Di Kerajaan Amriki, riuh rendah suara rakyat yang dulu penuh harapan kini berubah menjadi gumaman kecewa. Raja baru, Donal, telah naik takhta dengan cara yang culas, berkat kecerdikan dan kelicikan pendukungnya, Mas Yilon. Mas Yilon, seorang saudagar yang licin bak belut di kolam lumpur, telah memastikan bahwa dirinya memegang kendali penuh atas kunci lemari harta kerajaan.
Sementara itu, Raja Donal yang terkenal pandir dan penuh percaya diri tetap tak menyadari bahwa dirinya hanya boneka di tangan Mas Yilon. “Mas Yilon, kau telah berjasa besar dalam mengamankan takhtaku. Sebagai bentuk balas budi, aku ingin memastikan bahwa kau mendapatkan lebih banyak lagi kontrak dari kerajaan!” ujar Raja Donal dengan dada membusung.
Mas Yilon mengangguk dengan senyum licik yang hanya bisa ditangkap oleh orang-orang cerdik. “Paduka, sungguh kemurahan hati yang luar biasa. Saya hanya ingin membantu kerajaan menjadi lebih makmur. Biarlah saya yang mengatur keuangan kerajaan ini agar semuanya berjalan lancar.”
Tanpa berpikir panjang, Raja Donal mengiyakan, membubuhkan tanda tangannya di berbagai dokumen yang sesungguhnya tidak pernah ia baca. Mas Yilon tertawa dalam hati; kunci lemari harta kerajaan kini sepenuhnya dalam genggamannya. Keuntungan tak terhitung akan terus mengalir ke kantongnya dan teman-temannya. Sepanjang setoran upeti mengalir, selama itu pula dia akan mengambil sebagiannya secara langsung.
Sementara itu, Raja Donal juga telah mengumumkan kebijakan barunya yang ia yakini akan membuat Kerajaan Amriki semakin jaya. Ia menaikkan tarif barang-barang dari Kerajaan Khan Ada, Kerajaan Mehiko, dan Kerajaan Jayna. Menurutnya, hal ini akan memaksa rakyatnya membeli barang buatan Amriki sendiri.
Namun, kenyataannya jauh berbeda. Di pasar-pasar, rakyat mulai mengeluh. Seorang ibu membawa sekantong kentang yang kecil-kecil sambil mengeluh kepada penjual. “Harganya naik lagi? Dua keping emas untuk sekantong kentang? Ini keterlaluan!”
Sang penjual, seorang lelaki tua dengan janggut yang mulai memutih, mengangkat bahunya pasrah. “Apa boleh buat, Ibu. Dengan tarif baru yang dipasang raja, barang impor semakin mahal. Petani kita pun tak bisa menjual murah karena pupuk dan alat-alat pertanian juga melambung harganya.”
Seiring waktu, kekacauan ekonomi semakin nyata. Di kedai kopi, para saudagar berbicara dengan nada putus asa. “Aku dulu bisa membeli bahan baku dengan mudah dari Kerajaan Jayna. Sekarang? Harga melonjak tiga kali lipat! Aku tak bisa menjual dengan untung, kecuali menaikkan harga barang jadi.” “Dan itu pun kalau rakyat masih mampu membeli,” sahut rekannya sambil menyeruput kopi dari Kerajaan Kolombo yang makin mahal dan terasa makin pahit.
Di lain tempat, para bangsawan dan saudagar kaya berkumpul di Sovad, tertawa terbahak-bahak atas kebijakan Raja Donal. Salah satu dari mereka, seorang baron dari Kerajaan Britani, menepuk bahu rekannya dari Kerajaan Gali dengan senyum penuh cemooh.
“Kau dengar itu? Raja Amriki berpikir bahwa menaikkan tarif akan membuat kerajaannya makmur! Apa dia tidak paham bahwa rakyatnya sendiri yang akan membayar lebih mahal?” “Hahaha! Memang legendaris kebodohannya. Aku kasihan pada rakyatnya. Tapi, mungkin kita bisa mengambil keuntungan. Sekarang mereka terpaksa membeli barang-barang mewah dari kita dengan harga yang lebih tinggi.”
