Sabtu, 20 Juni 2026
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)

Bukan “Kabur Aja Dulu”, Tapi Pulangkan Aku ke Tanah Air

Aku ingin mengajar di tanah air, meneruskan legasi peninggalan Abahku, Almarhum KH Ibrahim Hosen.

Oleh Nadirsyah Hosen
18 Februari 2025
di Kolom
A A
Gus Prof Nadirsyah Hosen saat mengisi seminar di UIN Cirebon, Desember 2024.

Gus Prof Nadirsyah Hosen saat mengisi seminar di UIN Cirebon, Desember 2024.

Aku membaca ramai di media sosial, tagar yang berseliweran: #KaburAjaDulu. Katanya, Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Katanya, hidup di negeri orang lebih menjanjikan, lebih lapang, lebih bermakna.

Aku tersenyum kecil.

Sejak 1997, aku telah berada di luar negeri. Aku telah mencicipi hidup di tanah orang, menghirup udara yang berbeda, menyusuri jalan-jalan yang asing, dan menatap langit yang bukan milikku. Ada hari-hari penuh pelajaran, ada pengalaman yang mengasah ketangguhan, ada kisah yang membentuk siapa diriku hari ini.

Namun, jika ada satu hal yang semakin jelas dalam benakku, itu adalah keinginan untuk pulang.

Bukan karena di luar negeri hidup terasa hampa. Bukan pula karena aku gagal berakar di tanah asing. Justru aku menikmati mengajar, mengukuhkan posisi di salah satu kampus hukum terbaik di dunia. Track record akademik dan publikasi menjadi jaminan pencapaianku. Aku ingin pulang bukan karena aku produk gagal di luar negeri. Tetapi karena hatiku selalu tertinggal di tanah air, tempat yang dalam segala riuh dan gaduhnya, tetap menjadi rumah bagi jiwaku.

BACA JUGA:

AL-QANUN FI AL-THIBB: Kitab Kuning Kedokteran yang Fenomenal

WAKAF LITERASI: Solusi Impian Hadapi Pembajakan Buku

Kifayatul Atqiya’: Menjinakkan Hawa Nafsu di Era Digital

Kala Mesin AI Menjawab, Manusia (Harus) Bertanya

Aku ingin pulang untuk membangun, untuk menanam benih, untuk melihat tunas-tunas baru tumbuh lebih kuat dari generasiku.

Buku terbaru Gus Nadir yang segera terbit.

Aku ingin mendirikan pondok pesantren. Aku ingin menunjukkan peta jalan pada para santriku, agar kelak mereka bisa mendunia, melebihi pencapaianku. Aku ingin mengajar di tanah air, meneruskan legasi peninggalan Abahku, KH Ibrahim Hosen. Aku ingin mendirikan lembaga kajian strategis tempat para dosen muda dan peneliti pemula aku gembleng habis-habisan untuk menjadi akademisi kelas dunia.

Aku tak mau jadi pejabat, tak ingin lagi masuk dalam lingkaran ormas, tak mengejar jabatan atau pengaruh. Yang aku inginkan hanyalah mencetak generasi yang lebih baik—mereka yang akan menyalakan obor keilmuan, keadilan, dan kebijaksanaan di zamannya.

Aku ingin menyaksikan anak-anak muda dengan mata yang bercahaya, dengan semangat yang menyala-nyala, dengan pemahaman yang dalam tentang ilmu dan kehidupan. Aku ingin mencetak kader yang lebih hebat, yang tak hanya kokoh dalam keilmuan, tetapi juga tangguh dalam menghadapi zaman.

Indonesia tidak sempurna, seperti halnya negeri mana pun di dunia ini. Tetapi bukan berarti ia harus ditinggalkan. Negeri ini, seperti ladang yang luas, butuh tangan-tangan yang mau menggarap, bukan sekadar orang-orang yang pergi mencari ladang lain yang sudah subur.

Aku tak ingin kabur selamanya.

Aku ingin pulang.

