan Instagram (Bookstagram).

Faktor Demografi dan Pendidikan Seni

Mendedah lebih jauh profil para pembaca, survei ini menemukan tren unik dari segi demografi dan latar belakang pendidikan:

  • Gender: Responden dengan gender beragam mencatat tingkat partisipasi tertinggi, yakni 96% membaca untuk kesenangan. Angka ini melampaui partisipasi wanita (73%) dan pria (65%).
  • Latar Belakang Komunitas: Warga dari komunitas First Nations (Masyarakat Adat Australia) tercatat memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk membaca demi kesenangan dibandingkan dengan warga non-First Nations.
  • Korelasi Pendidikan Seni: Survei membuktikan adanya benang merah antara pendidikan seni di masa sekolah dengan kebiasaan membaca di masa dewasa. Warga yang pernah mengenyam pendidikan seni di sekolah memiliki tingkat partisipasi membaca yang jauh lebih tinggi (75%) dibandingkan dengan mereka yang tidak mendapatkan pendidikan tersebut (53%).

Merangkum rilis data dari ArtsHub (3/6/2026) dan SBS News (5/6/2026), temuan ini menegaskan bahwa membaca di Australia bukan sekadar kewajiban akademis, melainkan kebiasaan kultural yang berakar kuat. Perpaduan antara kecintaan pada buku fisik, pengaruh media sosial, dan fondasi pendidikan seni terbukti mampu menjaga ketahanan literasi di tengah derasnya arus disrupsi digital. (Diolah dari berbagai sumber)

 

Topik: australiabuku cetak
SendShareTweetShare
Sebelumnya

Kifayatul Atqiya’: Menjinakkan Hawa Nafsu di Era Digital

Anis Maftukhin

Anis Maftukhin

Pengasuh Ponpes Wali, jurnalis, penceramah, motivator, penerjemah, dan praktisi komunikasi politik. Ia mitra strategis di PT Rene Turos Indonesia sejak 2009. Telah menerjemahkan dan mengedit 160+ buku. Tokoh Inspiratif Jateng 2023 dan ASEAN Award 2024.

TULISAN TERKAIT

future history

Fiksi Ilmiah Bangkit Lagi: Penghargaan “Future History” Musim Kedua Tawarkan Hadiah Lebih Besar dan Kategori Skenario

5 Juni 2026
sayyidat al-qamar

Sayyidat al-Qamar: Novel Fenomenal dari Padang Pasir

4 Juni 2026
ancaman-nyata

Ancaman Nyata di Balik Fiksi: Saat AI dan Kiamat Ekologi Menjadi Karib

3 Juni 2026
Try Sutrisno

Peluncuran Buku “Filosofi Parenting Try Sutrisno” Sajikan Formula Pola Asuh Keluarga Indonesia

15 November 2025
Selanjutnya

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

buku cetak australia

Survei Creative Australia: 14,4 Juta Warga Setia Membaca, Buku Cetak Belum Tergantikan

8 Juni 2026
future history

Fiksi Ilmiah Bangkit Lagi: Penghargaan “Future History” Musim Kedua Tawarkan Hadiah Lebih Besar dan Kategori Skenario

5 Juni 2026
sayyidat al-qamar

Sayyidat al-Qamar: Novel Fenomenal dari Padang Pasir

4 Juni 2026
ancaman-nyata

Ancaman Nyata di Balik Fiksi: Saat AI dan Kiamat Ekologi Menjadi Karib

3 Juni 2026
kenal lebih dekat

Kenali Lebih Dekat untuk Menjauhi Prasangka

26 Januari 2026
Kisah dari Negeri Para Insinyur

Kisah dari Negeri Para Insinyur

21 November 2025

© 2026 Jakarta Book Review (JBR) | Kurator Buku Bermutu

  • Tentang
  • Redaksi
  • Iklan
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Masuk
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In