Sementara itu, Raja Donal tetap teguh pada kebijakannya, tidak menyadari bahwa rakyatnya makin tercekik. Ia juga menghentikan bantuan ke negeri-negeri lain, kecuali kepada Kerajaan Isnotreal dan Kerajaan Risem.
Di istana, seorang penasihatnya memberanikan diri berbicara. “Paduka, rakyat mulai kesulitan. Bantuan yang kita bekukan membuat diplomasi kita melemah. Bahkan, sekutu lama kita mulai berbalik arah.”
Raja Donal mengernyitkan dahi, tampak seperti sedang berpikir keras, meski hasil akhirnya sudah bisa ditebak. “Lalu apa gunanya kita memberi bantuan kepada mereka? Biar saja! Mereka tidak berterima kasih. Aku lebih memilih membantu Isnotreal. Mereka sahabat karib kita, dan Risem… ah, kita perlu menjaga hubungan baik dengan elit di sana agar tidak menimbulkan masalah.”
Mas Yilon yang duduk di dekatnya hanya menyeringai puas. Segala kebijakan ini, baginya, hanya memperbesar kekuasaannya. Ia sudah memastikan bahwa dirinya dan teman-temannya mendapatkan pengecualian dari tarif. Sementara rakyat jelata harus berjuang dengan harga barang yang melambung, dirinya terus mengeruk keuntungan tanpa hambatan.
Hari-hari berlalu, penderitaan rakyat semakin menjadi. Minyak tanah sulit ditemukan, bahan makanan membusuk di gudang karena distribusi terhambat, dan harga kebutuhan pokok terus melambung tinggi. Rakyat mulai berbisik-bisik tentang pemberontakan, namun mereka tahu bahwa raja mereka bukanlah pemimpin yang mendengar keluhan rakyat.
Di sudut kota, seorang pengemis tua duduk dengan tatapan kosong. Seorang pemuda mendekatinya, bertanya, “Paman, kenapa engkau di sini?”
Sang pengemis tertawa getir. “Dulu aku punya warung makan. Tapi dengan semua harga naik, aku tak mampu bertahan. Kini, aku hanya bisa berharap ada orang baik yang memberiku sesuap makanan.” Pemuda itu mengepalkan tangannya, menatap istana yang menjulang di kejauhan. Di dalam istana itu, Raja Donal masih tersenyum lebar, tanpa menyadari bahwa rakyatnya telah lama menangis.
Mas Yilon pun semakin merajalela. Ia mulai membangun benteng-benteng kecil untuk melindungi kekayaannya. Di kalangan istana, desas-desus bahwa Mas Yilon lebih berkuasa dari Raja Donal mulai beredar.
Di sela-sela pesta mewah yang diadakan Mas Yilon, seorang menteri membisikkan sesuatu kepada rekannya. “Tidakkah kau lihat? Raja Donal hanya menjadi simbol belaka. Yang mengatur kerajaan kini adalah Mas Yilon. Dan ia tak akan berhenti sebelum seluruh harta kerajaan berada dalam sakunya.” Rekan sang menteri mengangguk, lalu menyesap anggur dari Kerajaan Gali dengan gelisah.
Sementara itu, Mas Yilon tertawa puas, menggenggam kunci harta kerajaan erat-erat. Ia tahu, selama Raja Donal tetap duduk di singgasananya, hartanya akan terus bertambah, dan rakyat Amriki akan terus menjadi korban kebodohan pemimpin mereka sendiri.
Bacaan terkait
Trump dan “Teman Nyebur Sumur”
Ketika Bahlol Disesatkan Raja Donal
Bahlol dan Persidangan Iklim di Negeri Andainusa