Tapi yang ada hanyalah suara-suara sumbang: “Kalau mau pulang, ya pulang saja. Bertarung dari nol di sini.” Seolah kepulangan adalah sebuah kesalahan, seolah keinginan untuk mengabdi harus diperjuangkan seorang diri.

Tapi biarlah. Aku sudah terlalu lama jauh, terlalu lama menyaksikan negeri ini dari kejauhan. Aku tak butuh karpet merah, tak meminta panggung, tak menunggu undangan.

Aku tahu, membangun tidak mudah. Mengubah sesuatu lebih sulit dari sekadar mengkritik. Dan mengabdi tak selamanya disambut dengan tangan terbuka.

Tapi aku masih percaya, bahwa niat baik akan menemukan jalannya. Bahwa benih yang ditanam dengan kesungguhan akan berakar, meskipun harus menembus tanah yang keras.

Aku tak membawa banyak.

Aku cuma punya niat baik.
Pengalaman.
Keilmuan.
Prestasi.
Gagasan.
Semangat.

Dan itu sudah cukup bagiku untuk melangkah pulang. Tapi mungkin masih belum cukup bagi tanah airku untuk menerimaku kembali pulang. Entahlah…

Melbourne, 16  Febrauari 2025

Kolom Nadirsyah yang lain

Kabinet Prabowo yang Gemuk dan Akomodatif

Moh. Yamin dan Sumpah Kawula Muda

Meramaikan Maulid Nabi, Membaca Ulang Pancasila

Keistimewaan Nabi Muhammad

Topik: agama dan demokrasiingin pulangNadirsyah Hosen
SendShareTweetShare
Sebelumnya

Menyingkap Tiga Langkah Strategis Kebangkitan Tiongkok

Selanjutnya

Ide Bodoh Netanyahu dan Trumpmania tentang Gaza

Nadirsyah Hosen

Nadirsyah Hosen

Cendekiawan Indonesia, Associate Professor di Melbourne Law School (sejak Juli 2024), Australia, sebelumnya di Monash University (2015-2024). Penulis produktif, buku-bukunya antara lain "Islam Yes, Khilafah No 1 & 2", "Ngaji Fikih", "Saring Sebelum Sharing", "Modern Perspectives on Islamic Law", "Tafsir Al-Quran di Medsos".

TULISAN TERKAIT

al-qanun

AL-QANUN FI AL-THIBB: Kitab Kuning Kedokteran yang Fenomenal

17 Juni 2026
wakaf literasi

WAKAF LITERASI: Solusi Impian Hadapi Pembajakan Buku

10 Juni 2026
kifayatul atqiya

Kifayatul Atqiya’: Menjinakkan Hawa Nafsu di Era Digital

5 Juni 2026
kala mesin ai menjawab

Kala Mesin AI Menjawab, Manusia (Harus) Bertanya

3 Juni 2026
Selanjutnya
Selanjutnya
Ide Bodoh Netanyahu dan Trumpmania tentang Gaza

Ide Bodoh Netanyahu dan Trumpmania tentang Gaza

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

menikah

Menikah Bukan Cuma Soal ‘I Do’: Nasihat dan Pandangan Realistis dari Imam al-Ghazali

13 Juni 2026
text hip

Tren “Text Hip” Dongkrak Literasi di Korea Selatan

11 Juni 2026
buku cetak australia

Survei Creative Australia: 14,4 Juta Warga Setia Membaca, Buku Cetak Belum Tergantikan

8 Juni 2026
future history

Fiksi Ilmiah Bangkit Lagi: Penghargaan “Future History” Musim Kedua Tawarkan Hadiah Lebih Besar dan Kategori Skenario

5 Juni 2026
sayyidat al-qamar

Sayyidat al-Qamar: Novel Fenomenal dari Padang Pasir

4 Juni 2026
ancaman-nyata

Ancaman Nyata di Balik Fiksi: Saat AI dan Kiamat Ekologi Menjadi Karib

3 Juni 2026

© 2026 Jakarta Book Review (JBR) | Kurator Buku Bermutu

  • Tentang
  • Redaksi
  • Iklan
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Masuk
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In